
Keesokan paginya..
“kenapa kakek tersenyum begitu?” Seru Skala melihat tingkah aneh kakeknya yang sedang memotong bahan-bahan bongsai itu sambil tersenyum.
“Kakek? Memangnya kakek kenapa?” tanya Aldion pura-pura tidak paham maksud pertanyaan Skala. Padahal ia memang sedang sangat senang saat ini sebab ia tidak melihat Kenzo pada sarapan pagi tadi. Sebenarnya dia tidak melihat Alesya juga tapi tadi pagi Aldion sudah mampir ke kamar Alesya dan kamar itu masih terkunci. Aldion yakin saat ini Alesya masih tertidur sebab lelah menangis semalam. Sedangkan Kenzo, Aldion yakin sudah tidak ada di rumah itu lagi. Alesya pasti sudah mengusirnya.
“Lihatlah, kakek kembali tersenyum.” Ujar Skala.
“Aku tersenyum? Memang salah kalau aku tersenyum?” Seru Aldion marah.
“Tidak ada yang salah. Hanya saja senyuman kakek terlihat licik.” Ujar Skala, dan langsung masuk ke dalam.
“Dasar bocah kecil sok tahu.” Seru Aldion ketika Skala sudah menghilang dari pandangannya.
“Apa yang kau sungutkan pagi-pagi ini Aldion?” Sapa Damian yang baru saja masuk ke taman belakang itu.
“Aku? Bersungut? Tidak! Aku tidak ada bersungut apapun.” Elak Aldion dan melanjutkan memotong dahan-dahan bongsai yang ada dihadapannya itu sambil bersiul.
“Apa ada hal yang terjadi semalam ketika aku dan Rose makan malam keluar?” tanya Damian curiga melihat ekspresi kebahagian yang berlebihan di wajah sahabatnya. Bukannya Damian tidak senang akan hal itu hanya saja itu terlalu mencurigakan bagi pria yang kerja sedari kemaren selalu marah-marah tidak tentu arah.
“Tidak! Tidak ada yang terjadi.” Jawab Aldion dengan mudahnya. Mana mungkin Aldion akan memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi pada Damian. Damian pasti akan memarahinya.
“kau tidak berbohong pada ku kan tuan Aldion Rodio yang terhormat?” tanya Damian semakin tidak percaya.
“Kau!! “ Seru Aldion sambil menunjuk ke arah Damian.
Damian heran melihat Aldion menunjuk pada nya tapi Damian lebih heran ketika melihat Aldion hanya diam dan tidak melanjutkan perkataannya.
“Kenapa aku diam Aldion!!” ujar Damian sambil melambai-lambaikan tangannya di depan muka Adlion. Tapi tetap tidak ada respon apapun dari Adlion. Pria tua berkursi roda itu tetap diam dan tidak berkata apapun.
“Adlion!!!” seru Damian sambil memegang bahu sahabatnya itu.
Aldion akhirnya sadar. Namun begitu dia sadar dia bukannya melanjutkan perkataannya. Dia malah melewati Damian begitu saja dan mengarahkan kursi rodanya ke dalam rumah.
“Apa aku tidak salah lihat?” Ujar Aldion sebab dia melihat Kenzo dan Alesya bergandengan tangan dan berjalan ke arah ruang makan.
Aldion terus mengarahkan kursi rodanya ke arah ruang makan untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat. Dia yakin itu pastilah hanyalah halusinasi nya saja.
“Tidak mungkin bocah tengik itu masih ada di rumah ini.” Gumam Aldion sambil terus mengarahkan kursi rodanya.
“Aldion kau mau kemana?” Seru Damian dari belakang dan langsung mengikuti sahabatnya itu.
“hei Aldion!! Kau kenapa?” Damian menahan kursi roda Aldion. Dia bingung melihat Aldion bertingkah aneh seperti itu.
“Damian cepat lepaskan tangan mu!” Seru Aldion. “aku perlu memastikan sesuatu!” Ujar Aldion.
