
Banyak pertanyaan yang selama ini membebani pikiran ALesya namun ia selalu mencoba untuk tidak memperlihatkan itu semua kepada orang lain. Setiap dia melihat Kenzo dan Skala saling tertawa, bergurau Bersama hati kecilnya selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan konyol yang ia tahu pertanyaan konyol ini suatu saat bisa saja menjadi sebuah kenyataan yang akan mendatang badai dalam rumah tangganya yang indah ini.
“Apakah ayah kandung Skala akan bersikap sama seperti sikap Kenzo pada Skala saat ini?”
“Bagaimana jika suatu saat ayah kandung Skala muncul? Apakah Kenzo akan memperjuangkan Skala untuk tetap berada di dekatnya atau melepaskan Skala begitu saja?”
“apakah Skala akan dapat menerima laki-laki lain sebagai ayah nya selain Kenzo?”
“Semoga laki-laki itu tidak pernah muncul dalam kehidupan kami.”
“Aldion, sebentar lagi Alesya dan suami nya akan sampai?” Ujar Damian, asisten sekaligus sekretaris yang selalu setia menemani Aldion Rodio.
“Aku sudah mengatakan pada Alesya bahwa aku tidak ingin bertemu dengan pria itu. Kenapa dia tetap membawa pria sombong itu ke rumah ku.” Aldion mengarahkan kursi roda nya menghadap ke jendela luar.
“tapi bagaimana pun Kenzo saat ini adalah suami sah dari Alesya. Itu artinya dia adalah menantu mu. Bukankah alangkah baiknya kau mulai melupakan dendam masa lalu. Lagi itu yang terjadi antara diri mu dan Kenzo tidak lebih persaingan bisnis. Kenzo tidak pernah berkata kasar pada mu seingat ku.” Damian mulai menasehati Aldion. Walaupun Damian adalah bawahan Aldion tapi kebersamaan mereka bersama selama ini sudah mengikis jarak antara bawahan dan majikan. Saat ini hubungan kedua nya lebih tepat dikatakan sebagai persahabatan.
“Tidak pernah kasar kata mu!!” Seru Aldion, sinis.
Damian hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar seruan Aldion. “Apakah karena faktor usia maka nya Aldion sangat sensitif beberapa tahun terakhir ini?” pikir Damian dalam hati.
“Anak sombong itu pernah menghina ku ! aku masih dapat mengingat dengan jelas momen yang memalukan itu!”
“Kalau memang Kenzo pernah mempermalukan mu mengapa aku sebagai orang terdekat mu tidak menyadari hal itu Aldion Rodio?” Gerutu Damian.
“Itu semua karena kau terlalu sibuk saat itu.” Ujar Aldion ketus.
“kalau begitu katakan pada ku, kapan dia mempermalukan mu? Ayo katakan pada ku.”
“Aku ingat kita memang ada kalah lelang dari Kenzo di beberapa kesempatan tapi aku benar-benar tidak ingat dia pernah menyinggung mu.” Lanjut Damian.
“Kau ingat proyek kita di kota X 5 tahun lalu?” Aldion memutar kembali kursi roda nya agar ia bisa menatap wajah sahabatnya itu.
“Proyek Lima tahun yang lalu? Di kota X? Apakah maksud mu proyek tender pembangunan mall di X? Damian mencoba mengingat-ingat kembali proyek yang dimaksudkan oleh Aldion.
“Ya.. proyek yang itu!!” jawab Aldion dengan wajah ketus nya.
“lalu apa hubungan proyek mall di kota X itu dengan Kenzo Dayson.” Tanya Damian bingung. Sebab seingat Damian, Kenzo Dayson sama sekali tidak terlibat dalam proyek pembangun mall di kota X itu.
“Aku sudah menduga kau lupa akan peristiwa waktu.”
“kalau begitu aku akan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi sehingga kau begitu marah dengan menantu mu itu!!” Ucap Damian.
“TOLONG jangan sebut pria itu sebagai menantu ku! Aku tidak menerima dia sebagai menantu ku!!” Kecam Aldion dengan wajah marah.
“Ya, terserah pada mu lah tuan Aldion Rodio. Yang pasti saat ini dia adalah suami putri mu. Kalau kau tidak suka aku mengatakan dia dengan sebutan menantu mu, aku bisa menukarnya dengan sebutan suami nona Alesya.” Damian tertawa geli dalam hati melihat tingkah sahabatnya itu. “Suami putrinya sudah pasti adalah menantunya. Mau diingkari seberapa kali pun status Kenzo Dayson tetap adalah menantu nya.” Gumam Damian dalam hati.
