Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 44#Ujian cinta#10


__ADS_3

“Heemm.. boleh aku masuk?” ucap Marcus usai mengetuk pintu kamar Agnes yang terbuka itu.


“masuk lah Marcus..” jawab Agnes sambil tersenyum ramah dari atas tempat tidurnya dan membenarkan posisi duduknya yang menyandar di bagian kepala tempat tidur itu.


“Apa kau sudah merasa mendingan?” Tanya Marcus, berjalan masuk ke kamar Agnes. Kamar itu terlihat terang sebab Agnes membiarkan semua gorden di kamar itu terbuka.


“Aku sudah sangat merasa lebih sekarang Marcus. Kau memang seorang dokter yang hebat. Aku heran mengapa kau lebih memilih menjadi seorang pengusaha dari pada seorang dokter." Celoteh Agnes.


Sebenarnya Agnes berbohong pada Marcus terkait kondisinya. Bukan karena pengobatan yang diberikan oleh Marcus yang bermasalah, tapi karena Agnes yang selalu menutupi kondisinya yang sebenarnya pada Marcus yang membuat proses pengobatan yang Marcus berikan tidak berjalan sempurna.


Agnes melihat Marcus sambil tersenyum. Sebuah senyuman sengaja ia perlihatkan pada Marcus untuk meyakinkan laki-laki itu bahwa kondisi nya saat ini sudah sangat baik.Padahal kenyataannya, keadaannya saat ini sebenarnya malah lebih buruk dari sebelumnya. Mungkin ini adalah efek dari obat-obat yang Jasmin paksakan untuk Agnes minum.


“benarkah? Tapi mengapa aku merasa wajah mu masih terlihat pucat Agnes?” Marcus mendekat ke arah Agnes dan meletakkan tangannya di dahi wanita itu. “Heeem...Suhu tubuh mu memang sudah normal hanya saja mengapa aku merasa kau seperti tidak baik-baik saja Agnes. Nah katakan pada ku sekarang apakah ada yang terasa sakit di tubuh mu?” Marcus memperhatikan Agnes dengan seksama. Marcus memang rutin mengunjungi Agnes di sela-sela waktu kerjanya yang padat merayap itu. Hal ini karena Agnes menolak dibawa ke rumah sakit untuk menerima pengobatan yang lebih baik lagi. Agnes selalu berkilah tidak ingin merepotkan Marcus lebih dari ini. Ini saja Agnes sudah merasa kalau diri nya sudah menjadi beban untuk Marcus.


“percayalah pada ku Marcus. Aku sudah lebih sehat. Coba lah kau lihat obat-obatan yang kau berikan pada ku di atas meja itu." Seru Agnes sambil menunjuk obat-obatan yang banyak sekali jumlahnya di atas meja yang berada di samping kanan tempat tidur nya. “Siapa yang tidak akan sembuh setelah meminum begitu banyak obat seperti itu.” Sebut Agnes sambil bergurau.


“aku hanya tidak menggunakan riasan wajah saja maka nya aku terlihat sangat pucat.” Ujar Agnes sambil tersenyum menyembunyikan ketakutan hatinya akan kematian yang menurut Agnes akan segera menyapanya.

__ADS_1


Marcus hanya diam. Feeling nya tetap merasa kalau ada sesuatu yang Agnes coba tutupi dari dirinya.


"Baiklah, aku akan mencoba percaya dengan semua perkataan mu ini. Tapi kalau dalam beberapa hari ini kau masih terlihat pucat maka aku akan membawa mu untuk diperiksa lebih optimal lagi di rumah sakit.


" heeemm.. kita lihat saja nanti." jawab Agnes sambil tersenyum manis. Dalam pikiran nya dia tidak akan membiarkan Marcus untuk membawa diri nya ke rumah sakit. Agnes takut Marcus akan tahu bahwa dirinya saat ini sedang sekarat.


“ooo iya Agnes. Aku tidak tahu apakah ini adalah waktu yang tepat bagi ku untuk menyampaikan berita duka ini pada mu atau tidak.” Marcus terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya. Dia takut apa yang akan dikatakannya ini akan memperburuk kondisi Agnes yang sudah terlihat buruk itu.


“Katakan saja Marcus. Memangnya ada apa?” Agnes kembali memperbaiki posisi duduknya di atas tempat tidur itu.


Untuk sesaat Marcus dapat melihat kalau Agnes terkejut dengan berita yang ia sampaikan itu. Tapi beberapa saat kemudian, Agnes terlihat menarik nafas dalam dan terlihat biasa-biasa saja.


Marcus pun melanjutkan perkataannya.


“Kau ingat ketika kita datang ke rumah mu saat itu? Tapi tidak ada satu pun keluarga mu yang ada di sana termasuk ayah dan ibumu? Jadi aku berinisiatif untuk melacak keberadaan ayah dan ibu mu Agnes.” Marcus menatap lembut Agnes dari kejauhan. Entah mengapa dia merasa iba pada wanita ini.


“Keberadaan ayah mu berhasil dilacak oleh orang-orang ku. Dia ditangkap oleh polisi setelah semua kejahatannya pada Alesya dan kedua orang tua Alesya terungkap dari video waktu itu.” Sebenarnya Marcus sedikit sungkan untuk membahas masalah video itu pada Agnes sebab Marcus yakin sedikit banyaknya hal itu pasti berpengaruh pada Agnes.

__ADS_1


“Sementara ibu mu, aku belum bisa menemukannya. Sepertinya saat ini dia sedang melarikan diri sebab polisi telah mengumumkan penangkapan atas dirinya.”lanjut Marcus, plus ekspresi sungkannya.


Agnes terlihat kembali menarik dalam dalam dan menghembuskan nya berlahan.“Apa kau tahu kenapa ayah ku bisa meninggal Marcus?” tanya Agnes dengan suara yang terdengar sangat tenang. Agnes sungguh terlihat tegar dengan berita kematian ayahnya dan kabar tentang ibunya yang jadi buronan polisi.


Marcus menggeleng pelan.


“belum ada perkembangan untuk hal itu. Semuanya masih di usut oleh polisi.” Jawab Marcus yang masih terus memperhatikan ekspresi wajah Agnes. Apakah wanita ini benar-benar tidak merasa apapun setelah mendengar kabar tentang kedua orang tua nya? Marcus benar-benar ingin tahu.


“apa kau baik-baik saja Agnes? Kalau kau merasa sedih maka kau boleh menangis.” Ujar Marcus pelan.


“Tidak ada yang perlu ditangisi."sahut nya sambil tertunduk. "Ini semua adalah karma yang harus kami terima sebab perbuatan jahat yang telah kami lakukan pada Alesya dan keluarganya. Bahkan mungkin ini masih terlalu ringan bila dibandingkan dengan semua kesulitan dan kepedihan yang kami toreh kan dalam hidup Alesya.” Sebut Agnes, matanya terlihat seakan menerawang ke masa lalu. Masa dimana dia sangat jahat pada saudari tiri nya itu. Dan tanpa terasa air mata jatuh di pipi Agnes yang putih pucat itu.


****bersambung


masih dalam crazy up ya... jadi jangan lupa komen, like dan vote ya..


biar otor tahu kamu suka dengan cerita otor ini....

__ADS_1


__ADS_2