
*Ketika perjalanan pulang..
“Kenz, apa kau yakin akan pergi ke kota J bersama ku?”
“nyonya Dayson, apa kau sangat mengkhawatirkan suami mu ini? Aku yakin selama kau ada disisi ku ayah mu tidak akan berani menyakiti ku.” Jawab Kenzo sambil menyetir.
“kau sangat percaya diri sekali tuan Dayson.”Alesya melipat tangannya. Masih ada kekhawatiran di hatinya
“Sudah jangan pikirkan hal itu lagi. Dan apakah kau sudah memberitahu tuan Rodio kalau kau akan pulang bersama ku?”
“Lihat lah, kau masih memanggil ayah ku dengan sebutan tuan Rodio.” Semangat Alesya jadi melemah mendengar Kenzo masih menyebut ayahnya dengan sebutan tuan bukan ayah.
“Bukan aku tidak mau menyebut tuan Rodio dengan sebutan ayah tapi aku mendapatkan pengakuan sebagai menantunya terlebih dahulu baru aku akan dengan tenang menyebutnya dengan sebutan ayah.”
“kau memang ahli dalam merangkai kata-kata tuan Dayson. Tetap pertahankan keahlian mu itu dihadapan ayah ku.”
“kau tenang saja. Aku sudah lama mempersiapkan hati ku untuk pertemuan ini.” Jawab Kenzo mantap.
*****
*Di kediaman tuan Puji
“Apa dia sudah bangun?” tanya Jasmin pada pelayan yang berjaga di pintu masuk ruang bawah tanah.
“Sudah nyonya.” Jawab pelayan itu.
“buka kan pintu untuk ku.” Perintah Jasmin pada pelayan itu, dan si pelayan pun melakukan apa yang Jasmin perintahkan.
“ikuti aku.” Perintah Jasmin pada pelayan yang ada di belakangnya.
“baik nyonya.” Pelayan yang sedang membawakan semangkuk bubur itu pun mengikuti Jasmin dari belakang.
“kau sudah bangun adik ku tersayang?”Sapa Jasmin pada Agnes yang masih terlihat cukup bertenaga.
“Untuk apa kau ke sini? Kau datang untuk mengejek ku? Aku tahu semua ini adalah rencana mu!!” ucap Agnez berang.
“Apa kau punya bukti? Kalau tidak sebaiknya kau diam. Paling tidak itu dapat menghemat tenaga mu sebab kau masih akan ada di ruang bawah tanah ini sampai besok.” Senyum Jasmin terlihat sangat memuakkan bagi Agnez.
“Aku tidak butuh nasehat dari wanita ular seperti mu!”
‘’Lihat lah diri mu sekarang Agnez. Kau tidak lebih bagus dari debu di bawah telapak kaki ku ini.” Ujar Jasmin.
“Sebaiknya kau pergi aku mau tidur. Walaupun tempat ini tidak seindah kamar ku, tapi disini paling tidak lebih nyaman. Aku tidak perlu khawatir di bandot tua itu masuk ke kamar ku sewaktu aku tidur.”
“Syukurlah kalau kau menyukai tempat ini dengan begitu aku bisa sering-sering membiarkan mu menginap disini. Dan ya, aku membawakan mu semangkuk bubur. Pelayan cepat berikan bubur itu.” Perintah Jasmin pada pelayannya.
“tapi maaf Agnez aku lupa membawa sendok dan air. Jadi silahkan kau pandai-pandai saja sendiri.”
“Traaaaaaaang..”terdengar suara mangkok besi yang berisi bubur itu tergeletak di lantai.
“Aku tidak butuh belas kasih mu!” Ujar Agnez dengan wajah sombong nya.
“Terserah! Sebenarnya aku memberikan mu bubur itu hanya untuk mempercepat penderitaan mu saja. Tapi kalau kau memilih untuk menderita lebih lama, itu adalah hak mu!” jawab Jasmin sambil tersenyum, smirk.
“Apa maksud mu? Kau pasti meletakan sesuatu pada bubur itu kan?” Mendengar jawaban Jasmin, Agnez menjadi yakin ada yang salah dengan bubur yang dilemparkannya tadi.
Jasmin berbalik dan mendekat ke jeruji tepat di depan Agnez berdiri. “kemari lah. Akan aku bisik kan jawabannya pada mu.” Jasmin memberikan kode pada Agnez untuk mendekat.
Dengan perasaan was-was Agnez mendekatkan wajah nya ke Jasmin.
