
"sayang..kemarilah!" Ujar Kenzo yang masih dalam keadaan lemah itu kepada Alesya.
"Iya.. "Alesya pun berjalan mendekati suaminya. Alesya senang, apa yang membebani suaminya selama ini sudah menghilang. Melihat Kenzo dan Marcus berbaikan seperti tadi memberikan Alesya kebahagiaan tersendiri.
"Heem.. Bagaimana perasaan mu saat ini?" Alesya naik ke atas tempat tidur itu dan duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur. Posisinya kini tepat di samping Kenzo.
"Terima kasih .."Jawab Kenzo yang terdengar sangat penuh dengan ungkapan rasa syukur. "Semua ini karena diri mu." lanjut Kenzo, dan mencium pucuk kepala Alesya.
"Kau tahu sayang .. Ketika melihat mu mengerang kesakitan, aku sungguh merasa ketakutan. Aku takut, aku sudah berbuat kesalahan dengan memberitahukan kebenaran ini pada mu." Ujar Alesya dengan muka muram..Masih terbayang oleh Alesya ketika ia melihat Kenzo yang memegangi kepala nya kesakitan setelah ingatan buruk itu berlahan kembali pada nya.
Kenzo menggeleng pelan..."Tidak..! bahkan jika harus melewati sesuatu yang lebih menyakitkan dari itu sekalipun aku siap menanggungnya." Ujar Kenzo, menggenggam erat tangan mungil milik nya istrinya itu."Aku bersyukur memiliki mu Alesya." Ucap nya, dan menarik Alesya ke dalam pelukannya.
"Aku yang lebih bersyukur lagi.. sebab menjadi istri mu tuan Kenzo Dayson. Kau suami terbaik yang ada di muka bumi ini." Alesya pun menyandarkan kepalanya pada Kenzo.
"Apa kau lapar?" Tanya Alesya melihat jam sudah hampir jam enam sore.
"Heeem ... tidak. Aku masih kenyang. " Jawab Kenzo.
"Tapi satu jam lagi kau harus makan, sebab kau harus meminum obat mu."
"Asal kau yang menyuapi nya aku pasti akan makan." ujar Kenzo, yang masih sempat-sempatnya menunjukkan kemampuan menggombal nya dalam keadaan seperti ini.
"Dasar!!!" Alesya langsung mencium pipi Kenzo dan bergegas turun dari tempat tidur itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Kenzo cepat.
"Aku harus mau melihat menu apa yang akan disiapkan oleh pelayan. Kau tetap di sini dan jangan kemana-mana." Seru Alesya dan keluar dari kamar.
***
__ADS_1
"Mommy!!!" panggil Skala yang baru saja datang bersama supir keluarga Dasyon. "Daddy mana?" tanya dengan wajah cemas. Tadi Alesya hanya mengatakan kalau Kenzo sedang sakit sehingga Skala harus segera datang kemari.
"Kau sudah sampai Ska?? Daddy ada di dalam kamar itu.. Tapi kau tidak boleh membuat daddy mu pusing!! Kalau daddy mu sudah tertidur, jangan dibangunkan Ska!" Peringat Alesya pada Skala sambil menunjuk yang mana satu kamarnya Kenzo.
"Tolong tas koper Skala di letakkan di kamar itu saja.." Perintah Alesya pada pelayan yang membawa koper Skala.
"Tidak perlu!! Skala akan tidur dengan ku." Ujar Marcus yang kebetulan baru saja dari ruang dapur untuk membuat bubur untuk Kenzo jadi para pelayan bisa mengantarkan bubur untuk Kenzo nanti.
"Kau tidak keberatan kan jagoan kecil, jika harus berbagi kamar dengan ku?" tanya Marcus pada Skala.
Skala melihat kearah Alesya seolah-olah ingin tahu apakah ibunya mengizinkan dia untuk tidur di kamar Marcus atau tidak.
"Itu semua terserah pada mu Skala.. "ucap Alesya yang seakan-akan paham makna tatapan mata putranya itu.
"Kau yakin ingin tidur dengan bocah ini paman. Kau akan menyesal setelah kau tahu bagaimana Skala ini ditempat tidur. Dia akan membuat mu kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaan mu ditempat tidur itu." ucap Alesya sambil tersenyum simpul.
"Aaah mommy!! Mana ada aku tidur seperti itu!!!" Jawab Skala cepat kalau tidak dia bisa kehilangan muka nya karena malu.
