
“kau lama sekali!” ujar Dyana pada Frans yang muncul di depan pintu rumah Kenzo.
“Hai tuan Aksena, apa kabar?” Sapa Jack dari belakang Dyana.
“Hi..Jack.” Sapa Frans sambil menyalami Jack.
“Jack, aku ada janji dengan Frans. Kau tidak perlu menemani ku. Nanti Frans yang akan mengantarkan ku pulang.” Ujar Dyana sambil menarik tangan Frans untuk segera meninggalkan rumah Kenzo.
“hati-hati di jalan nona!” Seru Jack dari dalam rumah. Kini Jack bisa santai tanpa harus mengekori Dyana kemana pun dia pergi hari ini.
“Kau mau kemana?” tanya Frans pada Dyana yang kelihatan sedang asik menuliskan pesan untuk seseorang di ponselnya.
“Antar kan saja aku ke Mall Y. Dan kita bisa mengobrol di sana sambil makan siang.” Dyana benar-benar sudah mengatur jadwalnya hari.
“Aku akan ngobrol sambil makan siang dengan pria menyebalkan ini lalu setelah itu aku akan berjalan-jalan keliling mall dengan Marcus.” Dyana tersenyum mengingat agenda yang telah dibuatnya.
“kenapa kau senyam senyum sendiri.” Seru Frans. “Kau tidak mengira kita sedang berkencan kan?” Ujar Frans membuat lamunan indah Dyana buyar.
“Kencan?? Dengan mu? Meskipun pria di bumi ini sudah punah tuan Irfrans Aksena, aku Dyana lebih rela jadi perawan tua dari pada memilih mu menjadi pacar ku.” Ujar Dyana, dengan wajah yang tidak suka.
“baguslah kalau begitu. Sebab aku juga tidak ingin kau salah paham dengan maksud ku. Kau tahu sendiri kan kalau ibu mu dan ibu ku berniat menjodohkan kita. Jadi aku harap kau pun dapat menegaskan pada ibu mu bahwa hubungan kita tidak lebih dari hubungan pertemanan. Oke.” Tegas Ifrans sekali lagi.
“hhuh!! Percaya diri sekali kau tuan Aksena!” Dyana sungguh jengah mendengar bualan dari Frans sepanjang perjalanan ini.
“Ayo turun. Kita sudah sampai di mall yang maksudkan tadi.” Frans mematikan mobilnya dan turun dari mobil itu.
Dyana pun segera turun dari mobil. Semakin cepat urusannya dengan Frans selesai maka semakin cepat pula ia dapat berjumpa dengan Marcus. Membayangkan dapat berjalan-jalan dengan Marcus hari ini saja membuat Dyana sangat senang.
“Kita makan dimana?” tanya Frans ketika mereka sudah sampai di pusat makanan di mall itu.
“ Disana saja. Aku mau makan dimsum.” Jawab Dyana, lalu berjalan mendahului Frans masuk ke salah satu restoran China.
“Mau pesan apa nona dan tuan?”Sapa pelayan restorant itu ramah.
“Aku mau pesan ini dan ini.” Dengan cepat Dyana menunjuk makanan yang ia inginkan.
“kalau tuan mau pesan apa?” si pelayan menanyakan pesanannya Frans.
“Sama saja dengan pesanan nona ini.” Jawab Frans. Selama ini Frans memang tidak ada masalah dengan makanan. Dia bisa makan apa saja. Lagi pula tujuan utama Frans datang ke mall ini hari ini bukanlah untuk menikmati kuliner bersama Dyana namun dia punya tujuan yang lebih penting dari sekedar icip-icip makanan disana.
“Baiklah tuan dan nona. Makanan tuan dan nona akan datang lima belas menit lagi.” Pelayan itu pun meninggalkan Dyana dan Frans di meja itu.
“Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan pada ku. Tapi ingat, aku hanya akan menjawab pertanyaan yang aku ketahui dan aku berada disini bukan sebagai bentuk kerjasama ku dengan ku untuk menghancurkan hubungan Kenzo dan Alesya. Dan satu lagi, kau akan menjadi supir ku untuk beberapa hari ke depan hingga Kenzo dan Alesya pulang.” Ujar Dyana, mengingatkan kembali Frans alasan mengapa ia berada di sini bersama Frans.
“Aku ingat. Kau tenang saja.” Jawab Frans.
“kalau begitu cepat apa yang ingin kau tanyakan. Kau jangan membuang-buang waktu ku yang berharga.”Seru Dyana yang sudah tidak sabar ingin menyuruh Frans pergi.
“Aku ingin tahu tentang fakta pernikahan Kenzo dan Alesya.” Ucap Frans dengan wajah serius.
Dyana terlihat berpikir kemudian dia berkata,”Pertanyaan mu terlalu umum. Sebaiknya kau memberikan ku pertanyaan-pertanyaan yang bisa aku jawab langsung dan tidak perlu berpikir untuk menyusun kata demi katanya terlebih dahulu. Jadi buat pertanyaan yang lebih spesifik lagi.” Protes Dyana.
“baiklah.” Jawab Frans pelan. Frans pun kelihatan berpikir mengenai pertanyaan lainnya yang lebih spesifik.
“Apakah Kenzo dan Alesya melakukan pernikahan kontrak?” tanya Frans akhirnya setelah cukup lama berpikir ia ingin bertanya mulai dari mana.
“Ya. Mereka memang menikah kontrak.”Jawab Dyana sambil menatap Frans yang ada dihadapannya. Dalam sekejap Dyana dapat melihat kegembiraan di wajah Frans setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Dyana. Lalu Dyana pun ikut tersenyum. Namun senyumnya ini bukan karena ia juga merasakan kegembiraan yang sama dengan Frans tapi lebih kepada senyuman yang mengejek kegembiraan Frans yang menurut Dyana kaan segera hilang setelah Frans mendengarkan lanjutan perkataan Dyana. “tapi itu hanya awalnya saja. Saat ini mereka sudah menikah betulan dan surat kontrak itu sudah mereka koyak.”
Benar saja, senyuman yang sempat mampir selama sekian detik di wajah Frans mendadak hilang setelah mendengar semua jawaban yang diberikan oleh Dyana untuk pertanyaannya.
“Kau pasti membohongi ku.”ujar Frans dengan wajah marah. “Aku mendengar sendiri waktu itu Kenzo dan Alesya membicarakan pernikahan kontrak yang mereka lakukan.”
“Telinga mu pasti bermasalah tuan Aksena. Bukankah tadi aku juga mengatakan kalau awalnya mereka memang benar menikah kontrak. Tapi sekarang tidak lagi.” Seru Dyana geram sebab ia harus mengulang kalimat yang sama pada Frans.
“Aku tidak percaya.” Frans melipat tangannya dan menatap Dyana dengan pandangan tidak sukanya.
“kau percaya atau pun tidak itu bukan urusan ku. Karena tugas ku disini hanya menjawab pertanyaan mu yang aku ketahui jawabannya dengan jujur. Bukan untuk meyakinkan diri mu atas setiap jawaban yang aku beri.” Jawab Dyana dengan cuek nya.
“kalau begitu katakan pada ku kapan pernikahan mereka dari kontrak akhirnya menjadi pernikahan betulan.” Tanya Frans.
“Kalau kau tidak bisa meyakinkan ku, maka akan ku buat pertanyaan-pertanyaan yang membuat kau mengatakan semua fakta nya satu persatu.” Gumam Frans dalam hati.
“cerdik juga dia.” Pikir Dyana dalam hati.
“Waktu pastinya aku tidak tahu. Tapi yang pasti setelah kita makan malam bersama saat itu atau sehari setelah nya aku lupa. Aku memergoki mereka sedang –“Dyana menatap Frans. Dia bingung bagaimana cara mengatakannya kalau dia melihat Kenzo dan Alesya bermesraan di ruang tamu rumah mereka hingga ke ruang tengah bahkan hingga Kenzo menggendong Alesya ke kamar.
