
"Nona Alesya Diningrat!" Panggil seorang wanita yang bertugas memanggil para peserta interview kepada Alesya yang sedang duduk manis di deretan peserta lainnya.
"Ya, saya." Ujar Alesya,dan mengangkat tangannya.
"Silahkan masuk nona!" Perintah wanita itu.
Alesya mengetuk pintu ruang interview dan masuk ke ruangan tersebut.
Ia melemparkan pandangannya keseluruhan ruangan interview itu.
Sebuah senyum kecil terlihat diujung bibirnya. "Selamat berjumpa kembali, Agnes!" Gumamnya dalam hati ketika melihat satu anggota tim yang akan menginterviewnya ialah Agnes, sang adik tiri yang telah menjebaknya beberapa tahun lalu.
Alesya berjalan menuju kursi yang telah di sediakan.Dia melemparkan sebuah senyuman yang teduh penuh perdamaian kepada sang adik tiri, seakan-akan tidak ada dendam di hatinya.
Agnes berusaha untuk tetap bersikap profesional dan tidak menghampiri musuh lamanya. Dengan tatapan layaknya seorang bos, Agnes mulai mengajukan beberapa pertanyaan sesuai prosedur interview yang telah di susun.
Selain Agnes, terdapat seorang pria yang juga memperhatikan Alesya selama interview berlangsung. Dia adalah Jack. Sekretaris pribadi Kenzo yang ditugaskan langsung oleh Kenzo untuk mengawasi jalannya interview.
Kenzo yang tahu Agnes ikut campur dalam interview pemilihan sekretaris untuk nya, langsung meminta Jack mengawasi Agnes.
Selama sembilan tahun ini, Agnes selalu menempeli Kenzo. Bahkan ia mengumumkan kepada publik bahwa ia dan Kenzo memiliki hubungan spesial diluar hubungan sebagai rekan kerja. Awalnya Kenzo tidak keberatan akan hal itu karena dengan adanya Agnes di sisinya, secara tidak langsung dapat mengusir wanita-wanita yang ingin mendekatinya. Namun setahun belakangan ini sering terjadi pembicaraan soal pernikahan antara dirinya dan Agnes di kedua keluarga. Ini membuat Kenzo menjadi risih.Dan ditambah lagi dengan kelakuan posesif Agnes yang sudah menganggap Kenzo sebagai miliknya. Benar-benar membuat Kenzo sulit untuk bernafas.
"Baiklah nona Alesya, kami akan memberitahu hasil wawancaranya nanti malam melalui email!" Ujar salah seorang pewawancara.
"Terima kasih, tuan!" Alesya bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan itu.
"Apakah kau akan diam saja, Agnes! Ayolah berikan aku sebuah pertunjukan yang bagus Agnes!" Gumam Alesya dalam hati ketika hendak membuka pintu.
"Kakak!!" Cegat Agnes sebelum Alesya melangkah keluar ruangan. Dan berlari ke arah Alesya.
Alesya menarik senyum kecil diwajahnya, "Pertunjukan dimulai!"Batinnya.
Alesya berbalik dan Agnes langsung memeluknya. "Kau kemana saja, kak? Kami kesulitan mencari mu! Ayah dan Ibu sangat khawatir karena kau kabur dari pernikahan mu!" Ucap Agnes penuh penekanan pada setiap kata-katanya agar setiap orang di ruangan itu mendengarnya. Terutama Jack. Karena Agnes tahu alasan Jack ada di ruangan ini ialah untuk mengawasi calon sekretaris untuk Kenzo. Tentu Jack tidak akan memilih Alesya kalau dia tau Alesya pernah membuat malu di keluarga Diningrat.
"Tuan-tuan, maaf. Perkenalkan ini, kakakku Alesya! Dia kabur dari rumah delapan tahun yang lalu. Kami sudah kalang kabut mencarinya keseluruhan pelosok negeri." Beber Agnes pada semua orang di ruangan itu. Benar-benar memojokan Alesya saat itu.
"Benarkah itu nona Alesya?" Tanya salah seorang pewawancara.
"Maaf tuan, saya datang kesini untuk melakukan interview pekerjaan. Bukan untuk membicarakan masalah pribadi saya" Jawab Alesya, tersenyum ramah.
"Agnes, aku juga rindu pada kalian semua." Alesya menatap Agnes. "Percayalah, aku sangat merindukan kalian semua. Maaf membuat kalian semua cemas!" Ucap Alesya dengan intonasi yang sulit dijabarkan.
Agnes mencoba memasang wajah penuh kerinduan pada musuhnya. "Yang penting kau sudah kembali kak!" Ucapnya, lembut.
"Aku akan menyelesaikan sesi wawancara ini dulu. Setelah itu baru kita pulang sama-sama!"Agnes kembali menuju mejanya, karena maksudnya sudah tercapai.
Alesya yang sedari tadi sudah membaca niatan Agnes hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu."Kau sama sekali tidak berubah, Agnes! Masih saja senang menjadi serigala berbulu domba!!"Batin Alesya.
"Kita lihat saja, apakah drama murahan mu itu mampu mengalahkan semua gelar PHd ku." