
Jenny terus mengikuti Frans dari belakang. Dia ingin tahu apa yang sedang Frans lakukan di rumah sakit ini. Dan siapa wanita yang di gendong oleh Frans yang sepertinya sedang terluka itu.
Jenny terus mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengan Frans dan rombongannya. Meskipun wajahnya telah berubah tapi kalau sampai ketahuan mengikuti Frans diam-diam oleh para pengawal Frans yang tidak tahu sedang berada dimana, bisa berabe urusannya. Sehingga Jenny tetap melihat ke arah Frans tapi bersikap seperti seorang pasien yang sedang mencari ruangan dokter untuk berobat.
Jenny terus melihat ke kiri dan ke kanan sambil melihat papan nama di setiap ruangan yang dia lewati, dan tak lupa mata nya sesekali melirik ke arah Frans yang kini sudah sampai di dalam ruang IGD.
“Tuan, baringkan saja nona ini disini.” Ujar salah seorang perawat sambil membawakan sebuah brankar pasien ke dekat Frans.
Tanpa mengatakan apapun, Frans pun langsung menurunkan Stephanie yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri itu ke atas brankar pasien itu. Darah Stephanie benar-benar telah mengotori jas dan kemeja putih yang Frans pakai.
“Akan kalian apa akan adik ku?” Sela Stephan ketika para perawat itu akan membawa Stephanie ke dalam ke arah ruang operasi yang bisa di tempuh melalui shortcut dari dalam ruang IGD.
“Tentu saja mereka akan memeriksa adik mu setelah itu mungkin mereka akan melakukan operasi kecil untuk menjahit luka Stephanie.” Jelas Frans yang heran mengapa Stephan bertanya pertanyaan aneh seperti itu. Frans juga menahan Stephan agar tidak mengikuti para perawat.
“Lepaskan tangan ku!” Segah Stephan sambil menepis tangan Frans. Begitu tangan itu terlepas, Stephan langsung mengejar adiknya yang dibawa oleh para perawat itu menggunakan brangkar pasien.
“heii kalian tunggu!!!” Panggil Stephan sambil terus berlari yang diikuti oleh Frans dari belakang.
“Sebaiknya kalaian berhenti, atau akan aku tembak kalian satu persatu!!” Ancam Stephan dan langsung membuat para perawat itu berhenti. Mereka tentu saja masih sangat sayang pada nyawa mereka yang hanya satu-satu nya itu.
“Kemana kalian akan membawa adik ku!!” Segah nya pada perawat itu.
“Adik mu ini mengalami luka tusukan yang cukup parah tuan, jadi dia harus segera untuk dioperasi.” Jawab salah seorang perawat.
“Operasi?”Tanya Stephan panik.
__ADS_1
“Iya tuan. Adik anda ini akan harus segera di operasi untuk menjahit lukanya.” Terang si perawat yang tidak ada pikiran apapun pada lawan bicaranya ini.
“Apakah ketika melakukan operasi itu kalian akan membuka pakaian adik ku?” Tanya Stephan yang semakin terdengar aneh.
“Hanya seperlunya saja tuan. Kami tidak akan membuka seluruh pakaian pasien.” Terang perawat itu lagi yang mulai keki dengan semua pertanyaan Stephan.
“Tidak boleh!! Tidak boleh ada yang melihat tubuh adik ku!! Walau sejengkal pun” Segahnya marah.
Kening Frans langsung berkerut mendengar perkataan Stephan yang benar-benar tidak masuk akal itu. Jika para dokter dan perawat tidak boleh melihat bagian dari tubuh adik nya maka bagaimana cara dokter dan perawat akan menjahit luka Stephanie.
“Adk dan kakak sama anehnya!” Dengus Frans dalam hati.
“Tuan, kami mohon kerja sama nya. Nona ini sudah kehilangan banyak sekali darah. Kalau tuan bersikap seperti ini kami tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada aik tuan.” Ancam salah salah seorang perawat yang lainnya.
“Tuan...” Seru Frans yang sudah lelah berdiri disamping Stephan akhirnya ikut angkat suara.
“Ya..” jawab Stephan dengan polosnya plus wajah panik yang masih bertengger di wajahnya.
Frans menarik nafas dalam sambil merutuki nasibnya yang begitu sial hari ini.