“Sedang apa?” Frans yang saking penasarannya bahkan tidak menyadari ujung kalimat yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Dyana.
“Kau sungguh ingin mendengarnya? Aku bisa saja menggambarkan dengan detail apa yang Kenzo dan Alesya lakukan malam itu.” Ujar Dyana, dan langsung membuat Frans ngeh dengan maksud Dyana.
“Heemmm.. tidak perlu.” Jawab Frans pelan. Wajah nya jadi memerah sendiri sebab bisa-bisanya ia meminta Dyana menjelaskan apa yang sedang Kenzo dan Alesya lakukan.
Dyana hanya bisa tersenyum melihat Frans yang telat menyadari hal itu.
“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Dyana.
“Dimana Kenzo dan Alesya saat ini?” tanya Frans.
“Kenzo dan Alesya saat ini sedang berada di rumah ayah Alesya.” Jawab Dyana.
“Di rumah tuan Ronald?” tanya Frans, heran untuk apa Kenzo dan Alesya sampai harus meninggalkan Dyana berhari-hari dan meminta Jack untuk menemani Dyana jika mereka hanya pergi ke rumah keluarga Diningrat.
“Bukan rumah tuan Ronald. Setahu ku Alesya memiliki ayah yang lain. Tapi aku juga bingung hubungan ayah dan anak seperti apa antara Alesya dengan pria yang kini mereka kunjungi itu. Yang pasti pria itu tinggal di kota J. Dan saat ini Kenzo dan Alesya pergi ke kota J untuk meminta restu pria itu.” Jelas Dyana.
__ADS_1
“Alesya memiliki ayah selain tuan Ronald?” Gumam Frans dalam hati.
“Apakah Skala adalah putra Alesya dan Kenzo?” Frans menatap lurus pada Dyana.
“Setahu ku iya. Tapi aku tidak tahu cerita lengkapnya. Baik Kenzo mau pun Alesya tidak terlalu dekat degan ku. Aku datang ke kota ini atas permintaan Kenzo untuk mengetes apakah Alesya mencintai Kenzo ataupun tidak. Jauh sebelum itu aku tidak pernah tahu ataupun mengenal Alesya. Dan dengan Kenzo sendiri aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mungkin semenjak dia pindah ke kota A aku tidak ada kontak dengannya.” Jawab Dyana jujur.
Wajah Frans terlihat murung. Mungkin laki-laki ini akhirnya menyadari bahwa harapannya untuk mendapatkan Alesya sudah tidak mungkin untuk dipenuhi.
“Sebaiknya kau mulai memutar haluan mu tuan Aksena.” Dyana sedikit merasa kasihan pada Frans. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Toh memang faktanya Kenzo dan Alesya saling mencintai. Jadi yang tidak memiliki kepentingan dalam bahtera cinta mereka terpaksa angkat kaki.
“Frans aku makan duluan ya. Sebab setelah ini aku mau keliling mall ini.”Ujar Dyana tersenyum.
Frans hanya dia tidak bersemangat. Makanan yang ada dihadapannya kini pun tidak dapat mengalihkan kesedihannya.
“Kasihan sekali.” Gumam Dyana. “ Kasihan sekali makanan itu kalau sampai tidak dimakan oleh Frans.” Dyana menatap dimsum-dimsum yang ada di hadapan Frans. Apa ia boleh memakan dimsum-dimsum itu? Dari pada mubazir pikir Dyana. Kebetulan dia memang lupa untuk sarapan pagi tadi.
“Apa kau tidak akan memakan makanan mu? Kalau tidak-“ Ucapan Dyana terhenti sebab Frans langsung mendorong piring makanan nya ke arah Dyana.
