Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 25#Ketulusan#2


__ADS_3

“kau! Apa yang kau lakukan di rumah ku!” seru Frans begitu melihat Dyana yang tiba-tiba ada dihadapannya ketika ia membuka matanya.


“Apa dia tidak bisa berbicara dengan lembut pada seorang wanita?” Seru Dyana dalam hati.


“kau tuli? Akau tanya apa yang kau lakukan di rumah ku, ooh bukan hanya di rumah ku tapi juga di kamar ku!” Frans baru ingat kalau ia saat ini sedang ada di kamar. Dan Dyana saat ini pun sedang duduk di ranjang nya. “bagaimana kau bisa masuk ke sini.” Lanjut Frans.


Setelah Frans berhenti menodongnya dengan berbagai pertanyaan yang tak henti-hentinya akhirnya Dyana dapat juga kesempatan untuk berbicara “sepertinya dokter sudah salah mendiagnosa keadaan mu!” Ujar Dyana dengan nada mencemooh. “kau tidak kelihatan seperti orang sakit sama sekali. Bahkan tenaga mu melebihi orang sehat seperti diri ku.” Ujar Dyana sekali lagi.


“Dari mana kau tahu kalau aku sedang sakit?”


“Tadi ibu mu menelpon ku dan meminta ku untuk merawat mu. Tapi seperti nya ibu mu hanya terlalu khawatir saja. Setelah tidur yang cukup kau sudah tidak sakit lagi.” Dyana pun bangkit dan ingin meninggalkan Frans.


“Kau mau kemana?” Tanya Frans, cepat.


“Aku?” Tanya Dyana sambil menunjuk ke hidungnya sendiri. “Aku ya mau pulang. Toh tadi nya aku datang karena ibu mu meminta ku untuk menjaga diri mu. Tapi karena tidak ada yang sakit sepertinya di ruangan ini maka aku akan pulang.” jawab Dyana, dan terus berjalan.


“Tunggu..!! Aaa..” Suara Frans tiba-tiba berganti dengan sebuah jeritan kesakitan. Dyana spontan membalikan badannya. Dan ia melihat Frans sedang memegang kepala nya.


“Frans!! Are oke?” tanya Dyana panik sambil segera berlari ke arah Frans.


“Tolong ambilkan obat di laci.” Pinta Frans pada Dyana.


Dyana langsung mengambil obat dari laci yang ditunjuk oleh Frans dengan tangannya. “Ini.”Dyana menyerahkan obat itu dan mengambil gelas yang berisi air lalu langsung memberikan kepada Frans.”Ini air minumnya.”

__ADS_1


Ketika Dyana menyerahkan air itu pada Frans tanpa sengaja Dyana memegang tangan Frans. Dan tangan itu terasa sangat dingin.


“Sepertinya dia masih sakit.” Gumam Dyana dalam hati.


Setelah meminum obat nya, Frans menyerahkan kembali gelas itu pada Dyana.” Tolong letakkan kembali gelas ini di atas meja.” Seru Frans, lemah.


Dyana pun dengan patuhnya mengambil gelas itu dan meletakkannya kembali di atas meja dimana ia tadi mengambil gelas itu.


“Heem.. istrirahat lah.” Ucap Dyana pelan.


Frans memandang Dyana sekilas lalu kembali berbaring dan berkata, “bukankah tadi kau ingin pulang. Kalau begitu pulanglah. Maaf aku tidak dapat mengantarkan mu ke depan.” Frans pun menarik selimutnya dan membalikan badannya memunggungi Dyana. “jangan lupa tutup kembali pintu kamar ku ketika kau pergi.” Ucap Frans.


Dyana saat ini bingung ingin melakukan apa. Haruskah ia pulang? tapi ternyata pria menjengkelkan itu benar-benar sedang sakit. Tapi kalau harus disini sepertinya Frans tidak suka akan kehadirannya. Sungguh memusingkan kepala.


Akhirnya Dyana hanya diam dan memandangi punggung Frans yang membelakanginya itu.


Cukup lama Dyana di kamar Frans. Dia hanya duduk ditempat semula tanpa bergerak. Dyana pun bingung kenapa dia masih di kamar itu.


