
“kau tidak perlu memaksa ku untuk pulang Kenz!!” Ujar Alesya marah ketika dirinya dimasukan paksa ke dalam mobil.
“kau pulang lah pakai Taxi!” Perintah Kenzo pasa supir nya.
“baik tuan.” Jawab si supir dan pergi dari tempat itu.
“Kau kenapa Alesya!” Seru Kenzo sambil tetap tenang.
“kau yang kenapa Kenz!! Kau kekanak-kanakan!!”Alesya memasang sabuk pengamannya.
“Aku? Huh. Kapan aku seperti itu!” jawab Kenzo.
“Jadi apa sebutannya untuk orang dewasa yang bekerja sama dengan seorang anak kecil untuk mengerjai ku?” Ujar Alesya sewot.
Kenzo tersenyum. “Benar tebakan Skala.” Batin Kenzo.
“Aku tidak paham maksud mu.” Kenzo sengaja berkilah sebab ini sudah sedikit lagi sampai ke tujuan yang telah Kenzo dan Skala rencanakan.
“Aku tahu Dyana adalah bibik mu.” Seru Alesya sambil melipat tangannya. Dalam pikiran Alesya dia sudah membuka kartu Kenzo dan Skala.
“Ya dia memang bibik ku. Memang nya ada aku katakan kalau dia adalah kekasih ku?”Jawab Kenzo sambil menatap Alesya.
“Tapi kau bilang dia adalah teman mu!” Alesya tidak bodoh, dia ingat Kenzo mengatakan kalau Dyana adalah temannya.
“kami hampir seusia. Jadi wajar kalau aku menganggapnya sebagai teman.”Jawab Kenzo enteng. Kenzo menghidupkan mobilnya namun mereka tidak juga beranjak dari tempat parkir itu.
“Kau mempermainkan ku tuan Dayson!!” Seru Alesya marah dan membuang muka nya.
“Tidak Alesya. Kau yang mempermainkan ku. Berpura-pura menyukai ku di depan wanita yang kau sangka adalah kekasih ku awal nya.” Kenzo menatap Alesya yang masih memandang ke luar melalui jendela mobil itu.
“Aku tidak –“ Alesaya menghentikan kata-katanya. Ia sadar ia baru saja masuk ke dalam jebakan Kenzo.
“kenapa kau diam Alesya. Ayo lanjutkan perkataan mu.” Sebut Kenzo yang melihat Alesya sudah menyadari kesalahannya.
“Lupakan saja.” Ujar Alesya.
“Kenapa aku harus melupakannya? Kau saja belum selesai mengatakannya.” Kenzo terus mendesak Alesya namun Alesya tetap diam. Sebab kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut nya tanpa melalui saringan dulu dari otak nya.
“kalau kau tidak berani mengatakannya. Biar aku yang saja yang mengatakannya.” Kenzo melajukan mobilnya keluar dari parkiran parkir.
Setelah mengatakan itu Kenzo malah diam dan melajukan mobilnya keluar dari parkiran gedung itu. Alesya tetap diam, dalam pikirannya Kenzo akan membawa ia pulang ke rumah.
Sepanjang jalan itu hanya kesunyian yang terasa dalam mobil. Kenzo terus menyetir sedangkan Alesya terus memandang ke arah luar mobil membiarkan lampu-lampu jalanan menerpa wajah nya.
Setelah jauh berjalan, Alesya baru menyadari kalau Kenzo tidak membawa nya pulang sebab jalanan yang ditempuh oleh Kenzo saat ini adalah jalan menuju pantai di tepian kota A. “Mau kemana dia membawa ku malam-malam begini?” batin Alesya. Tapi dia tetap memilih diam dan tidak bertanya.
Kenzo menghentikan mobilnya disebuah parkiran resort tepi pantai. “Untuk apa dia kesini?”
“Ayo keluar.” Ujar Kenzo pada Alesya.
Dengan wajah kesal Alesya pun keluar. Dia yakin ini bukan bagian dari rencana Kenzo dan Skala.
“Selamat datang tuan Kenzo.” Sapa seorang pelayan yang datang menyambut begitu melihat kami memasuki resort itu.
