
“bagaimana keadaannya?” Jasmin pada penjaga yang melihat keadaan Agnez dari luar sel itu.
“Sepertinya dia sedang tertidur nyonya.”jawab si penjaga.
“baiklah. Dan terus awasi dia. Jangan sampai dia bikin keributan hari ini sebab akan ada tamu penting yang akan datang siang ini.” Ujar Jasmin sambil membayangkan kedatangan Marcus ke rumahnya.
Semalam ia sudah bercerita dengan suami nya tuan Puji kalau hari ini dia akan mengundang seseorang ke rumah mereka untuk makan siang dengan alasan dia ingin membalas budi laki-laki itu sudah mentraktirnya makan siang.
Tentu saja Jasmin tidak mengatakan bahwa yang sebenarnya ia tunggu hanya lah Marcus. Dia mengatakan bahwa ada muda mudi yang ingin ia undang. Dan tentu saja tuan Puji yang mengetahui bahwa tamu tersebut adalah sepasang muda mudi tidak keberatan dengan hal tersebut. Dan Jasmin pun sudah tahu watak suaminya pasti tidak akan dengan ceroboh melakukan hal yang akan mendatangkan bencana baginya. Bayangkan saja, Agnez yang kedapatan berfoto dengan laki-laki lain saja mendapatkan hukuman seberat itu dari suami nya apalagi kalau dirinya yang kedapatan bermain dibelakang tuan Puji, Jasmin bisa mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi dari Agnes. Jasmin tidak ingin itu terjadi. Jadi dia harus bisa membuat diri nya dekat dengan marcus tanpa mengundang rasa curiga dari tuan Puji.
Jasmin pun keluar dari ruang bawah tanah itu dan langsung menuju dapur. Jasmin memang seorang wanita yang sangat pandai memasak. Itu lah salah satu hal yang membuatnya menjadi istri kesayangan tuan Puji. Selain wajahnya yang cantik, kemampuannya membuat makanan-makanan yang lezat tidak perlu diragukan. Jasmin sangat memegang teguh perkataan ibunya, bahwa cinta seorang pria itu bermula dari perutnya. Begitu perutnya kenyang maka cinta pun akan segera datang.
__ADS_1
Jasmin dengan telaten menyulap bahan-bahan masakan yang ada di dapur menjadi makanan yang super enak yang ia ingin sajikan untuk Marcus.
Jika Jasmin sedang sibuk memasak, Marcus saat ini malah masih memikirkan apakah dia akan pergi ke rumah tuan Puji untuk memenuhi undangan Jasmin atau tidak. Sebab Dyana tidak bisa keluar bersama nya saat ini. Hati Marcus sebenarnya sedih karena tidak dapat berjumpa dengan Dyana tapi kalau dia sampai melewatkan kesempatan besar untuk bertemu dengan tuan Puji, maka akan sangat disayangkan.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Marcus pun memutuskan untuk datang memenuhi undangan makan siang di ruang tuan Puji. Ia pun melajukan mobilnya ke alamat yang diberikan oleh Jasmin waktu mereka bertemu sebelumnya resto itu.
Di kediaman keluarga Aksena..
“Apa tuan Frans sudah bangun?” Tanya Dyana pada pelayan yang sedari tadi setia menemani nya memasak di dapur.
“Sudah nona. Tapi saat ini tuan Frans masih beristirahat di kamarnya.” Jawab si pelayan.
__ADS_1
“kau tidak memberitahu dia kalau aku ada di sini kan? Dia bisa menjadi gila jika ia tahu aku belum pulang.” Ujar Dyana sambil terus mengaduk bubur yang dimasaknya.
“Tidak nona. Kami semua tetap tutup mulut seperti yang nona perintahkan.” Jawab si pelayan.
“bagus!! Oo iya, dokter akan datang jam berapa untuk memeriksanya?”
“Dokter akan sampai satu jam lagi nona. Tadi saya sudah menelponnya.”
“jangan lupa katakan kepada dokter itu untuk memastikan semua obat-obatan untuk tuan muda. Kan repot kalau nanti malam panas tuan muda naik lagi. Kau dan aku sama-sama tidak ada background tentang kesehatan kan?” Ujar Dyana sambil terkekeh sendiri membayangkan diri nya psecara acak memberikan obat-obatan pada Frans. Boro-boro sembuh takutnya besok pagi...”Jangan sampai!” gumam Dyana dalam hati. “kenapa aku berpikir aneh-aneh seperti ini!” pikir Dyana dalam hati dan tetap meneruskan pekerjaannya.
***bersambung
__ADS_1