"Sana temui ayah mu! Dia pasti sangat senang melihat mu!!! Dan kamar itu disebelah sana." ucap Marcus sambil menunjukkan arah kamarnya.
"Baiklah.. kalau kau tidak merasa terganggu dengan kehadiran bocah ini di kamar mu." Ujar Alesya pada Marcus.
"Sampai ketemu nanti Grandpa.." Ujar Skala dengan riang lalu menuju ke kamar ayahnya
"Aku mau ke dapur dulu untuk mengecek apa makanan yang akan disajikan untuk Kenzo."
"Sudah!! Kau tidak perlu ke dapur. Aku sudah memasak bubur untuk Kenzo tadi. Sebentar lagi akan diantarkan ke kamar Kenzo." Marcus mencegat Alesya untuk pergi ke dapur sebab semua nya sudah dia selesai kan.
"Apa kau juga bisa memasak paman?" Tanya Alesya heran mendengar Marcus sudah memasak bubur untuk Kenzo.
__ADS_1
"Apakah semua laki-laki di keluarga Dayson ini selain tampan, pintar dan penuh pesona juga pantai memasak?" gumam Alesya dalam hati. Alesya ingat kalau Kenzo juga pandai memasak. Waktu Kenzo pernah ditantang oleh Skala untuk memasak makan siang untuk Skala. Dan semua orang yang mengira tuan muda yang arrogant itu tidak bisa memasak, berhasil dibuatnya terperangah dengan kelezatan makanan yang dibuatnya.
"Maksud mu?" tanya Marcus yang tidak paham dengan maksud perkataan Alesya.
"Aku hanya berpikir tadi.. Apa semua laki-laki di keluarga Dayson bisa memasak?" Ujar Alesya sambil menyembunyikan wajah kagumnya.
"Apa Kenzo pernah memasak untuk mu?" Ujar Marcus balik bertanya pada Alesya..
"Tidak.. eh iya . heeemm, maksud ku, dia pernah memasak untuk Skala dan aku ikut mencicipi hasil masakan nya waktu itu." jelas Alesya pada Marcus.
"hahahaa . Aku tidak tahu pasti apakah Kenzo bisa memasak atau tidak karena aku sudah cukup lama tidak bertegur sapa dengan nya. Tapi yang aku ingat dulu sewaktu hubungan kami masih sangat baik, dia selalu melihat ku memasak untuk nya dan untuk Dyana.Dan tidak jarang kedua bocah itu selalu ikut membantu di dapur." ucap Marcus, sambil mengenang masa-masa yang menyenangkan itu.
"Mungkin saja karena itu akhirnya dia bisa memasak..." Alesya menyimpulkan seenaknya.
"Ngomong-ngomong soal Dyana ..Apa rencana paman ke depannya?" Tanya Alesya pada Marcus.
"Rencana ku?"
"Ya . rencana mu? Kau tidak akan membiarkan Frans menikung mu kan paman?" ucap Alesya sambil menyipitkan matanya. Bertanya pada Marcus dengan gaya seorang detektif.
" Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!"Ujar Marcus. "Hanya saja yang terpenting untuk Dyana saat ini adalah mengembalikan kepercayaan dirinya kembali. . keadaan nya saat ini sangat berdampak pada kepercayaan dirinya. Setelah kondisi Dyana membaik, aku akan segera melamarnya. Aku tidak ingin dia menolak ku berkali-kali..." jawab Marcus sambil tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Dia pernah menolak mu??" tanya Alesya tidak percaya kalau Dyana akan sanggup melakukan itu. Alesya tahu benar perasaan Dyana untuk Marcus. Bagaimana mungkin Dyana sanggup menolak orang yang selama ini dia cintai.
"Lebih kurang nya seperti itu...Tapi aku rasa itu semua karena dia terlalu shock dengan keadaan nya sekarang. Itulah mengapa aku pikir sebaiknya Dyana harus pulih terlebih dahulu... baru aku akan melamar secara resmi." Ungkap Marcus.
"Aku dan Kenzo ada di pihak mu paman.." Alesya menyemangati Marcus. Sebelum nya Alesya berada di pihak Frans, tapi saat ini Alesya yakin, pria yang tepat untuk Dyana adalah Marcus. Dan Alesya yakin, Kenzo pun akan berpikiran sama dengannya.
***bersambung ..
__ADS_1
πππ
*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.