Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 24#Cinta tulus tak bertepi#2


__ADS_3

Setelah Marcus dan Dyana keluar dari restoran itu Valen tidak sabar lagi untuk mengetahui pendapat Jasmin mengenai Marcus, pria tampan yang baru saja mereke kenal.


“Bagaimana menurut mu tentang Marcus?” tanya Valen, rasa ingin tahu sangat terlihat di wajah nya.


“kau pasti sudah menebaknya.” Jawab Jasmin, dengan santai. Saat ini dia sedang memikirkan cara bagaimana ia dapat berdekatan dengan Marcus.


“Sudah ku duga. Sejak masuk ke restoran ini pandangan mu sudah tertuju pada laki-laki itu. Dan untungnya hanya ada satu meja yang tersisa. Sehingga harapan mu untuk dapat berkenalan dengan nya dapat terkabul.” Valen tersenyum melihat sahabatnya yang sedang kasmaran dengan pria yang baru saja mereka temui.


"Dia sangat tampan bukan?" Ujar Jasmin sambil melamun.


"aku rasa suami mu tuan Puji lebih tampan." ledek Valen pada sahabatnya itu.


"Kau membuat mood ku seketika berubah jadi buruk Valen." Seru Jasmin dengan tatapan malasnya setelah mendengar gurauan Valen.


"hahaha.. maksud ku black card milik tuan Uji itu lebih ganteng dari wajah lelaki mana pun di kota ini. " jelas Valen sambil tertawa.


"Kalau itu aku setuju dengan mu.hahaha.. " Kini Jasmin pun ikut tertawa sebab apa yang sampaikan oleh Valen memang sangat benar. Benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.


“Tapi aku harap kau tetap mesti hati-hati Jasmin. Jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali." Valen menata tajam sahabat nya itu seakan ingin membawa Jasmin ke sebuah lintas waktu di masa lalau.


"ingat!!sudah berapa banyak uang kau habiskan untuk menutup mulut mantan selingkuhan mu dulu.” Valen mengingatkan Jasmin untuk lebih berhati-hati terhadap setiap lelaki yang dikenalnya.


“Kau tidak perlu khawatir. Lagi pula itu bukan uang ku. Itu uang si tua bangka itu.” Jawab Jasmin seenaknya.


“ Yaa, walau kau tidak peduli tentang berapa banyak uang yang kau sudah habiskan untuk menutup mulut laki-laki brengsek itu, paling tidak kau mesti khawatir dengan kemungkinan ia akan buka mulut pada tuan Puji. Kalau itu sampai terjadi maka hidup mu pun pasti akan berakhir.” Ujar Valen. Khawatir. Sebab kalau Jasmin sampai jatuh miskin maka hidup mewah yang Valen jalani pasti akan ikut berakhir.


“Kau tenang saja. Si tua bangka itu tidak akan curiga pada ku selama aku tetap-“ Jasmin tidak meneruskan perkataannya. Sebuah senyuman Smirk di wajah nya sudah mewakili semua penjelasan Jasmin.


“Aku benar-benar salut dengan mu Jasmin. Demi uang kau rela menghabiskan malam-malam mu bersama pria tua yang sudah bau tanah itu.”


“Setiap sen uang itu ada harga nya sobat ku sayang. Lagi pula itu jauh lebih baik dari pada aku harus bekerja banting tulang seperti kakak-kakak ku serta kedua orang tua ku. Aku sudah bosan hidup miskin. Tidak sampai 20 menit setiap malamnya. Anggap aja aku sedang bermimpi buruk. Dan kau lihat hasil nya, ini lebih banyak dari pada kau nyajen ke gunung kidul.” Ujar Jasmin sambil bergurau.


“Jadi tidak ada salahnya aku mencari sesuatu yang dapat memuaskan ku di luar sana. Dan Marcus aku rasa dapat menjadi salah satu alternatif ku membuat hari-hari ku kembali ceria.” Ungkap Jasmin blak-blakkan pada Valen.


Jasmin dan Valen sudah lama berteman. Bahkan Valen lah yang banyak berkontribusi pada semua kenyamanan hidup yang Jasmin rasakan saat ini.


Valen adalah mantan majikan Jasmin dan dia lah yang telah memperkenalkan Jasmin pada istri tuan Puji sebagai hairstylist professional. Siapa sangka ketika memasuki rumah tuan Puji status Jasmin hanyalah seorang hairstylist professional, namun begitu itu masuk ke rumah itu hingga, kini malah ia menjadi nyonya besar di rumah itu bahkan berhasil menyingkir kekuasaan istri-istri tuan Puji yang lainnya.


“Lalu bagaimana rencana mu untuk makan siang besok? Apa kau yakin tuan Puji akan setuju untuk makan siang dengan Marcus? Kita saja belum tau apa pekerjaan Marcus sebenarnya.”


“Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada tuan Puji.” Ujar Jasmin.


Valen tidak paham dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Apa maksudnya dengan mengatakan yang sebenarnya. “Maksud mu apa?” tanya Valen.


“ya aku akan menceritakan pada tuan Puji bahwa aku berhutang Marcus dan Dyana sebab mereka sudah berbaik hati membiarkan untuk makan di meja mereka bahkan mereka juga membayar makanan yang kita makan. Aku yakin tuan Puji tidak suka kalau istrinya ada berhutang pada orang lain. Itu sangat menjatuhkan harga dirinya. Aku sangat yakin dia pasti setuju dengan ide makan siang yang aku rencanakan itu.” Jelas Jasmin.


“lalu, setelah itu apa rencana mu selanjutnya?”


“Aku akan berusaha untuk membuat sebuah kerja sama antara Marcus dan tuan Puji jadi kesempatan ku untuk bertemu dengan Marcus jadi lebih besar. Dari situ aku akan mencoba membangun hubungan ku dengan Marcus tanpa disadari oleh tuan Puji.” Jawab Jasmin sambil tersenyum.


“Kau memang benar-benar adalah sesuatu Jasmin. Kau pertahankan tuan Puji karena uang nya dan kau kait setiap laki-laki yang kau mau seenak hati mu. Aku benar-benar iri pada mu Jasmin.” Seru Valen.


“kau tidak perlu berkata begitu. Bukankah apa yang aku miliki sekarang kau juga selalu menikmatinya bersama ku. Jadi tetaplah menjadi sahabat ku. Ok?”


“bagaimana kabar istri muda tuan Puji yang bernama Agnez itu? Apa dia masih di kurung di ruang bawah tanah?” Valen tiba-tiba teringat dengan nasib Agnez.


“ya dia masih ada disana. Syukur-syukur kalau dia mati membusuk di dalam ruangan itu seperti istri pertama tuan Puji jadi aku tidak harus selalu memikirkan rencana untuk melenyapkannya.” Jawab Jasmin dengan wajah cueknya. Dia benar-benar tidak merasa bersalah telah membuat istri pertama tuan Puji mati di ruang bawah tanah itu.


“kecilkan suara mu Jasmin!!!” Ingat Valen. “jangan sampai ada orang yang mendengar omongan mu barusan.” Valen memegang tangan Jasmin, kuat.


“Kau ini sangat penakut Valen! Lagian siapa orang yang mendengar omongan kita! Tidak ada orang yang kita kenal disini.” Ujar Jasmin, cuek.


“Justru karena tidak ada orang yang kita kenal di sini maka nya kau harus bisa menjaga mulut mu itu. Bisa saja diantara orang yang ada di restoran ini adalah orang yang mengenal mu atau mengenal tuan Puji atau bahkan mengenal mendiang istri pertama tuan Puji. Kau harus pintar-pintar menjaga ucapan mu.” Seru Valen, panik.


“Huft!! Baiklah. Sudah!! Jangan bicarakan hal ini lagi. Sebaiknya kita pulang sekarang. Tiba-tiba aku merasa rindu untuk menyiksa tawanan kecil ku.” Seru Jasmin.


Jasmin dan Valen pun meninggalkan restoran itu.


Sementara di pintu masuk mall itu terlihat seorang pria dengan wajah kesalnya sedang berbicara sendiri dengan ponselnya.


