Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 13#Daddy aku rindu#2


__ADS_3

"Paling tidak? apa maksud nya dengan mengatakan paling tidak setahun ini? memang nya dia berniat menikah dengan ku seumur hidup?" Gumam Alesya heran dengan perkataan Kenzo.


###


Di kediaman Frans


Malam itu tidak hanya Kenzo yang sulit untuk memejamkan mata, Frans juga belum bisa untuk memejamkan matanya.


Pertemuannya dengan Alesya membuat getar-getar cinta yang tadi nya sudah jauh tersimpan di dalam hati nya kini mulai mengirimkan Signal-signal kembali. Tapi Frans tahu bahwa Alesya kini tidak sendiri. Dia sudah menjadi milik Kenzo. Hanya saja Frans masih belum dapat mengikhlaskan Alesya begitu saja.


"Alesya!! Kenapa kau harus menikah dengan Kenzo!!!" Ujar nya berteriak. Pengaruh wine yang diminumnya cukup membuat urat-urat malu nya putus.


"Kenapa kau pergi meninggalkan ku!! Aku kira selama ini kau mencintai ku Alesya!!!" Teriak nya sambil memegang gelas winenya. "Tapi ternyata kau tidak mencintai ku.. "Ujar nya lirih. "Kau bahkan pergi setelah aku melamar mu pada ibu mu!!"


Frans meminum habis wine di tangannya. "Aku yang lebih dahulu mengenal mu Alesya! Kenapa kau tidak menikah dengan ku! Kenapa!!" Frans menuangkan kembali wine ke dalam gelas nya.


"Aku akan merebut mu dari tangan Kenzo!!" Ujar nya dalam keadaan tidak sadarnya.


"Kau dengar itu Kenzo!!!! Aku akan datang untuk merebut Alesya dari tangan mu!!! Kau dengar aku kan Kenzo!!! Teriak Frans tak karuan.


###


Pagi ini matahari memulai hari nya dengan tersenyum sangat lebar hingga membuat cahaya nya sangat terang terasa.


" Kau sudah bangun anak tampan?" Sapa Albert pada Skala.


"Hai kek." Sapa Skala yang baru saja membuka matanya.


Kini Skala sedang berada di rumah tua milik keluarga Dayson.


"Bagaimana keadaan mu pagi ini Ska?" Tanya Sebastian yang sengaja didatangkan oleh Albert untuk merawat Skala selama di kediamannya.


Skala melihat sekilas pada Sebastian. Lalu memandang kakeknya dan berkata, "Siapa dia kek?" Tanya Skala yang memang sama sekali belum mengenal Sebastian.


"Hahaha... aku lupa memperkenalkan mu dengan dokter Sebastian. Dia adalah dokter keluarga kita. Dia juga adalah sahabat ayah mu kenzo." Jelas Albert.


"Benar kah? kenapa aku tidak pernah melihat mu paman Sebastian?Tanya Skala.


" Apa kau meragukan, apakah aku benar sahabat ayah mu? atau kau meragukan ku apakah benar aku adalah dokter keluarga Dayson?" Sebastian balik bertanya pada Kenzo.


"Aku ragu keduanya." Ujar Skala tanpa filter.


"Waah.. aku tidak menyangka akan melihat Kenzo kecil dalam diri mu." Seru Sebastian.


"Huft!! Kenapa semua orang selalu berkata hal yang sama, mereka selalu berkata melihat daddy di dalam diri ku?" Ujar Skala jengah mendengar hal ini. Sebab Jack, asisten Kenzo juga sering mengatakan hal yang serupa. Mungkin kalau Kenzo adalah benar ayah Skala maka Skala akan senang mendengar orang-orang mengatakan hal tersebut. Tapi Kenzo hanya lah ayah sambung yang dihadapan publik menjadi ayah kandung Skala. Bagaimana mungkin wajah Skala dan Kenzo bisa sama? Dan bagaimana mungkin sikap dan sifat mereka serupa?"


"Kau tidak percaya??" Tanya Sebastian sebab melihat ketidak percayaan di raut waja Skala.

