Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 46#Kala tabir tersingkap #12


__ADS_3

"Apa Kenzo sudah baik-baik saja sekarang paman?" Tanya Alesya pada Marcus, ketika Marcus selesai mengantar dokter Suryo ke depan Villa.


"Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kita lakukan." Jawab Marcus. dan memberi kode pada Alesya agar mengikutinya.


Alesya pun mengangguk dan mengikuti Marcus ke ruang tengah.


"Aku tahu maksud mu sangat baik Alesya."Ucap Marcus begitu ia dan Alesya sampai di ruang tengah itu, "tapi aku sendiri yang seorang dokter ini masih sangat ragu apakah Kenzo sudah siap untuk menerima semua kenyataan itu meskipun itu sudah berlalu bertahun-tahun bahkan belasan tahun berlalu, aku tetap tidak sepenuhnya yakin kalau Kenzo akan baik-baik saja setelah tahu kalau dirinya lah yang menyebabkan kecelakaan itu." sambung Marcus, lalu menghela nafasnya.


"Aku tidak menyangka kalau akan berakibat seperti ini." balas Alesya. "aku benar-benar menyesal." ucapnya sambil mengurut-urut keningnya yang terasa sangat sakit saat itu.


"Ya.. aku sangat memahami hal itu Alesya. Seharusnya aku senang jika Kenzo tahu kebenaran itu karena dengan begitu maka dia dan aku akan terbebas dari segala konflik antara kami selama ini. But, the problem is not as a simple as that." Ungkap Marcus.


Marcus melihat raut penyesalan di wajah Alesya. Dia pun kembali kasihan melihat Alesya yang tengah menyesali perbuatannya itu.


Marcus menarik nafas dalam dan melepaskan nya perlahan.


"Yang terpenting kini adalah kita semua harus ada disampingnya saat ia bangun nanti. Semoga sakit kepala yang dirasakannya tadi, tidak membawa kembali kenangannya yang sudah terkubur jauh di dalam alam bawah sadar nya itu." Marcus masih berharap Kenzo melupakan segalanya.


Alesya hanya bisa diam. Dia tidak berani untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya kini. Dalam hati Alesya hanya ada satu harapan tersimpan, yakni Kenzo kembali sehat.


"Dan jangan kabari Dyana tentang kondisi Kenzo. Dia akan panik." Ucap Marcus mengingatkan Alesya agar tidak memberitahukan Dyana semua yang terjadi. Marcus tidak ingin Dyana jadi kepikiran tentang masalah ini. Bagaimana pun, kondisi Dyana saat ini juga belum terlalu baik. Dia harus banyak beristirahat dan menenangkan pikirannya.


"Ya,.. aku hanya mengatakan bahwa aku sudah menemukan keberadaan Kenzo. Dan untuk beberapa saat kami tidak akan pulang ke rumah Kenzo. Kami akan menginap di Villa ini beberapa hari." Alesya menjelaskan pada Marcus, apa yang telah ia katakan pada Dyana ketika Marcus sedang sibuk membantu dokter Suryo di dalam kamar Kenzo.


"Baguslah kalau begitu." jawab Marcus.


"Lalu apa kau akan pulang? heemm.. wajah mu.."Ucap Alesya, sambil memegang wajahnya sendiri.


Karena terlalu fokus dengan Kenzo, Alesya dan Marcus bahkan tidak ingat dengan memar yang ada di wajah Marcus.

__ADS_1


"hah.. ini hanya memar kecil. Aku akan mengobatinya nanti." Jawab Marcus sambil memegang sudut bibirnya yang jadi terasa perih setelah Alesya mengungkit masalah memar di wajahnya.


"Kalau kau perlu bantuan.. katakan saja pada ku." Ucap Alesya sambil tersenyum.


"Kau cukup merawat Kenzo. Itu sudah cukup. Dan ingat Alesya, jangan ungkit apapun lagi dihadapannya. Berlaku lah seolah-olah tidak terjadi apapun." Jelas Marcus.


"Bagaimana kalau Kenzo yang bertanya? apa aku harus tetap diam?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benak Alesya. Okelah dia tidak akan mengungkit masalah di tepi pantai tadi. Tapi bagaimana kalau seandainya Kenzo yang memulai percakapan tentang hal itu? haruskah Alesya tetap diam?.


Marcus menghela nafasnya. "Kita berharap saja Kenzo tidak bertanya apapun setelah bangun nanti. Bahkan kalau perlu aku akan berdoa pada tuhan agar Kenzo lupa akan semua kejadian di tepi pantai itu." Jawab Marcus sembarangan, lalu Marcus berdiri. "Alesya, sebaiknya kau minta supir untuk mengantarkan Skala kemari. Bocah itu bisa menjadi obat mujarab untuk Kenzo. Aku sangat yakin itu." Ujar Marcus, lalu pergi ke ke arah kamar tamu yang sudah di sah kan nya menjadi kamarnya selama dia menginap di Villa itu. Marcus tidak akan pergi selama keadaan Kenzo masih belum membaik. Dan masalah Dyana, mau tidak mau dia harus mengikhlaskan Frans untuk menjada Dyana selama dia tidak bisa pulang ke rumah Kenzo.


