Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 48# kabar Gembira#3


__ADS_3

Alesya langsung menjauhkan wajahnya dari Kenzo hingga ciuman Kenzo yang sudah mulai menuntut itu harus menggantung begitu saja.


'"Shii***!" gerutu Kenzo dalam hati sambil memegang bibirnya dengan perasaan kesal sebab terganggu dengan kedatangan Marcus.


"Apa aku mengganggu?" tanya Marcus dengan wajah innocent nya yang sudah berdiri tegak tak jauh dari Kenzo dan Alesya duduk saat ini.


"ya..Tidak..."Jawab Kenzo dan Alesya bersamaan. Kemudian mereka saling pandang dan kode mata.


"Kenz..." seru Alesya menyikut lengan suaminya itu.


"Kau tahu paman, kau itu sangat menggangu." sungut Kenzo sambil merubah posisi duduknya Dia merasa Marcus tiba pada waktu yang salah.


"Aku tidak akan menggangu kalian jika kau tidak meminta ku datang kemari dengan cara se- misterius seperti tadi." Marcus menimpali perkataan Kenzo lalu duduk di hadapan Kenzo dan Alesya. " Oo iya.. Mana Skala?" tanya Marcus sambil melihat ke arah kamar Skala.


"Bukannya mencari Dyana.. dia malah mencari putra ku!"gerutu Kenzo dalam hati.


Kadang Kenzo merasa heran sekaligus geram dengan pamannya ini. Sudah jelas hubungan paman dan bibinya ini masih di zona abu-abu, tapi sang paman kelihatan nya aman-aman bae, terlihat seakan-akan bibinya itu tidak akan di gait orang. Kenzo benar-benar geleng-geleng kepala di buat perjaka tua ini. Andai dia di posisi pamannya, sudah pasti dia akan pepet terus sang bibi sampai benar-benar menjadi miliknya. Tidak akan di biarkan begitu saja.


"Skala ke rumah temannya Daffa paman. Ibu Daffa melahirkan anak kembar. Jadi Skala ke sana untuk mengucapkan selamat pada Daffa atas kelahiran adik kembarnya." Jelas Alesya.


"Dia pergi sendirian?"tanya Marcus dengan nada yang khawatir.


"Tentu saja tidak. Dia pergi dengan Jody dan beberapa bodyguard nya Kenzo." Jawab Alesya.


"Lihat lah! Dia masih saja sempat mengkhawatirkan Skala!! Khawatir kan saja diri mu paman!! cinta mu akan di tikung orang!." seru kenzo dalam hati. Hingga saat ini Kenzo masih memilih untuk merutuki Marcus dalam pikirannya saja.


"Aku lega mendengar itu semua. Sebab semenjak aku tahu kalau ibu nya Agnes masih berkeliaran di luar sana, aku sangat khawatir atas keselamatan diri mu dan putra mu Alesya." Tukas Marcus.


"Dia juga putra ku paman!" Kenzo mengingatkan Marcus kalau dirinya juga punya saham yang besar dengan Alesya atas diri Skala.


Marcus menatap jengah pada keponakan nya itu.."Tentu saja kau juga punya andil dalam terbentuk zigot dalam proses pembuahan di rahim istrimu it-"

__ADS_1


"Cukup paman. Kau tidak perlu pamer bahwa kau adalah seorang lulusan terbaik kedokteran kala itu." Sela Kenzo ketika Marcus mencoba untuk membalas perkataan Kenzo dengan pengetahuan ilmiah yang dia miliki. "Kami tidak memanggil mu untuk mendengarkan semua penjelasan tadi." lanjut Kenzo.


"Baiklah. Jadi jika bukan untuk melihat kemesraan kalian berdua dan bukan juga untuk perdebatan ilmiah, lalu untuk apa kalian meminta ku datang kemari?"


"Ini tentang bibi,paman." ujar Alesya.


"Sayang biar aku saja yang menjelaskan ini pada paman." Kenzo sebisa mungkin ingin membuat Alesya tidak terlalu banyak berpikir. Dia takut nanti akan berpengaruh pada janinnya jika benar saat ini Alesya sedang hamil.


"Baiklah, terserah kau saja Kenz." Jawab Alesya lalu memainkan perannya sebagai pendengar yang baik untuk sementara waktu.


"Apa terjadi sesuatu pada Dyana?" Tanya Marcus panik. Mengetahui bahwa alasan dia dipanggil ke rumah Kenzo karena Dyana, seketika rasa panik langsung menyerang Marcus.


