Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 5 #Kembali ke rumah lama #2


__ADS_3

Setelah Alesya meninggalkan ruangan Kenzo, Kenzo segera menelpon Jack. "Jack ke ruangan ku sekarang." Perintah Kenzo lalu menutup panggilan itu.


"Ya tuan, ada apa?" Tanya Jack begitu sampai di ruangan Kenzo.


Kenzo memutar kursinya dan berkata sambil melempar berkas Alesya ketika melamar menjadi sekretaris nya ke atas meja. "Cari tahu tentang Alesya dan putra nya. Semua data di dokumen ini palsu kecuali nama mereka." Kenzo melipat tangannya dan memejamkan matanya.


"Tuan jangan khawatir, saya sudah melakukan hal itu sejak anda dan nyonya Alesya menikah. Saya curiga melihat mobil yang dikendarai oleh nyonya Alesya. Mobil itu tergolong sangat mewah untuk wanita biasa yang melamar sebagai seorang sekretaris. Ya walaupun dia memang seorang putri orang kaya pada dasarnya tapi seingat saya dia tidak membawa apapun ketika kabur dari rumah saat itu kecuali perhiasan yang ia bawa kabur waktu itu." Terang Jack.


Kenzo mendengarkan perkataan Jack dengan hikmat. Ia mengangguk setuju dan berkata. "Semua ini terlalu mencurigakan Jack." Kenzo terlihat berpikir. "Coba kau pikirkan, seorang anak kecil dengan black card dan lagi..sifat sombong nya itu.Itu bukan sifat sombong anak dari kalangan biasa Jack. Aku sangat tahu itu?" Kenzo menyipitkan matanya, "Kalau aku tidak rebutan kemeja waktu itu dengan si bocah nakal itu maka aku akan tidak akan curiga dengan kehidupan yang mereka jalani selama ini." lanjut Kenzo.


"Anda benar tuan."


"Dan wanita itu, Alesya, dia tidak tertarik pada ku atau pun pada kekayaan ku. Ku pikir hanya ada satu jawaban untuk semua itu." Kenzo kembali terdiam dan melemparkan pandangannya pada Jack.


"Apa itu tuan?" tanya Jack.


"Ayah Skala pasti lebih tampan dan lebih kaya dari ku." Lanjut Kenzo.


Jack merasa seakan palu besar memukul tepat ditengah kepala nya ketika mendengar jawaban Kenzo yang membangongkan itu.


"what???? Jadi dia memerintahkan ku untuk menyelidiki nyonya Alesya hanya untuk mengetahui apakah nyonya Alesya memiliki laki-laki lain yang lebih tampan dan lebih kaya dari nya." Jack benar-benar terheran-heran mendengar perkataan tuannya.


"Cari tahu tentang mereka selama sembilan tahun ini. Dimana mereka selama sembilan tahun ini, dengan siapa mereka tinggal, siapa ayah Skala. Dan dimana laki-laki itu sekarang." Kenzo menatap tajam ke arah Jack. "Aku tidak mau ada informasi yang tertinggal walau sekecil apapun." Tegas Kenzo.


"Baik tuan."


Jack meninggalkan ruangan Kenzo."Seperti nya hati mu sudah menemukan tempat berlabuhnya tuan. Semoga dengan bersama Nyonya Alesya dan tuan muda Skala kau bisa melupakan si gadis berbintang itu tuan."


*


*


*


*


Alesya terlihat sibuk membereskan apartemen yang baru ditempatinya beberapa hari ini.


"Gaun ini.. " Alesya mengeluarkan sebuah gaun yang sengaja dia rancang sedemikian rupa sehingga sangat mirip dengan gaun yang Agnes suruh ia kenakan di malam naas sembilan tahun lalu. "Aku akan mengenakan gaun ini ke rumah Diningrat malam ini." Gumam nya pelan. "Agar mereka tahu alasan ku kembali ke rumah itu." Lanjut nya dengan tatapan penuh kebencian.


Dimasukannya gaun itu ke dalam koper dengan hati-hati.


