
“Kau di dalam Dyana?” tanya Frans dari luar kamar Dyana.
“Kau kah itu Frans?” Tanya Dyana dari dalam.
“Boleh aku masuk?” Tanya Frans kemudian setelah Dyana menjawab perkataannya
“Masuklah...” Ucap Dyana.
“Hei... kau baik-baik saja?” tanay Frans sambil menutup pintu kamar Dyana.
“Entah lah Frans...” Jawab Dyana yang masih duduk di kursi roda nya.
“Heeemmm.. biar ku tebak. Pasti saat ini hati mu sedang kesal kan karena ibu mu tidak mengizinkan mu dan Marcus menikah?” Ucap Frans sambil menarik kursi dan duduk di depan Dyana.
“Ibu ku sangat tidak menyukai Marcus.” Ujar Dyana.
“Lalu??”
“lalu apa?” tanya Dyana yang tidak paham dengan perkataan Frans.
__ADS_1
“Lalu apakah kau akan menyerah? Aku rasa aku masih bersedia untuk menjadi suami mu kalau kau tidak berkeinginan untuk memperjuangan cinta mu dan Marcus!” kelakar Frans yang langsung mendapat lemparan bantal dari Dyana yang kebetulan duduk di samping tempat tidur nya.
“Hahahaha.. dari kekuatan lemparan mu aku tahu kalau kau masih ingin menikah dengan Frans...”Seloroh Frans.
“Kau ini!!”
“hahaha.. ya kan siapa tahu kau masih ingin menikah dengan ku! Tidak salah toh memastikan untuk terakhir kali nya sambil sedikit berharap...” Ujar Frans dengan wajah teduhnya.
“Klau kau tidak akan membantu ku sebaiknya kau keluar saja dari kamar ini Frans.” Usir Dyana yang saat ini tidak sedang ingin bergurau dengan Frans.
“Heeem.. aku katakan aku datang untuk membantu mu apakah kau akan mengizikan ku untuk tetap berada di kamar mu?” Ujar Frans dengan seulas senyum manis di wajahnya.
“Heeem.. kalau begitu aku rasa kau pun harus mengizinkan ku untuk tidur di kamar ini sebab aku tidak hanya berniat untuk membantu mu aku bahkan sudah memiliki sebuah solusi untuk permasalahan mu!” Ucap Frans sambil melipat tangannya.
“ Seharusnya aku tahu tidak seharusnya aku mendengarkan mu! Kau sedang mengolok-olok ku!” Ujar Dyana cemberut.
“Hahaha.. aku serius Dyana. Aku datang ke kamar mu ini karena aku sudah memiliki solusi untuk masalah mu dan Marcus. Eitts mungkin lebih tepat nya aku akan mengatakan ini rencana Alesya dan Kenzo.” Sebut Frans.
“Alesya? Kenzo? Heem.. aku tidak mengerti maksud mu Frans? Apa hubungannya hal ini dengan Alesya dan Kenzo? Dan bagaimana kau bisa bertemu dengan mereka? Kapan?” Tanya Dyana bertubi-tubi.
__ADS_1
“Wooo..woooow! Sabar nona! Aku butuh waktu untuk mencerna pertanyaan mu satu persatu.” Ujar Frans, bercanda.
“Apa harus ku ulang?” Tanya Dyana polos.
“Haha..tidak..tidak! ingatan ku cukup kuat untuk mengingat semua pertanyaan mu. Asal kau tahu aku ini adalah serorang pria yang pintar.” Aku Frans sengak.
“Iya!! Iya!! Aku tahu!!” Jawab Dyana penuh keterpaksaan.
“Apa sekarang kau menyesal menolak ku?” Kelakar Frans.
“Frans!! Kau ini !!”
Sekali lagi Frans mendapatkan lemparan bantal dari Dyana.
“Hohohooo...” Frans menangkap bantal yang di gunakan oleh Dyana untuk memukulnya.
“Setelah kau menilah nanti entah kapan lagi aku bisa bersenda gurau seperti ini dengan mu Dyana? Marcus pasti akan menghajar ku kalau aku sampai berani dekat-dekat dengan istrinya. Marcus itu kan kembarannya Kenzo cuma beda angkatan aja.” Gurau Frans dengan suara yang dikecilkan.
“hahhaha... kau benar sekali Frans. Mereka itu bukan kembar tapi mereka itu satu tali pusar!” timpal Dyana yang sangat tahu seperti apa kedekatan Kenzo dan Marcus sebenarnya. #Tentu saja sebelum negara api menyerang.
__ADS_1
**bersambung..