Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 25#Ketulusan#5


__ADS_3

“Kalau kau begitu ingin menemani ku mengapa kau tidak tinggal saja bersama ku dan jangan mengikuti mommy dan daddy mu pulang?” Aldion sungguh tahu bagaimana membalikan keadaan.


“Apa kau membenci daddy karena kau merasa akan kehilangan kami kek?” Tanya Skala sambil menatap tajam manik mata milik kakek nya itu. Seakan-akan ia sedang mencari jawaban dari sorot mata Aldion.


“Kek,.. tidak ada yang akan menggantikan posisi mu di hati atau pun di hati mommy. Trust me.” Skala menarik kursi yang ada dipojokan hingga berada di depan Aldion.


“Kau tidak paham dengan permasalahan nya Ska. Semua yang kau lihat dan kau rasakan saat ini bukanlah ..Ah sudah lah. Aku tidak bisa menjelaskan semua itu pada mu.” Aldion menghembuskan nafasnya dengan frustasi. Dia tidak bisa memberitahukan Skala kalau Kenzo bukanlah ayah tiri Skala melainkan ayah kandung Skala.


“Kek, apa kau ingat waktu aku di culik dan hampir saja di bunuh beberapa waktu yang lalu?” Skala memulai sesi mendongeng nya.


“Ya, aku sangat khawatir dan meminta mommy mu untuk menyudahi semua urusannya di kota terkutuk itu.” Ujar Aldion dengan wajah marah. “Tapi entah mengapa mommy mu masih tetap saja bertahan di kota itu.”


“Apa kakek tahu siapa yang menyelamatkan ku dan bagaimana ia melakukan hal itu?” Tanya Skala sekali lagi.


“Sudah lah. Aku sudah tahu semua cerita itu dari mommy mu. Kenzo Dayson kan yang menolong mu saat itu!” Jawab Aldion ketus.

__ADS_1


“Itu sudah kewajibannya. Dia kan ayah mu.” Sambung Aldion dalam hati.


“Heem... tapi kakek kan tidak tahu bagaimana cara daddy menyelamatkan ku? Apa kakek tahu dia langsung melacak keberadaan ku sendirian? Bahkan dia menghajar kedua penjahat itu sendirian.” Lanjut Skala.


“Tapi pada akhirnya dia tetap saja tidak bisa melindungi mu dan membuat mu terluka.” Timpal Aldion sewot.


“Bukan dia yang membuat ku terluka kek. Tapi aku yang ingin melindungi nya. Aku sendiri yang membuat diri ku terluka saat itu.” Seru Skala dengan sebuah senyum di wajah polos nya.


Aldion terpaku mendengar perkataan Skala. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh cucu kesayangannya ini.


“Tapi ternyata seorang Kenzo Dayson melakukan hal bodoh itu. Datang sendirian tanpa persiapan. Dan apakah kakek tahu, awalnya daddy sudah menemukan diri ku dan menjauhkan ku yang sedang dalam keadaan pingsan itu ke tempat yang aman.”


“Berlahan aku sadar dan sayup- sayup aku mendengar suara gaduh dan bunyi tembakan pistol beberapa kali. Aku mencoba untuk segera sadar karena aku tahu tidak mungkin semua suara gaduh dan pistol itu hanya lah suara yang berasal dari TV yang ada di kamar ku. Dan benar, ketika mata ku benar-benar terbuka aku melihat pemandangan yang berbeda. Dan aku ingat ketika dua orang pria yang menyamar sebagai pelayan masuk ke kamar ku dan membius ku.” Ujar Skala.


“Walaupun takut, tapi aku memberanikan diri untuk mengintip supaya aku tahu apa yang sedang terjadi. Saat itu lah aku melihat pria yang selama ini tidak begitu aku sukai sedang melawan seorang penjahat dengan tangan kosong. Aku sungguh kagum pada nya saat itu kek. Daddy sungguh sangat keren.” Lanjut Skala, dan kembali tersenyum sebab ia ingat bagaimana daddy nya menghajar penjahat itu.

__ADS_1


“Tapi.. dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang bersembunyi di balik tiang besar dan laki-laki itu sedang mengarahkan pistolnya ke arah daddy. Aku yakin pria itu pasti sedang menunggu kesempatan untuk menembak daddy tanpa mengenai temannya yang sedang berkelahi dengan daddy.” Ujar Skala.


“Entah apa yang menggerakkan diri ku saat itu. Sebab tanpa aku sadari, aku berlari ke arah daddy ketika laki-laki itu melepaskan tembakkannya. Aku berlari sekuat tenaga seakan-akan aku takut peluru itu akan mengenai nya.” Ucap Skala. Kali ini Aldion dapat melihat pandangan Skala seolah-olah kosong ketika ia menceritakan hal itu. Pasti anak ini sedang kembali ke saat-saat ia berlari untuk menjadi tamengnya Kenzo.


“Dan sebuah timah panas mengenai diri ku. Rasanya sangat sakit kek. Tapi satu hal yang aku syukuri saat itu ialah peluru itu tidak mengenai tubuh Kenzo Dayson.”


“Aku masih ingat hal terakhir yang terucap dari mulut ku saat itu.” Ucap Skala Sendu.


“ Daddy.. ya aku memanggilnya daddy. Sebuah kata yang tidak pernah aku katakan ketika aku hanya berdua dengan nya." Skala kembali tersenyum.


"Kau tahu kek, aku selalu memanggilnya paman Kenz. Hanya apabila ada mommy baru aku memanggilnya daddy. Sebab bagi ku dia hanyalah suami mommy ku. Dan aku memanggilnya daddy hanya untuk menghormati hubungannya dengan mommy ku. Dalam pikiran ku yang dangkal ini, hanya karena ia menikahi mommy ku dan menjadi suami mommy ku maka tidak otomatis dia menjadi ayah ku. Paling tidak itu lah yang ku pikirkan sebelum peristiwa itu. Tapi entah mengapa dihari itu dan disaat itu aku sangat ingin memanggilnya dengan sebutan daddy


Mungkin karena aku takut .. aku takut.. akutidak punya kesempatan lagi untuk memanggilnya dengan sebutan itu.” Sekilas mata Skala tampak berkaca-kaca.


“Apa kakek dapat memberitahu ku kenapa tubuh ku secara reflek melakukan semua itu? Mengapa aku sangat ingin memanggilnya dengan sebutan daddy disaat -saat kritis ku? Bukankah Kenzo Dayson hanya ayah tiri ku? Dan kami baru saja bertemu.” Skala menatap tajam Aldion.

__ADS_1


***Bersambung.


__ADS_2