“Waktu proyek pembanguan mall di kota X itu kau tentu tau siapa arsitek yang telah aku pilih awal nya?” Aldion menyipitkan matanya memandang Damian.
“Bukan kah Praja Adiyaksa?” tebak Damian.
“hhuhh.. bukan!! Aku terpaksa akhirnya memilih Praja Adiyaksa sebagai arsitek kala itu sebab orang yang seharusnya menjadi arsitek ku untuk pembanguan proyek di kota A adalah Kenzo Dayson.” Terang Aldion dengan wajah marahnya.
“Apa? Kenzo Dayson? Tunggu!! Bukankah Kenzo Dayson bukan seorang Arsitek bangunan? Dia bukankah seorang pengusaha sama seperti mu?” Ujar Damian terkejut mendengar hal yang disampaikan oleh Aldion.
“Tidak banyak yang tahu bahwa bocah tengik itu adalah seorang arsitek. Awalnya aku tidak percaya kalau dia adalah seorang arsitek hingga salah seorang kolega bisnis ku di kota D mengatakan dia pernah mendapat bantuan dari Kenzo Dayson untuk merancang mall nya di kota D. Menurut kolega ku sebelum menjalankan bisnis keluarga Dayson di kota A, Kenzo pernah menetap beberapa lama di kota D. Hanya saja ketika itu tidak ada yang tahu siapa Kenzo Dayson yang sebenarnya disana. Dia memulai bisnis sendiri di kota D dengan merambah beberapa tender perancangan pembanguan gedung-gedung besar di kota D. Bahkan beberapa gedung yang memiliki gaya arsitektur memukau di kota D saat ini adalah hasil coretan tangannya.” Aldion menarik nafas sebentar.
“Setelah melihat sendiri mahakarya bocah tengik itu, lima tahun lalu aku secara pribadi mendatanginya.” Lanjut Aldion bercerita. “Kau tentu masih ingat bukan ketika kau mengantarkan aku ke kota A lima tahun lalu?” wajah Aldion benar-benar tidak enak di lihat saat ini.
“aku kira lima tahun lalu kau ke kota A untuk mengunjungi makam nyonya Almeera?” Seru Damian pelan.
‘Ya, memang benar aku juga berniat mengunjungi makam Almeera sebab aku ingin mengatakan pada Almeera saat ini putri kami telah aman bersama ku di kota J. Tapi selain itu, tujuan ku datang ke kota A adalah untuk meminta sendiri Kenzo Dayson untuk menjadi arsitek ku untuk proyek pembangun mall di kota X.” Aldion kembali berhenti bercerita. Dia menatap Damian dalam.
“Damian, sebagai orang yang telah lama bersama dengan ku kau pasti tau bahwa aku tidak pernah turun tangan langsung untuk urusan pekerjaan. Atau aku tidak pernah bertemu langsung dengan seseorang berkaitan dengan bisnis yang aku jalan kan.” Aldion masih menatap lekat pada Damian. Seakan-akan Damian adalah pengacara nya Kenzo yang pantas ia nasehati.
“Dan untuk datang ke kota A merupakan hal terberat bagi ku bahkan hingga saat ini aku masih berat untuk berkunjung ke kota itu. Kenangan indah sekaligus menyakitkan untuk diri ku semua nya ada di kota itu.” Tatapan mata Aldion membuat Damian menelan saliva nya, dia mulai menyadari alasan kemarahan Adlion pada Kenzo yang menurutnya pada awalnya tidak beralasan.
“Tapi demi membujuk seorang Kenzo Dayson guna bekerja sama dengan ku maka aku datang ke kota itu dengan kondisi ku yang seperti ini supaya dia dapat melihat ketulusan hati ku untuk bekerja sama dengannya. Damian,apakah kau tahu apa yang bocah tengik itu katakan pada ku di telpon?” Tatapan Aldion semakin membuat Damian merasa tidak enak.
“Dengan sombongnya dia mengatakan dia tidak ada waktu untuk bermain-main bersama ku. Dan menutup telpon ku begitu saja. Dan aku yakin!! Aku sangat yakin Damian!! Bocah tengik itu bahkan tidak mengetahui dia sedang berbicara langsung dengan ku saat itu! Sebab dia hanya mengatakan “Sampaikan kepada Aldion Rodio, Kenzo Dayson tidak punya waktu untuk bermain-main untuk proyek seperti itu. See...kau lihat!! Betapa arogannya laki-laki itu! Dan saat ini dia mau datang ke hadapan pria yang tidak dihargai nya ini! No Damian! No! Dari awal aku sudah mengatakan kepada Alesya aku tidak menyetujui dia menikah dengan Kenzo Dayson walaupun itu adalah sebuah pernikahan kontrak!! Apalagi beberapa waktu lalu dia mengatakan bahwa dia dan Kenzo akhirnya memutuskan untuk menjadi pasangan suami istri betulan!! They’re kidding me!!” ungkap Aldion dengan wajah yang sangat marah.
