
Alesya tidak langsung kembali ke kantor. Dia memutuskan untuk pergi ke taman yang dulu sewaktu sekolah selalu ia kunjungi apabila jam sekolah berakhir lebih awal. Alesya ingin menenangkan diri sambil merenungi apa yang sebenarnya penyebab hati nya terasa sakit.
Hari pun sudah mulai malam, Alesya memasuki rumah nya dengan tidak bersemangat. Sepulang dari kantor ia singgah lagi ke tempat lain sekedar untuk memantapkan hatinya. Dia berkali-kali mengatakan pada hatinya bahwa niat nya kembali ke kota B hanya untuk membalas keluarga Diningrat. Dan dia tidak akan membukakan hatinya untuk pria mana pun sebelum bertemu dengan ayah Skala.
Dil angkah kan nya kakinya selangkah demi selangkah menaiki anak tangga ke lantai atas. Alesya tahu, Kenzo pasti tidak ada di kamar mereka. Tapi bukankah seharusnya ia senang jika Kenzo tidak berada sekamar dengannya.
“hai.. mom?” Tanya Skala, ketika Alesya membuka pintu kamarnya.
“Sedang apa kau disini Skala?” Alesya heran melihat Skala yang sudah ada di kamar nya ketika ia membuka pintu kamar.
“Aku diminta oleh daddy untuk mengambil beberapa berkas miliknya di kamar.”Jawab Skala bohong. Padahal dia dari tadi sudah menunggu Alesya pulang sebab Kenzo menyuruhnya untuk memastikan keadaan Alesya baik-baik saja. Kenzo sangat cemas sebab Alesya terlambat sampai kantor setelah istirahat siang yang ia ketahui dari Jack. Lalu ketika Kenzo sudah kembali ke rumah, ia tidak juga menjumpai Alesya. Berkali-kali Kenzo ingin menelpon Alesya tapi berkali-kali pula ia menguatkan hatinya untuk tetap pura-pura tidak peduli lagi dengan Alesya.
“Maaf kan aku karena berbohong pada mu mommy.” Gumam Skala salam hati.
“Apa kau sudah menemukan dokumen yang kau cari Skala?” Ujar Alesya, dengan sebuah senyum yang tidak terlihat indah.
“Sebegitu tidak pedulinya lagi ia pada ku. Heh..Hingga sekedar untuk mengambil dokumen ke kamar ini dia tidak mau.” Seru Alesya dalam hati.
“Biar mommy bantu mencarinya.”Alesya meletakan tasnya dan berjalan menuju lemari Kenzo.
“Mommy apakah tadi di kantor terlalu banyak kerjaan hingga mommy baru pulang jam segini?” Skala mulai mencari tahu mengapa Alesya lambat pulang malam ini.
Alesya melihat sekilas pada putranya,”Tidak, hanya sedikit suntuk dan ingin mencari udara segar. So I went to somewhere.” Jawab Alesya, “Dokumen apa yang daddy mu perlukan?”
“Dia tadi hanya bilang di rak lemari nomor dua ada sebuah buku berwarna hijau. Mirip agenda rapat. Aku sudah mencarinya dari tadi tapi aku tidak menemukannya sama sekali.” Jawab Skala, padahal sebenarnya buku itu hanya lah karangan Skala belaka.
Alesya memeriksa tempat yang dikatakan oleh Skala. Namun tidak menjumpai buku seperti yang Skala ilustrasikan. Bahkan Alesya juga mencari ke rak sekitarnya tapi sama saja. Tetap nihil.
“Sebaiknya kau minta saja daddy mu untuk kesini Skala. Karena mommy sudah cari di tempat yang kau katakan tadi tapi tetap tidak ditemukan.Bahkan rak di atas dan di bawahnya juga tidak ada.”
“Baiklah . Aku akan ke ruang kerja daddy. Ooh iya, apa mommy sudah makan?” Sebenarnya Skala tidak tega melihat Alesya yang kelihatan tidak bersemangat. Terkadang Skala bingung kenapa kehidupan orang dewasa itu begitu menguras pikiran.
“Aku tidak lapar.” Alesya berjalan menuju ruang ganti pakaian.
Skala pun keluar menuju ke ruang kerja Kenzo. Apa lagi kalau bukan untuk melapor pada sang ayah tercinta.