“memastikan sesuatu?” tanya Damian heran. “Kau ingin memastikan apa?”lanjut Damian bertanya. Dia benar-benar tidak paham dengan tingkah aneh sahabatnya pagi ini. Tadi senyum-senyum sendiri sambil memotong dahan dan bersiul dan bernyanyi sendiri seakan-akan hatinya dalam keadaan yang sangat bahagia. Lalu tiba-tiba terdiam bagaikan baru melihat setan.
“kau, apa kau melihat Alesya dan Kenzo melintas tadi?” Tanya Aldion.
“Alesya? Kenzo?” ulang Damian. Bingung. Memangnya apa salah nya kalau Alesya dan Kenzo wara wiri di dalam ruangan di rumah ini.
“Aaaah!! Sudahlah!! Cepat lepaskan tanganmu! Aku akan memastikannya sendiri.”seru Aldion marah.
Damian langsung melepaskan tangannya dari kursi roda Aldion. Namun dia tetap mengikuti sahabatnya itu dari belakang. “Pasti dia sudah melakukan sesuatu tadi malam!” gumam Damian dalam hati. Dia yakin pasti Aldion sudah melakukan sesuatu pada Alesya dan Kenzo semalam. Kalau tidak mengapa dia terkejut melihat Kenzo dan Alesya masih bersama pagi ini. “Aku kan memastikannya.” Seru Damian dalam hati.
“Alesya!!” Panggil Aldion pada putrinya itu yang sedang mengambilkan sarapan untuk Kenzo.
Alesya dan Kenzo langsung melihat ke arah Aldion dan Damian yang datang bersamaan.
“Ayah.” Jawab Alesya. “apa kau juga baru turun untuk sarapan?” tanya Alesya dengan polosnya.
Kenzo dan Aldion saling bertatapan. Aliran listrik terpancar jelas dari tatapan mereka berdua.
“dasar bocah tengil!!! Kenapa kau masih disini.” Ujar Aldion melalui tatapan tajamnya pada Kenzo.
“Aku sudah menang ayah mertua! Rencana mu gagal total untuk memisahkan aku dan Alesya.” Ujar Kenzo juga melalui tatapannya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Adakah yang bisa menjelaskan pada ku apa yang sebenarnya terjadi?” Seru Damian yang memang tidak tahu apapun yang telah terjadi tadi malam.
“Tidak ada yang terjadi paman.” Jawab Kenzo cepat. “Semuanya baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja.” Lanjut Kenzo.
“benarkah?” tanya Damian tidak yakin.
“benar paman. Tidak ada apa-apa yang terjadi.” Ujar Alesya. “Apakah paman sudah sarapan? Kalau belum ayo sarapan dengan kami sekalian.” Ajak Alesya.
“Ayah, apakah ayah sudah sarapan? Kalau tidak akan aku ambilkan sarapan buat ayah.” Ucap Alesya.
“benar ayah. Ayo bergabung dengan kami. Kita sarapan sambil mengobrol.” Ujar Kenzo, dengan sebuah senyum yang diartikan oleh Aldion adalah senyuman menyindir.
“Eeheeemm...” Aldion berdehem sebentar. “ Aku sudah sarapan tadi pagi. Kalian saja yang sarapan.” Aldion memutar balik arah kursi roda nya dan meninggalkan ruangan itu.
“Jadi bocah tengik itu masih ada di rumah ini. Huft!! Aku tidak menyangka rencana ku semalam gagal!” Gumam Aldion dalam hati.
“Heeeiii kek!!” sapa Skala yang kebetulan lewat di depan Aldion. “ada apa lagi dengan wajah mu?” tanay Skala yang kali malah melihat kakeknya dalan ekspesri yang sangat kesal.
__ADS_1
“Kenapa lagi wajah ku!!” Ujar Aldion sewot.
“Wajah mu terlihat kesal! Seakan-akan kau bisa memakan orang hidup-hidup saat ini.” Ejek Skala.
“Ya!! Aku memang sangat kesal!! Dan aku juga bisa memakan orang hidup-hidup saat ini!! Kau puas!!” seru Aldion dan meninggalkan cucu kesayangan itu begitu saja.
“heeei.. kakek mau kemana!! Ayo aku temani!!” Skala mengejar kakeknya itu dari belakang.
