
#Flash back off
“Kalau bukan karena Agnes menyiram cairan itu ke wajah ku maka rencana ku tidak akan berantakan seperti ini.” Gerutu Jenny sambil memegang wajahnya.
Jenny tidak tahu kalau putrinya Agnes telah meninggal akibat ulahnya sendiri. Andaikan Jenny tahu kalau Agnes telah meninggal karena ulah nya, entah apa reaksi dari seorang Jenny.
“Huft!!Kau sungguh membuat ku kesal Agnes! Karena kau melarikan uang perusahaan kini perusahaan jatuh ke tangan Alesya dengan bantuan Kenzo. Mengapa kau sangat tidak sabaran. Toh lambat laun perusahaan itu juga akan menjadi milik mu.” Tukas Jenny yang masih berpikir kalau Agnes lah dalang dari raibnya dana perusahaan yang di kambing hitamkan kepada dirinya.
“Mengingat tentang Agnes hanya membuat kepala ku bertambah sakit!!” Gumam Jenny dalam hati sambil meminjat-mijat kepalanya sebab saat ini dia sama sekali belum menemukan cara yang pas untuk menyelinap masuk ke dalam rumah Kenzo.
“Percuma aku menunggui Frans dari tadi, berharap aku bisa mendapatkan celah dari nya.”
Jenny pun memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit itu.
Tepat setelah Jenny keluar dari rumah sakit, Frans pun keluar dari ruang perawatan Stephanie bersama Stephan.
“Apakah kau serius akan mengikuti ku pulang?” Ujar Frans dengan wajah yang sangat keberatan karena Stephan sepertinya benar-benar akan mengikuti dia pulang.
“Tentu saja. Apa kau keberatan?” Tanya Stephan yang merasa tidak ada yang salah dari perbuatannya.
Frans hanya bisa mendengus mendengar jawaban yang diberikan oleh Stephan.
Frans melihat ke arah Stephan sejenak lalu dalam hatinya Frans berkata, “Aku tidak bisa membiarkan pria ini sampai ke rumah ku. Masalah tentang pernikahan ku dan Dyana yang akan aku batalkan saja belum aku bicarakan dengan ibu ku, mana mungkin aku membawa bala ku yang lain ke depan pintu rumah ku.” Batin Frans.
“Aku tidak jadi pulang.” Seru Frans dan kembali masuk ke dalam ruangan Stephanie.
“kenapa?” Tanya Stephan yang juga ikut kembali ke dalam.
__ADS_1
“Aku akan disini sampai adik mu bangun.” Ujar Frans lalu mengeluarkan ponselnya. Dia hendak menelpon Aditya dan meminta Aditya untuk membawakannya pakaian ganti.
“Bagus. Sungguh calon suami yang bertanggung jawab. Aku suka itu.” Sebut Stephan tersenyum bangga pada Frans yang dikira oleh stephan akhirnya mengakui bahwa hubungan Frans dan Stephanie.
Frans auto melihat ke Stephan. Sebenarnya mulut Frans sudah mau melakukan konferensi pers saat itu juga tapi untungnya kewarasan Frans langsung mencegah hal itu sebab hal itu hanya akan buang-buang tenaga saja. Kunci dari semua kesalahpahaman ini hanya Stephanie. Begitu wanita itu sadar maka Frans bisa pulang.
Frans pun menelpon asistennya untuk membawakan nya pakaian ganti. Lebih baik Aditya yang datang kemari dari pada membawa Stephan ke rumah nya.
“Hallo Aditya.. “
“Ya hallo tuan muda.” Jawab Aditya dari apartemen nya.
“Tolong kau bawakan aku sepasang baju ganti ke rumah sakit tempat Dyana di rawat kemarin.” Perintah Frans.
“Dua!!” Sela Stephan pada pembicaraan Frans dan Aditya.
“Heh! Kau bawakan dua pasang.” Frans mengulang perintahnya setelah menghela nafas.
“Dua? Apa nona Dyana kembali masuk rumah sakit tuan?” Tanya Aditya yang mengira Frans ada di rumah sakit karena Dyana harus kembali di rawat di rumah sakit.
“Tidak.. tidak! Dyana baik-baik saja. Dan aku yakin saat ini dia sudah ada di rumah.” Tukas Frans cepat.
"Aku kira -"
“Sudah kau jangan banyak tanya lagi Aditya. Aku sungguh ingin ganti baju saat ini.” Potong Frans.
“Baik tuan.” Jawab Aditya.
__ADS_1
Frans pun menutup telponnya dan Aditya.
“Siapa Dyana?” Tanya Stephan tiba-tiba kepada Frans dengan suara beratnya. Kali ini wajah dan aura nya kembali berubah menakutkan seperti sebelumnya membuat Frans bergidik ngeri bahkan hanya karena mendengar suaranya.
“Dyana adalah-“ Frans berfikir sejenak. Dia tidak boleh mengatakan kalau Dyana adalah wanita yang dijodohkan oleh keluarganya. Bisa -bisa dia pulang hanya tinggal nama.
Frans menelan saliva nya sejenak lalu berkata, “Dia adalah putri dari teman ibu ku.Beberapa waktu yang lalu dia di rawat di rumah sakit ini karena mengalami kecelakaan bersama asisten keponakannya.” Jelas Frans sangat komplit tapi dari sudut yang berbeda.
“Dengan begini aku tidak berbohong pada nya kan?” Seru Frans pada dirinya sendiri.
“Aku kira dia adalah kekasih mu atau tunangan mu.” Sebut Stephan yang sudah kembali memasang wajah ramahnya pada Frans.
Alis Frans langsung berkedut, “Pria ini sangat berbahaya.” Batin Frans, tingkat kewaspadaannya pada Stepan langsung meningkat ke level unlimited.
"Tidak... dia bahkan sudah memiliki pria yang dia cintai." Jawab Frans yang tiba-tiba merasa perih di hatinya ketika menyebut kan hal ini.
"Ternyata masih saja sakit jika mengingat hal itu." Seru Frans dalam hati.
“Aku tidak suka kalau ada pria yang mempermainkan adik ku tuan Aksena.” Lanjut Stephan yang kini kembali dalam mode serius. “ aku harap kau tidak ada maksud mempermainkan Stephanie.” cetus Stephan dan menatap Frans.
Frans hanya diam dan tidak menjawab apapun. Frans tahu, statement yang di keluarkan oleh Stephan barusan adalah statement jebakan. Yang mana apapun jawaban yang Frans berikan, apatah itu IYA atau TIDAK kedua nya akan berarti Frans saat ini memang sedang menjadi hubungan dengan Stephanie.
Tapi dengan tetap diam maka Frans mendeklarasikan dirinya secara tidak langsung pada Stephan bahwa dia tidak ada hubungan apapun dengan Stephanie.
“Pintar juga pria ini.” Seru Stephan dalam hati.
**Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk like komen dan vote yo cinto.. muach!