__ADS_1


"Heem.. Aku percaya." Jawab Skala yang terpaksa menyetujui hal tersebut sebab ia tidak punya tenaga untuk berdebat tentang hal ini dengan Sebastian.


"Seperti nya aku harus membawa bocah ini keruang Galeri milik keluarga Dayson. " Gumam Sebastian dalam hati.


"Tuan Dasyon boleh kah aku membawa tuan muda yang menggemaskan ini untuk berkeliling rumah ini?" Sebastian meminta ijin untuk membawa Skala berkeliling.


"Tentu saja.."


"Baiklah." Jawab Sebastian dan ia ikut keluar dengan tuan Dayson karena perawat akan membersihkan badan Skala. Baru setelah nya ia bisa membawa Skala berjalan-jalan bersama nya ke Galeri milik keluarga Dayson.


###


"Mari tuan muda." Sebastian mendorong kursi roda Skala keluar dari kamar nya. Sebab kondisi tubuh Skala masih belum terlalu pulih, maka tuan Dayson tidak membolehkan cicitnya untuk berjalan sehingga Skala untuk berkeliling harus menggunakan kursi roda untuk sementara.


"Kau tahu tuan muda.. Daddy mu sangat mengkhawatirkan mu. Dia bahkan segera menelpon ku untuk membawakan stok darah miliknya yang ada di rumah sakit ku. Awalnya aku mengira terjadi sesuatu yang buruk pada nya. Tapi ternyata ia membutuhkan darah-darah tersebut untuk mu. Kau sungguh beruntung memiliki ayah seperti daddy mu itu. " Sebastian membawa Skala menelusuri lorong menuju ke sebuah ruangan di rumah itu.


"Maksud paman, daddy ku yang telah mendonorkan darah nya untuk ku?" Tanya Skala terkejut. Skala sebenarnya juga penasaran siapa yang telah mendonorkan darah untuk nya mengingat, golongan darah nya sangat langka. Namun karena kondisi Skala belum terlalu pulih, hal itu terabaikan oleh nya.


"Ya... daddy mu yang mendonorkan darah nya untuk mu." Jawab Sebastian sambil tersenyum.


"Apakah paman Kenz adalah ayah ku?" Tanya Skala dalam hati.


"Paman, kau akan membawa ku kemana?" Skala melihat sebuah pintu yang sangat tinggi. Skala menduga pasti dibalik pintu yang tinggi ini ada sebuah ruangan yang sangat istimewa mengingat pintu ini berbeda dari pintu-pintu lainnya di rumah itu.


"Ayo.. kita ke dalam." Ujar Sebastian.


Sebastian membuka pintu tersebut. Dari luar Skala dapat melihat bahwa ruangan tersebut penuh dengan bingkai-bingkai foto. Dan Skala menduga itu pastilah foto-foto anggota keluarga Dayson.


"Ini adalah galery foto keluarga Dayson. Sudah ada sebelum kakek buyut mu lahir." Jelas Sebastian. "Coba lihat lah gambar ini. Ini adalah kakek dari kakek buyut mu. Dia terlihat tampan bukan?Dan anak kecil ini.. dia adalah kakek buyut mu sewaktu kecil." Sebastian menjelaskan beberapa foto yang menurut cukup menarik perhatian.


"Daan ya.. ini adalah foto kakek mu. Ayah dari daddy mu. Dia mirip sekali dengan daddy mu kan??" Tukas Sebastian sambil tersenyum membayangkan wajah anggota keluarga Dayson ini sangatlah identik dari satu generasi ke generasi yang lain. Wajah dan perilaku mereka bagaikan gen wajib yang harus di wariskan dari generasi ke generasi. Sungguh bertentangan dengan hukum persilangan yang dipelajari nya di bangku sekolah dulu.


"Dan ini daddy mu sewaktu seusia dengan mu." Tunjuk Sebastian pada salah satu foto. Terlihat seorang anak laki-laki tampan menggunakan topi sedang berdiri dengan gagah di sebelah mobil klasik.


"Ini dad-dy?" Tanya Skala terbata-bata sebab ia terkejut melihat betapa miripnya anak laki-laki di foto itu dengan diri nya.


Skala terus memperhatikan foto itu dengan seksama. Semakin ia perhatikan semakin ia merasa seperti melihat bayangannya sendiri di cermin.


