
“apa yang kalian lakukan?” seru Alesya pada Frans dan Marcus yang belum nyadari kalau Alesya sudah keluar dari ruangan Alesya.
Marcus dan Frans pun langsung melihat ke arah Alesya.
Melihat Alesya yang sudah berdiri di pintu ruangan nya, mereka sama-sama berdehem dan pura-pura merapikan jas dan dasi mereka.
“Maaf nyonya tadi kedua orang ini-“ sang sekretaris pun mencoba menjelaskan situasi yang terjadi pada Alesya namun dengan cepat Alesya mengangkat tangannya, tanda bahwa sang sekretaris tidak perlu menjelaskan apapun mengenai hal ini pada nya.
“kau tidak perlu menjelaskan apa-apa Nina. Ini semua bukan salah mu. Kau boleh kembali ke meja mu. Perintah Alesya pada sekretaris nya.
“terima kasih nyonya.” Jawab Nina lalu ia kembali ke meja nya.
Kini Aleysa menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan malas. “ayo masuk lah.” Ujar pada Frans dan Marcus.
“semoga di dalam nanti mereka berdua tidak ribut.” Batin Alesya.
“Alesya, ada hal penting yang ingin aku bincang kan dengan mu. Dan itu tidak bisa aku katakan kalau-“ Marcus langsung melihat sinis ke arah Frans, menandakan kalau dia tidak bisa bicara kalau ada Frans bersama mereka.
Alesya menatap kedua orang itu bergantian. Dia tidak bisa memutuskan siapa yang akan bicara dengan dirinya lebih dahulu sebab hal itu hanya akan memancing adu mulut diantara kedua pria ini.
“aku pun ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Alesya.” Kilah Frans, tidak mau kalah dari Marcus walaupun sebenarnya kedatangan Frans hari ini ke kantor hanya untuk bercakap-cakap dengan Alesya perihal keluarga Alesya.
Frans sudah berteman lama dengan Alesya tapi Frans tidak pernah tahu kalau kehidupan keluarga Alesya sekelam itu.
Marcus merasa kalau Frans tidak akan mengalah pada nya. Sehingga ia harus cari solusi lain untuk dapat berbicara berdua dengan Alesya.
Marcus pun menuju meja sekretaris Alesya dan mengambil selembar kertas note yang ada di atas meja si sekretaris. Dia pun menuliskan sebuah alamat restoran di note tersebut.
“aku rasa sebaiknya aku saja yang mengalah.” Ujar Marcus sambil menatap jengkel pada Frans dan memberikan kertas itu pada Alesya. “aku sungguh berharap dapat bertemu dengan mu Aleysa. Siang ini, di jam makan siang. Aku tunggu kedatangan mu di alamat yang sudah aku tuliskan disini.” Ucap Marcus dengan wajah tulusnya.
__ADS_1
Melihat tekad Marcus yang sangat ingin berbicara empat mata dengannya Alesya yakin ada hal penting yang ingin Marcus bicarakan dengan Alesya.
“baiklah. Aku pasti akan datang.” Jawab Alesya pada Marcus dan mengambil kertas itu. Untungnya siang ini Kenzo ada jadwal rapat dengan kliennya jadi Alesya tidak ada janji makan siang dengan Kenzo siang ini sehingga dia free untuk kemana saja.
Setelah mendapatkan jawaban dari Alesya, Marcus pun memutuskan untuk pergi.
Kini hanya tinggal Alesya dan Frans.
“Ayo Frans, kita bicara di dalam saja.” Ajak Alesya pada Frans.
Frans dan Alesya pun masuk ke ruangan Alesya.
“Silahkan duduk Frans.” Ujar Alesya, lalu duduk di salah satu sofa dan ikuti oleh Frans yang juga duduk di depan Alesya.
“ada apa kau mencari ku Frans? ” Tanya Alesya yang sebenarnya heran mengapa Frans bisa muncul pagi ini di kantornya.
"apakah aku sudah tidak boleh mencari diri mu lagi Alesya?" ujar Frans, pura-pura tersinggung dengan perkataan Alesya.
"hahhhaa... aku hanya bercanda Alesya!!" Seru Frans, sambil menyilang kan kaki panjangnya.
"tentu saja aku tahu kau hanya bercanda Frans!! jadi katakan pada ku apa yang membuat muncul dikantor ku sepagi ini?"
"Alesya..." wajah Frans terlihat mulai serius kali ini
"ya..." jawab Alesya yang masih menunggu Frans melanjutkan perkataan nya.