**kediaman Kenzo di kota A.
Dyana kembali mencoba menghubungi Frans sebab hari ini Dyana ingin bertemu kembali dengan Marcus. Tapi kali ini Dyana sudah merubah strateginya. Dia hanya akan berjalan-jalan dengan Marcus sampai siang lalu ke rumah Jasmin untuk makan siang lalu pulang. Jadi Jack tidak perlu ribut menelpon dirinya atau pun Frans.
“kemana sih orang ini!!”gerutu Dyana pada ponselnya. “ Aku telpon tapi tidak diangkat!” Dyana memandang cemberut ponselnya.
Dyana kembali mencoba menelpon Frans tapi Frans tetap tidak menjawabnya. “apa dia marah pada ku soal semalam?” tanya Dyana pada dirinya sendiri.
Dyana pun mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Frans. “apa kau marah pada ku?” tulis Dyana pada pesannya itu.
Tapi Frans ternyata juga tidak membalas pesannya itu. Bahkan sepertinya Frans tidak membaca pesan itu.
Karena kesal dicuekin oleh Frans, Dyana pun melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Namun ketika ponsel itu mendarat dengan cantik diatas tempat tidur, Dyana malah mendengar dering panggilan masuk. Dengan cepat Dyana mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon dan ternyata itu adalah Marcus.
“ternyata Marcus.” Entah mengapa Dyana malah tidak bersemangat ketika tahu yang menelponnya adalah Marcus. Padahal bukankah hari ini dia berencana keluar untuk bertemu dengan Marcus?
“ya, hallo.” Sapa Dyana.
“hallo Dyana, apakah hari ini kita jadi bertemu? Aku sudah membelikan mu sekotak kue bunga matahari.” Ujar Marcus, bersemangat.
Dyana menghela nafas pelan namun masih dapat terdengar dengan jelas oleh Marcus. “Ada apa?” tanya Marcus yang merasa ada hal yang tidak baik yang sedang terjadi.
“Marcus maaf kan aku. Seperti nya hari ini kita tidak jadi bertemu. Sebab sedari tadi aku menelpon Frans tapi dia tidak mengangkat telpon ku. Aku juga sudah mengiriminya pesan tapi dia tetap tidak membalasnya.” Jawab Dyana lemah.
“Kalau begitu, biar aku yang datang menjemput mu.” Ujar Marcus. Marcus bukanlah lelaki pengecut yang akan menjemput wanita nya secara sembunyi-sembunyi.
“Apa kau lupa aku sekarang ini tinggal bersama Kenzo? Dan Kenzo sudah meletakan sebuah pagar berjalan di depan rumah yang tidak akan membiarkan kau masuk ke dalam rumah ini ataupun aku keluar dari rumah ini. Sudahlah sepertinya rencana untuk hari ini kita pending saja sampai aku bisa menghubungi Frans dan memintanya untuk mengantarkan ku.” Ucap Dyana.
“Tapi aku tidak suka pada laki-laki itu Dyana.” Ujar Marcus, jujur. “aku tidak suka cara nya memperlakukan mu.” Lanjut Marcus.
“Deeg..”
“Deeeeg...”
Tiba-tiba jantung Dyana berdebar kencang karena ucapan yang baru saja dikatakan oleh Marcus.
“apa kau sedang membela laki-laki itu Dyana?” Nada cemburu terdengar jelas dari ucapan Marcus.
“membela Frans? Aku tidak sedang membela Frans, Marcus! Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.” Seru Dyana. Dia heran kenapa Marcus harus meributkan hal sepele seperti ini.
“maafkan aku. Aku hanya tidak suka mendengar kau berkata hal-hal yang baik tentang laki-laki lain. Baiklah kalau kau tidak bisa menemui ku hari ini,kita keluar di hari yang lain saja. Aku harap aku dapat menjemput mu langsung ke rumah Kenzo tanpa perlu bantuan dari laki-laki itu.
“Heeem.. maafkan aku untuk hari ini ya Marcus.” Ujar Dyana.
“That’s oke girl.” Marcus pun mengakhiri panggilan itu.