*


*


*


*


"Mommy.. rumah siapa ini? Dan kenapa semua barang -barang kita ada di rumah ini?" Tanya Skala bingung karena setelah menjemputnya dari sekolah siang itu, sang ibu langsung membawanya ke sebuah mansion besar.


"Ini rumah paman Kenzo dan kita akan tinggal disini mulai sekarang." Jelas Alesya sambil memperhatikan para pelayan Kenzo memindahkan barang-barang nya dan Skala ke kamar mereka masing-masing.


"Well, kalau pun ini memang rumah paman Kenzo dan paman Kenzo dan mommy sudah resmi berpacaran bukan berarti kita harus serumah dengan nya, iya kan?" Skala benar-benar tidak ingin serumah dengan Kenzo secepat ini.


Menurut pemikiran Skala, Kenzo adalah laki-laki yang cukup baik dan cukup pantas untuk mendampingi mommy nya tapi dia masih harus menelusuri lebih dalam mengenai laki-laki ini. Apalagi tujuan Skala ikut mommy nya jauh-jauh ke kota A adalah untuk mencari sosok sang ayah.


"Kita tunggu paman Kenzo kembali dari kantor, setelah itu Mommy dan paman Kenzo akan menjelaskan semua nya pada mu sayang. Sekarang sebaiknya anak laki-laki mommy ini beristirahat saja ke kamar karena malam ini kita ada undangan makan malam di rumah keluarga mommy yang ada di kota ini."

__ADS_1


"Baiklah, Mom." Skala mengikuti pelayan rumah yang menunjukan kamar Skala di lantai dua.


*


*


*


*


"Apakah kau sudah menjemput Skala?" Tanya Kenzo ketika masuk ke dalam dan bertemu dengan Alesya yang sedang duduk cantik di depan TV.


"Ya.. dia ada di kamarnya saat ini." Jawab Alesya singkat.


"Apa dia bertanya sesuatu?Misalnya kenapa kalian harus pindah ke rumah ini?" Kenzo yakin, bocah kecil itu pasti tidak akan terpesona dengan rumah nya yang bak istana ini, pasti si bocah kecil yang cerdik itu menaruh curiga akan kepindahan mereka yang mendadak ke rumah ini.


"Ya begitu lah. Dia bertanya kenapa kami pindah ke rumah ini." Ujar Alesya.


"Lalu kau menjawab apa?" Kenzo penasaran akan jawaban yang diberikan Alesya untuk menenangkan putranya.


"Aku katakan kau yang akan menjelaskan semua hal ini pada nya Ken." Jelas Alesya sambil tersenyum.


"Aku??" Tanya Kenzo panik.


"Ya tentu saja kau." Tegas Alesya.


"Kenapa aku?" Tanya Kenzo heran.


"pertama,karena ide menikah ini adalah ide mu. Dan kedua yang memaksa kami untuk tinggal disini juga adalah titah dari mu." Jawab Alesya panjang kali lebar.


Kenzo menarik nafas dalam dan menatap wanita dihadapannya. "Paling tidak aku tahu sekian persen kecerdikan dan sikap menyebalkan si bocah kecil itu didapatnya dari sang ibu. Wanita ini benar-benar berbeda dengan gadis yang menyelinap di mobil ku sembilan tahun lalu. Alesya, aku yakin kau datang kembali ke kota ini dengan sebuah bom waktu yang ingin kau ledakan di kota ini sewaktu-waktu." Gumam Kenzo dalam hati.


"Kau ganti baju dulu. Aku akan memanggilkan Skala." Ujar Alesya.


"Oo.. iya, tadi para pelayan mu membawa semua barang ku ke kamar mu. Dan karena kita tidak mungkin pisah kamar di depan Skala, aku sudah mengatur ulang kamar itu sehingga area mu dan area ku tidak bergabung. Kita hanya berbagi ranjang dan kamar mandi saja. Selain itu, tidak ada hal yang sama yang kita gunakan bersama." Jelas Alesya dengan cuek dan naik ke kamar Skala.


"Perasaan apa ini? Kenapa wanita itu berani sekali mengatur semua hal di rumah ku dan termasuk kamar ku? Tapi kenapa aku tidak protes sama sekali dengan semua hal yang ia katakan?" Kenzo terdiam dan melihat Alesya yang sedang menaiki tangga. "Aku pasti sudah mulai gila." Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kenzo pun naik ke lantai tiga menuju kamar nya.


