
******
“Dyana, apakah kau sedang berada di rumah Kenzo, sayang?” Tanya tuan Romano pada anak tiri nya itu.
“ya, ayah. Aku sedang ada di sini. Dan-“ Dyana menggantung kata-katanya. Dia tidak enak untuk mengatakan kalau Mai juga ada disini dan baru saja menciptakan sebuah masalah untuk Kenzo dan Alesya.
“Dan Mai juga ada disana?” Sambung tuan Romano cepat.
“heeemm..benar.” Jawab Dyana, tidak enak pada sang ayah. Tuan Romano walaupun adalah ayah tiri Dyana tapi dia adalah sosok ayah tiri yang sangat baik hati. Dia mampu mengisi sosok ayah yang telah hilang dari dalam hidup Dyana. Itu lah mengapa Dyana sangat sayang dan menghormati ayah tiri nya ini.
Terdengar tuan Romano menghela nafasnya dengan berat. Mungkin itu karena dia tahu bahwa putri nya sedang berusaha untuk menghancurkan rumah tangga milik orang lain.
“bisakah aku berbicara dengan Mai sebentar, Dyana? aku sudah menelponnya berkali-kali tapi dia tidak menjawab telpon ku..” Ungkap tuan Romano. Dalam hati tuan Romano masih tersimpan sedikit harapan bahwa putri nya Mai akan bersedia untuk meninggalkan Kenzo. Dan tidak akan membuat kekacauan dalam rumah tangga Kenzo.
“tunggu sebentar ayah.. Aku akan mengecek keberadaan Mai dulu. Sebab aku tadi meninggalkannya untuk berbicara dengan Kenzo berdua.” Jawab Dyana. Dan dia pun langsung menuju ruang tengah, tempat di mana dia meninggalkan Mai dan Kenzo tadi.
Dan benar saja.. Mai masih ada disana. Dia sedang duduk santai sambil menonton Tv.
"apakah Kenzo tidak mengusir nya untuk kembali ke Australia?" pikir Dyana dalam hati yang melihat Mai tidak ada gelagat seperti orang yanga akan pergi dari rumah ini.
Dyana menghela nafas.. Dia hanya bisa geleng-geleng dengan kelakuan saudari tiri nya ini yang sangat berbeda dengan ayah tiri nya, tuan Romano. "benarkah dia putri kandung ayah?" batin Alesya.
“Mai, ini... ayah ingin bicara dengan mu.” Ujar Dyana lalu menyerahkan ponselnya kepada Mai yang terlihat sangat santai, sama sekali tidak menggambarkan bahwa dia akan kembali ke Australia sore itu.
__ADS_1
“Hallo ayah..”Sapa Mai pada ayah nya. Suara nya terdengar sangat riang.
"bisa-biasanya dia terdengar sangat bahagia setelah Kenzo mengusirnya?" gumam Dyana dalam hati dan masih tetap berdiri di samping Mai yang sedang menelpon. Dyana tidak bisa pergi begitu saja karena telponnya sedang dipakai dengan Mai. Lagi pula mereka tidak sedekat itu sehingga Dyana bisa mempercayakan barang yang penuh dengan privasinya begitu saja pada Mai.
“Mai sayang, ayah mohon pulang lah nak. Kenzo saat ini sudah menikah dan bahkan dia sudah memiliki seorang putra. Ayah menelpon kakek Albert tadi, kakek Albert sangat sedih jika kau terus seperti ini. Tidak kah kau sayang pada kakek Albert, Mai?" Tuan Romano mulai membujuk putrinya untuk segera pulang ke Australia.
Mai melihat sekilas ke arah Dyana yang masih dengan berdiri menunggu ponsel nya yang sedang di pakai oleh Mai.
“Dyana, can you leave me alone?” ujar Mai pada Dyana.
Walaupun merasa tidak nyaman karena ponselnya sedang ada ditangan Mai tapi Dyana akhirnya nya setuju untuk membiarkan Mai bicara secara privasi dengan ayah mereka. “baiklah. Dan segera hantarkan ponsel ku ke kamar.” ujar Dyana sambil menunjuk kamarnya.
"baiklah." Jawab Mai sambil menatap Dyana.
Dyana yang ditatap oleh Mai seperti itu pun pergi meninggalkan Mai sendiri di ruangan itu.
Setelah melihat Dyana yang mulai menjauh dari nya, Mai pun melanjutkan pembicaraannya bersama sang ayah.