“Aku memberikan racun tikus di bubur itu. Sebab bagi ku kau adalah tikus hina yang ada di istana ku ini yang jika aku biarkan tetap hidup akan menggerogoti semua uang milik ku.” Ucap Jasmin sambil berbisik.
Agnez yang mendengar Jasmin menghinanya tidak dapat menahan amarahnya. Dengan cepat tangan Agnez sudah berada di kepala Jasmin dan menarik rambut wanita itu dengan sangat kuat.
Mendapatkan perlakuan yang kasar dari Agnes kontan Jasmin berteriak keras. Bahkan mungkin sangat keras dan terkesan dilebih-lebihkan.
“Lepas kan aku Agnez!! Kau menyakiti ku!! Lepaskan aku! Toloooong.. wanita ini menyakiti ku!!” Jasmin terus berteriak seakan-akan perlakuan Agnez dapat membahayakan nyawanya.
“Apa yang kau lakukan Agnez!! Cepat lepaskan tangan mu dari Jasmin!” Teriak tuan puji dari pintu masuk ruang bawah tanah itu.
Tuan Puji yang kebetulan sedang duduk di ruang baca yang berada tidak jauh dari pintu masuk ruang bawah tanah milik nya itu mendengar suara teriak Jasmin yang meminta tolong. Karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada istri kesayangannya itu maka tuan Puji pun segera mencari sumber suara itu dan ternyata itu berasal dari ruang bawah tanah.
“Cepat lepaskan dia Agnez!!!” teriak tuan Puji sambil bergegas turun menuju sel nya Agnez.
“Pelayan cepat jauhkan tangan wanita itu dari istri ku!!!” Perintah tuan Puji pada pelayan -pelayan yang ada di ruangan itu.
“Dasar kau wanita *******!! Awas kalau kau berani datang kesini lagi!!!” teriak Agnez seperti orang gila.
“Kau tidak apa-apa Jasmin?” tanya tuan Puji dengan wajah risau.
“Rambut ku-,, rambut ku rasa mau tanggal sayang! Kepala ku juga sangat sakit!!” jawab Jasmin.
“Apa yang kau lakukan pada istri ku hingga dia jadi kesakitan seperti ini Agnez!!!” bentak tuan Puji.
“Kau tanyakan sendiri pada istri mu itu. Untuk apa dia datang ke ruangan ini!” Jawab Agnez dengan suara yang tidak kalah besarnya.
“suami ku, aku datang kesini sebab aku merasa kasihan pada Agnez. Karena bagaimana pun aku lah yang telah memberikan amplop itu pada mu.Aku tidak menyangka dia akan mendapatkan hukuman kurungan dan tidak diperbolehkan makan selama beberapa hari. Aku sungguh merasa bersalah pada nya suami ku. Akhirnya aku putuskan untuk membawakannya semangkuk bubur walaupun aku tahu itu melanggar perintah mu. Tapi bagaimana pun dia adalah istri mu juga. Dan itu artinya kini dia adalah saudari ku.” Ucap Jasmin sambil diiringi beberapa butir tetesan air mata.
“tapi ternyata Agnez sangat marah pada ku dan membuang bubur yang aku bawa kan untuk nya.”Jasmin pun menunjuk mangkok bubur yang tergeletak di lantai.
“Sungguh aku tidak bermaksud buruk suami ku. Aku hanya tidak ingin sebagai sesama istri kami memiliki hubungan yang buruk.” Jasmin pun melanjutkan menangis di pelukan tuan Puji.
“kau memang wanita barb*r Agnez! Bagaimana mungkin kau membalas kebaikan hati Jasmin yang sudah bersusah payah ingin membantu mu melewati hukuman ini dengan berbuat kasar seperti tadi pada nya!! Dasar wanita tidak berpendidikan!!” maki tuan Tuan Puji.
“hah??? Apa kau percaya dengan kata-kata istri kesayangan mu itu? Pantas saja kau sering dibodohi oleh nya” Ejek Agnez.
“Jaga bicara mu Agnez! Kau baru saja menghina tuan Puji. Dia suami mu!! Suami kita! Tidak sepantasnya kau berbicara kasar atau pun buruk tentangnya!” Ujar Jasmin seakan-akan dia tersinggung dengan ucapan Agnez. Padahal dalam hatinya dia sangat senang Agnez berkata demikian.
“Kau boleh menghina ku Agnez atau menyakiti fisik ku tapi aku tidak akan membiarkan mu untuk menghina suami ku!” lanjut Jasmin.
