Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 31# Frans Vs Marcus#1


__ADS_3

“heem.. kalau begitu bagaimana kalau aku saja yang merawat Agnez? Aku yakin kalau aku yang merawatnya dia akan pulih lebih cepat!” Ujar Jasmin sambil tersenyum smirk pada Agnez yang terlihat seperti sedang tertidur itu.


Mona yang kebetulan ada disitu tentu sangat paham dengan niat Jasmin. Dia tidak bisa membiarkan Jasmin menyiksa Agnez lebih parah lagi.


“suami ku..” Mona mulai angkat bicara. “aku rasa sebaiknya kita meminta bantuan kembali ke tuan Marcus. Aku khawatir keadaan Agnez memburuk dan keluarga nya lama kelamaan akan curiga kenapa Agnez tidak datang menjenguk mereka.” Bujuk Mona.


Tuan Puji terlihat berpikir. Apa yang dikatakan ada benarnya juga. Untuk saat ini Agnez harus pulih terlebih dahulu.


“Baiklah. Aku setuju dengan mu Mona. Dan Jasmin tolong kau telpon tuan Marcus. Katakan pada nya aku ada hal penting yang ingin aku bicarakan padanya. Kalau dia tidak keberatan katakan juga padanya aku memintanya untuk datang ke rumah sore ini.” Ucap tuan Puji pada Jasmin.


Dengan terpaksa Jasmin melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan Puji. Dia mengambil ponselnya dan menelpon Marcus.


*****“hallo tuan Marcus..” sapa Jasmin, lembut. “apa telpon ku mengganggu mu?” Jasmin memulai pembicaraan itu dengan sedikit berbasa basi.


*******“Heem.. begini tuan Marcus, aku menelpon mu untuk menyampaikan pesan dari suami ku.” Ujar Jasmin sambil melihat ke arah tuan Puji yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


******“Suami ku mengundang mu untuk datang ke rumah kami sore ini jika kau tidak keberatan.”


******“heem.. syukurlah kalau begitu.” Ujar Jasmin sambil tersenyum. “akan ku sampaikan pada suami ku kalau kau menerima undangannya untuk datang kemari. Maaf sudah mengganggu waktu mu.” Jasmin pun mematikan telpon itu.


“Dia bersedia kemari sore ini.” Kata Jasmin begitu menutup telpon itu. Walaupun sebenarnya dia berharap Marcus menolak permintaan dari tuan puji.


“Aku tahu dia pasti akan bersedia datang kemari.” Seru tuan Puji, tersenyum puas. Paling tidak dengan kedatangan Marcus, masalah dengan Agnez bisa membuatnya sedikit menarik nafas.

__ADS_1


“suami ku kalau begitu biar aku saja yang menjaga dan merawat Agnez hingga dia sembuh. Lagi pula aku kan tidak ada kegiatan di luar. Sedangkan Jasmin harus selalu menemani mu ke acara-acara bisnis.” Mona menawarkan dirinya untuk menjaga Agnez.


“aku rasa begitu juga lebih baik.” Jawab tuan Puji. “Jasmin juga tidak ada pengalaman apapun dalam merawat orang sakit. Lagi pula aku juga membutuhkannya disamping ku.”


“terima kasih suami ku.” Ujar Mona. “kalau begitu sebaiknya kita semua keluar dari kamar ini dan biarkan Agnez untuk beristirahat.” Mona pun mempersilahkan semua orang untuk keluar dari kamar itu.


Begitu semua orang keluar, berlahan Agnez membuka matanya. Dengan hati-hati dia melihat sekelilingnya. Lalu setelah yakin tidak ada lagi orang lain di kamar itu, dia pun bernafas lega.


“Syukurlah semua orang sudah pergi!!! Apa lagi nenek sihir itu. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Mulai sekarang aku harus berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai aku mati di tangan wanita itu.” Gumam Agnez dalam hati.


“apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalau aku memerankan istri yang tersiksa aku malah akan mendapatkan simpati dari si tua bangka itu dan aku tidak mau hal itu terjadi!” Agnez bergidik membayangkan kalau tiba-tiba hubungannya dan tuan Puji menjadi suami istri betulan. Lebih baik disiksa Jasmin dari pada itu yang jadi kenyataan...


“atau apa aku harus berpura-pura jadi jongosnya Jasmin saja? Memang nya dia akan percaya akan hal itu?? aarGGhhh.. aku harus berbuat apa???” Seru Agnez dalam hati frustasi.


****


sedangkan di rumah Frans, Sedari tadi Frans mondar mandir tidak karuan. Demamnya sudah turun dan kondisinya secara fisik sudah membaik. Tapi entah mengapa sepertinya saat ini pikirannya yang sakit.


“apa aku harus datang dan meminta maaf pada nya?” seru Frans pada dirinya sendiri.


“Aaaah!! Tidak!!! Kenapa aku harus melakukannya!! Dia saja sudah meninggalkan ku dalam keadaan sakit!! Sungguh tidak punya rasa empati kepada orang lain!!” sungut Frans yang tiba-tiba menjadi kesal.


Frans kembali mondar mandir membuat kepala pelayan jadi pusing karena nya.

__ADS_1


“Tuan muda, apa ada masalah?” Sapa salah seorang pelayan yang sudah lama bekerja di keluarga Aksena.


Frans melihat wajah pelayan itu dengan seksama, hatinya ragu antara ingin bercerita tapi dia malu, tidak ingin bercerita tapi fakta nya dia memang butuh teman untuk bertukar pikiran.


“bibik.. ayo temani aku duduk disana.” Frans menunjuk sebuah bangku di taman belakang rumah.


Si pelayan pun mengangguk dan mengikuti Frans ke bangku yang ada di taman.


“ada apa tuan muda?” tanya si pelayan, sopan.


“Bibik.. ini teman ku ada masalah dan dia meminta pendapat ku. Tapi dari tadi aku memikirkannya aku tetap tidak mendapatkan jawabannya.” Ujar Frans, dengan wajah ragu-ragu.


“memangnya teman tuan muda punya masalah apa?” tanya si pelayan.


“Heem.. begini teman ku itu beberapa hari yang lalu dia sakit. Lalu heeem.. ada seorang teman wanitanya datang untuk membantunya atau katakan untuk merawatnya tapi bukan teman ku bik yang menyuruh wanita itu datang untuk menjaga nya, bahkan dia sudah menyuruh wanita itu untuk pulang saja. Tapi wanita itu saja tetap keukeuh untuk berada disamping teman ku yang sakit itu.” Ucap Frans, gugup takut si pelayan menyadari kebenaran dari cerita itu.


“ hanya saja teman ku bukan tipe orang yang biasa untuk berkata manis, dan tanpa dia sengaja dia malah menyakiti hati wanita itu alih -alih mengucapkan terima kasih atas bantuan wanita itu.” Lanjut Frans tak bersemangat. “ Tapi ini dia sungguh tidak bermaksud seperti itu bik. Hanya saja memang mulutnya itu tidak bisa berkata manis.. heeeemm jadi bibik paham kan maksud ku. Sebenarnya dia , teman ku itu tidak ingin menyakiti hati wanita itu cuma perkataan yang keluar dari mulutnya malah sebaiknya.” Frans mengakhiri cerita dengan lesu. “wanita itu pergi dengan perasaan marah dari rumah teman ku”


“menurut bibik, apa yang teman ku harus lakukan sekarang? Apakah dia harus menelpon wanita itu dan meminta maaf? Atau mendatangi wanita itu?” tanya Frans dengan wajah yang penuh ekspresi pengharapan sang pelayan dapat memberikannya solusi. “atau tidak usah melakukan apapun toh bukan dia yang meminta wanita itu untuk menjaga nya.”


“Tuan, menurut saya....”


***Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2