Dyana pun melemparkan kembali ponselnya ke tempat tidur. Dan sekali lagi, ponsel itu kembali berdering ketika ia mendarat kembali di atas tempat tidur itu.
“Ada apa lagi Marcus menelpon ku?” Tanya Dyana sedikit cemberut. Entah mengapa dia malah risih menerima telpon Marcus.
“ya apa lagi?” Tanya Dyana, berusaha terdengar tenang.
“hallo Dyana ini tante. Ibu nya Frans.” Sapa Nania pada Dyana.
“Haallo tante, apakabar?” jawab Dyana gugup. Dia tidak menyangka yang menelponnya ternyata bukan Marcus melainkan ibunya Frans. Dyana bahkan melihat ponsel untuk memastikan nomor yang menelponnya. Dan ternyata benar itu nomor Frans. Tapi kenapa yang menelpon nya adalah ibu Frans? Frans kemana? Pikir Dyana.
“tante sehat. Tapi-“
“tapi kenapa tante?”
“Frans dia sedang tidak sehat. Sepertinya dia demam Dyana.” Ujar Nania, terdengar cemas.
“apa tante sudah memanggil dokter?” tanya Dyana ikutan cemas.
“Sudah! Sudah! Dokter sudah kemari. Dan dia pun sudah minum obat.” Jelas Nania.
“Syukurlah kalau begitu tante.” Jawab Dyana merasa lega. Jadi ternyata Frans tidak mengangkat telponnya dan tidak membalas pesan nya bukan karena marah pada nya soal kejadian semalam tapi karena Frans sedang sakit.
“Dyana..” Seru Nania.
“Ya tante ada apa?”
“Apakah tante boleh minta tolong sesuatu pada mu?” Tanya Nania ragu. Dia takut Dyana akan menolak untuk menolongnya.
“Minta tolong apa yang tante?” tanya Dyana, bingung. Memangnya apa yang bisa dia tolong untuk Frans.
“ Gini Dyana, tante hari ini harus ke kota Q. Tante sudah ada janji bisnis di sana. Dan sudah sejak lama. Tapi permasalahannya Frans sakit. Apakah kamu bisa menjaga Frans untuk tante selama dua hari ini?” Jelas Nania. Dia tahu, permintaannya ini mungkin akan sangat sulit untuk dikabulkan oleh Dyana. Secara Dyana dan Frans baru saja berkenalan.
__ADS_1
“memangnya tidak ada pelayan atau orang lain di rumah tante? Bagaimana dengan asistennya Frans yang bernama Aditya, apakah dia tidak bisa menemani Frans?”
“Aditya keluar kota menggantikan Frans untuk menghandle presentase bisnis yang seharusnya dihadiri oleh Frans besok. Jadi benar-benar tidak ada orang yang bisa tante percaya untuk menjaga Frans dua hari ini.” Ujar Nania.
“Heem.. bagaimana ya tante. Aku pun sebenarnya tidak pernah benar-benar merawat orang sakit...takutnya keberadaan ku disana juga tidak ada guna nya. Sebaiknya Tante menyewa jasa perawat saja.” Jawab Dyana karena memang dia tidak ada pengalaman merawat orang sakit sebelumnya.
“Tante tidak ingin orang asing yang berada di dekat Frans, Dyana. Paling tidak kamu dan Frans kan sudah saling kenal.” Jelas Nania. “untuk urusan yang lain kamu tidka perlu khawatir, akan ada dokter yang akan berkunjung setiap pagi dan sore untuk mengecek kondisi Frans. Tante hanya perlu seseorang untuk ada melihatnya sepanjang waktu. Tante takut panasnya naik turun.” Nania terus meyakinkan Dyana untuk menolongnya.
“kalau begitu akan Dyana tanya ke mama dulu. Sebab bagaimana pun untuk menginap Dyana butuh izin dari mama tante.” Jawan Dyana terpaksa.
“Tante sudah menelpon mama kamu tadi Dyana. Dan mama kamu mengizinkannya. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh menelpon mama kamu lagi dan memastikan perkataan tante barusan.” Ujar Nania.
