
Waktu terus berjalan tapi sayangnya Frans tidak dapat tertidur dengan lelap. Sebentar-sebentar dia terbangun karena merasa risih ada orang lain di kamar nya. Kalau dipikir-pikir kedatangan Dyana bukannya meringankan penyakitnya Frans malah membuat Frans bertambah pusing.
Frans memperhatikan Dyana yang masih tertidur. “bagaimana dia bisa tidur dengan lelap di kamar seorang laki-laki.” Ujar Frans pada dirinya sendiri. Frans membalikan tubuh nya ke kiri dan ke kanan. Mencoba untuk memejamkan mata. “Aaaaaa!!” Teriak Frans sambil menahan suaranya. Frans mengusap kasar wajahnya. Kini posisinya tidak lagi sedang berbaring. Karena pikirnya percuma juga ia berbaring saat ini.
Satu jam...
Dua jam...
Dyana tertidur dengan lelap dan Frans terpaksa tetap terjaga.
“aaa....” Seru Dyana sambil merenggangkan tangan ke atas.
“Apa tidur mu nyenyak?” Tanya Frans dengan nada suara yang terdengar dingin.
“Tidur? Apa aku tertidur?” Jawab Dyana polos.
“Ya!! Kau tertidur!! Tertidur bagai kerbau di atas ranjang ku!” Ujar Frans, sambil setengah menggerutu.
Dyana melirik ke kiri dan ke kanan. Dan ya! Apa yang dikatakan oleh Frans memang benar sebab saat ini dia memang sedang berada di atas tempat tidur Frans.
“Pantas saja rasa nya sangat nyaman.” Gumam Dyana dalam hati.
“Heeem.. seingatku, aku tadi tidur di samping ranjang mu. Kenapa aku bisa berada di tengah ranjang mu seperti ini?”
__ADS_1
“mana ku tau!” jawab Frans, dengan ketus. “ Sudah lah kalau kau sudah tidak ada urusan lagi, sebaiknya kau segera tinggalkan rumah ku. Kepala ku semakin sakit sejak kedatangan mu.” Seru Frans.
Dyana merasa tidak enak sebab membuat Frans tergusur dari tempat tidurnya sendiri. “pasti dia dari tadi tidak bisa beristirahat dengan tenang.” Pikir Dyana dalam hati.
“Heem.. baiklah. Aku akan meninggalkan mu sendiri.” Ujar Dyana lalu bangkit dari tempat tidur Frans.
Frans hanya diam, tidak memberikan respon apapun terhadap hal yang dikatakan Dyana. “Apa dia marah?” tanya Dyana pada dirinya sendiri sambil keluar dari kamar itu.
Setelah Dyana keluar dari kamar itu, Frans pun pindah kembali ke ranjangnya. Dia sengaja berbaring di sisi tempat tidur yang tidak ditiduri oleh Dyana barusan. “Syukurlah dia mau pulang.” Pikir Frans lalu mencoba merilexkan dirinya sebab kepala nya masing berdenyut.
Saat Frans sedang tidur di kamar nya dengan dugaan Dyana sudah meninggalkan rumahnya, ternyata Dyana malah menuju dapur untuk menyiapkan bubur hangat untuk Frans.
“Huft!! Memangnya dia kira aku mau lama-lama di rumah nya ini. Kalau bukan karena tante Nania, aku sudah pulang dari tadi.” Sungut Dyana sambil berjalan berkeliling mencari posisi dapur di rumah Frans.
“Saya dari tadi berkeliling tapi saya tidak melihat dapur dari tadi! Apa rumah ini tidak memiliki dapur?” Tanya Dyana dengan wajah yang terlihat malas.
“Nona mencari dapur? Dapur ada di lantai 2 nona.” Jawab si pelayan.
“What?? Lantai dua? Dapur nya ada di lantai dua?” Saking tidak percayanya Dyana bahkan sampai mengulang-ulang pertanyaan itu dua kali pada si pelayan.
“Sebenarnya semua lantai di rumah ini ada dapur nya nona kecuali lantai satu. Sebab lantai satu dikhususkan untuk menerima tamu.” Terang di pelayan.
“hah? Untuk apa ada banyak sekali dapur di rumah ini. Bahkan setiap lantai ada dapurnya.” Dyana masih tidak percaa dengan apa yang pelayan jelaskan pada nya.
__ADS_1
“Tuan muda memiliki hobi memasak, nona. Jadi tuan muda sengaja merancang rumah barunya agar ia bisa memasak di mana pun dan kapan pun” jelas si pelayan.
“Ya gak gini juga kali?” Gumam Dyana dalam hati.
“Jadi kalau setipa lantai punya dapur, aku bisa memasak di mana?”tanya Dyana.
“Ya nona bisa pakai dapur di lantai dua sebab itu adalah dapur yang paling sering di pakai oleh tuan muda hingga sekarang.” Ujar si pelayan.
“ Baiklah kalau begitu.” Dyana pun meminta si pelayan untuk mengantarkannya ke atas. “tolong antarkan saya ke dapur yang kamu sebutkan tadi.” Pinta Dyana sopan.
Dyana melihat sekeliling dapur. “Rumayan.” Gumam Dyana yang sebenarnya itu ingin memuji selera Frans dalam mendesign dapurnya.
“Ruangan ini tidak cocok dikatakan dapur. Ini terlalu mewah dan sangat rapi.”ujar Dyana dalam hati.
“Maaf nona, apakah nona bermaksud untuk masak di ruangan ini? “
Dyana langsung melihat ke arah si pelayan... “kalau aku memasak. Apakah kau bersedia untuk mengantarkan makanan ini ke kamar Frans?”
Si pelayan terlihat sedikit ragu namun akhirnya dengan suara pelan ia berkata.”baik lah nya nona ,tapi sekarang saya akan masih ada pekerjaan lain.”
***bersambung
jangan lupa like komen dan vote ya
__ADS_1