Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 44 #ujian cinta# 27


__ADS_3

"anda yang bernama Kenzo bukan..Masuklah ke dalam. Mai memang belum dasar tapi dia terus menyebut nama anda. Seperti dia sangat ingin untuk bertemu dengan anda." ujar sang dokter pada Kenzo. "Mungkin kehadiran anda di dalam sana dapat membantu nya melewati masa-masa kritisnya." Lanjut sang dokter sambil menepuk bahu Kenzo yang dia kira adalah kekasih pasien nya.


"Aku mohon temui lah dia Kenz! Mungkin saja ini adalah saat terakhir dia dapat bertemu dengan mu." Romano langsung memegang tangan Kenzo erat. Dia tahu Kenzo pasti berat untuk masuk dan menemui Mai. Hanya saja feeling Romano sebagai ayah mengatakan bahwa umur putrinya tidak akan lama lagi. Kalau memang meninggal di pelukan Kenzo adalah hal terakhir yang diinginkan oleh Mai maka dengan cara apapun Romano akan mengabulkan permintaan terakhir Mai.


"Baiklah." Jawab Kenzo akhirnya. Rasa kemanusiaan sebenarnya ada di dalam diri Kenzo ketika melihat kondisi Mai yang sangat memprihatinkan ini. Mulai dari berat Mai yang tidak sampai 70 persen berat Alesya hingga wig Mai yang jatuh tanpa sengaja ketika Kenzo akan mengangkat Mai tadi sewaktu Mai pingsan. "Penyakit nya pasti sudah sangat parah." Gumam Kenzo dalam hati.


Setelah mengenakan baju khusus untuk masuk ke dalam ruang ICU itu, Kenzo pun melangkahkan kaki nya ke dalam ruang ICU itu. Dan terlihat lah Mai yang sedang terbaring tidak berdaya dengan begitu banyak alat medis yang melekat di tubuhnya. Kenzo merasa sangat kasihan melihat kondisi Mai ini.


"Mengapa kau sangat keras kepala," Gumam Kenzo pelan lalu menarik sebuah kursi supaya dapat duduk sambil melihat wajah Mai.


"seharusnya kau menjalani perawatan mu dengan baik di Australia alih-alih menyusahkan kan diri mu sendiri untuk datang mencari ku untuk suatu hal yang sudah jelas hasil apa yang akan kau dapat." Lanjut Kenzo, yang masih tetap berbicara pada Mai, yang Kenzo sendiri tidak begitu yakin kalau Mai akan bisa mendengarkan perkataan nya.

__ADS_1


Kenzo mengambil tangan Mai dan menggenggam nya. Mungkin ini pertama kalinya Kenzo menyentuh tangan itu dengan keinginan Kenzo sendiri dan menggenggam nya lembut.


"Kau seharusnya tidak jadi seperti sekarang ini jika tidak pernah bertemu dan jatuh cinta pada ku Mai." Sesaat Kenzo teringat pertama kali dia berjumpa dengan Mai.


Saat itu Kenzo sedang bermain basket dengan teman se- tim nya lalu tiba-tiba Mai lewat dan tanpa sengaja bola yang Kenzo tembakan ke ring basket mental terkena papan bidikan hingga mendarat sempurna di kepala Mai yang sedang berjalan di pinggir lapangan.


Mai pun langsung terjatuh karena kena hantaman bola tersebut. Kenzo merasa ini adalah salahnya. Dia langsung menghampiri Mai dan bertanya pada Mai mengenai kondisi Mai saat ini. Mai yang kepalanya baru saja terkena lemparan bola basket yang pasti sangat menyakitkan itu hanya bisa melihat Kenzo tanpa bisa berkata-kata karena dia sebenarnya dalam proses jatuh pingsan.


Ketika Mai akan menutup matanya yang tersimpan dalam ingatan nya hanyalah wajah tampan Kenzo yang berada tepat di bawah pancaran sinar mentari sehingga membuat wajah itu seakan-akan bercahaya. Mungkin sejak saat itu lah Mai mulai terpikat dan terobsesi pada Kenzo.


"Aku hanya mencintai istri ku Mai. Alesya. . . al dia adalah satu-satunya wanita dalam hidup ku. Dan aku sudah mencintai nya sejak lama. Andaikan kau tahu bagaimana aku memperjuangkan cinta ku yang tidak mudah ini Mai, maka mungkin kau tidak akan memiliki keinginan untuk mencoba memisahkan aku dan Alesya. Aku sangat mencintai istri ku. Dan aku sangat menghargai diri mu sebagai seorang sahabat. Maafkan aku yang mungkin sudah berlaku kasar pada mu ketika kau di rumah ku. Tapi bagi ku, lebih baik berbuat seperti itu agar kau sadar bahwa cinta yang kau kejar adalah cinta yang tak kan pernah kau miliki Mai. Agar kau sadar aku bukan pria yang tepat bagi mu."Kenzo berhenti sesaat.

__ADS_1


"Meskipun aku berkata kasar dan menyuruh mu untuk pergi jauh dari pandangan mata ku dan Alesya, tapi kami tidak pernah membenci mu Mai. Kami malah kasihan pada mu yang hidup dalam cinta yang semu." lanjut Kenzo.


Kenzo dapat melihat setitik air mata menggenang di ujung mata Mai yang terpejam itu.


"Apa dia bisa mendengarkan semua yang aku katakan?" pikir Kenzo dalam hati. Jika itu benar maka bisa jadi Mai akan segera keluar dari masa kritis nya. Kenzo pun mengalihkan arah pembicaraan nya. Jika tadi berfokus pada kisah cinta dirinya dan Alesya, maka kini dia akan mengatakan hal-hal yang lebih ke arah diri Mai sendiri. Semoga, dengan begini Mai segera sadar.


"Kau adalah gadis yang baik Mai. Dan kau pun berhak untuk mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai mu. Aku yakin kau pasti akan bertemu dengan pria itu suatu saat nanti. Yang terpenting saat ini kau harus bisa melewati masa kritis ini." Kenzo memperhatikan wajah dan tangan Mai, untuk melihat adakah respon yang Mai berikan terhadap perkataan nya barusan.


"Aku yakin Mai, kau pasti bisa melewati semua ujian ini. Mai yang aku kenal adalah Mai yang kuat. Yang tidak akan kalah hanya dengan penyakit seperti ini." Kenzo terus mencoba menstimulus Mai untuk bereaksi dengan ucapan - ucapannya. Dan benar saja, jari-jari Mai bergerak dengan sangat pelan.


"Dia mulai sadar." Gumam Kenzo dalam hati lalu memencet tombol untuk memanggil perawat agar datang ke ruangan itu.

__ADS_1


"kau pasti bisa Mai!!" seru Kenzo dalam hati..


***bersambung...


__ADS_2