“mungkin saja saat itu dia berkata seperti itu sebab dia tidak mengetahui kalau dia sedang berbicara dengan mu Aldion! Sebaiknya kau jangan berpikiran sempit seperti itu.” Damian mencoba memberikan pandangannya pada Aldion.
“Tidak tahu kata mu? Baik! Aku terima alasan itu!” Ujar Aldion.
“Kalau begitu saat ini kau sudah tidak keberatan kalau Alesya dan Kenzo menjadi sepasang suami istri kan?” tanya Damian cepat.
“Heeii Damian!! Apa kau pikir sahabat mu adalah seorang yang berpikiran kerdil? Hanya karena ucapakan maka aku langsung membenci bocah tengik itu. NO!” Seru Aldion.
“lalu apa masih ada hal lain yang membuat mu membenci nya?”
“Apalagi ini?” Gumam Damian dalam hati.
“ Sehari setelah itu aku datang langsung ke kantor bocah tengik itu dengan supir pribadi ku. Aku berpikir mungkin ketika aku menelponnya mungkin dia sedang ada hal yang dipikirkan sehingga jawaban nya kala itu sedikit tidak mengenakkan di telinga.” Sebuah senyum menakut muncul di wajah Aldion seakan -akan dia sedang bersiap-siap memperlihatkan kartu As nya pada Damian.
“Dengan rendah hati aku datang dan membuat janji dengan sekretaris nya. Janji untuk bertemu demi sebuah ajuan kerjasama merancang proyek mall di kota X. Tapi kau tahu? Aku sudah menunggunya selama 3 jam di ruang tunggu nya dan dengan seenak nya dia membatalkan janji dengan ku tanpa mengatakan apapun. Dia anggapnya apa diri ku ini Damian!! Sudah jelas aku langsung yang datang. Nama ku pasti sudah disebutkan dengan jelas oleh sekretarisnya. Lalu setelah tiga jam, dia menghilang begitu saja. Aku benar-benar merasa tidak dihargai oleh bocah tengik itu. Lihat saja!! Ketika dia sampai ke rumah ku, aku akan melakukan hal sama seperti yang dia lakukan pada ku lima tahun lalu.” Ujar Aldion geram.
“kau seharusnya bersyukur mendapatkan menantu kaya, tampan dan pintar seperti Kenzo Dayson Aldion!!” Seru Damian.
“Untuk apa menantu kaya, tampan dan pintar tapi aslinya adalah seorang yang sombong! Lebih baik aku membiarkan anak ku menikah dengan ayahnya Skala walaupun aku tidak mengenalnya sama sekali” Aldion kembali memutar kursi rodanya dan membelakangi Damian.
“Dasar pria tua keras kepala!!” rutuk Damian pelan.
Damian tidak dapat berkata apapun sahabatnya itu begitu kekeh dengan keputusannya.
Damian kemudian mengambil ponselnya dan dituliskannya sebuah pesan untuk Alesya.
“Putri ku, sepertinya paman tidak bisa membujuk ayah mu. Sebaiknya katakan pada suami mu untuk tidak patah semangat ketika bertemu ayah mu. Dia benar-benar marah dan tetap pada keputusannya. Semoga tuhan membantu cinta kalian berdua.
__ADS_1
“Sebaiknya kau menenangkan kepala mu Aldion. Jangan sampai Skala melihat kakek nya dalam wujud orang gila seperti sekarang ini. Heeem,...” Damian pun keluar dari dalam kamar Aldion.
Kalau Aldion di kediamannya sedang menenangkan kepalanya maka lain hal dengan Kenzo. Walaupun berusaha untuk terlihat tenang namun di dalam hati nya dia sedang menenangkan kegugupannya bertemu ayah mertuanya itu.
Kenzo teringat percakapan nya dengan Jack beberapa saat setelah ia dan Alesya memutuskan untuk menjalani kehidupan normal seperti keluarga lainnya.
#Flash back
“Tuan, kapan kau akan mengunjungi tuan Aldion Rodio? Kau tidak mungkin tidak akan mengunjungi nya kan? Bagaimana pun dia adalah ayah mertua mu saat ini.” Ujar Jack sambil membuka satu persatu lembaran kerja yang ada di hadapannya yang akan ditanda tangani oleh Kenzo.
