
"Dadd-dy.. " Ujar Skala pelan, berlahan membuka matanya.
"Anak ganteng, aku bukan ayah mu. Aku dokter Charles. Dokter yang bertanggungjawab atas diri mu selama kau di rawat disini."
"Skala ini mommy.. kau mendengar suara ku Skala." Alesya memegang lembut tangan kecil nan mungil itu.
"Mommy.. dimana daddy?Apa daddy baik-baik saja?" Tanya Skala. Begitu ia sadar sosok Kenzo adalah sosok yang pertama kali ingin ia lihat.
"Ya.. daddy mu baik-baik saja." Jawab Alesya terharu. Entah apa yang terjadi antara Kenzo dan Skala tapi Alesya yakin itu pasti adalah sesuatu yang baik. Walau sebenarnya ada sedikit guratan kekhawatiran di hati Alesya karena pernikahan nya dengan Kenzo hanya untuk setahun ini.
"Syukur lah." Ujar Skala lega. Dan matanya kembali terpeja.
Selain karena suntikan obat penenang yang disuntikan oleh dokter, tubuh kecil Skala juga terlalu lemah untuk dapat berkomunikasi lama.Itu lah yang membuatnya tidak bisa untuk berbicara lama dan kembali memejamkan matanya.
"Skala!! Skala!!" Panggil Alesya panik melihat Skala kembali memejamkan matanya.
"Dokter! Putra ku kenapa!!" Tanya Alesya panik.
"Tenanglah nyonya.. Putra anda tidak kenapa-napa. Dia hanya terlalu lemah. Dan saat ini dia kembali tertidur karena obat penenang yang aku suntikkan padanya melalui cairan infusnya." Jelas sang dokter.
Alesya pun menjadi tenang setelah mendengar penjelasan sang dokter.
"Anak ini!!" Alesya menyipitkan matanya melihat ke arah Skala. "Bisa-bisanya kau bangun hanya untuk bertanya keadaan Kenzo!!" Dengus Alesya sambil menghapus airmata di pipinya. " Apa tempat ku di hati mu sudah digantikan oleh daddy Kenzo mu itu."
" Nyonya, karena putra anda sudah tertidur maka saya permisi untuk keluar dulu. Kalau anda memerlukan sesuatu atau kalau putra anda terbangun dan merasakan sesuatu, anda bisa menekan tombol ini." Jelas sang dokter sambil menunjuk tombol di atas kepala tempat tidur Skala.
"Baik dok. Dan terima kasih." Ucap Alesya.
Sang dokter pun pergi meninggalkan kamar Skala.
Kini Alesya dan Skala hanya berdua di kamar itu. Kenzo sedang keluar bersama Jack entah untuk urusan apa. Alesya tidak mau ambil pusing.
"Skala.. Maaf mommy ya. Karena balas dendam mommy kau jadi seperti ini." Seru Alesya pelan sambil mengelus kepala Skala.
"Apa aku sebaiknya kembali saja ke kota J?Dan melupakan balas dendam ku ini?" Hati Alesya mulai goyah setelah hal buruk yang menimpa Skala.
"Tidak!! Aku tidak boleh mundur!" Gumam nya, tiba-tiba semangat nya untuk membalas perbuatan Agnez dan Jenny kembali berkobar. "Aku seharusnya membalas perbuatan mereka berkali-kali lipat karena mereka berani menyeret putra ku dalam masalah ini." api amarah berkobar di mata Alesya melihat tubuh kecil tak berdaya Skala.
Alesya mengeluarkan ponselnya. Dan dia mencari sebuah nama. Nama dari seorang wanita yang sangat ia kenal.
Alesya yakin wanita ini akan menjadi jembatan yang tepat untuk aksi balas dendamnya.
"Monica!" Seru Alesya, membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hi Monica?" Sapa Alesya, sembari menjauh dari ranjang Skala.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya Alesya.
"Aku baik-baik saja."Jawab Alesya sambil sesekali melihat ke arah pintu. Ia takut tiba-tiba Kenzo masuk ke ruangan itu.
" Aku butuh bantuan mu." Ujar Alesya.
"Kau masih ingat dengan hal yang pernah aku ceritakan dulu?" Sebersit tatapan dingin muncul di mata Alesya.
