Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 27#Mulai simpati#3


__ADS_3

Si pelayan itu pun membuka satu persatu kancing baju tidur Frans. Setelah selesai dia mengesampingkan baju itu ke kiri dan ke kanan sehingga orang yang sedang di telpon oleh Dyana dapat melihat tubuh Frans dengan jelas.


“Cukup!!” Seru Marcus. Dia tidak ingin Dyana juga ikut berlama-lama melihat dada bidang Frans dengan roti sobek yang terpampang jelas.


“Bagaimana?” tanya Dyana yang sama sekali tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Marcus.


“Aku rasa dia hanya alergi obat.”jawab Marcus dengan yakin.


“apa ? alergi obat?” Tanya Dyana seakan tidak yakin dengan apa yang dikatakan Marcus.


“Iya..aku rasa dia alergi obat. Bisa jadi dia alergi antibiotik seperti penisilin dan sulfa atau bisa juga Pereda nyeri golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen atau bisa juga Obat-obatan untuk penyakit autoimun atau Obat-obatan kemoterapi.” Terang Marcus pada Dyana yang mulai terbengong sebab dia sama sekali tidak paham satu kata pun dari semua nama-nama obat yang disebutkan oleh Marcus.


Marcus dapat melihat kalau Dyana saat ini dalam mode tidak paham, maka ia pun langsung melanjutkan penjelasannya.


“maka nya dulu waktu aku suruh untuk rajin belajar kau itu seharusnya menurut pada ku.” Lanjut Marcus.


“nah sekarang dengarkan aku baik-baik. Alergi obat disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang bereaksi secara berlebihan ketika mengonsumsi atau menggunakan obat. Saat sistem imun mendeteksi adanya obat yang masuk dan dianggap berbahaya, maka akan muncul antibodi spesifik untuk obat tersebut. Antibodi spesifik ini akan mengeluarkan histamin yang menimbulkan keluhan dan gejala. Alergi obat tidak sama dengan sensitivitas terhadap obat. Meskipun dapat mengakibatkan gejala yang mirip, sensitivitas terhadap obat tidak melibatkan peran sistem imun seperti yang terjadi pada alergi obat.” Terang Marcus.


“lalu bagaimana ini!!” Ujar Dyana yang masih belum paham sepenuhnya dengan semua hal yang dikatakan oleh Marcus.


“sudah ku katakan, kau tenang saja karena hampir semua obat bisa memicu reaksi alergi. Walaupun tidak semua orang akan mengalami reaksi alergi obat.” Marcus mencoba meyakinkan Dyana bahwa yang terjadi pada Frans bukanlah hal yang akan mengancam nyawa Frans seburuk bila terkena bisa ular berbisa.

__ADS_1


“apakah Frans ada meminum sejenis obat pagi atau siang ini?” tanya Marcus yang tidak tahu kalau hari ini sebenarnya Frans memang sedang demam.


“ia dia memang meminum beberapa obat dari dokter sebab dia demam hari ini.” Jelas Dyana pada Marcus.


“heeem.. sekarang aku paham. Coba sekarang perlihatkan pada ku obat-obatan yang diminum oleh Frans.” Marcus ingin melihat apakah diantara obat-obatan itu ada antibiotik yang mungin saja itu yang menyebabkan Frans mengalami ruam seperti itu.


Dyana yang tidak tahu dimana posisi obat-obatan milik Frans yang diberikan oleh dokter yang memeriksanya siang tadi langsung meminta kepada si pelayan untuk membawakan obat-obatan itu kehadapan nya.


“Bik, cepat bawakan obat-obatan yang diminum oleh Frans tadi.” Perintah Dyana.


Si pelayan pun langsung membuka laci di lemari kecil di samping tempat tidur Frans dan mengambil sebuah kotak yang berisi beberapa obat-obatan.


“Marcus memperhatikan dengan seksama semua obat-obatan itu dan mata nya kini terpaku pada salah satu obat itu.” Seperti nya dia memang alergi terhadap antobiotik tertentu.


“bik, bagaimana? Apa Frans ada riwayat alergy antibiotik.” Dengan lemah si bibik pun mengangguk.


“Ia Marcus. Dia memang alergy pada antibiotik tertentu.” Ujar Dyana pada Marcus yang masih setia di panggilan itu.


“sekarang sudah jelas penyebabnya. Ruam itu karena dia alergi pada antibiotik yang diberikan dokter pada nya. Sedangkan badannya menjadi panas karena dia memang sedang demam sehingga tubuhnya juga merespon berlebihan atas masuknya antibiotik tadi ke dalam tubuhnya. Lagi pula sudah tahu Frans tidak bisa memakan antibiotik itu apakah dokter keluarga mereka tidak tahu? Atau dokter yang meresepkan obatnya bukan dokter keluarga mereka?” Tanya Marcus pada Dyana.


“Entah lah aku tidak tahu.”jawab Dyana yang memang tidak tahu menahu soal dokter itu.

__ADS_1


“benar tuan!” si pelayan memberanikan diri untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Marcus. “yang datang tadi pagi itu bukan dokter keluarga yang biasa memeriksa anggota keluarga ini. Dokter tadi pagi itu adalah asisten baru dokter keluarga kami. Kebetulan pak dokter sedang ada seminar keluar kota jadi tidka bisa datang dan meminta asisten nya untuk datang. Lagi pula tuan muda memang sudah biasa sakit -sakit ringan seperti demam jadi mungkin pak dokter tidak merasa ada yang serius kali ini.” Terang di pelayan.


“Ceroboh sekali!!!” seru Marcus.


“mau sakit ringan atau pun berat, seorang dokter harus memeriksa setiap pasiennya dengan seksama.” Kini Marcus malah terdengar marah.


“lalu bagaimana ini?” tanya Dyana.


“pertama jangan berikan dia obat antibiotik itu lagi. Kalau dokter itu datang suruh dia memberikannya jenis antibiotik yang bisa diterima oleh tubuh Frans. Dyana coba tanyakan sama pelayan disana, apakah di rumah mereka ada menyimpan obat anti alergi seperti antihistamin dan kortikosteroid. keduanya ampuh meredakan gejala alergi ringan seperti kulit ruam dan kemerahan atau krim hidrokortison mengandung steroid sebagai perawatan gatal-gatal saat alergi?” ujar Marcus pada Dyana.


Baru saja Dyana akan bertanya kepada para pelayan, serentak para pelayan itu menggeleng sebelum Dyana mengulang pertanyaan Marcus sebab mereka juga mendengar semua yang Marcus katakan.


“Marcus, tidak ada obat-obatan seperti itu di rumah ini.” Ujar Dyana pada Marcus.


“kalau begitu kompres saja dia dengan handuk yang direndam dengan air hangat. Pastikan handuk itu benar-benar tidak menyimpan air lagi ketika mengusapkannya di kulit Frans. Sebenarnya dengan air dingin juga boleh tapi dia sedang demam jadi sebaiknya air hangat-hangat kuku saja.” Ujar Marcus.


"untuk sementara ini hanya itu yang bisa kalian lakukan sampai dokter datang. jangan khawatir, aku yakin jika hasil analisa dokter alergi nya cukup serius maka dokter pasti akan memberikannya sebuah suntikan. Jadi bersabar saja hingga dokter datang." jelas Marcus.


“baiklah kalau begitu Marcus. Aku akan menelpon mu nanti. Terima kasih.” Dyana langsung mematikan telpon itu tanpa sempat mendengar kata-kata penutup dari Marcus.


******bersambung

__ADS_1


cukup ya untuk hari ini... dah crazy up mulu nih... sekarang giliran kamu untuk dukung otor dengan cara like, komen dan vote....


__ADS_2