“Itu lah yang membuat ku bimbang Jack. Alesya beberapa kali pernah mengungkit hal ini.” Kenzo berhenti menandatangi dokumen di hadapannya. “Dihadapannya aku hanya bisa mengatakan bahwa aku siap untuk bertemu ayahnya. Tapi setelah mendengar bagaimana ayah menentang pernikahan kami aku yakin pria tua itu masih menaruh dendam pada ku terkait peristiwa lima tahun lalu.” Ujar Kenzo putus asa. Dia bahkan tersandar di kursinya.
“Apa kau pernah mencoba untuk menghubunginya tuan Kenzo beberapa waktu ini?” Jack pun terlihat tidak bersemangat karena wajah Kenzo yang lesu itu.
‘Ya.. aku sudah mencoba untuk menghubunginya. Aku berharap aku dapat bertemu dengan nya sekali terlebih dahulu sebelum aku dan Alesya datang mengunjunginya. Paling tidak dia memarahi ku tidak di depan Alesya dan Skala.” Ujar Kenzo.
“lalu bagaimana tuan?” tanya Jack penasaran.
“Dia menolak untuk bertemu atau sekedar berbicara dengan ku lewat telpon. Aku rasa dia benar-benar tersinggung ketika aku mendadak membatalkan janji pertemuan secara sepihak waktu itu. Tapi kau tahu sendirikan Jack aku terpaksa meninggalkannya karena waktu itu kita harus mengejar wanita yang aku kira adalah gadis berbintang ku.” Kenzo menghela nafas berat.
“Andai saja aku tahu kalau yang datang ke kantor ku waktu itu adalah ayahnya si gadis berbintang ku aku pasti tidak akan meninggalkannya. Bahkan kalau perlukan akan ku buatkan design candi super wow untuk nya. Tapi ..huft!!” Kenzo menghembuskan nafasnya kasar.
Jack hanya bisa mengusap-usap keningnya mendengar keluh kesah tuanya. Kalau dipikir-pikir lagi tiga jam sebenarnya tidaklah waktu yang lama dan selama ini hal seperti ini biasa terjadi. Sudah menunggu lama untuk sebuah janji namun tiba-tiba terpaksa di batalkan di detik-detik terakhir. Jack yakin sebagai orang penting, tuan Aldion Rodio pasti pernah melakukan hal yang sama. Namun kenapa ketika tuan Kenzo berbuat demikian, tuan Aldion Rodio begitu marah dan merasa sangat tersinggung.
“Tuan Kenzo, ada satu hal yang terpikir oleh ku tentang permasalahan mu dan tuan Aldion.” Ujar Jack memecahkan keheningan di ruangan itu.
“Heeem.. ada apa Jack?”
“menurutku bukankah hal yang terjadi pada tuan Rodio waktu itu sebenarnya wajar saja terjadi dalam dunia kita. Aku ingat ketika kau dan aku baru mulai membangun kerja sama dengan beberapa perusahan besar di Kota D ketika kau pergi dari rumah kakek mu beberapa tahun silam, kita sangat sering mendapat perlakukan yang sama seperti yang dialami oleh tuan Adlion Rodio. Bahkan kalau kau masih ingat tuan Kenz, kita bahkan pernah ditinggalkan begitu saja setelah menunggu selama delapan jam.” Ucap Jack sambil mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. “
“lalu kenapa tuan Aldion membesar-besarkan masalah ini? Menurut ku dia sedikit lebay!” lanjut Jack.
“Ada satu hal yang aku temukan ketika menyelidiki tuan Aldion ini Jack.” Jelas Kenzo. “Yang pertama, dia tidak pernah turun tangan langsung untuk setiap bisnisnya. Hal itu selalu ditangani oleh asistenya yang bernama Damian. Dan lima tahun lalu dia datang sendiri untuk menemui ku. Itu artinya proyek yang diajukannya saat itu adalah sebuah proyek yang berarti baginya.”
“Yang kedua, menurut ku yang membuatnya sangat marah pada ku ialah, kota A adalah kota yang penuh kenangan bagi nya dan mendiang ibu Alesya. Pasti untuk datang ke kota A demi menemui kita dia harus bisa mengatasi perasaannya terlebih dahulu.” Lanjut kenzo.
“Jadi kalau aku simpulkan amarahnya pada ku saat ini bukan lah semata karena dia telah menungggu selama tiga jam untuk bertemu dengan ku tapi karena dia benar-benar sangat ingin bertemu dengan ku saat itu tapi aku dengan tidak sopan nya malah tidak menghargai usahanya untuk datang menemui ku.” Jelas Kenzo pada asistennya itu yang akhirnya paham alasan kemarahan tuan Rodio.
