Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 25#Ketulusan#9


__ADS_3

“jangan lupa katakan kepada dokter itu untuk memastikan semua obat-obatan untuk tuan muda. Kan repot kalau nanti malam panas tuan muda naik lagi. Kau dan aku sama-sama tidak ada background tentang kesehatan kan?” Ujar Dyana sambil terkekeh sendiri membayangkan diri nya secara acak memberikan obat-obatan pada Frans. Boro-boro sembuh takutnya besok pagi...”Jangan sampai!” gumam Dyana dalam hati. “kenapa aku berpikir aneh-aneh seperti ini!” pikir Dyana dalam hati dan tetap meneruskan pekerjaannya.


Tak lama kemudian bubur yang dibuat oleh Dyana pun selesai. Dan Dyana meminta pelayan untuk mengantarkan bubur itu ke kamar Frans.


“ini, tolong antarkan ke kamar Frans. Kalau ada sesuatu segera kabari aku. Aku ada di kamar.”Ujar Dyana sambil menyerahkan bubur itu pada si pelayan.


Si pelayan pun mengambil bubur itu dan langsung menuju kamar Frans. Di kamar itu terlihat Frans yang sudah terbangun.


“Tuan muda, ini bubur untuk tuan muda.” Si pelayan pun meletakkan bubur itu di meja kecil di samping tempat tidur.


“Kau bawa saja kembali. Aku sedang tidak selera makan.” Jawan Frans, sambil mengurut-ngurut tengkuknya.


“Tuan, tadi nyonya berpesan kalau tuan harus makan walaupun sedikit.” Si pelayan tetap berusaha membujuk tuan muda nya untuk makan.

__ADS_1


Frans melihat bubur yang di bawakan oleh si pelayan itu. Dengan sedikit terpaksa akhirnya Frans mengambil bubur. “sebaiknya aku makan bubur ini. Dari pada Nyonya Aksena yang cerewet itu kembali memanggil Dyana untuk datang kemari.” Gumam Frans dalam hati.


“Baiklah. Lihat baik-baik. Aku akan memakan bubur ini. Tapi aku tidak berjanji aku akan menghabiskannya. Paling Cuma satu atau dua suap saja.” Ujar Frans pada pelayan.


“Baik tuan. Tidak masalah asal kan ada yang masuk ke perut tuan siang ini.”


Frans pun mengambil bubur itu dengan ujung sendoknya lalu dengan perasaan terpaksa dia memasukan bubur itu ke dalam mulutnya. Dan...


Frans tertegun sejenak. Dia seakan-akan merasa janggal dengan rasa bubur itu.”Aku belum pernah merasakan bubur seperti ini.” Pikir Frans dalam hati.


“Ha..? sudah habis?” Ujar Frans tanpa sadar.


Si pelayan pun tersenyum sendiri melihat Frans ketika ia tanpa sadar mengatakan hal tersebut. “Uuu.. dasar tuan Frans. Katanya hanya satu atau dua suap saja. Ini mah satu tambah dua jadi dua belas suapan.” Ejek si pelayan dalam hati.

__ADS_1


“Heeem.. heeem.. seperti aku terlalu banyak tidur hingga perut ku menjadi sangat lapar.” Ungkap Frans. Seakan-akan sangat penting bagi nya untuk mengklarifikasi hal tersebut kepada si pelayan. “Apakah bubur ini masih ada?” Tanya Frans kepada pelayannya dengan sedikit rasa malu.


“Masih tuan muda.” Jawab si pelayan. “Apa tuan mau saya bawakan lagi?” Tanya si pelayan.


“Kalau kau memaksa untuk membawakannya lagi, aku tidak keberatan untuk memakannya.” Jawab Frans masih mencoba menjaga gengsi nya. Dia sungguh tidak menyangka kalau bubur tersebut akan seenak ini.


“baik tuan. Saya akan membawakan satu mangkok lagi ke kamar tuan.”Ujar si pelayan.


“Tidak!! Bawakan setengah mangkok saja.” Perintah Frans.


“Baik tuan.” Si pelayan pun mengambil mangkok kosong yang ada ditangan Frans. Namun ketika si pelayan akan mengambil mangkok itu dari tangan Frans, Frans malah menahannya. Sambil tersenyum Frans berkata, “Bawakan sedikit lebih banyak dari yang kau bawakan tadi.”


Walaupun si pelayan merasa geli melihat tingkah tuan muda nya itu tapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkan respon apapun. Dengan wajah datar si pelayan hanya mengangguk dan pergi dari kamar itu.

__ADS_1


** bersambung


__ADS_2