Sekilas tampak seperti tidak ada yang berubah dengan kamar nya itu namun ketika Kenzo masuk ke Wardrobe nya ia terkejut beberapa barangnya ada yang berpindah posisi. Dan ada satu lemarinya yang di dalamnya hanya terdapat semua milik Alesya.


"Dia benar-benar memisahkan barang-barang milik ku dan miliknya." Seru Kenzo.


Kenzo segera melepaskan kemeja nya dan mengganti nya dengan pakaian kasual. Lalu keluar dari kamar itu dan menuju ke ruang nonton.


Ternyata Alesya dan Skala sudah menunggu dia disana.


Kenzo berjalan ke arah Alesya dan Skala lalu duduk pas disamping Alesya.


"Oke. Siapa dari kalian yang akan menjelaskan semua hal ini pada ku." Tanya Skala to the point ketika Kenzo telah duduk disamping ibunya.


"ehem.. begini Skala. Sebenarnya aku dan mommy mu-" Kenzo melihat Alesya sejenak lalu berniat untuk melanjutkan perkataannya namun sayang sudah didahului oleh si bocah kecil itu.


"Kalian sudah menikah?" tutur Skala dengan tatapan penuh interogasi nya.


Kenzo dan Alesya benar-benar merasa sedang disidang oleh bocah kecil ini. Mereka saling pandang Dan serentak mengangguk.


"Apakah grandpa sudah tahu mengenai hal ini mommy?" Tanya Skala yang membuat Alesya terkejut. Dia lupa kalau Skala tidak tahu dia kalau ini hanya pernikahan kontrak. Skala pasti berpikir ini pernikahan betulan sehingga kakek nya di kota J harus tahu tentang hal ini.

__ADS_1


"Aku akan segera mengabari nya Skala. Bukankah selama ini kalian sangat mengharapkan aku untuk segera menikah. Dan lihatlah kini aku sudah menikah." Jawab Alesya sembarangan.


Kenzo sempat melihat sekilas air muka panik di wajah Alesya ketika Skala menyebutkan Grandpa. "siapa grandpa? apa dia ayah Alesya? tidak mungkin. Ayah Alesya adalah Ronald. Atau apa dia adalah ayah mertua Alesya? Atau ayah angkatnya? Hemm.. aku harus mencari tahu hal ini." Gumam Kenzo.


"Well baik lah. Kalau mom merasa paman Kenzo adalah suami yang tepat untuk mommy, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu." Ucap Skala singkat.


Alesya merasa tenang mendengar perkataan putra nya itu. Namun tidak bagi Kenzo. Kenzo yang terlanjur punya ekspektasi tinggi terhadap cara pikir bocah ini yakin Skala tidak akan bereaksi manis seperti itu. Reaksi penurut bocah ini terlalu mencurigakan.


"Karna Skala saat ini sudah menjadi putra ku, bukan sebaiknya dia tidak memanggil ku paman Kenzo lagi?" Tanya Kenzo pada Alesya. "Mungkin sebaiknya dia memanggil ku daddy?" Ujar Kenzo sambil tersenyum smirk pada Skala.


Skala hanya bisa memutar bola matanya malas. "Si paman sok sok an ini mulai lagi." Pikir Skala dalam hati.


Kenzo menatap Alesya seakan meminta persetujuan dari wanita ini.


Alesya menatap Kenzo lalu menatap Skala. Kemudian menarik nafas dalam. "Mungkin kau bisa tanya kan langsung dengan Skala, Ken." Ujar Alesya lalu bangkit dari sofa itu.


"Aku mau istirahat." Ujar Alesya


"Baiklah.Aku akan membawa Skala berjalan-jalan keliling rumah supaya dia terbiasa disini." Seru Kenzo.


Alesya pun naik menuju kamar tidur nya dan Kenzo.


Kenzo menatap tajam pada Skala.


"Aku tahu kau tak kan semudah itu menyetujui ini semua. Katakan pada ku apa yang kau rencana kan?" Tanya Kenzo to the point pada bocah yang baru berumur tujuh tahun itu.