Sementara Dyana larut dalam kebingungannya, Frans sebenarnya juga tidak sedang tertidur. Matanya saja saat ini dalam keadaan terbuka. “apa yang wanita ini lakukan? Kenapa dia tidak keluar juga dari kamar ku? Bukankah tadi dia mau pulang? Jangan katakan dia tidak jadi pulang dan akan ada di rumah ini seharian?” pikir Frans dalam hati.


Frans malah jadi tidak bisa kembali tidur sebab Dyana saat ini sedang duduk mematung di sebelah nya. “kenapa nyonya aksena itu harus menelpon dia untuk menemani ku! Sudah berapa kali aku katakan kalau aku akan baik-baik saja.” Sungut Frans dalam hati.


Karena kepala nya bertambah pusing sebab ia tidak bisa tertidur maka setelah sekian lama Frans pun membalikkan badannya. Niat hati ia mau menyuruh Dyana untuk pulang. Kalau tidak bisa dengan cara baik-baik maka kalau perlu dengan mengusir pun akan ia lakukan.

__ADS_1


“Dyana! Kenapa kau masih disini?” Seru Frans sambil membalikkan badannya. Dan ternyata...


“What? Wanita ini tertidur?” Uajr Frans tidak percaya melihat Dyana tidur dengan posisi duduk sambil menopangkan dagu nya pada salah satu tangannya.


“dia tidur sambil duduk seperti itu?” Frans sungguh terheran-heran dengan apa yang ia lihat. Dia tidak pernah melihat ada orang yang bisa tidur dengan posisi duduk seperti itu.


Frans menghembuskan nafasnya pelan. “Apa yang dipikirkan wanita ini.” Seru Frans pelan. Tidak mau membangunkan Dyana yang kelihatannya sudah tertidur pulas.


Frans pun duduk dari tidurnya. Dan melihat wajah Dyana dengan seksama. Setelah sekian lama ia memperhatikan wajah Dyana, entah mengapa Frans merasa heran pada dirinya sendiri, bagaimana ia tidak menyadari sama sekali selama ini kalau wanita yang ada dihadapannya ini sangat cantik. “kenapa ada baru sadar kalau dia sangat cantik ya? Atau jangan-jangan karena aku sedang demam maka nya otak dan mata ku jadi ikutan sakit.”


“Tapi harus apakan wanita ini!! Bikin orang repot saja.”Gumam Frans sambil turun dari tempat tidur. Sebenarnya kepala Frans masih terasa sangat berat untuk dibawa berdiri. Hanya saja kalau dia tidak berdiri bagaimana ia bisa membaringkan Dyana di tempat tidur.


“Dia ini datang untuk merawat ku atau untuk merepotkan diri ku?” Ujar Frans sambil membaringkan Dyana ke atas tempat tidurnya.


Dengan sedikit kesusahan akhirnya Frans berhasil membaringkan Dyana ke atas tempat tidur. Kemudian Frans juga menyelimuti Dyana.


Kepala Frans kembali sakit karena terlalu banyak bergerak. Kini ia tidak bisa lagi tidur di atas tempat tidur nya sebab Dyana sudah ada disana. Mau tidak mau, Frans harus mencari tempat baru untuk tidur. Ingin pergi ke kamar ibu nya, pasti saat ini sedang terkunci. Ingin pergi ke kamar tamu, nanti para pelayan pasti akan bertanya-tanya kenapa Frans keluar dari kamar. “Huft!!” Seru Frans sambil menghembuskan nafas kesal sebab mau tidak mau dia harus tidur di sofa panjang yang ada di di dalam kamar nya itu.


Frans mengambil bantal dan guling lalu meletakkannya di atas sofa. Kemudian Frans mengambil sebuah selimut baru di dalam lemari karena selimut yang ada di tempat tidur sudah dipergunakannya untuk menyelimuti Dyana.


“Setelah ia bangun aku akan langsung menyuruhnya untuk pulang.”Gumam Frans sambil membaringkan dirinya di sofa. Mencari posisi tidur yang senyaman mungkin di tempat yang sangat terbatas itu.


**Bersambung

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan vote


😌😌😌


__ADS_2