“Makanlah. Dan jangan lupa telpon aku kalau kau sudah selesai dengan urusan mu dari mall ini.” Frans meletakan beberapa lembar uang seratus ribu di atas meja untuk membayar makan siangnya dengan Dyana.
“Syukurlah dia masih ingat untuk membayar semua makanan ini.” Gumam Dyana dalam hati dan sudah tidak memperhatikan Frans yang sudah tidak kelihatan lagi di hadapannya.
Dyana segera mengambil ponsel nya mengirimkan pesan pada Marcus untuk segera datang.
Dyana senyum-senyum sendiri melihat pesan yang dikirim ke Marcus. Tak terasa sudah hampir seluruh dimsum yang ada dihadapannya hampir habis dia makan.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Di kediaman Rodio di kota J
Setelah berjam-jam akhirnya pintu ruangan itu terbuka.
Aldion tidak menyangka, akan ada banyak orang yang menunggunya dan Kenzo keluar dari ruang kerja itu.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Seru Aldion melihat Damian, Rose, Alesya dan Skala menunggu di depan pintu ruang kerja nya.
Dari belakang terlihat Kenzo berdiri dengan wajah yang sulit untuk diartikan ekspresinya.
Semua orang yang sedari tadi menunggu di luar ruang itu hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi antara Kenzo dan Aldion di dalam sana. Benarkah mereka hanya bermain catur? Atau mereka sedang berdebat tentang suatu hal.
“Bagaimana tadi permainannya kek? Siapa yang menang?” Skala akhirnya buka suara. Dia sudah tidak tahun untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Daddy mu yang menang.” Jawab Aldion sambil mengusap kepala Skala. “Ska, apa kau mau ke kamar kakek? Kepala kakek terasa sangat pusing setelah bermain catur dengan daddy.”
“tentu saja kek.” Skala pun menuju ke belakang kursi roda kakeknya dan mendorong kursi roda itu. Walaupun sebetulnya hal itu tidak perlu ia lakukan sebab kursi roda itu memiliki kendali otomatis sehingga tidak perlu bantuan orang lain untuk mendorong nya.
Skala dan Aldion pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Aleysa langsung menghampiri Kenzo. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Alesya tidak sabaran.
“Benar Kenz. Apa yang terjadi di dalam?” Damian pun tidak kalah penasarannya dengan Alesya.
“kami hanya bermain catur saja.” Jawab Kenzo sambil tersenyum.
“bermain catur?” hanya bermain catur?” tanya Alesya berulang-ulang.
Kenzo mengangguk sambil tersenyum. Walaupun Alesya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi dia dapat merasakan kelelahan di wajah Kenzo.
“paman sebaiknya aku dan Kenzo kembali beristirahat di kamar.” Ujar Alesya. Dia tidak ingin Kenzo lebih lelah dari ini.
“benar. Bawa suami mu untuk beristirahat sekarang. Bermain catur di bawah tekanan seperti yang baru saja suamimu rasakan pasti sudah menguras banyak sekali tenaga.” Ucap Damian.
“Paman bibi, aku ke kamar dulu.” Pamit Kenzo pada Damian dan Rose.
“Beristirahatlah nak. Aku akan meminta pelayan mengantarkan air lemon dan madu untuk mu.” Ujar Rose.
“terima kasih bi.” Jawab Kenzo.
Kenzo dan Alesya pun pergi ke kamar mereka.
****
“Ska, apa kau menyukai daddy mu itu?” tanya Aldion Rodio pada cucunya yang sedang memijat kepada nya.
“Tentu saja. Dan apa kakek tahu kapan dan bagaimana aku bertemu dengan daddy?” Skala tahu sebenarnya kakeknya sama sekali tidak berminat untuk mendengar cerita nya tapi Skala tetap ini menceritakan ini.
__ADS_1
Skala ingat tadi Kenzo mengatakan kalau Skala harus bisa membuat kakek Skala melihat betapa dalam dan eratnya hubungan ayah dan anak yang mereka miliki saat ini. Mungkin saja hati kakek Skala akan tersentuh kerena hal itu. Sebab bagaimana pun keras kepala nya Aldion Rodio, toh dia juga adalah seorang ayah. Dia pasti kaan memahami kedekatan antar Skala dan Kenzo.