Kini giliran Skala yang tersenyum smirk ke Kenzo. "Paman Kenzo.. oya aku lupa seharusnya kini aku memanggil mu dengan sebutan daddy.. whatever lah mau paman, daddy, ayah.. atau apalah itu bagi ku itu hanyalah sapaan." Ujar Skala sombong.


"Aku tidak bisa menyakiti hati mommy ku. Kalau memang dia memilih mu sebagai suami nya, aku hanya bisa memastikan kau akan menjadi suami yang baik untuk nya." Jelas Skala penuh keyakinan.


"Aku adalah anak laki-laki mommy ku, dan aku lah yang akan melindungi nya. Jadi jangan berharap kau dapat menyakiti mommy ku begitu saja." Lanjut Skala.


"Kau sungguh banyak berpikir untuk bocah seusia mu,Skala. Terkadang hidup itu sederhana seperti air yang mengalir di sungai." Ujar Kenzo.


"cih.. kau pasti anak malas belajar ketika kau kecil paman Ken. Apa kau tidak tahu air yang tenang permukaannya, punya arus yang kuat di dalamnya." Ucap Skala sambil geleng-geleng kecil.


"What the fuc*k" Maki Kenzo dalam dalam hati ketika mendengar bocah kecil itu berani merendahkan nya. "Kau harus tenang Kenz!!" Kenzo mencoba menenangkan dirinya


"Aku sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti mommy mu. Bahkan aku adalah orang yang pernah menolong mommy mu sewaktu melarikan diri dari kota ini." Kenzo merasa dia tidak perlu menutup-nutupi masa lalu Alesya dari bocah kecil ini. Kenzo juga merasa dia lebih mengenal Skala dengan sifat aslinya dari pada Alesya. Karena dari semua hal yang dilihat oleh Kenzo beberapa hari ini, bocah ini tidak menunjukan warna aslinya pada sang ibu. Dihadapan Alesya, Skala bermain peran sebagai bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang polos walaupun masih memperlihatkan sisi kecerdasan nya sesekali. Tapi dihadapan Kenzo, Skala sama sekali tidak menyembunyikan wajah asli nya sehingga Kenzo merasa Skala bukanlah bocah berusia tujuh tahun biasa.


"Jadi benar mommy berasal dari kota ini dan kembali untuk balas dendam. Tapi pada siapa?" Pikir Skala.


"kabur?Kenapa mommy ku kabur dari kota ini?" Tanya Skala pada Kenzo.


"Kenapa aku harus memberitahu mu tentang hal ini?" Kenzo sengaja jual mahal kali ini.


"Karena kau membutuhkan untuk mempertahankan mommy ku untuk terus berada disisi mu." Jawab Skala mantap.


"Dasar negosiator kecil, kau bocah tengik." Ujar Kenzo sambil tersenyum.


"Bagaimana bisa bocah sekecil ini bernegosiasi dengan ku dalam situasi seperti ini?" Kenzo sungguh heran dengan cara berpikir Skala.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan seratus paling tidak aku juga tidak boleh rugi seratus. Itu adalah prinsip hidup ku." Seru Skala.


"Baiklah aku akan menceritakan siapa mommy mu, dan hal-hal yang aku ketahui tentang mommy selama dia tinggal di kota A. Tapi tidak sekarang. Aku ingin kau berperan sebagai anak baik yang dapat menjaga emosi nya dengan baik malam ini. Karena malam ini akan ada pertunjukan pembuka dulu sebelum aku mulai mendongeng untuk mu." Terang Kenzo.


"Aku sudah menyangka, kau tidak akan langsung menceritakan hal itu pada ku. Well... aku rasa sudah cukup bincang-bincang kita hari ini. Aku harus menyiapkan akting ku malam ini." Skala berdiri dan berkata,"Bye daddy."


Kenzo yang mendengar Skala memanggilnya daddy tiba-tiba merasakan hatinya berdegup kencang. "Kenapa lagi diri ku?" seru Kenzo dalam hati.

__ADS_1


**bersambung..


__ADS_2