"Benar. Kini adalah saat nya. Aku butuh bantuan mu untuk membalas perbuatan mereka pada ku." Ujar Alesya pelan.
"Kau harus menyebarkan video ini ke media." Ujar Alesya.
"Akan aku kirim video ini ke email mu." Ujar Alesya.
Alesya pun menutup telpon itu. Dan segera mengetik sebuah pesan melalui sebuah email dan mengirimkan nya kepada Monica.
Monica adalah seorang wanita yang secara tidak sengaja diselamatkan oleh Alesya ketika ia masih berada di kota J.
__ADS_1
Saat itu Monica akan di jual oleh keluarga nya pada seorang tuan tanah yang kaya raya dengan dalih pernikahan.
Tentu saja nasib yang menimpa Monica dapat dikatakan sama dengan nasib yang dialami oleh Alesya.
Mungkin karena nasib buruk yang menimpa Monica hampir sama dengan Alesya, maka sama halnya dengan Alesya, Monica juga melarikan diri dari pernikahan nya.
Disaat ia melarikan diri ini lah dia bertemu dengan Alesya.
Alesya menolong Monica dengan menggantikan semua identitas monica yang semula bernama Tania menjadi Monica Rodio.
Dengan adanya embel-embel nama keluarga Rodio dibelakang nama Monica maka tidak ada satu orang pun di kota J yang berani mengganggu ataupun mengusut latar belakang Monica.
Saat ini Monica telah sukses menjadi seorang wartawan di kota B.
Pekerjaan Monica di kota B sebenarnya juga memang direncanakan oleh Alesya, pertama guna Monica tidak dapat di lacak oleh keluarga nya di kota J dan alasan lainnya adalah untuk memperlancar rencana Alesya untuk balas dendam ke keluarga Diningrat.
Untuk menjalankan aksi balas dendamnya, Alesya membutuhkan orang-orang kepercayaan untuk ditempatkan pada posisi tertentu.
Monica tentu saja mengetahui alasan Alesya membantunya mendapatkan pekerjaan di kota B dan Monica sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Rasa terima kasihnya yang tak terhingga pada Alesya mampu mendorong nya untuk berbuat apapun demi membantu Alesya.
Itulah mengapa setelah delapan tahun Alesya baru kembali ke kota B. Sebab setelah delapan tahun Alesya baru merasa kaki-kaki nya cukup kuat untuk menginjak kota B dan menendang keluarga Diningrat dari rumah almarhumah ibu nya.
"Paling tidak dengan muncul nya video ini ke media sosial cukup membuat keluarga Diningrat kebakaran jenggot untuk sementara waktu." Seulas senyum puas muncul di sudut bibir Alesya.
Alesya masih ingat dengan cerita Jack sewaktu perjalanan ke kota C.
Jack mengatakan kalau Kenzo sebenarnya sedari awal sudah curiga dengan niat baik keluarga Diningrat yang tiba-tiba ingin menyelenggarakan pesta pernikahan bagi Kenzo dan Alesya.
Apalagi, Agnez sendiri yang datang menyampaikan hal tersebut. Secara Kenzo tahu bahwa Agnez menyukai diri nya dan sangat jelas terlihat membenci Alesya.
Itulah mengapa menurut Jack, Kenzo sudah meminta orang-orang nya bersiaga malam itu.
Itu juga alasan mengapa Kenzo sampai meminum minuman Alesya ketika pesta karena Kenzo yakin, Agnez atau ibunya sudah meletakan sesuatu pada minuman itu.
"Ini pasti rencana Ibu Jenny." Gumam Alesya sambil mendengus, "Bisa-bisanya ia ingin menggunakan trik yang sama untuk menjebak ku dan Kenzo dengan trik yang ia gunakan untuk menjebak ayah dan ibu ku bertahun-tahun lalu."Batin Alesya.
"Alesya.. " Panggil Kenzo dari belakang mengejutkan Alesya yang terhanyut dalam pikiran balas dendam nya.
"Ya Kenz." Alesya membalikan badannya dan langsung memasang sebuah senyum pada Kenzo.
"Ini, makan lah dulu." Kenzo memberikan sebuah bungkusan makanan pada Alesya.
"Terima kasih Kenz." Jawab Alesya sambil mengambil bungkusan itu.
"Kemarilah, makan bersama ku." Ajak Alesya.
Kenzo pun duduk di depan Alesya.
Suasana hening tanpa suara tiba-tiba menyerebak di ruangan itu. Kenzo tidak berani mengatakan apapun soal penembakan Skala, dan Alesya pun cukup canggung bersama Kenzo.
"Alesya-"
"Kenzo-"
Seru mereka bersamaan.
"Kau duluan." Ujar Kenzo.
"Tidak!" Tolak Alesya. "Kau saja duluan." Ujar Alesya.
Kenzo menarik nafas dalam dan berkata, "Maaf Alesya karena ketidakhati-hatian ku Skala jadi terluka separah ini." Mata Kenzo terlihat sendu ketika mengatakan itu pada Alesya.
Alesya merasa antara Kenzo dan Skala mulai terjalin sebuah ikatan batin yang seharusnya tidak perlu ada diantara mereka mengingat pernikahan Alesya dan Kenzo hanyalah sebuah pernikahan kontrak. Dan itu harus berakhir dalam waktu setahun ini.
__ADS_1
"Tidak Kenz. Seharusnya akulah yang harus mengucapkan terima kasih pada mu. Kau sudah menyelamatkan putra ku dengan mengorbankan nyawa mu. Padahal kami hanya orang asing yang mampir sebentar dalam hidup mu dan akan segera pergi." ujar Alesya, pilu. Entah mengapa hati Alesya terasa sakit ketika mengatakan hal itu pada Kenzo. Mungkin perlakuan baik Kenzo pada Skala membuat Alesya jadi terpengaruh.
"Dia juga anak ku Alesya! Sudah seharusnya aku menyelamatkan nya." Gumam Kenzo dalam hati.
Kenzo belum dapat mengungkapkan kebenaran ini pada Alesya.
Dia masih harus mengungkap misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Alesya delapan tahun lalu hingga Alesya bisa berada di kamar Kenzo dengan kondisi tidak sadarkan diri. Apakah Alesya ada disana karena ulah paman Kenzo yang bernama Marcus yang juga menjebak Kenzo malam itu? kalau benar itu adalah faktanya maka kesalahan malam itu murni dari pihak Kenzo. Sebab kejadian buruk yang dialami Alesya terjadi karena Marcus ingin menjatuhkan Kenzo.
Tapi kalau seandainya keberadaan Alesya yang tidak sadarkan diri di kamar hotel Kenzo saat itu bukan karena ulah paman Kenzo yang bernama Marcus itu, maka Kenzo akan menganggap itu adalah takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan bagi mereka.
"Kenz! Kenapa kau diam?" Alesya bingung melihat Kenzo yang malah termenung di depannya.
"Kau tidak perlu berterimakasih. Ini semua aku lakukan karena aku adalah suami mu saat ini. Otomatis Skala adalah putra ku." Ujar Kenzo dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Pikir Alesya, dalam. Sebab Kenzo yang sedang ada dihadapannya sekarang bagaikan orang yang berbeda dengan Kenzo yang sedari tadi menemaninya ketika Skala dioperasi atau ketika Skala dalam masa kritis."Apa perkataan ku ada yang menyinggung nya?"Batin Alesya, menebak apa yang salah dengan Kenzo.
"Aku akan tidur di luar dan kau tidur saja di dalam." Ujar Kenzo tiba-tiba membuat Alesya semakin bingung.
"Baiklah." Jawab Alesya pelan.
Alesya hanya bisa menyetujui perkataan Kenzo. Karena sebagai wanita Alesya tentu tidak akan bisa meminta Kenzo untuk tidur bersamanya di ruangan yang sama. Apalagi setelah kejadian malam itu. Saat Alesya secara sadar menyerah kan dirinya untuk menolong Kenzo.
"Dia pasti akan berpikir aku wanita murahan kalau sampai aku meminta nya untuk berada satu kamar dengan ku malam ini." Batin Alesya. "Come on Alesya cukup satu kali kau mempermalukan diri mu. Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi." Alam bawah sadar Alesya segera memperingati nya untuk dapat segera berpikir normal.