“Baiklah tante. Dyana akan telpon mama sekali lagi untuk mengatakan Dyana akan ke rumah tante. Nanti setelah Dyana siap-siap, Dyana akan kesana.” Jawab Dyana akhirnya menyetujui untuk membantu Nania menjaga Frans yang sedang sakit.
“terima kasih ya Dyana. Tante sangat berhutang budi pada mu Dyana. Dengan ada nya kamu di samping Frans saat ini tante jadi tenang untuk pergi melakukan perjalanan bisnis.” Ucap Nania.
“Tidak masalah tante.” Jawab Dyana penuh basa basi. Padahal dalam hatinya dia pun bingung mengapa dia bersedia merawat pria menyebalkan seperti Frans. Sungguh sangat merepotkan. Pasti nanti dua hari ini akan penuh perdebatan yang tidak berarti bersama Frans.
Dyana pun langsung menelpon mama nya untuk memastikan semua ucapan ibu nya Frans tadi. Dan ternyata benar, ibu nya Frans memang sudah terlebih dahulu menelpon mama nya Dyana. Bahkan ketika Dyana menelpon mama nya tadi, mama nya terdengar sangat panik sebab Dyana ternyata masih berada di rumah Kenzo dan belum sampai di rumah nya Frans. Dyana merasa heran, kenapa reaksi mama nya begitu berlebihan? Padahal yang sakit itu bukanlah siapa-siapa mereka.
“Apa dia demam karena kelelahan menggendong ku dari pintu mall ke parkiran? Huft lemah sekali jadi laki-laki.” Gerutu Dyana. Namun dalam semua gerutunya itu karena harus menjaga Frans, nyatanya Dyana tetap berbenah untuk berangkat ke rumah Frans. Bahkan dia sempat browsing beberapa minuman yang dapat menurunkan panas. Dia berencana untuk membelikannya sebelum sampai di rumah Frans.
“Ok!! Udah beres!” Dyana tersenyum melihat tas mini yang berisi pakaian ganti nya untuk dua hari tinggal di rumah Frans.
Dyana pun keluar kamar dan mencari Jack.
“Jack!!” panggil Dyana pada pagar hidup miliki Kenzo yang sedang asik minum kopi di taman samping.
“ya nona Dyana.” Jawab Jack Sopan.
“Jack tolong kau antarkan aku ke rumah Frans. Aku akan menginap dua hari disana.” Ujar Dyana, santai.
“Apa? Anda akan menginap di rumah tuan Aksena?” Tanya Jack memastikan apa yang baru saja ia dengar pada Dyana.
“Benar Jack. Aku akan menginap di rumah tuan Irfrans Aksena selama dua hari sebab saat ini dia dalam keadaan sakit dan ibunya sudah menelpon mama ku untuk meminta ku menjaga putra nya.”Jawab Dyana Komplit.
“Apa nona sudah mengabari tuan Kenzo? Saya tidak berani membiarkan nona untuk bermalam disana tanpa izin dari tuan Kenzo.” Ujar Jack.
“mama ku sudah menelponnya tadi dan dia sudah tahu aku akan menginap di rumah Frans. Kalau kau tidak percaya, kau telpon saja Kenzo sekarang.” Perintah Dyana.
“baik nona. Aku akan menelpon tuan Kenzo sebentar.” Jack pun menjauh dari Dyana dan menelpon tuannya. Dan benar saja ternyata Kenzo memang sudah memberikan izin bagi Dyana untuk menginap di rumah Frans.
“Mari nona.” Jack mengangkat tas mini milik Dyana dan berjalan di depan Dyana.
Dyana pun di antarkan Jack ke rumah Frans yang posisinya sebenarnya memang agak jauh dari rumah Kenzo.
“Nona memangnya tuan Aksena sedang sakit apa?” tanya Jack penasaran.
“Dia demam.” Jawan Dyana yang duduk di kursi belakang Jack.
“heem.. Jadi apakah sebenarnya nona Dyana ini ada latar belakang sebagai seorang dokter?” Tanya Jack polos namun ditangkap oleh Dyana sebagai sebuah cemoohan.
“Kau mengejek ku Jack?” Ujar Dyana, sewot.