__ADS_1
“Bagus sekali akting mu Jasmin! Kenapa kau tidak meminta tuan Puji untuk mengorbitkan mu sebagai aktris saja?” ejek Agnez yang sudah tidak peduli apapun yang dikatakan oleh Jasmin.
“Sebaiknya kita pergi saja dari sini sayang.” Ujar Jasmin pada tuan Puji. “Aku tidak mau mendengar dia berkata-kata buruk lagi pada mu.”
“Agnez akan aku pasti kan kau membayar perbuatan mu pada Jasmin hari ini. Jangan harap kau bisa keluar dari ruang bawah tanah ini dalam jangka waktu dekat. Aku akan menambah masa kurungan mu selama 30 hari. Dan kau hanya akan mendapatkan jatah makanan setiap dua hari. Itu semua agar kau dapat menghargai makanan. “Ucap tuan Puji sinis. “Jika kau lapar maka kau dapat memakan bubur yang ada di lantai itu. Sebab hanya itu makanan yang bisa kau makan hari ini.” Tuan Puji pun memapah Jasmin untuk keluar dari ruangan itu.
Agnez terduduk lesu di sudut sel itu. Situasi ini mengingatkannya bagaimana perlakuan ibunya dulu pada Alesya. Mungkin ini lah yang dirasakan oleh Alesya dulu. “Apakah ini balasan tuhan untuk ku karena berbuat jahat pada Alesya dulu?” tiba-tiba saja perasaan bersalah itu muncul di benak Agnez.
Sedangkan di kediaman Kenzo terlihat Dyana yang sibuk me-reject beberapa panggilan telpon.
“Apa pria ini sudah gila!!!” Ucapnya sambil me-reject panggilan di ponselnya.
“ArgggHHhhhh!! Frans!! Kau sungguh ingin membuatku gila!!!Teriak Dyana yang akhirnya menerima panggilan dari Frans.
“Apa kau tidak tahu arti atau pun makna jika seorang wanita terus menerus menolak telpon dari mu!!!” Ujar Dyana berang.
“Dan adalah hak ku untuk terus menghubungi mu hingga kau menerima panggilan ku.” Jawab Frans seenaknya.
“Cepat katakan, ada perlu apa kau menelpon ku!!!” Ujar Dyana sambil menarik nafas dalam dan menghembuskan nya kasar.
“bagaimana kalau kita bicara sambil makan malam di luar?”
“mengangkat telpon anda saja saya tidak bersedia tuan Aksena yang terhormat. Bagaimana anda bisa memiliki ide untuk mengajak wanita yang jelas-jelas dari tadi menolak telpon anda untuk makan malam bersama? I think you’ve lost your mind tuan Akesna.” Ucap Dyana dengan penuh penekanan.
“memang nya salah jika aku ingin berteman dengan anda nona Dyana?” Frans tidak menyerah begitu saja.
“Salah!! Sebab aku tidak mau punya atau pun memiliki teman seperti anda tuan Aksena. Apakah ucapan ku cukup jelas untuk mu?”
“itu urusan mu nona Dyana. Yang menjadi urusan ku adalah aku ingin berteman dengan mu.” Frans sungguh -sungguh harus menebalkan wajah nya kali ini. Dalam hidupnya baru kali ini dia ditolak berkali-kali oleh cewek yang dia tidak suka dan ajakannya untuk sekedar berteman pun ditolak begitu saja.
“Kau sudah gila tuan Aksesna!!!” ujar Dyana frustasi.
“terserah kau mau menganggap ku apa nona Dyana selama kau bersedia berteman dengan ku.” Ucap Frans seenaknya.
Dyana yang kesal dengan ucapan Frans menutup telpon itu begitu saja. Dia benar-benar sudah muak dengan pria yang bernama Irfrans Aksena itu. Hari ini bukan pertama kali Frans menelponnya karena sejak bertemu terakhir kali nya dengan Frans di cafe waktu itu Frans sangat gencar menghubungi Dyana.
Dyana bukanlah wanita bodoh. Dia tahu persis maksud tersembunyi Frans ingin menjadi temannya.
“Apa dia kira aku bodoh!!” Dyana pun mematikan ponsel nya. Dan turun ke bawah.
“Nona,”Sapa salah seorang pelayan.
“Ya ada apa?” jawab Dyana.
“Ada seorang pria yang mengantarkan kue-kue ini tadi di gerbang. Katanya kue ini semuanya untuk nona.” Si pelayan pun menyerahkan banyak sekali kotak yang berisi kue.
