
"Hallo tuan Kenzo.." Ucap Jack begitu telpon itu tersambung.
"Ya, Jack. Bagaimana perkembangan disana?" balas Kenzo sambil menyetir mobil nya bersama Alesya usai menghadiri pesta pernikahan Frans dan Stephanie.
"Tuan ada kabar buruk."Ucap Jack, terdengar ragu.
"Katakan." ujar Kenzo, yang langsung memperlambat laju mobil nya.
"Tuan muda Skala dan temannya entah bagaimana cara nya ada di sini tuan. Tidak hanya itu tuan, saat ini bahkan tuan muda sedang berdiri di depan rumah tempat nyonya Jenny bersembunyi." Ujar Jack melaporkan keadaan di TKP.
Kenzo langsung mengerem mobilnya saat itu juga, hingga Alesya yang ada di samping nya terkejut.
"Kenz!! Ada apa?" tanya Alesya panik. Tidak biasanya sang suami seperti ini.
Kenzo melihat ke arah Alesya. Dari sorot mata Kenzo, Alesya tahu kalau ada hal buruk yang baru saja terjadi.
"Kenz!!Kenz!!!" Panggil Alesya sambil menyentuh tangan Kenzo.
Kesadaran Kenzo pun kembali. Dia langsung membetulkan posisi handsfree bluetooth nya.
"Jack, kirim kan lokasi mu saat ini juga. Cepat!!" perintah Kenzo pada Jack.
"Baik tuan." Jawab Jack. Dan sesaat kemudian panggilan itu terputus.
Kenzo pun langsung menelpon Marcus dan Dyana yang saat ini pasti dalam perjalan pulang.
"Kau dimana paman?" Tanya Kenzo begitu Marcus menerima panggilan nya.
"Aku dalam perjalanan pulang. Mungkin kami tidak seberapa jauh dari mobil kalian. Ada apa? apa terjadi sesuatu pada kalian?" Tebak Marcus.
"Tidak ada. Hanya saja aku butuh bantuan mu untuk mengantarkan Alesya kembali ke rumah. Aku harus pergi ke suatu tempat." Ujar Kenzo, sambil melihat ke Alesya yang terlihat cemas.
"Aku akan mempercepat mobil ku."Ucap Marcus yang langsung mematikan telpon itu dan mempercepat laju mobil nya.
Marcus yakin ini pasti ada kaitannya dengan penyergapan Jenny.
"Apa kau tidak akan memberitahu kan pada ku apa yang sedang terjadi Kenz?" Tanya Alesya yang terlihat semakin cemas.
"Sayang, kau pulang dengan paman dan bibi Dyana ya? aku harus menjemput Skala dan Daffa." Ucap Kenzo setengah jujur.
"Kalau kau hanya akan menjemput mereka, mengapa aku tidak boleh ikut?" Tanya Alesya lagi.
__ADS_1
"Heem.. itu karena." Kenzo menatap lekat istrinya. Dia tidak Terlalu yakin untuk mengatakan hal yang sejujurnya pada Alesya karena Alesya pasti akan sangat panik.
Dulu saja ketika Skala di culik, Alesya tidak bisa menenangkan dirinya. Apalagi kalau sampai tahu saat ini Skala berada di depan rumah tempat Jenny bersembunyi, pasti dia akan panik dan itu sudah pasti akan berpengaruh pada kehamilan nya.
"karena apa Kenz?" Tanya Alesya.
"Karena- "
"Tiiiit...Tiiit..."
Suara klason mobil Marcus sungguh berbunyi di saat yang tepat, sehingga Kenzo punya alasan untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Seperti nya itu mobil paman Marcus dan bibi Dyana." kilah Kenzo.
Kenzo pun membukakan seatbelt yang dipakai oleh Alesya dan meminta Alesya untuk segera turun.
"Ayoo sayang kita turun." Ajaknya pada sang istri.
"Tapi Kenz, kau belum mengatakan pada ku-"
"Cepatlah sayang. Tidak enak jika membuat paman dan bibi menunggu.
Alesya pun terpaksa turun sesuai dengan perintah suami nya.