“Lalu bagaimana strategi mu untuk menghadapi tuan Aldion, tuan Kenzo?” Walaupun sebenarnya Jack ragu Kenzo memiliki Strategi atau tidak.
Dengan lemah Kenzo menggeleng pasrah dengan keadaan.
“Kau harus segera menentukan strategi mu tuan Kenzo. Kalau tidak aku yakin tuan Aldion tidak akan tinggal diam dengan hubungan mu dan putrinya.” Tukas Jack yang tidak terima melihat Kenzo bagai orang putus harapan seperti itu.
“Saat ini aku hanya bisa berandai-andai Jack. Andai saat itu aku tidak meninggalkannya maka dia tidak akan marah pada ku. Andai dia tidak marah pada ku maka pasti dia akan sangat senang memiliki menantu tampan. Kaya dan pintar seperti diri ku.” Ucapan Kenzo sudah mulai ngelantur menandakan saat ini dia benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
“harapan ku satu-satu nya ialah Skala. Aku harap begitu tuan Aldion Rodio tahu kalau aku adalah ayah kandung Skala dia akan berpikir dua kali untuk memisahkan aku dan Alesya. Dia pasti tidak ingin Skala kehilangan ayah kandungnya kan?” Ujar Kenzo dengan wajah putus asa.
“Tapi hati-hati tuan Kenzo, bisa saja kartu As mu nanti malah berbalik menjadi kartu As milik tuan Rodio untuk menghasut nyonya Alesya untuk membenci mu.” Tiba-tiba Jack terpikir akan kemungkinan hal itu juga bisa terjadi.
“Aku juga berpikir hal yang sama Jack. Aku juga takut kalau kartu terakhir yang aku miliki bisa saja menjadi kartu yang menyebabkan kejatuhan ku. Itulah mengapa aku katakan bahwa saat ini aku benar-benar tidak memiliki apapun untuk dapat menguatkan diri ku berhadapan dengan tuan Aldion Rodio.” Aku Kenzo.
Jack dan Kenzo akhirnya sama-sama tidak bersemangat tidak melakukan apapun lagi hari itu.
#Flash Back off
Karena terlalu banyak berpikir akhirnya Kenzo tertidur di pesawat itu.
Alesya yang melihat Kenzo tertidur hanya bisa mencium kening suami nya itu. Alesya tahu Kenzo pasti gugup tertekan saat ini. "Aku yakin kita bisa melewati ini sayang." Gumam Aleysa pelan.
Setelah perjalanan yan cukup panjang mulai dari transportasi udara bahkan harus disambung lagi dengan transportasi darat menuju kediaman keluarga Rodio, akhirnya mereka sampai di depan pintu rumah keluarga Rodio yang terlihat sangat elegan itu.
“Tuan Rodio memang seorang pria yang memiliki selera tinggi. Pantas saja dia rela datang pada ku lima tahun lalu.” Gumam Kenzo dalam hati.
“Kenz ayo masuk.” Ucap Alesya begitu mereka berada di depan pintu kediaman keluarga Rodio.
“Ayo daddy akan aku tunjukan kamar ku di pada mu. Kau pasti tidak menyangka begitu melihat buku-buku koleksi ku terkait bisnis. Aku sudah memperlajari ini bersama kakek selama bertahun-tahun.” Ungkap Skala dengan wajah bahagia.
Kenzo, Alesya dan Skala pun masuk ke dalam rumah itu dan ternyata begitu mereka masuk tuan Aldion Rodio telah menunggu di dalam rumah itu bersama asisten nya yang bernama Damian.
“Alesya, ayah sungguh tidak menyangka kau tetap membawa laki-laki itu untuk pulang ke rumah ayah.” Seru tuan Aldion begitu melihat Kenzo, Alesya dan Skala masuk.
“Paman Damian tolong bawa Skala ke kamarnya.” Ujar Alesya pada Damian. Dia tidak ingin Skala mendengar perdebatannya dengan sang ayah.
“Ska, ayo kakek antar ke kamar mu. Kau pasti sudah rindu untuk tidur di kamar mu kan?” Ajak Damian pada Skala.
Walaupun Skala masih kecil tapi dia tahu saat ini para orang dewasa ini pasti akan mendiskusikan sesuatu terkait pernikahan daddy dan mommy. Sebagai anak yang bijak Skala memutuskan untuk tidak ikut campur. Dia yakin, daddy dan mommy nya bisa menghadapi masalah ini bersama.