“Apa dia menyebutkan nama nya ?” tanya Dyana. Dia takut jangan-jangan si Frans lagi yang mengirimkan semua kue ini ke alamat ini.
“Wah tidak nona. Tadi saya sempat menanyakan namanya. Namun tuan itu hanya mengatakan bahwa nona akan tahu siapa pengirimnya setelah melihat kue-kue di dalam kotak ini.” Jawab si pelayan.
Dyana pun mengambil salah satu kotak dari bingkisan yang dipegang oleh pelayan itu. Dengan perasaan was-was dia membuka kotak itu.
“Makasih ya..biar saya saja yang membawanya ke dalam.” Seru Dyana dengan senyum yang mekar di wajah nya.
“Marcus!! Ternyata dia masih ingat kue kesukaan ku. Sejak dia dikirim oleh ayah ke Mesir aku sudah tidak pernah mencicipi kue ini lagi.” Gumam Dyana sambil memakan cookies bunga matahari.
“kau sedang makan apa grandma?” tanya Skala yang sedang duduk santai di tepi kolam renang.
“Kau mau coba?” Dyana pun berbelok menuju kolam renang itu.
“Ini..cobalah!” Dyana memberikan setoples cookies pada Skala.
“kue apa ini? Bentuk nya mirip bunga matahari.” Ucap Skala sambil memperhatikan kue bungan matahari di tangan nya.
“namanya cookies bunga matahari. Ayo di coba. Aku yakin kau pasti belum pernah mencoba cookies ini sebelumnya sebab ini hanya di jual di kota ini. Kau tidak bisa mendapatkannya di tempat lain selain disini.” Jelas Dyana.
“benarkah?” Skala pun menggigit cookies yang ada di tangannya itu. “Heeeemm rumayan juga,” Ujar nya dengan wajah sombongnya.
“Huft.. kau persis seperti daddy mu. Pelit dalam memuji!” Seru Dyana yang kesal mendengar pujian nanggung dari Skala itu. Padahal Dyana yakin Skala pasti menyukai cookies bunga matahari ini sebab tidak ada orang yang bisa menolak citarasa dari cookie bunga matahari ini.
“Sini, biar aku coba sekali lagi.” Skala ingin mengambil satu cookies lagi dari toples yang sedang dipegang oleh Dyana.
Namun dengan cepat Dyana menjauhkan toples itu dari jangkauan tangan Skala.
“Bukankah tuan muda tadi mengatakan kalau rasa cookies ini biasa saja?” ledek Dyana.
“Iya!! Rasanya biasa saja. Maka nya karena grandma mengatakan bahwa rasa nya istimewa aku jadi ingin mencoba nya sekali lagi!” Kalau soal memberikan alasan, Skala memang jago nya.
“dasar bocah nakal!! Bilang saja kau menyukainya dan ingin memakannya sekali lagi!”
“Tidak! Aku hanya ingin memakannya sekali lagi untuk membuktikan saja, apakah benar cookie ini selezat yang grandma katakan.”
Skala dan Dyana pun berebut cookies itu di tepi kolam berenang. Hal ini tentu saja membuat suasana jadi heboh.
“Nyonya Dayson, lihatlah! Apakah kau bisa membedakan yang mana bocah berumur 8 tahun dan yang mana yang berumur 80n tahun?” Tiba-tiba suara Kenzo terdengar dan serta merta membuat Skala dan Dyana berhenti berebut cookies bunga matahari ini.
“Ini !! grandma pelit sekali untuk berbagi cookiesnya pada ku!!’ ujar Skala sewot.
“Bukankah kau sendiri yang bilang kau cookies ini rasanya biasa saja?” Dyana pun tidak kalah sewotnya.
“memangnya kalian sedang memperebutkan apa?” Tanya Alesya yang heran melihat nenek dan cucu ini.
“Ini!!” Dyana mengangkat toples yang berisi setengah cookies matahari itu.
“Cookies bunga matahari?” Gumam Alesya pelan.
“Kapan kau membeli cookies ini bi?” tanya Alesya, dia yakin untuk meminta supir mengantarkan semua pesanannya ke kamar. Sedangkan di toko tadi semua pesanan di borong oleh Markus. Jika begitu bagaimana bisa ada cookies bunga matahari di tangan Dyana saat ini.
“Teman ku yang mengantarkannya tadi. Itu masih ada beberapa kotak di ruang TV. Kalau kalian mau kalian boleh mencobanya.” Jawab Dyana.
__ADS_1
“Benarkah?” dengan cepat Skala berlari menuju ruang TV yang diikuti oleh Dyana yang juga berlari mengejar Skala.
“Itu semua milik ku!!”Ucap Dyana sambil berlari.
“Huft! Itu yang kau katakan sudah dewasa Alesya? Asal kau tahu, bibi ku itu cuma umurnya saja yang dewasa tapi kelakuan nya sama saja dengan Skala.” Terang Kenzo sambil berjalan menuju ke kamar mereka.
Alesya tidak terlalu mendengar perkataan Kenzo sebab saat ini pikirannya sedang berada di tempat lain. Dia masih terpikir dengan kue bunga matahari yang ada ditangan Dyana tadi. Jika itu benar adalah pemberian temannya apakah teman yang dimaksudkan oleh Dyana adalah Marcus? Kalau benar Marcus yang memberikannya kenapa dia tidak langsung saja menyebutkan nama Marcus ketika ditanyai tadi? Hal ini benar-benar menjadi tanda tanya besar di pikiran Alesya.
“Sayang? Apa kau mengenal Marcus?” tanya Alesya setiba mereka di kamar. “ Tadi pria itu datang dan mengatakan bahwa dia adalah paman mu.” Lanjut Alesya sambil meletakan tas nya.
“ya benar. Dia adalah paman ku.”Jawab Kenzo sambil melepaskan jasnya.
Alesya segera menghampiri Kenzo dan membantu Kenzo untuk melepaskan dasinya.
“Apa kau pernah bertemu dengan Marcus sebelum hari ini sayang?”Tanya Kenzo .
“Ya, aku memang pernah bertemu dengan nya. Bahkan tadi pagi dia ke kantor mu bersama dengan ku.” Jelas Alesya dengan wajah tidak enak.
“Dia ke kantor dengan mu?” Kenzo memegangi tangan Alesya yang sedang membuka dari nya.
“kau menghalangi ku untuk menanggalkan dasi mu ini tuan Dayson.”Ujar Alesya sambil melirik pada tangan Kenzo yang sedang memegangi tangannya.
“Lupakan soal dasi ini.” Kenzo membawa Alesya duduk bersama nya di tepi tempat tidur.
“Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa bersama dengan nya ke kantor? Atau ceritakan bagaimana kau bisa mengenal paman ku?” Kenzo terlihat tidak sabaran untuk mendengarkan penjelasan dari istrinya itu.
Alesya memandangi suaminya. Bukankah seharusnya dia yang meminta penjelasan dari Kenzo. Sudah dua kali Marcus datang ke perusahaan tapi tidak sekalipun Kenzo memperkenalkan dia pada pamannya itu.
“baiklah. Tapi setelah aku bercerita kau pun harus menjelaskan pada ku kenapa kau tidak memperkenalkan paman mu itu pada ku dari awal.” Ujar Alesya.
“Aku pasti akan menceritakan semua nya pada mu.” Jawab Kenzo.
“ Aku sudah dua kali bertemu dengan paman mu itu Kenz. Pertemuan pertama itu adalah pada hari yang sama dia mengunjungi ku beberapa saat lalu. Pada saat itu dia juga datang ke perusahaan bersama ku.” Alesya mulai bercerita.
“Apakah Marcus sengaja mendekati Alesya untuk membalas perbuatan ku?” Gumam Kenzo dalam hati.
“Tapi itu kerena aku tanpa sengaja menabrak mobilnya dari belakang pada saat itu. Sehingga sebagai salah satu ganti ruginya aku harus mengantarkannya ke tempat tujuannya dan ternyata itu adalah perusahaan mu. Aku juga kaget ketika melihatnya keluar dari ruangan mu saat itu tapi aku berpikir mungkin saja dia adalah rekan bisnis mu.” Jelas Alesya.
Kenzo masih memperhatikan dan mendengarkan cerita Alesya dengan seksama.
“lalu pertemuan kedua yakni ketika aku membelikan oleh-oleh untuk ayah tanpa sengaja aku bertemu dengan nya di toko kue. Dan sempat terlibat sedikit perselisihan.” Ucap Alesya.
“Perselisihan?”
“Iya. Aku dan paman mu itu terlibat perselisihan!” Ulang Alesya. “Jujur saja tuan Dasyon aku merasa paman mu itu menyebalkan sekali. Sejak pertama kali bertemu aku sudak merasa sangat jengkel pada nya. Lalu di toko kue pagi ini dia juga sempat-sempatnya mengerjai ku. Entah apa reaksi nya nanti ketika dia tahu aku adalah istri keponakannya.” Ungkap Alesya sambil menghembuskan nafas, berat.