"maaf kan aku. sungguh sebagai orang yang dekat dari dulu dengan mu aku merasa sangat tertampar setelah menyaksikan video Jenny dan Ronald tempo hari. Aku tidak pernah tahu kalau kau menjalani kehidupan yang sangat buruk di keluarga Diningrat selama ini padahal kita berdua sangat dekat dulunya. Dengan bodohnya, aku hanya mengira bahwa ayah mu mendidik mu dengan keras sehingga sengaja menerapkan disiplin yang ketat untuk mu sebagai putri tertua keluarga itu.” Ucap Frans, dengan raut wajah sedihnya.
“kenapa kau harus minta maaf Frans. Toh ini bukan salah mu. Kau tidak ada sangkut pautnya dengan semua hal itu.” Jawab Alesya.
__ADS_1
“tentu saja aku bersalah Alesya. Aku selalu mengatakan kalau aku mencintai mu tapi fakta nya aku tidak tahu apa-apa tentang diri mu, tentang kehidupan yang kau jalani. Andaikan aku tahu hal ini lebih awal aku tidak akan membiarkan kau menjalani kehidupan yang berat ini sendirian Aleysa. Aku sungguh menyesal.” Ungkap Frans.
“Frans!! Itu semua sudah berlalu. Dan aku sama sekali tidak ingin melihat ke belakang. Aku hanya ingin menatap masa depan ku mulai saat ini.” Jawab Alesya.
“apakah aku ada di dalam masa depan yang kau bicarakan itu Alesya?” Ujar Frans, menatap Alesya penuh harap.
“Frans-“ Seru Alesya, dengan mata sedihnya. “aku-“ Aleysa tidak sampai hati untuk melanjutkan kata-katanya.
Mendengar respon yang diberikan oleh Alesya, Frans merasa sudah melakukan hal bodoh dengan bertanya hal itu pada Alesya. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah Frans ketahui jawabannya. Tapi entah mengapa dia tetap ingin menanyakan hal itu pada Alesya untuk terakhir kalinya.
“Apa kah hanya ada nama Kenzo dalam masa depan mu Alesya?” tanya Frans, lirih. Entah mengapa hatinya tetap saja merasa sakit.
“Bukankah kau dan Kenzo hanya menikah kontrak?” Frans menatap lekat mata Alesya. Dari mata itu sebenarnya Frans sudah tahu jawabannya.
“hubungan ku dan Kenzo tidak sesederhana yang kau pikirkan Frans.” Jawab Alesya. Dia pun bingung menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan dirinya dan Kenzo atau bagaimana hubungan itu di mulai atau kapan tepatnya hubungan itu di mulai.
“andaikan aku menghentikan mu pergi bertahun-tahun yang lalu akan kah ada nama ku dimasa depan mu Alesya?” Ucap Frans pilu.
“frans, please! Kau tetap adalah sahabat ku. Orang yang sangat dekat dengan diri ku-“Alesya berhenti sesaat, dan melanjutkan perkataannya tak lama kemudian.”dulu.”
Frans tersenyum miris mendengar jawaban Alesya. Ternyata dirinya hanyalah bagian masa lalu bagi Alesya. Dan tidak pernah menjadi bagian dari masa depan yang ingin Aleysa jalani. Mungkin nama Kenzo sudah benar-benar di hati wanita yang ia cintai ini.
“apa kau benar-benar mencintai pria arrogan itu?” tanya Frans kemudian. Saat ini tidak ada gunanya ia terus mencoba untuk memaksakan cinta nya pada Alesya. Toh api cinta itu sudah lama mati di hati Aleysa.
“Aku sangat mencintai nya.” Jawan Alesya dengan tatapan teduhnya. “bahkan aku tidak pernah mencintai orang lain sebesar aku mencintainya.”lanjut Alesya, penuh penekanan.
“waah.. kau tidak perlu sampai berkata penuh penekanan seperti itu Aleysa, kau membuat hati ku yang sudah patah jadi dua ini jadi semakin sulit untuk diperbaiki karena mendengarnya.” Frans mencoba untuk bergurau untuk membuat suasana menjadi lebih cair.
“maafkan aku Frans. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu.” Jawab Alesya, dia merasa tidak enak dengan Frans. Tapi Alesya tidak ingin karena perasaan tidak enakan nya itu maka ia bisa menyakiti hati Frans nantinya. Jadi biarlah pahit di awal dari pada menimbulkan rasa sakit yang luar biasa nantinya.
__ADS_1
***bersambung..