Skala pun pergi menuju kamarnya bersama Damian.
Setelah yakin kalau Skala telah masuk ke kamar nya Alesya pun memberanikan diri untuk berbicara.
“Ayah, bagaimana kalau kita bicara nya sambil duduk saja. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan teh dan kue kemari.” Ucap Alesya lembut. Dia tahu ayah dalam mode marah saat ini.
Lagi pula siapa yang tidak bisa melihat kalau tuan Aldion Rodio dalam mode marah saat ini. Aura kebencian terpancar jelas dari diri Aldion Rodio.
“Aku tidak merasa sedang kedatangan tamu Alesya Rodio!!” Aldion sengaja menyebut Alesya dengan Alesya Rodio sebagai penegasan bahwa dia tidak mengakui Kenzo Dayson sebagai suami Aleysa.
Alesya menggenggam tangan Kenzo, dia tahu saat ini Kenzo membutuhkan dukungannya. Tangan yang selalu hangat itu saat ini terasa sangat dingin. Disini lah Alesya tahu bahwa walaupun Kenzo selalu mengatakan dia siap bertemu dengan ayah Alesya namun sebenarnya di dalam lubuk hati Kenzo yang paling dalam Kenzo sangat gugup menghadapi hal ini. Alesya pun semakin menguatkan genggaman tangannya.
Alesya menarik tangan Kenzo untuk mendekati ayah nya. “Ayah mari aku perkenalkan ayah dengan suami ku. Namanya Kenzo Dayson. Sama seperti ayah, dia juga seorang pengusaha yang handal. Ayah selalu berkata pada ku kalau suatu saat aku memutuskan untuk menikah maka aku harus menikah dengan seorang pengusaha. Dan lihat lah ayah, dia seorang pengusaha yang gigih dan tampan seperti ayah.” Alesya mencoba membujuk ayahnya dengan kata-katanya.
“Tuan Ro-“ baru saja Kenzo akan mulai bicara, tuan Aldion Rodio langsung membalikkan kursi rodanya membelakangi Kenzo dan Alesya.
Kenzo yang melihat perbuatan tuan Aldion Rodio hanya bisa menelan saliva nya,”Sebegitu benci kah dia pada ku?” gumam Kenzo dalam hati.
Alesya merasa tidak enak atas tingkah ayah nya pada Kenzo mengatakan permintaan maaf nya pada suaminya itu, maafin ayah.” Ucap Alesya walau hanya dengan gerak mulut.
__ADS_1
Kenzo mengangguk pelan. Wajah Kenzo kali ini terlihat sangat tegang. Bagaimana tidak, baru saja ia akan mulai bicara tuan Aldion Rodio sudah menunjukan penolakkannya.
“Aku tidak pernah mengizinkan mu untuk menikah Alesya Rodio? Bagaimana bisa laki-laki itu kini menjadi suami mu. Apakah kau sudah tidak menganggap pria tua ini sebagai ayah mu?” Ucap tuan Aldion Rodio masih sambil membelakangi Alesya dan Kenzo.
“Maafkan aku tuan Rodio.”Kenzo memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh tuan Aldion Rodio pada putrinya.
“Aku lah yang telah memaksa Alesya untuk menikah dengan ku. Aku yakin anda sudah tahu pernikahan apa yang aku maksud. Memang awalnya aku menikahi Alesya untuk suatu alasan. Tapi aku sudah menerima ganjaran dari perbuatan ku yang menyepelekan sebuah ikatan pernikahan tuan Rodio, kini aku benar-benar tergila-gila dengan putri mu. Dan kedatangan ku hari ini bersama keluarga kecil ku adalah untuk mendapatkan restu dari mu tuan.” Ucap Kenzo sambil berlutut di belakang tuan Aldion Rodio.
Kenzo tidak terpikir cara lain untuk menghadapi pria tua ini. Semoga harga diri nya terluka sebab perbuatan Kenzo dimasa lalu dapat terbayarkan lunas dengan melihat Kenzo merendah ke posisi paling bawah di hadapannya.
“Aku mohon maafkan perbuatan ku dimasa lalu dan izin aku menikahi putri mu tuan Aldion Rodio.” Kenzo melepas genggaman tangan Alesya dan memegang roda dari kursi roda tuan Aldion Rodio.
“Kenz!! Apa yang kau lakukan!! Ayo berdiri Kenz!! Kau tidak seharusnya begini.” Seru Alesya panik melihat Kenzo yang berlutut di depannya.
“Aku mohon Kenzo!! Berdirilah sayang!! Aku mohon!!” Dengan terisak-isak Alesya meminta suaminya untuk berdiri.
“Ayah, tolong suruh Knezo untuk berdiri !! Dia tidak mau mendengarkan ku ayah!! Hanya kau yang bisa membuat Kenzo untuk berhenti berlutut ayah.” Ucap Alesya sambil menangis.
“Aku tidak pernah memintanya untuk berlutut pada pria tua seperti ku. Jadi aku tidak berhak untuk memintanya berdiri.” Ujar tuan Aldion Rodio, tanpa ada rasa peduli sedikit pun.
“Kalau ayah tidak mau memintanya untuk berdiri maka sebagai istrinya aku pun akan ikut berlutut bersama nya dihadapan ayah.” Alesya pun ikut berlutut.
“Alesya, apa yang kau lakukan!” Seru Kenzo.
“Aku istri mu. Kalau kau berdiri maka aku akan ikut berdiri. Tapi kalau kau tetap berlutut sepeti itu maka aku pun akan ikut berlutut bersama mu disini hingga ayah meminta kita untuk berdiri.” Tukas Alesya sambil mengelap air matanya.
Kenzo hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Dia tak ada waktu untuk membujuk Aleysa sebab orang yang perlu untuk dibujuknya saat ini adalah tuan Aldion Rodio, ayah mertuannya.
“terserah kalian mau berlutut sampai kapan. Aku tidak peduli.”Seru tuan Aldion Rodio.
“Tuan Rodio, aku mengakui semua kesalahan ku di masa lalu pada mu. Dan aku bersedia melakukan apapun untuk menghapus semua kesalahan itu.” Ujar Kenzo.
“benarkah? Apa kau bersedia meninggalkan puteri ku?” Sahut tuan Aldion Rodio sambil memutar kembali kursi rodanya. “Kalau kau bersedia untuk meninggalkan puteri ku maka aku tidak akan lagi dendam atas perbuatan mu di masa lalu.”
Kenzo menelan salivanya. Tentunya bukan itu maksud perkataan Kenzo barusan.
“maaf kan aku tuan Aldion Rodio. Aku tentu akan mengabulkan semua permintaan mu kecuali untuk yang satu itu. Aku tidak bisa melepaskan Alesya. Aku sangat mencintainya tuan.” Jelas Kenzo sambil menatap wajah tuan Aldion Rodio.
“Cinta? Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada puteri ku yang baru saja kau kenal tuan Kenzo Dayson?”
“Ayah kami benar saling mencintai. Kau mohon jangan mempersulit Kenzo seperti ini ayah.” Seru Alesya tidak tahan melihat ayahnya mempersulit Kenzo.
“Kau diam saja bocah nakal. Bukankan aku sudah melarang mu untuk menikahi pria ini bahkan untuk alasan pernikahan kontrak yang kalian lakukan. Tapi kau benar-benar tidak memperdulikan ku. Hak mu untuk bicara saat ini tidak ada Alesya Rodio. Sebaiknya kau masuk saja ke kamar mu.” Suara tuan Aldion Rodio terdengar sangat marah.
Alesya tidak dapat lagi menahan tangisnya. Untuk kedua kalinya air matanya kembali keluar.
“Aku tidak dapat melepaskan puteri mu tuan Aldion Rodio.” Ujar Kenzo dengan suara beratnya.
“Pertama karena aku mencinta puteri mu dan aku sudah mencintainya dari sejak dulu.” Ucap Kenzo, “ dan yang kedua karena aku adalah ayah kandung Skala.”
Ucapan Kenzo serta merta membuat Alesya sangat terkejut.
“Apa yang dia katakan?” Ujar Alesya dalam hati. “Apakah dia sengaja berbohong mengenai hal itu pada ayah agar ayah merestui hubungan kami?” silih berganti pertanyaan-pertanyaan muncul di otak Aleysa.
Kini Aleysa hanya bisa menatap Kenzo dengan seribu pertanyaan yang terpancar di mataya.
“Ayah Skala? Hahaha...” Aldion Rodio tertawa mendengar pengakuan dari Kenzo.
“Tuan Kenzo Dayson, seputus asa itukah diri mu hingga kau berani berbohong di hadapan ku?” Seru tuan Aldion Rodio. “Ayah Skala! Hahaha.. kau berharap aku mempercayai kebohongan mu itu?”
“aku tidak berbohong tuan Aldion Rodio. Aku benar adalah ayah Skala.” Kenzo mengeluarkan kertas hasil keterangan bukti tes DNA nya dan Skala pada tuan Aldion Rodio.
“Dia sampai mempersiapkan semua itu?” Pikir Alesya dalam hati masih berpikir kalau Kenzo sedang berbohong saat ini.