Kenzo hanya mengangguk dan terus menarik tangan Alesya untuk memasuki resort itu seakan-akan itu rumah nya sendiri. Atau jangan-jangan itu memang rumahnya? Alesya tiba-tiba berpikir mungkin saja itu memang benar adalah salah satu rumah Kenzo mengingat memang tidak ada tamu yang wara wiri ketika Alesya masuk ke resort itu. “pantas ayah mengatakan kalau Kenzo Dayson bukan tandingannya.”Gumam Alesya dalam hati. Benar ayah Alesya adalah orang kaya, tapi Alesya sadar kekayaan Kenzo melebihi kekayaan ayahnya.
Kenzo membawa Alesya keluar dari resort itu dari pintu keluar yang mengarah ke pantai.
“jadi apa tujuan mu membawa ku jauh-jauh ke sini? Kau ingin membangun istana pasir dengan ku disini tuan Dayson?” Seru Alesya sambil melepaskan tangan Kenzo yang dari tadi menarik nya. Kenzo mungkin mengira Alesya adalah anak kecil yang perlu dipegangi jika kesana kemari.
“Tidak! Aku membawa mu kemari untuk membangun istana di kehidupan nyata ku bersama mu.” Kenzo menatap dalam Alesya.
__ADS_1
“Aku tidak akan bertele-tele lagi dengan mu Alesya. Aku yakin kau dapat melihat dengan jelas kalau aku mencintai mu.” Kenzo meraih tangan Alesya. “Tapi kau terus bermain tarik ulur dengan hati ku.”Ucap Kenzo terang-terangan. “Kini katakan pada ku Alesya, apakah kau bersedia membangun istana bersama ku?”
Alesya menarik tangannya dan hanya berucap,”Maaf kan aku Kenz.” Dan pergi meninggalkan Kenzo sendiri di tepi pantai itu.
Kenzo tertawa sendiri mengingat hal yang baru saja terjadi pada dirinya,”Dasar anak nakal!!!Semua yang dikatakannya dan direncanakannya benar-benar terjadi.”Kenzo menghela nafas dan menggeleng sendiri. Lalu dia segera menyusul Alesya.
Kenzo melihat Alesya yang semakin menjauh. Kenzo mempercepat langkahnya.
“Kita menginap saja di sini malam ini.”Ujar Kenzo ketika menyamai langkah Alesya.
“Aku ingin pulang saja.” Jawab Alesya tanpa melihat ke Kenzo dan berjalan keluar resort milik Kenzo.
“baiklah.”Kenzo berjalan mendahului Alesya menuju ke mobilnya. Sambil berjalan kenzo menelpon pelayan di rumah nya.
Alesya melihat Kenzo yang berjalan mendahului nya dengan hati yang tak menentu.
Alesya dan Kenzo menuju ke rumah mereka. Perjalanan ini bahkan terasa lebih lama sebab keduanya saling membisu dengan perasaan yang tak menentu.
Setelah hampir tengah malam akhirnya Kenzo dan Alesya sampai ke rumah mereka.
Kenzo sengaja membiarkan Alesya memasuki rumah terlebih dahulu.
Alesya membuka pintu kamar dan mengganti pakaiannya. Bukan bermaksud menunggu Kenzo kembali ke kamar tapi Kenzo yang tak juga kunjung kembali ke kamar membuat Alesya bertanya-tanya apa kah Kenzo marah pada nya. Namun ia mencoba menepis semua rasa bersalah di hatinya dan memejamkan mata sembari berharap Kenzo bisa menerima jawaban dengan pikiran terbuka.
Malam itu pun berlalu dengan kesunyian sebab Kenzo ternyata tidak kembali ke kamar mereka dan tidur di kamar tamu di lantai satu.
Alesya membuka matanya dan menyadari kalau Kenzo tidak tidur disana. Seperti ada angin yang berdesir di hatinya pagi itu. Entah rasa apa itu? Apakah rasa bersalah atau mungkin kah itu sebuah rasa penyesalan? Alesya tidak dapat mendefinisikan dengan baik apa sebenarnya yang dirasakan oleh hatinya.
Alesya mandi dan setelah berpakaian ia pergi menuju kamar Skala.
Begitu ia membuka pintu dilihatnya anak itu sedang berpakaian yang dibantu oleh para pelayan.
“baik nyonya.” Para pelayan pun keluar, meninggalkan Alesya dan Skala.
“Heeem,... apakah mommy ke sini datang untuk memarahi ku?” Ujar Skala sambil merapikan baju nya. Wajah tampak santai dan tidak ada rasa bersalah sama sekali.
“baguslah kau tahu apa tujuan ku datang ke kamar mu pagi ini Skala.” Alesya mendekat dan ikut merapikan baju putra nya itu. “apa ada yang ingin kau jelaskan pada ku anak nakal?”tanya Alesya sambil terus merapikan pakaian Skala.
“Bukankah mommy yang terlebih dahulu seharus nya menjelaskan segalanya pada ku.” Skala melihat Alesya dengan wajah datar.
“Aku tidak merasa harus menjelaskan apapun pada mu.”Jawab Alesya yakin.
“Benar kah? Apakah mommy akan tetap mengatakan tidak harus menjelaskan apapun jika aku mengatakan aku tahu tentang pernikahan kontrak yang mommy lakukan dengan paman Kenzo?” Ujar Skala blak-blakan.
“Apa paman Kenz yang mengatakan hal ini pada mu Skala?” tanya Alesya, menyelidiki.
“Aku tidak akan mengatakan apapun lagi sebab mommy pun tidak ingin mengatakan apapun pada ku.” Skala melepaskan tangan Alesya yang masih memegangi bajunya.
“Awalnya aku bahagia karena akhirnya aku memiliki seorang ayah, tapi begitu mengetahui semua ini tidak lebih dari pernikahan kontrak aku hanya berpikir untuk membuatnya menjadi nyata.”Kilah Skala.
“Tapi kau tidak perlu khawatir mom, aku dan paman Kenz sudah menyerah. Kami tidak berhak memaksamu untuk berkorban demi kebahagian kami. Lagi pula meski kelak kalian bercerai, aku masih bisa menjadi anak paman Kenz.”Jelas Skala samabil sedikit memasang mimik iba di wajah nya.
“Apa kau begitu menyukai Kenzo Skala?” tanya Alesya merasa bersalah sebab dirinyalah yang menyebabkan Skala harus kehilangan sosok seorang ayah yang baru saja ia dapati.
“Apa jika aku mengatakan aku menyukainya, mommy akan tetap bersama nya?”Skala kembali bertanya pada Alesya. “Kalau jawaban mommy tidak maka lupakan saja.” Skala pun diam.
“Maafkan aku Skala. Aku tidak bermaksud untuk membuat mu merasakan sosok seorang ayah. Hanya saja aku tidak bisa menerima Kenzo.” Jelas Alesya.
“Sudahlah mom. It’s ok. Semua ini masalah hati dan bukan salah mu jika paman Kenz menyukai mu namun hati mu tidak melihat ke arahnya.”
“Ayo kita sarapan ke bawah.” Skala mengajak Alesya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Alesya berjalan bersama Skala menuju ruang makan. Disana sudah ada Kenzo dan Dyana yang sedang menikmati sarapan mereka.
“Pagi daddy. Pagi my beautiful grandma.”Sapa Skala pada Kenzo dan Dyana.
“Pagi Skala.” Jawab Kenzo dan Dyana.
Alesya tidak berani untuk mengucapkan apapun. Sungguh aneh memang. Dalam kejadian ini seharusnya Alesya lah yang mendiamkan mereka bertiga dan mereka bertiga seharusnya merasa bersalah dan meminta maaf pada Alesya. Tapi lihatlah kondisi nyata nya pagi ini. Mereka bertiga kompakan untuk diam dan tidak menghiraukan Alesya.
“aku sudah selesai.” Ujar Kenzo. Kenzo membersihkan mulut nya dan kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
Alesya yang melihat Kenzo naik ke atas dan menuju kamar mereka merasa ini lah kesempatan untuk Alesya berbicara berdua dengan Kenzo sebagai dua orang dewasa. Tidak ingin membuang waktu, Alesya pun mengikuti Kenzo ke atas.