“mana berani saya mengejek nona. Barusan itu saya benar-benar bertanya dari lubuk hati saya yang paling dalam nona. Apakah nona Dyana seorang dokter? Soalnya tuan Aksena sakit, lalu ibu nya langsung menelpon nona. Kalau nona bukan dokter maka alasan lainnya yang menurut saya akan masuk akal untuk memanggil nona untuk menjaga tuan Aksena adalah bila nona merupakan istri ataupun calon istri tuan Aksena.” Kali ini Jack sengaja melihat ekspresi Dyana dari kaca spion di depannya.
“Sepertinya Kenzo terlalu baik pada mu Jack!!” Jawab Dyana sambil menatap Jack dari kaca spion yang sama.
“Aah.. nona bisa saja. Jangan terlalu dimasukan ke hati perkataan saya nona. Saya hanya bercanda.” Jack buru-buru meralat kata-katanya, dia belum ada rencana mencari pekerjaan yang baru dalam waktu dekat ini.
“nona Dyana!” Jack kembali mengajak Dyana untuk mengobrol.
“Apa lagi Jack!!” Jawab Dyana kesal. Ternyata asisten Kenzo ini sangat cerewet. Mengapa Dyana baru sadar kalau Jack ini adalah seorang pria yang sangat suka sekali berbicara.
“Apa nona sudah tahu cara merawat orang sakit demam sebelumnya?” Tanya Jack.
“Heeem.. belum.” Jawab Dyana singkat. Sebenarnya dia hanya ingin perjalanan ini berjalan dengan ketenangan menuju rumah Frans. Tapi sepertinya itu akan sangat sulit sekali untuk terwujud.
“Waah.. kalau begitu nona akan sangat kesulitan dalam menjaga tuan Akesna nanti. Sebaiknya nona mulai browing segala sesuatunya mulai saat ini sebelum kita sampai ke rumah tuan Aksena nona.” Ujar Jack. Sebenarnya saran Jack ini sangat baik namun karena Dyana sudah mulai gedek mendengar Jack yang tak berhenti bicara ini jadi nya Dyana hanya mencuekin semua yang Jack katakan.
“Nona!! Nona mendengar saya tidak! Coba nona bayangkan jika tiba-tiba suhu badan tuan Aksena tinggi! Apa yang mesti nona lakukan? Apakah nona hanya akan menelpon dokter? Memangnya dokter akan bisa datang dengan cepat ke rumah tuan Aksena? Atau apakah ada dokter yang stand by disana? Kalau dokter sudah ada untuk apa nona pergi ke rumah tuan Aksena? Apalagi nona pergi tanpa pengetahuan apapun tentang merawat orang yang sedang sakit.” Ujar Frans panjang kali lebar, membuat telinga dan kepala Dyana tambah sakit.
“Jack!!” Seru Dyana akhirnya.
“Ya nona!” jawab Jack polos tanpa menyadari apa yang telah ia lakukan.
“Kau tahu! Kau sudah membuat telinga dan kepala ku sakit. Takutnya malah aku yang akan dirawat oleh dokter begitu aku sampai ke rumah Frans! So please!! Agar hal buruk itu tidka terjadi, I hope you stop talking! Oke?” Ujar Dyana penuh penekanan.
Jack yang sudah menyadari kesalahannya langsung memberikan isyarat bahwa dia telah mengunci mulutnya.
Dan akhirnya Dyana dapat menikmati perjalanan dengan tenang menuju rumah Frans walaupun itu sudah tidak jauh lagi. Tapi lumayanlah dari pada harus mendengarkan Jack dengan kecerewetannya sepanjang jalan. Pasti benar-benar akan membuat Dyana ikut terbaring begitu sampai di rumah Frans nanti.
*********bersambung
hhohoho double up ya kita hari ini guy!! Jangan lupa dukungan nya untuk otor ya... dengan cara like, komen dan vote.. otor akan selalu coba up panjang-panjang agar kamu puas baca nya. Dan mohon maaf kalau masih ada typo-typo dalam mengetikan. Terima kasih sudah setia di lapak otor selama ini.. muaach
__ADS_1