"Aku pun berpikir begitu paman. Aku sudah meminta supir untuk menjemput Skala untuk datang kemari." Jawab Alesya, walaupun mungkin Marcus tidak dapat mendengarnya sebab Marcus terlihat sedang menelpon seseorang setelah selesai menyuruh Alesya untuk membawa Skala ke Villa itu.


***


"Heeem.. bagaimana kabar Agnes?" Tanya Marcus via telpon dengan Arya. Marcus membuka baju nya dan mengganti dengan baju yang tersedia di dalam kamar itu. Entah baju siapa yang ada di lemari itu, Marcus tidak peduli sebab baju nya kini sudah sangat kotor.


"Aku tidak tahu harus menjelaskan apa pada mu Arya sebab aku sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Agnes. Dia tidak pernah menceritakan apapun pada ku tentang kehidupannya di rumah keluarga suaminya dulu." Jelas Marcus yang merasa iba dengan nasib Agnes.


"jadi ...Heemm Agnes sudah menikah?" Tanya Arya terdengar kecewa.


"apa kau kecewa Arya?" celetuk Marcus membuat Arya jadi kikuk harus menjawab apa.


"Kecewa? heem.. mengapa aku harus kecewa? AKu hanya tidak menyangka dia sudah menikah sebab yang mengantarkannya ke rumah sakit saat itu bukanlah suaminya melainkan asisten mu. Atau jangan-jangan asisten mu adalah suaminya?" Arya mencari cara agar Marcus tidak terus meretas isi pikirannya.


"Benarkah? Heh!! Kau jangan berbohong pada ku Arya... Aku sangat mengenal diri mu!!" Sahut Marcus yang kini sedang berjalan keluar dari kamar menuju ke arah pintu belakang Villa yang langsung akan mengantarkannya ke hamparan pasir putih di tepi pantai.


"Kenapa aku harus berbohong pada mu. Seperti hal nya diri mu, aku pun merasa kasihan padanya. Bertolak dari kondisinya saat ini, aku sangat yakin dia pasti tidak akan bisa mempunyai anak lagi. Dan ya...tadi Rama, dokter spesialis yang menanganinya sudah mengajak ku berdiskusi mengenai solusi untuk masalah Agnes ini. Rama menyarankan Agnes harus segera diangkat rahimnya. Hanya itu satu-satunya solusi agar dia dapat selamat dari penyakit nya ini." jelas Arya panjang kali lebar pada Marcus. Bagaimanapun saat ini yang terdaftar sebagai walinya Agnes adalah Marcus. Dan setiap kali Arya bertanya apakah ada keluarga Agnes yang lain dapat dihubungi, Agnes selalu mengatakan Marcus lah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.


"Apa kau sudah mengatakan hal ini pada Agnes?" Tanya Marcus, langkah kaki nya pun langsung berhenti begitu dia mendengar perkembangan kondisi Agnes dari Arya.

__ADS_1


"Belum.. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengatakan semua ini pada nya. Sebaiknya kau yang mengatakan ini pada nya Marcus." Saran Arya.


"Untuk sementara ini aku belum dapat mengunjungi Agnes ke rumah sakit. Ada hal penting yang harus aku kerjakan. Heeem.. Kapan waktu operasi yang disarankan oleh dokter Rama?" tanya Marcus pada Arya.


"Tanggal pastinya belum ada. Hanya saja Rama mengatakan tidak boleh lewat dari bulan ini. Itu artinya kita masih ada dua minggu lagi. Tapi semakin cepat Agnes tahu tentang hal ini maka akan semakin baik. " Ujar Arya.


"Kalau memang begitu, seperti nya aku harus mengandalkan mu sekali lagi Ar. Hanya kau yang bisa aku mintai tolong untuk menjaga Agnes saat ini." Ucap Marcus penuh harap..


"Kalau memang begitu keadaan nya Apa boleh buat, aku akan mencoba yang terbaik yang aku bisa untuk menyampaikan hal ini pada nya." Arya pun terpaksa memenuhi permintaan Marcus.


"Kau memang yang terbaik Arya... Terutama jika sifat sableng mu sedang tertidur lelap di dalam diri mu." celetuk Marcus.


"Aku tarik kembali semua perkataan ku tadi.. aku tidak bisa menolong mu!!" ujar Arya pura-pura merajuk.


"Haruskan aku membujuk mu dengan sebuah permen dokter Arya?"


"Kalau hanya sebuah permen aku tidak mau.. tapi kalau kau memberikan ku sebuah pabrik permen maka akan beda cerita...Hahaha.." jawab Arya, yang sempat-sempat nya bercanda.


"Sebelum nya aku ucapkan terimakasih kasih Arya." ucap Marcus, terdengar sangat tulus.


"Itulah..arti seorang sahabat bukan? Selalu ada saat sahabat nya membutuhkan."


"Baiklah..." Marcus pun menutup telpon itu.


**bersambung


😎😎😎


*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.

__ADS_1


__ADS_2