“Wanita ini sungguh membuat ku sakit kepala!!! Dia meminta ku untuk menghubunginya!! Tapi ponsel nya tidak hidup!!!” Gumam Frans penuh rasa geram sebab ponsel Dyana ternyata tidak aktif.


“Dyana!! Awas kau nanti kalau kita bertemu!!” Frans sudah tiga puluh menit berada di pintu masuk mall itu menunggu Dyana karena tidak ada pilihan lain selain menunggu disitu.


“Kalau sepuluh menit lagi kau tidak muncul maka aku akan pergi!! Silahkan kau urus sendiri urusan mu dengan tangan kanan Kenzo itu!!” Ujar Frans, geram.


Tapi syukurnya Frans tidak perlu menunggu hingga sepuluh menit berikutnya sebab dari jauh terdengar suara wanita memanggil nama nya. “Frans!!!!! Frans!!!” Panggil Dyana setengah berteriak.


“Apakah itu pria yang bernama Frans?” Pikir Marcus dalam hati.


“Marcus sepertinya Frans sudah datang. Sebaiknya kita berpisah disini saja.” Ujar Dyana.


“Kau yakin akan pulang dengan pria itu?” Tanya Marcus sedikit khawatir ,melepaskan Dyana pulang dengan Frans.

__ADS_1


“tenang saja. Aku pergi dulu ya.”Dyana pun berlari ke arah Frans sambil memanggil nama nya sedangkan Marcus masih berdiri di tempatnya dan memperhatikan Dyana yang mulai mendekat ke arah Frans.


“Siapa laki-laki itu!!” Tanya Frans dengan wajah kesal. Dia melihat Dyana berbicara dengan laki-laki yang kini tengah melihat ke arah nya.


“Aaa.. Dia teman ku!” Jawab Dyana, singkat.


“teman?” Tanya Frans heran. “memangnya kau punya teman?” Lanjut Frans.


“Tentu saja aku punya teman!” jawab Dyana tidak mau kalah.


“Kau!! Kenapa kau tidak menelpon ku kalau kau sudah sampai di mall ini!!” Dyana langsung menyemprot Frans sebab menurut Dyana Frans tidak ada menelpon nya.


“Heiiii nona Dyana!! Sebaiknya sebelum kau marah pada ku, kau perhatikan baik-baik dulu ponsel mu!! Ponsel mu itu mati!!!! Aku sudah setengah jam berada di pintu masuk mall ini hanya untuk menunggu mu!! Kau kira aku ini supir mu haa!!!” Seru Frans marah.


“Sedang apa mereka?” Pikir Marcus yang masih memperhatikan Dyana dan Frans yang sepertinya sedang berdebat di pintu masuk mall itu.


“Apa kata mu! Ponsel ku mati? Jangan mencari alasan! Jelas -jelas ponsel ku-“ Dyana menelan saliva nya ketika dia mengeluarkan ponselnya dan ternyata benar ponsel itu sudah kehabisan daya.


“Apa!! Kenapa diam??” cecar Frans. “benarkan ponsel mu mati!! Apa ada alasan lagi yang mau kau katakan?” lanjut Frans terus dengan omelannya.


Dyanan hanya bisa diam sambil memonyongkan bibirnya. Kali ini benar adalah kesalahannya. Dan Frans dalam posisi benar. Walaupun kesal mendengar omelan dari Frans tapi Dyana memilih tidak menjawab apapun lagi.


“Kenapa kau diam!!” Frans melipat tangannya dan melihat Dyana dengan tatapan kesal.


“Ada apa ini?” Seru Marcus yang entah sejak kapan sudah ada di dekat mereka.


"kapan laki-laki ini Berteleport ke sini." gumam Frans dalam hati.


Dyana yang mendengar suara Marcus langsung mengangkat wajahnya melihat ke arah Marcus.


“Marcus!” Seru Dyana pelan.


“Kau baik-baik saja Dyana?” Ujar Marcus khawatir.


“Aku-“


“kau siapa?” Frans langsung menyerobot masuk ke dalam pembicaraan Dyana dan Marcus membuat Dyana tidak bisa meneruskan perkataannya.


“Aku temannya Dyana. Kau sendiri siapa?” Marcus memandang Frans dengan tatapan dinginnya.