“Dad..” Seru Skala begitu masuk ke ruang kerja Kenzo.
“Apa mommy mu sudah pulang?” tanya Kenzo dengan wajah cemasnya.
“Ya, mommy ada di kamar nya.”
“Apa dia mengatakan dia dari mana saja seharian ini?” Kenzo kembali bertanya.
“Dia hanya berkeliling sambil mencari udara segar.”
“Skala apa kau yakin dengan semua rencana ini. Bagaiman kalau nanti mommy mu malah membenci ku?” Ujar Kenzo tidak bersemangat. Tidak menghiraukan Alesya juga menyiksa bagi Kenzo. Tidak melihat wajah nya sebelum tidur membuat Kenzo memejamkan mata.
“Percaya pada ku daddy. Mommy ku adalah wanita yang cerdas dan angkuh. Dia tidak akan begitu saja mengakui perasaannya. Jangan untuk mengakuinya pada mu, bahkan untuk mengakui hal itu pada dirinya sendiri pun aku yakin dia tidak akan mau. Kita harus bisa membuatnya merasakan berbagai jenis perasaan pada mu mulai membuat dia cemburu hingga membuatnya merasa kehilangan mu. Aku yakin mommy juga merasakan hal yang sama kau tidak dia tidak akan selama ini bertahan di samping mu. Bertahan lah sedikit lagi.” Skala menyemangati Kenzo.
“Semoga saja analisa dan rencana mu ini adalah langkah yang tepat.”
__ADS_1
“Heemm..tadi aku terpaksa berbohong dengan mengatakan kau menyuruh ku untuk mencari sebuah buku agenda berwarna hijau.” Ucap Skala sambil tersenyum.
“What??!”
“So what should I say to her?” Seru Skala, “I have to have good reason, right?” bela Skala.
“Dasar kau bocah nakal!!”
“Terserah kau mau ke atas atau tidak. Aku harap kau punya alasan yang bagus tentang agenda hijau itu jika kau memutuskan untuk ke atas.” Skala pun kembali ke kamarnya.
“Huft..” kenzo bangkit dan menuju ke kamarnya dan Alesya.
Kenzo membuka pintu kamar itu berlahan. Dan dilihatnya Alesya sedang berbaring dengan mata yang tertutup. “Apa dia sudah tidur?” Gumam Kenzo dalam hati.
Kenzo berjalan mendekati Alesya. Lalu duduk disamping nya. Ditatapnya wajah cantik istrinya itu. Semua rasa rindunya membuncah saat itu juga. Kenzo membelai wajah Alesya yang tertidur itu. Ia bahkan mengecup kening istrinya yang terlihat sedih itu.
Takut membangunkan Alesya, berlahan Kenzo berdiri dan meninggalkan kamar itu. Tak lupa ia juga menutup pintu itu pelan. Itulah yang Kenzo lakukan ketika setiap malam ia datang mengunjungi kamar Alesya.
###
tak terasa sudah hampir seminggu. Kenzo tetap mengabaikan Alesya dan bersikap dingin pada wanita itu. Kenzo melawati harinya dengan kesibukannya di kantor dan juga investigasinya mengenai kasus Skala. Hanya itu cara agar ia bisa tetap waras sepanjang hari karena harus berjauhan dari Alesya.
Beda halnya dengan Alesya. Sikap dingin Kenzo dan terus menghindar membuatnya tersiksa. Malam -malam yang ia lalui tanpa Kenzo yang tidur di sampingnya membuat malam – malam Aleysa terasa sangat panjang sebab ia tak kunjung dapat menutup matanya. Berbeda ketika Kenzo ada berbaring disebelah nya, Alesya dapat tidur dengan tenang. Bahkan fokus Alesya pun mulai terpecah. Aksi balas dendamnya pada keluarga Diningrat.
Alesya melihat Kenzo sore itu sedang duduk sambil sibuk dengan ponsel nya di ruang TV. Alesya menghampiri Kenzo. Setelah hampir tidak berbicara kecuali hal-hal yang penting atau mendesak, untuk memulai bicara dengan Kenzo membuat lidah Alesya kelu. Dia takut Kenzo bahkan sudah meninggalkannya sebelum satu kata usai ia ucapkan.