Marcus menatap dalam mata keponakan nya. Meski tidak terucap, tapi Marcus bisa menebak apa yang sedang terjadi.
"Kau tenang saja Kenz. Dan segera lah pulang bersama Skala." Ujar Marcus, sambil menepuk pundak Kenzo.
"Kau tenang saja paman." jawab Kenzo.
"Alesya, masuk lah ke dalam mobil. Dan Dyana, pindah lah ke belakang, temani Alesya duduk di belakang. Khusus untuk hari ini aku bersedia menjadi supir kalian." Seloroh Marcus agar wajah tegang Alesya berkurang.
"Kenz..." Seru Alesya pelan.
"Pulang lah dulu sayang, dan siapkan makan malam yang lezat untuk ku."Ucap Kenzo sambil tersenyum.
Alesya pun akhirnya masuk ke mobil Marcus .
"Kami pulang duluan. Pastikan kau membawa pulang putra mu Kenzo!" Ujar Marcus pulang. "Kabari aku bagaimana situasi disana."
"Tolong jaga istri ku paman." ucap Kenzo kemudian masuk ke dalam mobil dan mengemudi mobil itu dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi paman?" Tanya Alesya pada Marcus.
"Tidak ada yang perlu kau khawatir kan Alesya, suami mu itu hanya pergi untuk menjemput putra kalian." Jawab Marcus yang kemudian, mengemudi mobil nya ke arah rumah Kenzo.
Sedangkan di tempat persembunyian Jenny...
"Cepat buka pintu itu Rama." Perintah Dion pada anaknya.
Semenjak sang ayah terlalu sibuk dengan urusan nya bersama wanita yang selalu di panggil nya nyonya Jenny itu, Rama tidak ada yang mengantar untuk berangkat sekolah. Sehingga anak itu dua hari terpaksa membolos.
Saat pintu itu terbuka...
"Skala...?"
"Daffa?"
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Rama, yang tidak menyangka kedua sahabat baru nya itu benar-benar akan datang.
"Kami kira kau sakit." Sindir Daffa, "maka nya kami datang untuk menjenguk mu " tambah nya.
"Rama...? siapa yang datang?!" Tanya Dion sambil berteriak dari ruang tengah tempat Dion dan tamu wanita nya yang bernama Jenny itu berada.
"Mereka teman-teman ku ayah." Jawab Rama, dengan nada tidak suka.
"Suruh mereka pulang!!" Perintah Dion, ketus. "Sudah berapa kali aku katakan pada mu, jangan bawa teman-teman mu main ke rumah kita! Kapan kau akan mengerti Rama!!" Ucap ayah Rama yang semakin berang.
Daffa dan Skala yang mendengar hal itu langsung saling pandang. Mereka sungguh tidak enak sebab karena kedatangan mereka Rama malah jadi kena marah oleh ayah nya.
"Maaf, ayah ku memang suka marah-marah." ucap Rama dengan wajah santai. Ya,Rama memang sudah terbiasa di marahi oleh ayahnya. Dan dia juga sudah terbiasa mendengar ayahnya memarahi dirinya di depan teman-teman nya.
"Kau tidak perlu minta maaf Rama, kami lah yang datang di waktu yang salah. Tapi paling tidak dengan datang ke rumah mu hari ini kami tahu kau tidak sedang sakit." Ujar Skala.
"Benar, melihat mu tidak sakit saja sudah membayar lelah ku karena jauh-jauh berjalan ke rumah mu." tambah Daffa.
"Baiklah, sebaik nya kami pulang saja. Kau tidak perlu menawari kami untuk masuk dsn minum teh." canda Skala.
"Siapa juga yang akan menawari kalian masuk! bisa-bisa aku diamuk oleh ayah ku! Hahahah.."Seloroh Rama.
"Kalai gitu kami cabut dulu." ujar Daffa.
"Ok, hati-hati di jalan." sahut Rama.
__ADS_1
"Jangan lupa, besok kau sudah harus datang ke sekolah." Tukas Skala.
"Kalian tenang saja. Aku pasti akan ke sekolah." Jawab Rama yang sebetulnya tidak begitu yakin diri nya dapat pergi ke sekolah atau tidak besok.