“Apa kau mau adik mu berangkat ke Syurga saat ini juga? Lihatlah wajah adik mu sudah sangat pucat. Kalau kau bersikeras menahan mereka untuk melakukan pertolongan medis pada adik mu maka mungkin besok kau tidak akan melihat dia lagi. So kau jangan bersikap aneh seperti ini. Lagi pula mereka itu nanti hanya akan melihat bagian tubuh adik mu yang perlu di operasi. Bukan yang lain. Kalau tidak boleh berpikiran aneh-aneh seperti itu. Mereka ini orang-orang profesional yang bekerja di bawah sumpah profesi mereka. Mereka tidaka akan melanggar sumpah profesi mereka dengan melakukan hal yang aneh pada pasien!!” Jelas Frans panjang kali lebar.
“Bagaimana kau bisa sangat yakin akan hal itu? Bagaimana kalau ternyata mereka tidak seprofesional yang kau katakan? Ayoo katakan pada ku!!!” Ujar Stephan berapi-api.
Frans langsung garuk-garuk kepada mendengar perkataan Stephan, secara ini bukan saat yang tepat untuk berkata seperti ini. Woii.. darah adik mu sedang berlarian keluar saat ini, dan kau masih sibuk mempertanyakan profesionalitas dokter dan perawat? Benar-benar manusia yang ajaib pikir Frans. Yang memang baru pertama kali jumpa orang aneh bin ajaib seperti Stephan. Jika sang adik sudah aneh maka sang kakak aneh pangkat sepuluh di kali seratus. Alis Frans sampai berkali-kali bertaut karena kaget mendengar setiap Statemen yang keluar dari mulut Stephan.
__ADS_1
“Tuan.. jadi bagaimana solusi untuk semua ini? Kau sungguh tidak kasihan melihat adik mu itu?” Tunjuk Frans ke arah Stephani.
“Heem.. atau untuk memastikan mereka tidak berbuat aneh-aneh mengapa kau tidak masuk saja ke dalam ruang operasi itu dan awasi mereka. Jika mereka berbuat sesuatu hal yang janggal maka kau bisa mematahkan tangan mereka seperti yang kau lakukan pada pada pria tadi.” Ujar Frans, dan langusng membuat dokter dan para perawat menelan salivanya bersamaan.
“Tidak!! Aku pun tidak boleh melihat tubuh adik ku. Walaupun kami kembar tapi tetap saja tidak di perbolehkan. Heemm. . bagaimana kalau diri mu saja?” Tawar Stephan pada Frans.
“Aku?” Tunjuk Frans pada dirinya sendiri.
“Mengapa dia malah mengizinkan ku??” pikir Frans dalam.
Frans melihat ke arah para dokter dan perawat yang sudah memberikan kode agar Frans menyetujui saja persyaratan yang Stephan berikan.
Kemudian Frans pun melihat ke arah Stephanie yang semakin terlihat pucat di atas brankar pasien itu. Tanpa berpikir panjang mengapa Stephan memperbolehkan Stephanie untuk dioperasi bila ada Frans di dalam sana, Frans pun akhirnya setuju untuk ikut masuk ke ruang operasi.
“Baiklah, aku akan ke dalam bersama para dokter dan perawat ini. AKAN KU PASTIKAN MEREKA TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL YANG ANEH-ANEH PADA ADIK MU INI.” Ucap Frans penuh penekanan. Dalam pikiran Frans, Stephan meminta nya untuk masuk hanya untuk mengawasi jalannya operasi itu.
“Ya.. segera kalian masuklah. Lihatlah adik ku jadi semakin melemah karena kalian tidak segera membawanya masuk.” Ujar Stephan dengan polosnya. Bisa-bisanya dia melimpahkan semua kesalahannya ini kepada para dokter dan perawat. Jelas-jelas dia lah yang membuat Stephanie harus menunggu beberapa saat di luar ruangan operasi.
“Aku akan benar-benar gila jika berlama-lama berada diantara kakak dan adik ini.” Frans pun masuk bersama para dokter dan perawat yang pergi sambil melihat sinis pada Stephan/
“huft! Paling tidak ada calon suaminya di dalam sana yang mendampinginya. Aku bisa sedikit lega.” Ujar Stephan setelah Frans dan para dokter serta perawat itu hilang di balik pintu ruang operasi.
😎😎
*ingat jangan lupa komen yo cintooo😘 *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.
__ADS_1