
Sesuai dengan perintah yang Kenzo berikan, sesampainya Frans di rumah, Frans langsung mencari Dyana.
“Frans kau baru pulang?” Tanya Nania pada putra nya itu.
“Hi bu..”Frans menyapa ibunya lalu mencium pipi wanita cantik itu.
“Hi bibi..”Sapa Frans ramah pada Mary, ibunya Dyana.
“Kau dari mana sayang? Mengapa kau pulang larut malam begini dan mengapa kau tidak pulang bersama Dyana tadi.” Deretan pertanyaan keluar dari mulut Nania begitu Frans berjalan ke dekatnya.
“Aku akan bicarakan dengan ibu dan bibi nanti. Tapi saat ini aku ini bertemu dengan Dyana. Dimana Dyana sekarang?” Ujar Frans pada ibu nya.
“Dyana ada di kamar nya Frans.” Jawab Mary.
“Terima kasih bibi..! Aku akan ke kamar Dyana.” Ujar Frans dan langsung menghilang dari hadapan Nania dan Mary.
__ADS_1
“Apa mungkin ada masalah antara Frans dan Dyana? Tanya Mary yang teringat tadi Dyana diantar pulang oleh Marcus.
“Kalau tidak mengapa Dyana harus diantarkan oleh laki-laki itu pulang?” Tanya Mary curiga melihat gelagat Frans, seakan-akan ada hal penting yang ingin Frans bicarakan dengan Dyana sesegera mungkin.
“Entah lah Mary, aku tidak ingin menebak apapun. Aku pikir mereka sudah sama-sama dewasaa. Kalaupun memang mereka sedang ada masalah itu wajar nama nya juga mau nikah. Kau pasti ingatkan, kau sendiri pun pernah ragu untuk menikah dengan mendiang ayah Dyana dan Jodytia dulu. Bahkan kau mampir saja membatalkan pernikahan itu hanya karena alasan yang sepele!!” celetuk Nania.
“Kasus ku itu berbeda Nania!! Aku dan mendiang ayah nya Dyana dan Jodytia itu awalnya bahkan tidak saling kenal. Dia bukanlah pria yang seharusnya menikah dengan ku waktu itu. Tapi... hhhmmm.. kau tahu sendirikan apa yang terjadi?” Ucap Mary tersenyum menatap langit. “Tidak pernah ada yang benar-benar tahu siapa jodoh mereka sebenarnya.
Tiba-tiba Mary jadi teringat dengan moment-moment pernikahannya dengan mendiang suami pertama nya itu.
Ya, suami pertama Mary adalah sepupu dari tunangannya sendiri yang memutuskan untuk kabur seminggu sebelum pernikahan.
“Kalau begitu maka biarkan anak-anak mengurusi persoalan percintaan mereka masing-masing! Kita yang sudah tua ini cukup melihat dari jauh saja Mary.” Nania menasehati sahabatnya ini.
Dimomen ini Nania pun jadi teringat dengan perjalanan percintaannya sendiri. Pengalaman jatuh bangun dalam percintaan telah Nania rasakan, bahkan sampai saat ini masih tertoreh jelas di hati Nania. Terutama kenangannya bersama pria yang ia jumpai di Rusia dan sempat menjadi suami nya selama dua tahun. Sungguh kenangan indah sekaligus menyayat hati.
__ADS_1
Apalagi Jika Nania teringat saat dia terpaksa meninggalkan sepasang anak kembar yang baru saja dia lahirkan kepada ibu mertua nya karena tuduhan kejam dari sang suami.
Andaikan sang ibu mertua tidak bersikeras memohon pada Nania untuk tidak membawa kedua cucu nya itu, pasti saat ini Nania memiliki tiga orang anak. STEPHAN-STEPHANIE dan FRANS (putra angkat Nania dan Juan Aksena).
“Aku merindukan kalian!” ucap Nania lirih dalam hati.
Saat akan pergi Nania hanya sempat memasangkan kalungnya di leher si baby girl, kalung yang dulu diberikan oleh Evgen Volkov pada nya saat Evgen menyatakan cinta nya pada Nania. Di liontin kalung itu terdapat foto Nania dan Evgen. Nania berharap melalui foto itu, anak-anak nya bisa mengenali wajahnya meskipun dia disini hanya bisa mengenang wajah si kembar saat si kembar baru lahir.
“Kau kenapa Nania?” tegur Mary pada sahabatnya yang terlihat termenung itu.
“Tidak ada apa-apa Mary. Aku hanya tiba-tiba teringat kalau saat ini kita sudah tua. Lihatlah bahkan anak-anak kita sudah memasuki usia siap untuk menikah.” Nania terpaksa berujar bohong pada Mary.
Meskipun mereka berteman sangat baik dan bahkan akan menjadi besan sebenatar lagi, tapi Nania tetap tidak memiliki keinginan untuk menceritakan keluh kesalnya dalam berumah tangga pada Mary.
***Bersambung
__ADS_1