“tapi itu semua karena diri mu tuan Dayson! Andaikan kau memperkenalkan diri dengan semua anggota keluarga mu pasti kejadiannya tidak begini.” Ujar Alesya lemah.
“kau tidak perlu khawatir sayang. Aku punya alasan sendiri mengapa aku tidak memperkenalkan diri mu dengan Marcus.” Kini giliran Kenzo yang mulai bercerita.
“Marcus adalah anak angkat kakek. Dengan kata lain dia adalah adik angkat ayah ku. Tapi hubungan kami tidak baik sebab Marcus bukanlah seorang yang baik Alesya.”
“maksud mu?”
“Wajah tampannya tidak menjamin bahwa kelakuannya akan sebagus wajahnya. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua ku. Dia itu sengaja menyingkirkan ayah ku untuk merebut perusahaan keluarga.”
Alesya terkejut mendengar cerita dari Kenzo tentang Marcus. Walaupun Alesya merasa Marcus adalah pria yang resek dan sangat menyebalkan tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Marcus adalah tipikal pria yang tidak memiliki hati nurani seperti itu yang akan tega membunuh anak kandung dari pria yang sudah mengangkatnya sebagai anak.
“Dulu aku sangat dekatnya. Aku dan bibi Dyana besar di bawah pengawasannya. Kami bertiga sangat dekat. Namun semenjak mengetahui dialah dalang dari kecelakaan yang terjadi pada ayah dan ibu aku menjadi sangat membenci nya.” Raut wajah Kenzo tidak dapat menyembunyikan rasa sakit nya.
Bagi Alesya, apa yang kini Kenzo rasakan bukan sekedar rasa benci karena Marcus adalah otak dari peristiwa kecelakaan orang tua Kenzo tapi juga rasa kecewa yang teramat dalam karena di khianati oleh orang terdekatnya. Alesya baru tahu kalau Kenzo juga memiliki kisah sedih dalam dirinya.
“Itulah mengapa aku tidak memperkenalkannya padamu.” Ujar Kenzo akhirnya.
“aku bisa memahami perasaan mu sayang. Maaf kan aku ya. Kau jadi sedih karena harus menceritakan hal ini pada ku.” Alesya memeluk suaminya untuk menyemangati Kenzo.
“Aku senang kau ada disini Alesya, disaat aku membutuhkan sandaran untuk semua duka ku.” Ujar Kenzo dengan suara nya yang terdengar sedih.
“Aku akan selalu ada disisi mu untuk selalu memeluk mu seperti ini.” Ucap Alesya dan menepuk-nepuk punggung suami nya itu.
“Berjanjilah pada ku. Apapun yang terjadi kau tidak akan meninggalkan ku!” tanya Kenzo.
“Aku berjanji.” Ucap Alesya. “selama keberadaan ku tidak akan menyakiti ataupun tidak menjadi beban buat mu Kenz, maka aku akan selalu bertahan disisi mu.” Gumam Alesya dalam hati.
“Kenz, boleh kah aku bertanya sesuatu?”Aleysa pun melepaskan pelukannya.
“ya katakanlah.”
“Apakah bibi tahu Marcus ada di kota ini?” Alesya sengaja berhati-hati menanyakan hal ini.
“Aku rasa dia tahu, ada apa?”Kenzo kembali bertanya.
“Heem tidak apa-apa hanya penasaran saja. Disini aku bukakan dasi nya.” Alesya pun melanjutkan membukakan dasi di leher Kenzo.
“Jam berapa kita akan berangkat?” tanya Alesya mengalihkan pembicaraan.
“Dua jam lagi.” Jawab Kenzo.
“Kalau begitu aku akan ke kamar Skala dulu untuk melihat apa anak itu sudah membereskan baju nya atau belum. Nanti setelah itu aku akan membereskan pakaian yang akan kita bawa.”
Alesya pun turun ke bawah untuk melihat apakah Skala sudah selesai menyiapkan barang-barangnya atau tidak.
***bersambung..
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Yuhuuuu... apakah masih ada yang menunggu karya otor yang satu ini?
Tetap dukung otor ya, jangan hanya baca saja? Berikan juga like mu, komen dan vote mu supaya Novel toon tahu bahwa otor tidak sendirian di sini..
__ADS_1
oke zeyeng? 🐱