“Kau ini!! Dasar bocah nakal!! Padahal kau tahu aku tidak menyukai daddy mu itu tapi kau tetap saja meminta ku untuk mendengarkan cerita awal pertemuaan mu dengan daddy mu.” Ujar Aldion pada cucu nya itu.
“benarkah kakek tidak menyukai daddy ku? Aku sama sekali tidak tahu menahu soal itu kek.” Elak Skala. Dia tidak ingin terlibat perbincangan yang serius dengan kakeknya tentang hal ini. Sebab misi yang Kenzo embankan pada nya memerlukan dia untuk tetap dalam posisi sebagai penghubung ayahnya dan kakeknya. Jadi Skala tidak boleh merusak hal itu.
“Kek, apa kau ingat dengan kemeja yang aku belikan saat ulang tahun mu?” Skala mulai menjalankan misinya.
“Kemeja yang kau kirim dari kota waktu itu?”Aldion mau tidak mau tetap harus mendengarkan cerita Skala dan merespon pertanyaan yang Skala berikan. Dia tidak mau cucunya merasa berkecil hati karena di abaikan.
“Benar. Kemeja itu adalah saksi pertemuan ku dengan daddy untuk pertama kali nya kek. Jadi aku mengenal oh bukan mengenal tapi bertemu dengan daddy untuk pertama sekali bukan diperkenalkan oleh mommy tapi dari ketidaksengajaan ku bertengkar dengan nya disalah satu Butik di mall untuk memperebutkan kemeja untuk mu itu.” Skala lanjut bercerita.
“Kau berebut kemeja itu dengan nya?” Aldion akhirnya jadi penasaran dengan cerita Skala.
Skala tersenyum sebab dia tahu ikan sudah memakan umpannya, “jadi cerita nya aku dan mommy pergi ke mall untuk membelikan hadiah ulang tahun mu kek. Kami berpencar untuk menentukan pilihan kami. Ini adalah hadiah dari ku untuk mu, so aku tidak mau mommy terlalu banyak memberikan masukan pada kado yang ingin aku berikan pada mu.” Skala melanjutkan ceritanya. Aldion yang awalnya terpaksa mendengar cerita Skala saat ini jadi benar-benar ingin mendengarkan cerita bocah ini.
“Aku pun berkeliling butik itu untuk mencari kemeja yang menurut ku pas untuk kakek. Hingga akhirnya pilihan ku jatuh pada sebuah kemeja yang terpajang disebuah manekin yang terletak di bagian kiri toko.”
“ketika aku ingin menyentuh baju kemeja dan meminta pelayan toko itu untuk membungkuskan kemeja itu untuk ku, ternyata disaat yang sama seorang pria dewasa juga menyentuh nya dan mengatakan hal yang sama.”
“kau pasti sudah bisa menebak siapa pria dewasa itu kan kakek. Ya benar. Dia adalah Kenzo Dayson.”Ujar Skala sambil tersenyum.
“Aku merasa bahwa aku lah yang pertama kali melihat dan menyentuh baju itu oleh karena itu aku tidak mau mengalah sedikit pun dengannya.”
“Aku masih ingat apa yang ia katakan pada ku saat itu. “aku yang terlebih dahulu menyentuh baju ini kid!” Skala menirukan cara berbicara sekaligus ekspresi daddy nya kala itu. Membuat Aldion secara tidak sadar ikut tersenyum geli melihatnya.
“Lalu apa yang kau katakan padanya?” Aldion jadi penasaran apa yang dijawab cucu nya pada Kenzo saat itu.
“Tentu saja aku tidak mau kalah dari nya kek. Aku katakan dengan penuh wibawa, aku yang melihat kemeja ini terlebih dahulu, sir! Aku sengaja menekan kan kata sir itu pada daddy kala itu kek. Biar dia tahu aku ini bukanlah anak kecil yang bisa dia gertak seenaknya.
