
"Kalau kau perginya bersama ku maka tidak akan ada masalah apapun. Tapi kalau kau perginya sendirian maka bukan hanya kau yang berada dalam masalah, aku pun akan kena amukan amarah mommy mu." terang Kenzo.
"Apa aku harus berterus terang tentang tujuan ku datang ke kota ini." pikir Skala dalam hati.
Skala melirik Kenzo yang sedang menyetir mobil itu. "Aku rasa sekarang belum saat nya." Batin Skala.
"Hei.. tatapan macam apa itu?"Tanya Kenzo.
Skala cuek saja mendengar ucapan Kenzo. Dia kembali fokus melihat tablet nya.
Kenzo menghela nafas, " Aku benar-benar penasaran siapa ayah dari bocah ini. Aku harap Jack segera menemukan informasi tentang mereka." Batin Kenzo.
"Kau sedang apa?" Tanya Kenzo sambil mengendarai mobil nya.
"Aku sedang nonton film kartun." Jawab Skala bohong.
Sebenarnya Skala tidak bermaksud untuk berbohong pada Kenzo hanya saja sedikit tidak wajar kalau seandainya Skala berkata dia sedang mengamati harga saham. Mana ada anak sekecil dia melakukan hal itu. Tapi apalah daya, dia sudah terbiasa dengan hal ini sedari dulu karena kakek nya selalu mengajak Skala untuk segala aktivitas bisnis yang pria tua itu lakukan. Dan seperti itulah Skala tumbuh.
"Kau jangan berbohong!" Seru Kenzo.
Skala tetap cuek, tidak bereaksi apapun walaupun Kenzo mengetahui bahwa dia sedang berbohong.
Kenzo yang sudah dua kali dikacangi oleh Skala akhirnya menepikan mobilnya.
"Kenapa kita berhenti." Tanya bocah itu.
Kenzo diam saja sambil menatap Skala.
"Paman, aku sedang bertanya pada mu. kenapa kau memberhentikan mobil ini disini?"
__ADS_1
Kenzo tetap diam. Dia sengaja ingin memberikan pelajaran pada bocah tengil ini supaya paling tidak dia tahu bagaimana rasanya dikacangi oleh seseorang.
"Paman!" Skala melipat tangannya di dada.
"Bagaimana rasa?" Ucap Kenzo, akhirnya buka suara.
"Apa?"Tanya Skala bingung.
"Bagaimana rasanya kalau kau bertanya tapi tidak dijawab sama sekali oleh orang yang kau tanyai padahal dia ada didekat mu?" Kenzo pun ikut melipat tangan nya seperti Skala.
Skala memutar malas matanya. "Jadi kau sengaja memberhentikan mobil ini disini untuk membalas ku?"
"Hah.. " Kenzo menghela nafas dalam. "Ternyata menjadi orang tua itu sulit sekali." Keluh nya dalam hati. "Atau hal ini terasa sulit karena dia yang menjadi anak nya? " batin Kenzo.
"hei.. bocah kecil. Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak tahu kenapa kau tidak menjawab semua pertanyaan yang ku berikan pada mu sedari tadi. Apakah karena kau tidak suka berbicara dengan ku atau karena mungkin karena hal lain. Tapi satu hal yang pasti, hal itu sangat tidak sopan untuk dilakukan. Apalagi dilakukan oleh seorang anak kecil pada seseorang yang lebih tua dari nya." Terang Kenzo serius. "Apa kau paham?" Lanjut Kenzo.
"Iya!! Aku sedang menasehati mu!!" Seru Kenzo dan menatap tajam bocah itu.
Tidak tahu kenapa Kenzo tidak suka dengan sikap cuek Skala padahal sewaktu kecil dia juga sering melakukan hal yang sama pada pengasuhnya. "Aku ini kenapa!!" Batin Kenzo. "Kenapa aku mendadak merasa seperti kakek ku yang cerewet itu!!"
"Kau bukan ayah ku, jadi berhentilah bertingkah seolah-olah kau adalah seorang ayah. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa dengan menikahi mommy ku bukan berarti kau otomatis jadi ayah ku." Ujar Skala kesal. Dia kesal karena sikap Kenzo yang sok menjadi sosok seorang ayah yang selama ini tidak dia miliki.
"Kau mau mengakui hal itu atau tidak, tapi fakta bahwa setelah menikahi ibu mu otomatis kau menjadi anak ku dan aku menjadi ayah mu tidak akan berubah sama sekali." Tegas Kenzo.
"Jadi rubah lah sikap mu itu." Perintah Kenzo.
"Jangan berpikir untuk mengatur apa yang mesti aku lakukan!!" Tolak Skala, sombong.
"Sebelum aku mendengar kata iya dari mu maka kita akan tetap berada disini!!!" Kenzo pun tak mau kalah dari bocah sombong ini dan mengambil tablet yang sedang Skala pegang.
__ADS_1
"Hei! Apa yang kau lakukan paman!!!" Seru Skala kaget ketika Kenzo merebut tablet di tangan nya itu.
"Aku juga akan menyita ini. Selama sikap mu tidak berubah jangan harap kau akan mendapatkannya kembali." Terang Kenzo sambil tersenyum senang.
Skala menatap tajam Kenzo. "Kau sungguh kekanak-kanakan!" Seru Skala.
"Tidak! Aku tidak kekanak-kanakan. Aku hanya sedang mengajari seorang anak supaya dia tidak sombong dan bisa menghargai orang lain." Tegas Kenzo.
"Whatever lah!!" Jawab Skala Kesal.
Skala dan Kenzo pun hanya diam saja di dalam mobil itu.
Setengah jam berlalu...
Satu jam berlalu...
Dua jam berlalu..
"Baik lah!! Ujar Skala akhirnya. Dia benar-benar tidak tahan untuk berdiam diri seperti itu. Sungguh membuang waktu, pikir Skala.
Kenzo menatap Skala. " Katakan dengan jelas."
Skala menarik nafas dalam dan berkata, "Aku berjanji tidak akan bersikap seperti tadi." ucapnya terpaksa.
"Aku tidak melihat kesungguhan mu. Itu pasti tidak keluar dari hati mu."
Skala segera merubah ekspresi wajahnya. "Aku Skala berjanji akan bersikap menghormati orang yang sedang berbicara dengan ku dengan cara memberikan respon yang baik terhadap lawan bicara ku. Kau puas!!"
Kenzo hanya tersenyum dan kembali menjalankan mobil. "Aku pegang kata-kata mu sebagai sesama lelaki." Ungkap Kenzo senang akhirnya dia bisa mengalahkan ego bocah tengil ini.
__ADS_1