“Aku tunangannya Dyana.” Jawab Frans seenaknya. Dia sengaja membuat pria yang dia pikir adalah pacar nya Dyana ini marah.


Dyana langsung melihat Frans dengan mata yang terbelalak. Dia kaget dengan apa yang baru saja Frans katakan. “Tunangan?? Sejak kapan mereka tunangan!”


Lalu tiba-tiba terdengar Frans kembali berbicara,"Tolong kau jangan ikut campur dalam urusan intern kami. Aku tidak suka orang luar ikut campur dalam urusan percintaan ku.” Sekali lagi Frans bicara seenaknya saja.


Dyana mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Frans. Tapi percuma, tangan laki-laki itu kuat sekali.


Frans pun menarik Dyana untuk ikut bersama nya. Namun tentu saja Marcus tidak tinggal diam melihat Dyana ditarik seperti itu oleh Frans. Dengan cepat Marcus melangkah mendahului Frans dan Dyana dan menghalangi jalan Frans dan Dyana.


"Laki-laki ini!!!" Seru Frans dalam hati, geram melihat tindakan Marcus yang menghalangi jalannya.


“Apa yang kau lakukan!!” Seru Frans kesal melihat Marcus yang berdiri di depannya.


“Tolong kau lepaskan tangannya. Apa kau sadar kau menyakiti Dyana!” Ujar Marcus dengan suara beratnya.


“Sudah aku katakan! Ini bukan urusan mu! Dia adalah tunangan ku! Jadi aku berhak untuk membawa nya pergi!” Jawab Frans kesal.


Sebenarnya Frans tidak bermaksud membuat suasana keruh seperti saat ini. Tapi dia sudah terlanjur sangat kesal pada Dyana. Sudahlah suasana hati Frans kacau balau setelah mengetahui Alesya dan Kenzo ternyata tidak melakukan nikah kontrak. Lalu ditambah lagi Jack menelponnya terus menerus untuk bertanya mengenai keberadaan Dyana. Hingga dia harus menunggu Dyana bagaikan seorang supir pribadi wanita itu selama tiga puluh menit di pintu masuk mall. Dan faktanya wanita itu malah enak-enakkan jalan-jalan dengan pria yang diakui nya sebagai teman. Paling tidak, Frans bisa menggunakan kesempatan ini untu membuat Dyana merasakan sedikit kekesalannya hari ini.


“Aku tidak akan membiarkan mu membawa nya pergi dari sini dengan cara seperti itu. Dia bukan barang yang bisa kau tarik kemana pun kau pergi.” Ujar Marcus masih dengan ekspresi dingin di wajah nya.


“kau kira kau siapa? Berani-berani nya kau mengatur apa yang mesti dan tidak mesti aku lakukan!” Frans malah jadi terprovokasi oleh keadaan.


“Aku tidak mengatur mu!! Aku hanya mengatakan kalau kau ingin membawanya pergi maka lakukanlah dengan cara yang baik. Jangan seperti ini. Kau malah menyakiti nya!” Seru Marcus yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.


Frans sudah merasa jengah berdebat dengan Marcus. Jam berapa ia baru bisa pulang jika pria gila ini terus menceramahi nya di depan mall itu.


Tiba-tiba Frans langsung menggendong Dyana yang sebenarnya masih bingung harus berbuat apa. Kemudian Frans berkata, “jika aku membawa nya dengan cara seperti ini kau pasti tidak akan keberatan kan?”


Frans pun melangkah melewati Marcus yang saat ini terlihat mengepal tangannya. Sayang nya Marcus tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa berbuat keributan dengan Frans. Dia tidak ingin Dyana dapat masalah dengan Kenzo jika ketahuan menghabiskan waktu bersama nya seharian ini.


"Apa yang kau lakukan!!" Seru Dyana begitu Frans menggendong nya.


Frans tidak bergeming mendengar perkataan Dyana. Dia terus berjalan meninggalkan Marcus yang masih berdiri di depan pintu mall itu.


“Dasar laki-laki gila!! Cepat turunkan aku!!” Dyana terus memukul-mukul dada dan tangan Frans yang sedang menggendongnya.