Kenzo sedikit kecewa mendengar jawaban Alesya. Sebenarnya Kenzo berharap Alesya akan memaksanya untuk tidur di ruangan yang sama. Tapi karena Alesya memberikan jawaban yang berbeda Kenzo hanya bisa menelan salivanya karena membayangkan betapa dingin dan tidak nyamannya tidur di luar kamar itu.
"Heem.. habiskan makanan mu dan segera beristirahat." Gumam Kenzo.
"Ya." Jawab Alesya singkat.
"Wanita ini!! Apakah hatinya terbuat dari es? Kenapa dia bisa mengacuhkan ku begitu saja?" Batin Kenzo.
"Paling tidak dia bisa menawari ku bantal atau selimut." Gumam Kenzo kesal.
Kenzo harus berpikir keras supaya dia dapat tetap berada di kamar ini tanpa menjatuhkan harga dirinya karena sudah terlanjur mengatakan hal bodoh itu.
"Aku harus mampu memahami cara pikir Alesya mulai saat ini agar kedepannya aku tidak melakukan kesalahan yang sama seperti malam ini." rutuk Kenzo sebab dia harus memutar otaknya cepat. Dua jam... hanya dua jam bersisa sebelum jam 7 pagi. Kenzo berharap di sisa waktu yang sedikit ini dia bisa berbaring sambil menatap wajah Alesya seperti malam-malam yang ia jalani sejak menikah dengan Alesya. Tapi sayang nya hal itu malah terancam gagal sebab otak udang Kenzo yang mendadak muncul diwaktu yang tidak tepat.
Setelah mereka makan, Alesya membereskan meja tempat mereka meletakan makanan mereka.
Alesya tidak tahu apakah makanan yang baru saja ia dan Kenzo makan adalah untuk makan malam atau untuk sarapan pagi. Sebab kalau dikatakan makan malam maka sudah terlewat hampir 10 jam. Tapi kalau dikatakan sarapan pagi maka hal itu terlalu dini.
Alesya berjalan ke arah tempat tidur yang tersedia di ruangan itu untuk keluarga pasien. Tapi-..
"Apa yang dia lakukan?" Pikir Alesya dalam hati ketika melihat Kenzo sedang berbaring dengan santai dan terlihat sibuk menukar-nukar program Tv yang ada di ruangan itu.
"Bukannya dia mengatakan akan tidur di luar? Kenapa dia malah naik ke tempat tidur itu. Itu kan tempat tidur bagi keluarga yang menunggu pasien?" Alesya semakin bingung dengan tingkah Kenzo.
Alesya pura-pura tidak menghiraukan Kenzo.
Alesya naik ke tempat tidur. Dia berharap setelah Kenzo sadar Alesya akan tidur maka Kenzo dengan sendirinya akan keluar dari kamar itu.
Tapi harapan tinggal harapan, sampai Alesya benar-benar menutup matanya karena sudah terlalu lelah Kenzo tak kunjung juga keluar dari kamar.
Kini Kenzo sudah tidak perlu berpura - pura mencari program TV yang tepat karena wanita yang telah berhasil mencuri perhatiannya nya sudah tertidur lelap. Kenzo mematikan TV itu dan berbaring sambil menatap Alesya. Sebenarnya Kenzo tidak berencana untuk tidur. Bagi nya cukup dengan melihat wajah Alesya seperti ini tenaga nya akan terisi ulang. Hal ini terdengar sangat lebai tapi sayangnya ini lah kenyataan yang sebenarnya.
Kenzo akan berusaha untuk menaklukan wanita ini. Karena bagaimana pun wanita yang sedang tertidur pulas dihadapannya ini sudah menjadi miliknya sedari awal dan tetap akan menjadi miliknya untuk selamanya.
Kenzo merasa wajah damai Alesya bagaikan sumber tenaga baru bagi nya untuk memulai hari nya pagi itu.
####
Jangan lupa untuk like, komen dan vote ya cinto... π agar otor tahu otor tidak sendiri di sini... dan ada kamu yang selalu setia di sisi otor.. menemani otor menelusuri alam. khayal otor.. #edisi otor lebbeh karena salah satu karya nya sudah tamat... #eiitts.. yg ini masih in going ya...
__ADS_1