"Tidak.. saat ini bibi baik-baik saja." jawab Kenzo sambil menatap kesal pada paman nya yang menghilangkan beberapa hari ini.


"Lalu? tadi Alesya mengatakan kalau kau memanggilku karena Dyana." tanya Marcus bingung. Jelas-jelas tadi dia dengar Alesya menyebutkan seperti itu tapi Kenzo malah mengatakan kalau Dyana saat ini baik-baik saja. MENGAPA JAWABAN MEREKA SALING KONTRADIKTIF SEPERTI INI?


"Saat ini Dyana benar dalam keadaan baik-baik saja paman.Tapi minggu depan takut nya malah diri mu yang keadaannya jadi tidak baik." Ucap Kenzo dengan sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya.


"Kenz...kau terlalu berbelit-belit!" Timpal Alesya yang heran mengapa Kenzo tidak langsung to the poin saja mengingat situasi sudah sangat genting sekarang.


"Paman.. dengar kan aku baik-baik. Bibi Dyana akan di nikahkan dengan Frans minggu depan." Sebut Alesya langsung pada inti permasalahannya.


"deg ..."jantung Marcus langsung terasa berhenti berdetak setelah mendengar ucapan Alesya.


"Mengapa kalian tidak mengatakan nya dari tadi." Marcus langsung bangun dan membuang bantal yang dipegang nya itu sembarangan.


"Kau mau kemana paman?" cegat Kenzo yang melihat seperti nya Marcus akan pergi.


"Aku ingin ke kamar Dyana..Aku harus bicara dengan nya. Bagaimana bisa dia setujua untuk menikahi si Frans-Frans Itu." Ndumel Marcus sambil berlalu pergi.


"PAM-an..." panggil Alesya terputus sebab Kenzo memberikan tanda pada Alesya untuk tidak memanggil Marcus.

__ADS_1


"Biarkan saja Alesya. Sebentar lagi dia pasti akan kembali kemari setelah melihat Dyana tidak ada di kamarnya." Sebut Kenzo.


"Kenz... kemana Dyana? Dia tidak ada di kamarnya. Apakah dia ada jadwal terapi hari ini? tunggu.. bukannya kalau terapi sekali pun terapisnya kan yang akan datang kemari?"Marcus terlihat sangat panik.


Kenzo menggenggam tangan Alesya agar Alesya tidak buru-buru memberitahu Marcus dimana Dyana saat ini.


"Sayang...."Ujar Alesya sangat pelan tapi tetap mendapatkan gelengan kepala dari Kenzo.


"Kenz...! kenapa kau hanya diam!! Katakan pada ku dimana Dyana!" Seru Marcus yang sudah tidak dapat menenangkan degupan jantung nya yang bagaikan genderang perang itu.


"Aku akan mengatakan dimana bibi. . Tapi aku ingin paman menjelaskan dulu pada ku kemana saja paman beberapa hari ini hingga sanggup meninggalkan bibi. Apa paman tahu, sikap paman itu memberikan peluang pada Frans untuk menyalip paman dan menendang paman keluar dari hati bibi ku?" ucap Kenzo dengan menatap penuh selidik pada Marcus.


Marcus melihat ke arah Kenzo dan Alesya bergantian.


"Sebaiknya aku jelaskan semua ini pada Kenzo. Kalau tidak maka Kenzo tidak akan bisa membantu ku untuk mendapatkan Dyana kembali." gumam Marcus dalam hati. Kenzo adalah satu faktor yang akan sangat berpengaruh dalam keputusan yang akan diambil oleh Dyana dan keluarga nya.


"Alesya...maafkan aku. Dapatkan aku membawa suami mu untuk bicara empat mata?" pinta Marcus pada Alesya sopan.


Alesya melirik pada Kenzo dan melihat sekilas suami nya itu mengangguk.


"Silahkan paman." ujar Alesya


'Sayang aku ke belakang dulu minta pelayan by membeli benda tadi." bisik Alesya pada Kenzo.


"Aku akan mencari mu lagi nanti." jawab Kenzo lalu mencium bibir istrinya.


"Haruskan mereka melakukan hal itu di depan perjaka tua seperti ku?" seru Marcus dalam hati untuk kedua kalinya melihat Kenzo dan Alesya berciuman.


**Bersambung...


😎😎😎

__ADS_1


*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.


__ADS_2