“Apa kau tidak dengar!! Aku minta kau menurunkan aku!!!” Pekik Dyana.


“Apa kau bisa diam!! Kau tahu, kau itu sangat berat!! Jadi jangan banyak bergerak!! atau kita berdua bisa terjatuh karena ulah mu!! ”Gerutu Frans, masih tetap menggendong Dyana ala bridal style.


“aku bisa jalan sendiri!! Jadi kau tidak perlu menggendong ku!!! Cepat turunkan aku!!” Teriak Dyana sambil memukul-mukul tubuh Frans yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Dasar wanita gila!!" Ujar Frans tapi masih tetap menggendong Dyana.


"kau yang laki-laki gila!! cepat turunkan aku! aku tidak sudi di gendong laki-laki gila seperti mu!!!" ujar Dyana sambil menjerit.


“Kau kira aku sangat bahagia apa bisa menggendong wanita berat seperti mu!! Kalau bisa sudah aku lempar kau ke tanah. Kau jangan Ge-Er dulu!! Aku hanya ingin melihat pacar mu itu marah! Paling tidak nanti kalian jadi bertengkar dan kau bisa merasakan kekesalan ku hari ini karena ulah mu!! Kau yang enak-enak pergi pacaran, lalu aku yang harus menjadi tameng mu dari asistennya Kenzo!!” gerutu Frans.


"Ya tuhan!! kenapa aku hrs berurusan dengan laki-laki tempramen seperti dia!!" Rutuk Dyana dalam hati.


Dyana akhirnya diam. Bukan karena dia merasa Tindakan Frans dapat di benarkan tapi karena dia sendiri sudah Lelah berteriak dan meronta-ronta seperti orang gila. Tapi laki-laki itu tetap saja tidak menurunkannya.


“Dasar laki-laki gila!” Umpat Dyana, pelan.


“Ya! Aku memang sudah gila! Gila karena setuju untuk bekerjasama dengan wanita gila seperti mu!!” Ujar Frans tidak mau kalah dari Dyana.


"Aku juga menyesal sudah bekerjasama dengan mu!!!" Jawab Dyana yang juga kesal dengan Frans yang bertingkah di luar dugaannya.


Akhirnya setelah berjalan jauh dari pintu masuk mall ke area parkir, Frans menurunkan Dyana tepat di depan mobilnya. “cepat masuk!! Kau sungguh sudah sangat menyusahkan ku seharian ini!” Ujar Frans, masih dengan wajah kesal.


Mau tidak mau, Dyana terpaksa masuk. Sebab dia tidak punya pilihan lain. Hanya Frans yang bisa membawa nya pulang dengan selamat ke rumah Kenzo.


Frans pun melajukan mobilnya keluar dari area mall itu. Sepanjang perjalanan Frans melihat Dyana dari kaca spion di depannya. Terlihat wanita yang menyebalkan itu sedang memegangi pergelangan tangannya.


“Apa aku mencengkram pergelangan tangannya terlalu kuat?” pikir Frans sambil mengingat-ingat Kembali saat ia menarik tangan Dyana untuk keluar dari mall.


Frans terus memperhatikan Dyana. Dalam hati Frans merasa tindakannya pada Dyana memang sudah di luar batas.


Lalu tiba-tiba mobil itu menuju pinggiran jalan dan berhenti.


Dyana heran mengapa Frans menghentikan mobilnya dipinggiran jalan. Namun karena Dyana juga sedang kesal dengan Frans, Dyana memilih diam daripada bertanya pada laki-laki gila yang ada disebelahnya.


Frans membuka seatbelt nya dan mengambil kotak P3K di belakang kursi nya. Lalu dia mengeluarkan sebuah salap dan memberikannya pada Dyana, ”Ini. Oleskan ke pergelangan tangan mu.” Seru Frans dengan suara datar.


Sebenarnya dia masih kesal dengan Dyana, tapi dia juga menyesal telah berbuat kasar pada wanita itu hingga membuat pergelangan tangan wanita itu cedera seperti saat ini.


