
"Morning mom."
"Morning dad."
Sapa Skala pada Alesya dan Kenzo yang baru tiba di ruang makan.
"Morning honey." Balas Alesya.
"Morning juga Skala. Bagaimana tidur mu semalam?" Balas Kenzo.
"Nice." Jawab Skala sambil mengambil segelas susu di hadapan nya.
"Skala,where's your grandpa?" Lanjut Alesya bertanya. Dia tidak melihat tuan Albert pagi itu sarapan bersama mereka.
"Apakah kakek mu belum bangun?" Alesya kembali bertanya.
"Kakek sudah kembali ke kota B Pagi-pagi sekali." Jawab Skala sambil mengunyah roti nya.
Mendengar jawaban Skala Alesya melihat Kenzo. Kenzo terlihat biasa-biasa saja mendengar kakeknya pulang begitu saja.
"Jangan menatap ku begitu." Seru Kenzo. "Albert Dayson sudah biasa datang dan pergi sesuka hatinya. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun tentang hal itu." Jelas Kenzo.
Setelah mendengar ucapan Kenzo, Alesya baru menjadi tenang. Dia sempat berpikir kalau pria tua itu pergi karena tidak suka dengan diri nya.
"Dad, kakek bilang kita harus mengunjungi nya akhir pekan ini ke kota B." Ujar Skala tiba-tiba.
"Hemm.. Baiklah. Akhir minggu ini kita akan ke kota B." Jawab Kenzo.
"Skala, cepat habiskan sarapan mu. Mommy akan mengantar mu sekaligus ke kantor." terang Alesya.
"Tidak.Aku yang akan mengantar Skala." Potong Kenzo sebelum Skala sempat menjawab. "Dan mulai hari ini kau tidak perlu datang ke kantor." Titah Kenzo.
"Kenz, bukankah kita sudah membicarakan hal ini. Aku tetap akan bekerja sebagai sekretaris mu." Protes Alesya.
"Akan aku pertimbangkan hal itu nanti. Tapi untuk hari ini kau tetap di rumah karena hari ini kita akan melakukan konferensi pers terkait pernikahan kita. Jack sudah mengatur hal itu." Jelas Kenzo.
"Baiklah kalau begitu." Alesya menurut saja keinginan Kenzo karena dia tidak ingin berdebat dengan Kenzo di hadapan Skala.
__ADS_1
Walaupun pernikahannya dengan Kenzo hanyalah sebuah pernikahan kontrak tapi dia tidak ingin Skala mendapatkan pandangan yang buruk tentang sebuah keluarga yang utuh.
"Apa kau sudah selesai sarapan Skala?" Tanya Kenzo sambil membersihkan mulut nya.
"Ya.Apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya Skala.
"Ya." Jawab Kenzo singkat.
"Kalau begitu aku akan mengambil tas ku di kamar." Skala bangkit dan bergegas ke kamar nya.
"Apa kau yakin akan mengantar Skala?" Tanya Alesya.
" Ya tentu saja."
"Kau tidak perlu bersusah payah memainkan peran seorang ayah bagi Skala." Ujar Alesya pelan.
Kenzo melihat wanita di hadapannya itu. "Bukankah seharusnya wanita ini senang aku mencoba mendekatkan diri dengan putranya?" Batin Kenzo.
"Come on Kenz. Jangan terlalu dekat dengan Skala. Nanti dia bisa sedih ketika kita harus berpisah." Jelas Alesya. "Kau cukup jadi ayah tiri yang cuek saja untuk nya."
"Aku pun merasa apa yang aku lakukan hanyalah hal biasa. Tidak ada perlakuan istimewa sama sekali." Lanjut Kenzo.
Alesya menatap malas pada Kenzo. "Pria ini sungguh keras kepala." gumam Alesya dalam hati.
"Terserah kau saja tuan Kenzo Dayson. Aku harap setelah kita berpisah kau tidak akan tenggelam dalam peran mu sebagai ayah dan meminta hak asuh Skala." Gurau Alesya.
"apa wanita ini sudah gila? Untuk apa aku meminta hak asuh bocah tengil itu." Batin kenzo.
"Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi." jawab Kenzo dengan enteng nya.
Skala pun tiba. Kenzo dan Skala berangkat ke sekolah Skala.
****
"Paman.Kau cukup mengantar ku sampai depan saja. Jangan sampai gerbang." Pinta Skala tiba-tiba.
Kenzo yang sedang sibuk dengan laptopnya tiba-tiba berhenti dan menatap Skala. "Ada apa lagi **i**ni." batin Kenzo. "Tadi ibunya, sekarang anaknya. Apa mereka memang tidak suka pada ku."
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengantarkan mu sampai ke pintu kelas mu." Tanya Kenzo kesal.
"Aku tidak ingin teman-teman ku melihat mu." Jawab Skala dengan enteng nya.
"Apa ada yang salah dengan mu bocah tengil!!! Seharusnya kau senang dan bangga memiliki aku, lelaki yang tampan dan kaya raya ini sebagai ayah mu."
"Cih,narsis sekali kau paman."ejek Skala.
"Sekolah ku itu memang adalah sekolah dengan standar pendidikan yang tinggi. Tapi itu bukanlah sekolah khusus anak orang kaya." Ucap Skala. "Dan aku tidak ingin teman-teman ku berpikir aku bisa masuk sekolah itu karena ayah ku adalah seorang yang kaya raya." Lanjut Skala.
"Lihatlah!! Bukankah ini sedikit berlebihan. Kau membawa dua mobil pengawal hanya untuk mengawal mu dari rumah ke kantor!! Dan mereka juga ikut mengantarkan ku ke sekolah." Keluh Skala.
"Nama baik ku sebagai anak pintar akan beralih menjadi anak orang kaya yang manja." Sambung Skala.
"Dan penampilan mu.." Skala melihat cara Kenzo berpakaian.
"Ada apa dengan penampilan ku.!!" Tanya Kenzo, kesal.
"Sungguh seperti seorang tuan muda yang kaya raya."ejek skala. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penampilan Kenzo. Skala pun sering berpenampilan seperti itu. Memakai kemeja dan jas. Karena di kota J, kakeknya selalu membawa Skala bertemu rekan bisnis keluarga mereka. Tapi hari ini Skala ingin mengerjai Kenzo dengan mengolok penampilan parlente laki-laki itu.
Kenzo merasa tidak ada yang salah dengan gayanya. Dia seorang direktur dari sebuah perusahaan bonafit di kota itu. Dia juga seorang milyarder. Setiap saat dia harus bertemu dengan tamu penting dari dalam dan luar negeri jadi wajar dia selalu memakai jas dan bergaya rapi serta elegan.
"Lihatlah itu." Tunjuk Skala pada seorang pria dan anak kecil yang baru saja lewat di samping mobil mereka. Skala sengaja membandingkan penampilan Kenzo dengan penampilan ayah salah seorang siswa di sana. "Aku penasaran bagaimana tampilan nya kalau memakai baju kaus biasa seperti itu." batin Skala.
Kenzo melihat anak dan ayah itu. "Apa dia ingin aku berpakaian seperti itu di luar rumah?" Batin Kenzo.
"Sudah turun kan aku disini saja." Seru Skala.
"Baiklah kalau itu yang kau ingin kan." Ucap Kenzo akhirnya mengalah.
Kenzo melepaskan seatbelt Skala. "Akan aku jemput kau nanti. Jadi tunggu aku di depan gerbang sekolah mu dan jangan berpikir untuk menunggu ku di sini." Perintah Kenzo.
"Asal kau tidak membawa semua pengawal mu itu dan tidak memakai jas mahal mu ketika menjemput ku nanti." Jawab Skala dengan nada datar.
Skala pun keluar dari mobil mewah itu.
"Bagaimana dia bisa seperti itu." Batin Kenzo. "Aku masih ingat bagaimana dia memamerkan kekayaannya ketika membeli sebuah kemeja dengan harga lima kali lipat waktu itu dengan sebuah black card. Dan hari ini dia tidak ingin teman-temannya tahu dia anak orang kaya."Kenzo menarik nafas dalam mengingat kelabilan bocah kecil itu.
__ADS_1