
“percaya lah pada aku tuan Puji.” Jawab Marcus mencoba meyakinkan tuan Puji. Toh tidak ada keuntungannya bagi Marcus untuk menyerahkan info rumah tangga tuan Puji ke situs lambeh turah.
“baiklah kalau begitu tuan Marcus. Mari ikut dengan aku ke lantai atas.” Ajak tuan Puji sambil berjalan lebih dulu guna memberikan arah pada Marcus.
Mereka bertiga pun naik ke atas dan menuju kamar Agnez yang berada di ujung lorong koridor yang ada di lantai atas.
“silahkan tuan.” Mona membuka pintu dan mempersilahkan Marcus untuk masukan kamar Agnez.
Dari ujung pintu masuk, Marcus dapat melihat sosok wanita muda tengah terbaring di ranjang yang super besar itu.
Marcus dengan langkah kaki yang terdengar sangat berwibawa itu Marcus tetap menuju ke ranjang dimana Agnez tengah tidak sadarkan diri.
“tuan Puji saya mohon izin untuk memegang tangan istri anda.” Seru Marcus begitu dia sudah sampai di tepi tempat tidur Agnez.
Tuan Puji yang pada dasar nya memang tidak peduli dengan Agnez, dengan cepat memberikan persetujuannya pada marcus yang terlihat sedang menunggu jawabannya itu.
“tentu saja tuan Marcus Anda bebas untuk melakukan hal itu. Semakin cepat Agnez sadar maka akan semakin baik." ujar Tuan Puji.
Marcus hanya tersenyum kaku mendengar pernyataan dan langsung mengalihkan pandangan pada Agnez yang terlihat sangat pucat.
__ADS_1
“apa yang sebenarnya terjadi?”tanya Marcus dalam hati.
Usai melihat dengan seksama wajah pucat Agnez yang terbaring tidak berdaya itu Marcus menuliskan . “Bagaimana bisa wanita secantik dia ini mau menjadi seorang pria ,”
Marcus mengambil tangan kan Agnez yang setelah ia pegang terasa sangat dingin. Lalu, Marcus pun meraba pergelangan tangan Agnez untuk memeriksa denyut nadi wanita itu. Dan ternyata..
“Kenapa denyut nadinya terasa sangat lemah?” Marcus mencoba menekan sedikit lebih kuat pergelangan tangan Agnez dengan Jempolnya.
Tak lama kemudian, Marcus meletakan kembali tangan Agnez di sebelah tubuh Agnez. Lalu Marcus menarik selimut Agnez yang terlihat masih rapi meski digunakan untuk menutup kaki Agnez hingga lutut.
“nyonya bolehkah saya meminta selimut satu lagi.”tanya Marcus pada Mona,
'Saya yakin selimut ini tidak mengurangi sama sekali rasa dingin nyonya ini.” Ujar Marcus sambil memegang ujung selimut yang dikenakan oleh Agnes.
“bagaimana bisa mereka hanya menutup bagian kaki wanita ini.” Gumam Marcus dalam hati.
“Tentu saja tuan.” Jawab Mona cepat dan langsung hendak mengambil sebuah selimut lain di dalam lemari di kamar itu.
“Tunggu dulu nyonya,” Marcus buru-buru menghentikan Mona yang hendak mencari selimut lain untuk Agnez. Sebab ada satu hal lagi yang ingin Marcus mintai tolong pada Mona.
__ADS_1
“Ya tuan,. Apa ada hal lain yang bisa saya bantu?” Tanya Mona dengan wajah bingung.
“Nyonya tolong katakan pada pelayan untuk membuatkan semangkuk bubur nasi untuk nyonya ini. Saya rasa pasti ada yang salah dengan perut nya.” Marcus pun menekan perut Agnes. Dan seperti dugaan Marcus, perut itu terasa lunak seakan-akan sudah sangat lama tidak diisi.
“baiklah tuan. Aku akan segera sampaikan pada para pelayan untuk membawakan bubur tersebut ke kamar Agnes.” Ucap Mona kemudian dia pun langsung berjalan ke arah lemari yang ada dinding di bagian kiri kamar sebab ia ingat ketika Agnez akan tinggal di rumah ini dialah yang membersihkan kamar yang saat ini ditempati oleh Agnez.
Dan benar saja. Kini sebuah selimut lebar yang terlihat tebal itu ada di tangan Mona.
Mona pun berjalan ke arah Marcus sambil membawa selimut itu di tangannya. Lalu menyerahkan selimut pada Marcus yang sedang berdiri di samping Agnez.
“Ini selimutnya tuan Marcus.” Ucap si Mona dan menyerahkan selimut itu pada Marcus.
Ketika Marcus akan mengambil selimut itu.. Tiba-tiba...
**bersambung...
#jaka sembung..
ngecat POt..
__ADS_1
#otor akan sambung
#kalau kamuh ngeVote🤣🤣🤣