Dyana tidak menjawab apapun. Dia malah memalingkan muka nya. Bagi Dyana lebih baik dia melihat pemandangan di luar jendela mobil itu dari pada melihat wajah pura-pura baik yang Frans tampilkan.


"Aku tidak perlu salap dari mu itu!!!" seru Dyana dalam hati.


Frans tahu Dyana pasti saat ini sedang marah pada nya. Jadi Frans langsung saja membuka tutup salap itu dan meletakan beberapa salap dia tangannya. Lalu Frans mengambil tangan Dyana dan mengoleskannya dengan sedikit paksaan.


Dyana reflek menahan tangan Frans yang memegangi tangannya yang sedang sakit itu sambil melihat Frans dengan tatapan tidak sukanya.


“jika kau menghalangi ku mengoleskannya, aku takut takut tangan mu yang sedang menghalangi ku ini juga kan ikut cedera.” Ujar Frans sambil terus mengoleskan salap ke pergelangan tangan Dyana.


Dyana terpaksa menyingkirkan tangannya yang satu lagi sejauh mungkin. Dengan wajah yang masih cemberut Dyana meneruskan melihat pemandangan di luar mobil dan membiarkan Frans mengolesi salap di tangannya yang satu nya.


“Maafkan aku!” ujar Frans, pelan. “Hari ini terlalu banyak yang terjadi. Aku jadi tidak bisa mengontrol diri ku.” Ujar Frans setelah selesai mengolesi salap di tangan Dyana.


Tapi Dyana tetap diam. Membuat Frans merasa semakin tidak enak dan merasa bersalah.


Frans kemudian memilih untuk tidak berkata apapun lagi demi menghindari perdebatan yang tidak penting dengan Dyana.


Setelah meletakkan salap itu Kembali ke dalam kotak P3K, Frans memasang Kembali seat belt nya dan melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan Dyana pulang.


Perjalanan yang cukup panjang dengan mode hening yang mereka lalui sekitar satu jam itu pun akhirnya berlalu. Kini mereka telah sampai di depan rumah Kenzo.


Begitu mobil berhenti. Tanpa basa basi, Dyana langsung turun dari mobil Frans dan tak lupa dengan membawa makan malam yang telah Marcus belikan untuk Jack.


Frans merasa tidak enak melihat Dyana keluar begitu saja. Sebenarnya dia ingin mengejar Dyana tapi hal itu segera diurungkannya. Dalam hati Frans berfikir untuk apa dia susah-susah membujuk Dyana, memangnya siapa wanita itu. Keegoisan kembali muncul sebab harga dirinya yang tinggi sebagai seorang pria.


Frans pun segera memutar mobil nya dan pergi meninggalkan rumah Kenzo.


Dyana yang mendengar suara mobil meninggalkan rumah itu langsung saja masuk tanpa menoleh ke belakang.


“kau sudah pulang nona!!” Ujar Jack yang langsung muncul Ketika pintu di buka oleh Dyana.


“heem,..” jawab Dyana bete.


“kenapa wajah mu suram sekali?” tanya Jack penasaran.


“Aku capek!” jawab Dyana singkat dan memberikan bungkusan makan malam untuk Jack. “ini untuk mu. Aku sudah makan di luar tadi.” Dyana pun langsung pergi menuju kamarnya.


Jack membuka kotak makanan yang diberikan oleh Dyana,”rumayan!” Gumam nya pelan. “Bisa untuk cemilan sambil menelpon tuan Kenzo.” Jack pun melanjutkan tujuannya untuk keluar rumah itu. Jack mencari posisi yang aman untuk menelpon sebab ada hal penting yang ingin ia laporkan pada tuan nya.


“Sini saja…” Jack pun duduk disalah satu batu besar yang ada dipinggir kolam di tengah-tengah halaman rumah Kenzo itu.


“Tuan Kenzo harus tahu mengenai hal ini..” Ujar Jack sambil meletakkan kotak makanan yang diberikan oleh Dyana dan men-dial nomor ponsel Kenzo yang sudah sangat ia hapal.


“Hallo tuan…” Ujar Jack…


**Bersambung…


Jangan lupan untuk like, komen dan vote ya.. biar Otor semangat up nya…

__ADS_1


__ADS_2