“Apa ada yang ingin kau sampaikan Alesya?” Tanya Kenzo dengan wajah dinginnya.
“Apa kau tidak akan menghadiri pesta Agnez malam ini?” Suara Alesya hampir tidak terdengar saking pelannya.
Kenzo benar-benar lupa jika malam ini adalah pesta pernikahan Agnez. “benarkah?”
“Ya,. Benar.” Jawab Alesya.
“Apa ada lagi?” tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel nya.
“Heem.. tidak. Aku hanya ingin mengingatkan mu, aku takut kau lupa.” Ujar Alesya. Dan ingin membalikan badan lalu pergi dari ruangan yang penuh dengan aroma maskulin laki-laki itu.
“Apa Skala akan ikut?” tanya Kenzo,menghentikan langkah kaki Alesya.
“Tidak. Skala tidak ikut. Aku tidak akan membiarkan dia untuk ikut. Aku takut kejadian kemaren akan terulang lagi.”Alesya diam sesaat. “Apa kita akan pergi sendiri-sendiri?”Alesya memberanikan diri untuk bertanya hal itu sambil memilin ujung baju nya.
Kenzo menoleh pada Alesya,” kita akan pergi bersama. Bersiap-siap lah.” Kenzo pun berdiri dan masuk ke kamar tamu yang untuk beberapa hari belakangan ini menjadi kamar tidurnya.
“dia sekarang suka pergi begitu saja.” Gumam Alesya.
Malam pun tiba,..
Kenzo dan Alesya tiba ditempat acara. Terlihat Agnez dengan wajah cemberutnya sibuk menyalami tamu yang datang silih berganti. Agnes bahkan tidak sadar jika Alesya datang malam itu.
Kenzo meninggalkan Aleysa dan sibuk berbincang dengan kolega bisnis nya yang kebetulan ada hadir di pesta itu.
__ADS_1
“Sendirian ?”Sapa Frans yang entah datang dari mana.
“Frans?” alesya tersenyum akhirnya ada juga orang yang dapat ia bawa bicara. “tidak. Aku bersama Kenzo. Hanya saja ia sedang sibuk dengan para pebisnis lainnya.” Alesya mencoba menutupi rasa sedih nya sebab Kenzo lebih memilih bergabung dengan orang-orang itu dan meninggalkannya sendiri. Padahal moment ini adalah moment yang paling membahagiakan bagi Alesya sebab akhirnya ia bisa melihat Agnez tertimpa karma di depan matanya.
“kalau begitu aku yang akan menemani mu.” Tawar Frans.
Alesya akhirnya ditemani oleh Frans di pesta itu. Mereka saling berbagi kisah masa lalu ketika mereka masih berada di bangku sekolah. Sesekali Alesya tertawa mendengar perkataan Frans.
“Alesya ayo kita pulang,” ajak Kenzo yang sedari tadi mengawasi Alesya dan Frans akhirnya tidak tahan melihat wanita yang ia cintai malah tertawa tertiwi dengan laki-laki lain.
“Frans aku pulang dulu.” Pamit Alesya. Dia tidak ingin mencari masalah dengan Kenzo. Kenzo yang sudah mendiamkannya beberapa hari ini saja membuat kalut pikiran Alesya.
Mau tidak mau Frans harus merelakan Alesya pulang bersama Kenzo walau ia tahu Kenzo dan Alesya hanya menikah kontrak. “Aku membiarkanya pergi bersama mu sebab status nya saat bagaimana pun secara hukum adalah istrimu. Tapi bukan berarti aku akan mundur dari medan pertempuran ini tuan Dayson.”
Kenzo berlagak tidak peduli dengan ancaman Frans. Ia sengaja membuat Alesya berpikir ia sudah kehilangan rasa cinta yang ia ucapkan di tepi pantai malam itu. Dan jika itu adalah niat Kenzo maka Alesya akan memberikan applause sebab saat ini Alesya benar-benar berpikir Kenzo sudah tidak mencintainya lagi.
Kenzo dan Alesya pun meninggalkan pesta pernikahan Agnez.
Di dalam mobil mereka hanya diam tidak berbicara sepatah kata pun. Kenzo melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar tidak tahan bila berlama-lama dengan Alesya. Rasa rindu nya sudah menumpuk hingga kalau salah-salah bisa bisa ia khilaf. Kenzo berusaha terlihat se-cool mungkin.
