
Marcus membawa Arya ke dalam kamar Dyana.
"siapa itu?" Tanya Dyana, begitu mendengar pintu kamarnya terbuka.
Dyana sebenarnya sudah sedari tadi menunggu Marcus, Frans, Alesya ataupun Kenzo kembali ke dalam kamarnya setelah mendengar Aleysa berteriak mengatakan kalau Kenzo berkelahi dengan seseorang di luar ruangannya.
Dyana sangat mengenal keponakannya itu. Kenzo merupakan laki-laki yang tidak mudah tersulut emosinya. Kenzo juga sangat mengutamakan logikanya dalam bertindak walaupun sebenarnya setelah Kenzo mengenal Alesya dan jatuh cinta pada wanita itu, kadang-kadang logika Kenzo sering dia nomor dua kan.
Hanya saja rasa tetap tidak mungkin jika Kenzo sampai berkelahi dengan seseorang dan itu pun terjadinya di rumah sakit. Benar-benar bukan seperti diri Kenzo yang biasanya. Itu lah sebabnya Dyana sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi di balik
pintu kamar nya ini. Tapi karena kondisi nya yang saat ini tidak bisa berjalan serta tidak
bisa membuatnya kesulitan untuk ikut berlari keluar melihat keributan apa yang sebenarnya terjadi di luar
Marcus mendudukkan sahabatnya yang babak belur itu di sofa yang ada di ruang VVIP itu. Lalu memberikan kode dengan jari yang diletakkan di mulutnya agar Arya tidak bersuara. Kemudian Marcus berjalan ke arah Dyana dan berkata, "Ini aku..Marcus.” Ujar Marcus setenang mungkin.
Setelah mengatakan itu pada Dyana, Marcus kembali melihat ke arah Arya yang sedang memegangi wajahnya yang sudah pasti terasa sangat sakit itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi Marcus?" Tanya Dyana, penasaran. Jelas-jelas tadi Alesya berteriak dengan paniknya dan Dyana tidaklah tuli walaupun benar saat ini dia buta. Dyana bisa mendengar teriakan Alesya itu dengan sangat jelas. Lalu bagaimana mungkin Marcus bisa dengan begitu tenang nya kembali masuk ke dalam ruangan Dyana seakan-akan tidak terjadi apa-apa di luar sana.
“Bukan apa-apa. Hanya adu mulut saja.” Jawab Marcus berbohong agar Dyana tidak ikutan panik.
“ heh? adu mulut? kau berharap aku mempercayai itu Marcus?" Seru Dyana sambil tersenyum mengejek. "Sejak kapan Kenzo suka berkelahi dengan mulut nya. Kau jangan membohongi ku hanya karena saat ini aku tidak dapat melihat, Marcus!” tegas Dyana.
Belum sempat Marcus menjawab pertanyaan Dyana, tiba-tiba Arya mengerang kesakitan. "A-Aaa-aa" terdengar suara Arya yang kesakitan.
Marcus auto melihat ke arah Arya. Jelas-jelas tadi dia sudah memperingati Arya agar tidak bersuara.
"siapa itu?" Dyana yakin itu pasti bukan suara Kenzo ataupun Frans.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Kembali lah beristirahat. Tidak ada yang perlu kau cemaskan." Marcus menyelimuti Dyana dan membelai kepala wanita terkasihnya itu.
"Jawab aku Marcus!!!" Paksa Dyana dengan nada yang terdengar sangat serius.
"itu Arya, sahabat ku sewaktu kuliah di kedokteran dulu. Dia adalah dokter di rumah sakit ini" Jawab Marcus. Marcus sengaja memberikan jawaban seperti itu, dimana dia tidak harus mengatakan yang sebenarnya pada Dyana tanpa juga harus berbohong pada Dyana disaat yang bersamaan.
"kenapa teman mu ada di kamar ku?" Tanya Dyana curiga.
"aku-" Belum sempat marcus menjawab pertanyaan Dyana, Kenzo yang ternyata telah masuk ke dalam ruangan itu, langsung menyambung perkataan Marcus.
"Dia berada disini karena aku telah memukuli nya di luar." Jawab Kenzo dengan suara datarnya. Aura-aura tidak suka pada Arya masih terpancar jelas di mata Kenzo.
Marcus langsung melihat ke arah belakangnya dan benar saja dugaannya, Kenzo, Alesya dan Frans sudah kembali masuk ke kamar Dyana.