“hallo ayah..”
“Mai? Dengarkan ayah sayang. Kalau kau memang mencintai Kenzo maka biarkan Kenzo bahagia dengan keluarga kecilnya.” Bujuk Romano sekali lagi pada Mai,di dalam hatinya sebenarnya dia juga sedih dengan keadaan putrinya saat ini yang telah menyerahkan seluruh hati dan jiwa nya hanya untuk Kenzo.
“Ayah.. please! Aku mohon! Sekali ini saja ayah. Biarkan aku melakukan apa yang aku mau.” Terdengar suara Mai seperti menahan tangis. Mai memohon kepada sang ayah untuk mengerti akan dirinya saat ini.
__ADS_1
Romano yang mendengar suara anaknya terdengar seakan -akan ingin menangis merasa hatinya bagaikan tersayat sebab ia tidak dapat mengabulkan keinginan terbesar dan terakhir putrinya itu.
“tapi yang kau perbuat ini salah nak.” tekan Romano. “Kita tidak boleh menghidupkan lentera kebahagian kita dengan mematikan lentera kebahagian milik orang lain. Ayah tidak ingin kau di kenang dengan predikat buruk seperti itu. Pulang lah sayang. Ayah dan ibu akan selalu bersama mu.” Bujuk Romano.
“ayah, lentera ku juga tidak akan bertahan lama. Waktu ku tidak banyak." Balas Mai.
"Dokter mengatakan hanya ada sebulan waktu yang tersisa untuk ku ayah. Mengapa aku tidak bisa merasakan kebahagian untuk waktu yang bahkan mungkin saja tidak sampai sebulan ini. Aku hanya ingin ketika aku menutup mata untuk terakhir kali nya, aku dapat melakukannya dalam pelukan Kenzo ayah. Apakah permintaan ku ini terlalu sulit untuk di lakukan ayah?” Air mata mulai mengalir di pipi Mai sehingga terlihat jelas jejak air mata itu pada riasan yang digunakannya.
“ayah tahu Mai... ayah juga mendengar saat dokter mengatakan itu semua! Tapi dokter bukanlah tuhan nak. Perkiraannya bisa saja salah. Aku dan ibu mu akan membawa mu untuk menemui dokter yang lain. Ayah yakin umur mu akan panjang sayang.” Tuan Romano pun tak kuasa menahan tangis nya lagi.
Alesya yang tanpa sengaja berdiri tidak jauh dari Mai terkejut mendengar semua hal itu. Alesya menutup mulutnya.
"Apakah Mai sedang berbicara dengan ayahnya? “Apa Mai sedang sakit?” pikir Alesya dalam. “itukah alasan sebenarnya mengapa dia baru mencari Kenzo setelah sekian lama?” air mata pun ikut mengalir di pipi Alesya. Membayangkan diri Mai saat ini.
Entah mengapa tuhan membuat Alesya ikut mendengarkan semua ini. Apakah tuhan ingin Alesya untuk mengalah? Aleysa pun berlahan mundur. Dia tidak ingin Mai tahu kalau dia sudah mendengar semua pembicaraan Mai dan ayah nya Mai.
“ayah dengarkan aku. Aku sadar apa yang aku perbuat ini sangatlah egois ayah. Aku juga sadar aku menyakiti hati istrinya Kenzo serta anak mereka. Dan aku juga sadar, cinta Kenzo tidak akan pernah ada untuk ku barang sedikit pun. Tapi ayah, ..hiks...” Mai tidak sanggup meneruskan perkataannya, perasaannya sedih sudah sangat menguasai dirinya.
“izinkan aku untuk menjadi egois kali ini saja.” Mai menutup mulutnya. Dia tidak ingin sang ayah mendengarkan dia menangis pilu disini.
“Baiklah kalau itu keputusan mu sayang. Ayah hanya berharap kau tidak terluka disaat-saat terakhir mu.” Tuan Romano pun menutup telpon itu.
Mai menutup kedua matanya untuk mengeluarkan semua air mata yang masih tersimpan disana. Kemudian setelah ia merasa sedikit tenang, dihapus nya semua air mata itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Lalu Mai mengeluarkan perlengkapan make up nya dan membetulkan make up nya yang mulai luntur karena air mata tadi. Dia tidak ingin Kenzo melihat wajah pucat nya tanpa make itu.
***bersambung