“Bagus!! Bagus sekali Skala!! Kau memang adalah cucu ku!!” Seru Aldion bangga. “lalu apa yang terjadi kemudian?”
“kau tahu kek.. dia dan asistennya yang kemudian aku ketahui nama nya adalah uncle Jack, saling berpandangan. Mungkin di dalam hidup seorang Kenzo Dayson itu adalah momem pertama kali ada seorang anak kecil yang berani menjawabnya bicara.” Ujar Skala sambil tersenyum mengingat ekspresi Kenzo dan Jack saat itu.
“Andaikan kau ada disana saat itu kek, kau pasti akan tertawa melihat ekspresi mereka berdua.”
“lalu apa yang terjadi setelah itu? Dia tidak menyerahkan mu ke bagian informasi anak hilang kan Skala?” ledek Aldion pada cucunya.
“memangnya aku balita yang tersesat!!” jawan Skala sewot. “Kakek masih ingin mendengar cerita ku atau tidak?” tanya Skala tanpa sadar.
“Wadduh kenapa aku bertanya itu pada nya? Bagaimana kalau kakek menjawab dia tidak mau mendengar kelanjutan cerita ku ini?” Gumam Skala dalam hati. Dia menyesal sudah mengajukan pertanyaan itu pada kakeknya.
Hal diluar perkiraan Skala terjadi. Aldion Rodio malah mengatakan-
“cepat lanjutkan cerita mu. Jangan buat aku penasaran.” Ujar Aldion.
Skala kembali tersenyum. Ternyata umpan tadi benar-benar sudah dimakan habis oleh ikan itu.
“menantu kakek itu menegaskan sekali pada ku kalau dia lah yang memegang baju itu. Aku sempat merasakan bahwa om om ini sangatlah menyebalkan. Bagaimana hanya karena sebuah baju dia bisa berdebat dengan seorang anak kecil. Lalu aku katakan pada nya dengan gaya orang dewasa-“
“apa kau punya bukti, paman? Atau haruskan kita memeriksa CCTV toko ini hanya untuk hal sepele ini? Kau tahu kek, aku yakin saat itu daddy dan Asistennya pasti sedang menertawai ku didalam hati mereka. Tapi aku tetap saja pede bergalak ala orang dewasa. Aku tidak mau kalah dengan nya waktu itu.”
“lalu apakah karena itu dia membiarkan mu untuk membeli baju itu?” Tanya Aldion penasaran.
“Dia menyerah membeli baju itu!!” Skala menghela nafas nya. “menyerah dari mana kek? Yang ada dia malah mengolok ku. Dia katakan kalau kemeja itu tidak akan untuk ku. Dan aku mesti banyak minum susu agar bisa tumbuh besar dan bisa memakai kemeja itu. Dalam pikiran ku dia sungguh adalah seorang paman yang menjengkelkan.”
“Lalu apa yang katakan untuk membalasnya? Kau tidak diam saja kan Ska!!”
“Tentu saja tidak. Aku katakan padanya bahwa kemeja ini adalah untuk kakek ku. Aku juga menambahkan kalau aku tidak menyangka kalau pria muda sepertinya memiliki selera berbusana seperti gaya berbusana kakek-kakek! Dan sontak saat itu langsung marah pada ku kek. Mulai saat itu dia tidak lagi memandang ku sebagai bocah yang berusaha berebut sebuah kemeja dengannya tapi dia menganggap ku sebagai saingannya dalam mendapatkan kemeja itu.”
“benarkah?” tanya Aldion tidak percaya.
“Benar kek!! Bahkan dia menantang ku begini,” Skala mulai bersiap-siap menirukan gaya daddy waktu itu. “ Baiklah, kalau kau sanggup membayar baju ini dua kali lipat dari harga aslinya maka baju ini milik mu.”