"kau berkelahi Kenz?"tanya Dyana cepat. Jujur saja, karena tidak dapat melihat langsung keadaan Kenzo saat ini, Dyana merasa sangat khawatir kalau-kalau ada hal buruk yang terjadi pada diri Kenzo.
"Heem..." jawab Kenzo singkat, lalu mengalihkan pandangannya pada Arya.
"Kalau kau tidak ingin Kenzo masuk, mengapa tidak kau sendiri saja yang memeganginya. Apa kau tahu, begitu kau masuk, Kenzo menghempaskan tubuh ku ke lantai." Seru Frans yang masih merasakan sakit di punggungnya.
"Cih! kenapa kau lemah sekali." Ejek Marcus.
"Apa kata mu!!" kini Frans yang jadi tersulut emosinya karena di katakan lemah oleh Marcus.
"Sudah jangan ribut." Seru Dyana.
"Kenz! apa kau baik-baik saja?" Tanya Dyana sambil mengarahkan tangannya seakan-akan mencari keberadaan Kenzo.
Kenzo pun maju dan meraih tangan Dyana lalu berkata, "aku baik-baik saja bi." jawabnya. Suara Kenzo kali ini terdengar lebih tenang.
__ADS_1
"Lalu.." Dyana diam sesaat, dia memang sedikit ragu untuk meneruskan pertanyaannya."heemm.. bagaimana kabar teman mu Marcus?" lanjut Dyana.
"aku rasa dia pun baik-baik saja. Mungkin hanya perlu beberapa jahitan kecil di bibirnya dan di pelipisnya, selebihnya aku rasa tidak perlu tindakan yang berlebihan. Ya, paling tidak dia tidak jadi pergi ke akhirat hari ini." Jawab Marcus sambil melihat Arya yang masih sesekali merintih kesakitan.
"Aleysa.." Panggil Dyana pada Alesya.
"Apakah Kenzo terluka? tolong kau berkata jujur pada ku. Kalau aku bertanya pada yang lain pasti mereka akan menutup-nutupi keadaan Kenzo yang sebenarnya." Pinta Dyana pada Alesya. Hatinya masih juga belum tenang sebelum benar-benar yakin keponakannya itu baik-baik saja.
ALeysa memegang tangan Dyana dan berkata, "Suami ku baik- baik saja bi. Kau bisa tenang. Selain ada sedikit memar yang tangannya aku rasa tidak ada yang perlu kita khawatirkan." Jawab Alesya dengan lembut.
"Apa kata mu? Suami?" Seru Arya sambil menahan sakit di wajah dan tubuhnya.
Semua orang di ruangan itu auto melihat ke arah Arya.
"kenapa kalian semua menatap ku?" tanya Arya sambil melihat semua orang di ruangan itu satu persatu.
"Kau tidak dipukuli oleh Kenzo karena merayu Alesya kan?" Tebak Marcus, sambil menatap tajam pada Arya. Marcus menduga Arya pasti sudah merayu Alesya maka nya dia dihadiahi bogem panas bertubi -tubi dari Kenzo.
Arya hanya bisa meringis mendengar perkataan Marcus. Sepertinya saat ini dia sudah menyadari kesalahan yang telah dia buat yang hampir saja mengantar nyawanya ke neraka.
"Jangan katakan kalau kau tidak tahu mereka ada pasangan suami istri?" Seru Marcus yang kembali hanya mendapatkan senyuman miris dari Arya.
"ya tuhan!! apa yang telah aku lakukan?" Gumam Arya dalam hati. Dia benar-benar merasa malu akan tindakan bodohnya.
"jadi kau benar menggoda ALesya?" Tanya Marcus, ingin kepastian jawaban dari Arya.
"Tidak!! dia tidak menggoda Alesya. Tapi dia memaki Alesya dengan mulut sampahnya itu. Untung kalian datang. Kalau tidak, aku yakin mulutnya mesti dijahit terlebih dahulu sebelum keluarganya memasukan dia ke dalam peti mayatnya." ujar Kenzo menjawab pertanyaan Marcus.
Marcus dan Frans auto menelan saliva mereka mendengar penuturan Kenzo yang terlalu biasa saja untuk hal yang sangat menakutkan faktanya.
__ADS_1
***bersambung
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.