"Iya.. itu daddy mu. Kau tidan berpikir kalau itu diri mu kan? Hahahaa... " Sebastian tertawa melihat ekspresi keterkejutan di wajah bocah kecil itu.


"Paman... " Panggil Skala pada Sebastian.


"Ya.. "


"Bisakah kau menelpon daddy ku. Aku ingin berbicara dengan nya." Tukas Skala.


"kenapa? Apa ada yang sakit??" Tanya Sebastian panik. Ia takut ia telah membuat Skala lelah. Walaupun Skala berkeliling bersama nya menggunakan kursi roda, tetap saja bocah itu bisa kelelahan sebab ia memang belum pulih sepenuhnya.

__ADS_1


"Tidak.Aku hanya rindu. Dan ingi mendengar suaranya." Ujar Skala sambil meneteskan air mata


"Hai... kenapa kau menangis Skala!" Sebastian menjadi bertambah panik karena saat ini bocah itu malah mengeluarkan air matanya.


"Aku akan mengantar mu ke kamar." Sebastian siap-siap akan mendorong kursi roda Skala. Tapi dengan cepat Skala menggeleng.


"Tidak paman. Aku masih mau disini. Bisakah kau menelpon daddy ku?"


Sebastian memeriksa kening Skala, takut-taku kalau bocah ini sedang demam. Tapi ternyata suhu badannya normal. Lalu Sebastian juga memeriksa denyut nadi Skala dan sekali lagi denyut nadi nya pun normal.


"Aku baik-baik saja paman." Ucap Skala.


Setelah yakin Skala baik-baik saja, Sebastian pun menelpon Kenzo.


Setelah beberapa kali menelpon baru Kenzo mengangkat panggilan dari Sebastian.


"Ini sudah tersambung.." Sebastian menyerahkan ponselnya pada Skala.


"Paman Sebastian bisakah kau keluar sebentar, ada yang ingin aku bicara dengan deddy ku." Pinta Skala sopan.


"Baiklah" Sebastian pun keluar dan menutup pintu ruangan itu.


"Halloo Sebastian... "Seru Kenzo untuk ketiga kali nya.


" Hallo...!!!" Kenzo mulai emosi sebab Sebastian tidak membalas nya.


"Kalau kau masih diam, aku akan menutup telepon mu ini!!" Ujar Kenzo berang.


"Hallo Daddy... " Sapa Skala pelan.


"Skala? Kau kah itu?" Suara Kenzo melunak.


"Daddy.. " Ujar Skala sekali lagi sambil terisak.


"Skala kau baik-baik saja nak!" Kenzo panik mendengar Skala seperti menangis. Lagi pula Skala memanggilnya daddy bukan paman Kenzo. Bukankah biasanya Skala selalu memanggilnya Paman Kenzo ketika mereka hanya berdua. Kenapa tiba-tiba Skala memanggilnya daddy? Apakah ada kakek atau Sebastian disana?


"Daddy... " Skala terus memanggil Kenzo dengan sebutan Daddy. Membuat Kenzo cemas apa yang sebenarnya terjadi.


"Skala?!! Katakan ada apa!! Kenapa kau menangis!!"


"Daddy.. aku-aku-aku rindu!!!" Kini tangis Skala pecah. Ia kini tidak lebih dari seorang anak kecil yang membludak hatinya sebab baru berjumpa dengan ayah nya. Setelah melihat foto-foto keluarga Dayson terutama foto Kenzo sewaktu kecil dan juga fakta bahwa Kenzo yang telah mendonorkan darahnya untuk dirinya, Skala yakin Kenzo lah ayah nya. Ayah kandung nya. Ayah yang selama ini ia cari. Walaupun ia tidak mengerti bagaimana kedua orang tuanya saling tidak mengenali satu dengan yang lainnya. Tapi Skala bisa merasakan Kenzo benar adalah ayah nya.


###


Ups.. ini up kedua ya.. sesuai dengan janji otor....


jangan lupa untuk like, komen dan vote...

__ADS_1


###


Masih ada satu lagi up untuk hari ini... tungguin ya..


__ADS_2