Dyana dan Skala saling lirik dan mereka pun tersenyum. Kemudian Skala berujar setelah memastikan Alesya menjauh dari ruang makan itu,”liatlah sejauh ini rencana ku berjalan lancarkan, grandma?”
Dyana tersenyum kagum dengan cucu nya ini. “Kau memang sangat mengenal mommy mu. Semoga semua berakhir seperti yang kita rencanakan.” Seru Dyana.
“Sekarang semuanya tergantung pada daddy. Kalau daddy bisa memerankan peran nya untuk bagian yang terakhir ini dengan baik maka perencanaan ku pun tidak akan gagal.” Ujar Skala dengan sombong.
Dyana dan Skala pun meneruskan sarapan mereka.
Di lantai atas, tepatnya di kamar Kenzo dan Alesya, terlihat Alesya yang masih berdiri di depan pintu kamar. Ia ingin masuk tapi masih bingung apa yang akan ia katakan supaya Kenzo dapat memahami keputusannya.
Alesya menarik nafas dalam dan membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka terlihat Kenzo yang sedang mengenakan kemeja nya.
“apa kau tidak akan pergi bekerja pagi ini Alesaya?” tanya Kenzo dengan wajah dinginnya.
“Tentu!! Tentu aku akan pergi bekerja.”jawab Alesya sambil berjalan menuju tempat tidur mereka.
“Kenz, dapatkan kita bicara sebentar?” Tanya Alesya pelan.
“Katakan!” jawab Kenzo singkat.
“Huft!! Singkat sekali responnya!” gerutu Alesya dalam hati. “Tapi biarlah paling tidak dia masih ingin berbicara dengan ku.”batin Alesya.
“Hhah.. Kenz, masalah semalam-“ Alesya tidak melanjutkan perkataannya. Dia senagaja melihat respon Kenzo terlebih dahulu.
“Hemm.. kenapa dengan semalam?”Bukannya menjawab Kenzo malah balik bertanya.
“Apakah kau marah pada ku karena aku-“ Alesya kembali tidak menyelesaian ucapannya.
“karena kau menolak ku?” Sambung Kenzo cepat namun tetap denan ekspresi dinginnya.
“apakah itu alasan kau tidak kembali ke kamar malam tadi dan tidak menghiraukan ku pagi ini?” Tanya Alesya pelan.
“mulai saat ini aku tidak akan berbagi kamar lagi dengan mu Alesya. Aku akan tidur di kamar tamu dan kau bisa tidur di kamar ku sampai kontrak kita berakhir. Aku akan mencoba sesedikit mungkin untuk berinteraksi dengan mu. Aku harus bisa menutup mata hati ku. Aku tidak ingin selama terjebak dalam sebuah cinta yang terbalaskan.” Jawab Kenzo terang-terangan.
Alesya hanya diam. Tapi entah mengapa hatinya kembali merasakan ada gemuruh angin.
“kau tenang lah Alesya, aku tidak marah pada mu dan perlindungan ku untuk dan Skala akan tetap sama seperti sebelumnya hingga masa kontrak pernikahan kita berakhir.” Lanjut Kenzo.
“Lekas ganti pakaian mu sebab aku ada rapat dengan klien pagi ini.” Perintah Kenzo.
Kenzo pun keluar dari kamar itu. Kini hanya tinggal Alesya yang masih duduk di tepi tempat tidur. Sambil memegangi dada nya ia berkata,”kenapa hati ku terasa sakit?”
****bersambung.................
Maaf ya zeyeng,. Dua hari ini padat merayap... dan gak bisa fokus nulis. Cuma bisa nulis dikit eh instruktur nya datang!! Begini lah nasib kalau kerja rangkap seperti ini. Tapi Bab ini saja otor tulis setiap kali ada waktu lowong. Jadi maaf kalau ada typo-typo disana sini.
jangan lupa untuk like, komen dan vote..
dan satu lagi.. ayoooo siapa nih yang gemes dg sikap alesya yang masih belum menyadari perasaan nya? biar ntar otor kasih tau langsung ke Alesya nya.. 🤭
__ADS_1