Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 51# Pernikahan tom jer#3


__ADS_3

Stephan terdiam. Dirinya berada di persimpangan antara percaya dengan cerita Frans atau cerita ayahnya.


“Kak, aku rasa ada baiknya jika kau pulang dulu ke Rusia, dan bawa ayah kemari.”Sebut Stephanie.


“Hanya ayah yang bisa meluruskan semua kekeliruan ini.” Sambung Stephanie. “Pergi lah dan bawa ayah kemari. Aku akan tetap berada di sini untuk menemi ibu.”


“Dia bukan ibu ku.” Ulang Stephan, tegas.


“Kapan aku bilang ibu mu. Aku hanya mengatakan ibu. Artinya itu bisa jadi ibu ku atau ibunya Frans.” Celetuk Stephanie.


“Baiklah. Aku akan pulang ke Rusia dan membawa ayah ke sini. Tapi begitu ayah mengatakan bahwa dia bukan ibu kita maka kau harus pulang bersama ku ke Rusia.” Stephan memiliki persyaratannya sendiri.


“Aku setuju...” Jawab Stephanie dengan sangat yakin.


“Frans aku titip adik ku yang manja ini. Dan satu lagi, apapun yang terjadi, aku tidak membenci mu! Kau tetap pilihan pertama ku.” Ujar Stephan, ngambang.


Frans hanya bisa melihat kepergian Stephan dengan wajah bengongnya. “Dia tadi ngomong apaan?” pikir Frans.

__ADS_1


Stephan pun pergi meninggalkan adiknya Stephanie bersama Frans. Entah apa yang membuat Stephan yakin meninggalkan adik kesayangannya bersama pria yang baru di kenal nya itu.


Kini di dalam kamar itu hanya ada Frans dan Stephanie, suasana pun kembali canggung.


“Apa kau sudah lama mencari ibu?” Frans membuka pembicaraan.


“Sudah..” jawab Stephanie, sambil menatap wajah sang ibu.


“apa kau membenci ibu seperti Stephan?” Tanya Frans guna memastikan.


“Tidak sama sekali.” Jawab Stephanie sekali lagi, singkat.


***


“Tenang lah Mary... Marcus sedang memerisksa keadaan Nania. Aku yakin Nania tidak kenapa-napa!” Romano mencoba untuk menenangkan istrinya.


“Aku sungguh lupa caranya untuk tenang Romano! Nania itu sangat menjada kesehatannya. Tapi mengapa dia mendadak bisa pingsa seperti itu! Sungguh tidak masuk akal. Aku yakin ini semua pasti ada kaitannya dengan pra dan wanita yang berbicara bersamanya dan Frans tadi.” Sahut Mary.

__ADS_1


“Kenz.. bukan kah kau tadi ada disana, saat Nania, Frans dan kedua orang yang tidak di kenal itu bebicara?” Mary kini menatap cucu nya itu. Mary yakin Kenzo pasti tahu sesuatu.


“Nenek tenang lah dulu! Setelah keadaan ibunya Frans membaik, pasti dia akan menceritakan nya semua nya pada nenek. Atau nenek sendiri pun bisa langusng bertanya pada nya. Bukan kah kalian sudah lama bersahabat? Aku yakin dia tidak akan menyembunyikan apapun pada nenek.” Kenzo menolak untuk menceritakan apa yang diketahui. Bagaimana pun, apa yang Kenzo ketahui hanya sepotong puzzle dari keseluruhan puzzle yang ada. Jadi tidak ada gunanya untuk buka suara.


Mary tersandar lemas di kursi. Kini yang bisa dia lakukan hanya menunggu Marcus kembali agar Mary bisa tahu kondisi Nania.


“Tookk..”


“Tookkk.....”


“Itu pasti Marcus!” Sahut Mary cepat, kedatangan menantu nya itu memang sangat dia tunggu-tunggu.


Mary pun berbegas bangun dan membuka pintu itu.


“Bagaimana keadaan Nania Marcus?” Tanya Mary begitu melihat muka Marcus tepat setelah dia membuka pintu.


“Bu.. biarkan Marcus masuk dulu! Baru setelah itu ibu tanyakan semua yang ingin ibu ketahui.” Teriak Dyana dari dalam kamar Kenzo.

__ADS_1


“Maafkan aku Marcus., masuk lah! Kau harus maklum, wanita tua ini sering lupa.” Celoteh Mary.


“Tidak masalah bu.. “ jawab Marcus sopan pada wanita yang baru saja bergantu status menjadi ibu mertua nya.


__ADS_2