“Turunkan aku disini.” Ujar Alesya tiba-tiba ketika mobil itu melewati sebuah taman kota yang tetap terlihat terang meski sudah malam.
Kenzo menghentikan mobilnya. Seakan ia tidak peduli apa yang akan Alesya lakukan malam-malam begini di taman kota itu sendirian. Alesya bertambah sedih dengan sikap Kenzo.
Alesya pun turun dari mobil Kenzo dan menutup pintu mobil itu.
Begitu pintu tertutup Kenzo pun langsung pergi. Alesya tidak sanggup melihat mobil Kenzo yang semakin menjauh. Dibalikkan nya badannya dan berjalan sendirian menelusuri jalan setapak di taman itu. Baru beberapa langkah Alesya berjalan, tiba-tiba lengannya ditarik dengan kencang dari belakang oleh sebuah tangan pria. Mata Alesya terbelalak melihat pria yang menariknya itu ternyata adalah pria yang sama yang barusan tega menurunkannya dan meninggalkannya sendirian di taman.
“Kenzo?” batin Alesya. Alesya menatap lekat manik mata Kenzo seakan-akan mencari sesuatu di dalam kelamnya mata pria itu.
Alesya mencoba menahan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. “lepaskan.” Ujar Alesya sambil menahan tangis yang hampir pecah. Alesya mencoba melepaskan lengannya dari tangan laki-laki yang sudah mengusik beberapa harinya belakangan ini.
“Ayo pulang!” Seru Kenzo dengan suara beratnya. Kenzo benar-benar akan gila bila ia membiarkan Alesya berkeliaran sendirian di taman malam-malam tanpa pengawasan. Itu taman kota bukan taman belakang atau samping rumahnya. Apa saja bisa terjadi jika wanita berjalan sendirian di taman ini malam-malam begini.
“Lepaskan!!” seru Alesya marah dan memberontak terus mencoba melepaskan pegangan tangan Kenzo yang begitu erat.
“Apa kau tidak takut berjalan sendirian di taman ini? Ini sudah malam Alesya! Ayo pulang!” Ujar Kenzo bersikeras ingin membawa Alesya pulang. “Ini sudah malam Alesya. Apapun bisa terjadi di taman yang sunyi ini!!!”
“aku lebih takut duduk berdua dengan mu tapi kau menganggap ku tidak ada, Kenz.” Ujar Alesya dengan pipi yang sudah dibasahi oleh air mata. “Aku lebih takut kau terus mengabaikan ku.” Ujar nya terisak. “Aku takut, aku –aku-“ kenzo segera menarik Alesya ke pelukannya.Dan akhirnya tangis wanita cantik itu pun pecah sempurna di pelukan Kenzo. “Aku mohon jangan jauhi aku lagi!!” Alesya memeluk erat Kenzo. “Aku mohon!!”
“Akhirnya kau luluh juga Alesya.” Batin Kenzo.
Kenzo melepas pelukannya. Dan menghapus air mata di pipi istrinya itu.”kau sendiri yang meminta ku untuk tidak jauh lagi dari mu. Maka jangan menyesali semua perkataan mu nyonya Dayson!!” Kenzo langsung menci*m Alesya dengan lembut. Alesya dengan suka cita membalas ci*man Kenzo. Untuk saat ini Aleysa ingin diri nya terbebas dari semua perasaan yang menyiksanya beberapa hari ini. Alesya sadar dia sudah terbiasa dengan keberadaan laki-laki yang baru ia kenal ini. Hati nya terasa hampa ketika Kenzo tidak didekatnya. Hati nya juga kerap menangis bila Kenzo mengabaikannya. Dia sudah muak dengan semua itu. Alesya berpikir dirinya juga berhak untuk bahagia. Sesaat, Alesya mengesampingkan keinginan balas dendamnya dan meraihkan cinta nya.
“Aku tidak akan menyesali apapun.” Ucap Alesya dan kembali menci*um Kenzo.
************bersambung.......................
Itu...itu yang masih jomlo tolong pikiranya dikondisikan ya.. efek dari bab ini di luar tanggung jawab otor sebagai penulis.. hehehe
Dan seperti biasa, jangan lupa untuk like, komen dan vote.
__ADS_1