“lalu???” Aldion jadi semakin penasaran.
“Aku panggil pelayan toko itu dan dihadapan tuan Kenzo Dayson yang saat itu belum resmi menjadi ayah ku, aku katakan dengan wajah penuh kesombongan-“ Skala bersiap-siap untuk klimak cerita nya.
“Aku ambil kemeja ini. Dan aku bayar lima kali lipat dari harga aslinya. Dan aku pun sengaja membayar baju itu dengan black card yang kakek berikan pada ku. Dan aku masih ingat daddy dan asistennya langsung pergi dari hadapan ku kek. Dia pasti sangat malu waktu itu karena dia pasti tidak menyangka kalau aku mampu membayarkan kemeja itu. Bukan hanya dua kali lipat, tapi aku membayarnya lima kali lipat kek.”
“itu baru cucu ku!!” Ungkap Aldion bangga.
“itu lah awal ku berjumpa dengan daddy kek. Yang ada dipikiran ku saat aku akhirnya kembali bertemu dengannya ketika mommy mengenalkannya adalah dia adalah seorang pria yang sombong, sok kaya, arogan dan lain sebagainya. Aku bahkan berada di garis depan menentang hubungan daddy dan mommy waktu itu.” Wajah Skala kali ini terlihat serius.
“mungkin daddy juga merasakan kejengkelan yang sama pada ku. Dia berkali-kali sambil bercanda mengatakan akan mengirimkan ku untuk hidup sendirian di gunung apabila akhirnya ia bisa menikah dengan mommy. Tapi apakah kakek tau apa yang terjadi setelah dia berhasil menikah dengan mommy dia sama sekali tidak mengirimkan aku ke gunung atau ke asrama atau ketempat lain nya yang jauh yang akan membuat ku berpisah dengan mommy. Dia malah membawa kami untuk tinggal bersama di rumah nya. Memang awal-awal aku tidak mempercayainya bahkan sering berbeda pendapatnya tapi ketika ia muncul ke depan sebagai perisai bagi mommy dan juga sosok ayah bagi ku walaupun kami selalu ribut di belakang mommy bagai anjing kucing, disaat itu tanpa aku sadari aku menerima nya bukan hanya sebagai suami mommy tapi juga sebagai sosok ayah. Ayah yang selama ini tidak aku miliki. Ayah yang selama ini hanya milik teman-teman ku saja. Akhirnya setelah sekian tahun merindukan sosok itu, aku menemukannya pada diri Kenzo Dayson.” Jelas Skala.
Aldion dapat merasakan bahwa Skala tulus dalam bercerita. Tidak dapat ia pungkiri bahwa hati sedikit tergerak oleh cerita Skala. Namun saat ini Aldion masih tetap pada pendiriannya. Dia masih belum mau membuka hatinya untuk menerima Kenzo sebagai menantunya.
Skala memperhatikan wajah kakeknya. Mencari hasil kerja nya sedari tadi apakah cerita nya yang mengharu biru itu bisa menembus tembok kemarahan yang dibangun oleh sang kakek untuk ayah nya?
Skala tersenyum dan berkata,”kek aku kembali ke kamar ku dulu ya. Aku sudah berjanji pada daddy akan memperlihatkan album ketika kecil.” Seru Skala dan meninggalkan kamar itu.
“Kita tunggu saja cerita ku tadi mempengaruhi isi hati dan pikiran kakek.” Gumam Skala dalam hati. “ kalau masih kurang akan aku ceritakan kisah lainnya yang lebih menguras air mata.”
*****
selamat hari senin,, dan selamat beraktivitas lagi.
Karena sudah senin lagi jangan lupa untuk vote ke karya otor ini ya .
Dan tetap dukung otor dengan cara like, komen dan vote ya.
Semakin banyak yang komen, like dan vote, semakin besar pula kesempatan untuk karya otor yang receh ini nangkring di beranda novel toon. Bantuin otor yang zeyeeeeeng..
__ADS_1