Tuan Aldion Rodio mengambil kertas itu dan membacanya. Lalu membuang kertas itu setelah meremukkannya.
“aku juga dapat merekayasa surat seperti itu tuan Kenzo Dayson. Bahkan aku juga dapat mengakui mu sebagai darah daging ku kalau aku mau.” Tuan Aldion Rodio benar-benar tidak percaya dengan surat keterangan tes DNA yang diberikan oleh Kenzo.
“Kalau kau tidak percaya kau bisa membawa ku langsung untuk tes DNA bersama Skala ke dokter mana pun yang kau mau untuk melakukan tes itu. Karena hasil nya tidak akan pernah berubah. Sebab Skala benar adalah putra ku bersama Alesya.”
Kenzo kini memandang lekat istrinya.
“Maafkan aku Alesya, mungkin kau terkejut mengetahui hal ini. Tapi akulah pria sembilan tahun silam yang melakukan itu pada mu. Tapi aku bersumpah bukan aku yang menjebak mu saat itu sebab aku sendiri dijebak oleh seseorang dan entah bagaimana saat itu kau ada di atas tempat tidur ku. Ketika aku bangun, aku mencari mu. Tapi tidak ada apapun di kamar itu selain pakaian mu yang telah-robek dan berserakan begitu saja di lantai kamar.” Ujar Kenzo sambil menatap Alesya.
Mata Alesya membesar. Dia ingat, dia memang pernah menceritakan kejadiannya buruk di malam itu pada Kenzo. Tapi Alesya yakin, dia tidak mengatakan hal-hal detail yang Kenzo katakan barusan. Tiba-tiba semua bulu roma Alesya berdiri. Kini dia sadar Kenzo tidak sedang berbohong. Pria itu benar adalah Kenzo Dayson. Pria yang kini menjadi suaminya.
Alesya menatap lama pada Kenzo. Bulir air mata mulai berjatuhan di pipinya. Bagaimana mungkin dalam sekejap pria yang sangat ia cintai menjadi pria yang jauh di dalam lubuk hati Alesya dia benci. Bagaimana takdir bisa mempermainkan diri nya seperti ini.
Saking shocknya mengetahui fakta ini Aleysa bahkan tidak dapat berkata apa-apa. Tapi dari raut wajahnya Kenzo dapat merasakan kekecewaan yang mendalam bercampur dengan rasa tidak percaya.
Keadaan Alesya terlihat sangat kacau. Tangan menggigil kuat. Dan itu dapat dirasakan oleh Kenzo sebab Kenzo masih menggenggam erat tangan mungil itu.
Melalui tatapan matanya, Kenzo dapat membaca pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan oleh mulut Alesya. Mata indah yang dipenuhi oleh air mata itu seolah berkata,” benarkah kau pria itu? Mengapa kau tega membohongi ku selama ini?”
Hati Kenzo merasa teriris melihat wajah istrinya yang dipenuhi oleh air mata itu. Tanpa ia sadari, ia pun ikut menangis bersama Alesya.
“Maaf kan aku Alesya. Sungguh maaf kan aku. Aku-aku sudah berusaha mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semua ini tapi aku begitu takut kehilangan mu. Dan membuat ku untuk tetap diam hingga sekarang.” Ujar Kenzo sambil menggenggam erat tangan istinya itu.
“Aku mohon maaf kan aku.” Pinta Kenzo sambil menarik tangan Alesya dan meletakkannya di dadanya.
“Ak-aku sungguh tidak percaya hal ini akan aku dengar hari ini Kenz. Dan aku-aku juga-tidak –“ tangan Alesya bergetar hebat.
Merasakan tangan mungil itu bergetar kuat, Kenzo semakin mengeratkan genggamannya.
Namun Alesya malah menarik tangannya dari Kenzo dan berkata, “Aku tidak ingin melihat mu lagi tuan Kenzo Dayson.” Alesya pun bangun dan berlari meninggalkan Kenzo.
“Aleysa!!!!!” Pekik Kenzo.
__ADS_1
Duh kira-kira yang baca ada yang nangis gak ya?? Hehehe semoga tadi sempat ambil tisu yang guys..
Dan jangan lupa untuk tetap dukung otor ya.. dengan cara komen, like dan Vote. Jangan hanya baca aja... Berikan sedikit kontribusi mu untuk karya receh otor ini, agar karya ini juga bisa nangkring di beranda novel toon,, kalau semakin banyak yang baca otor jadi tahu kalau otor gk sendiri disini.. eaaaaaaaaaaaaakk!!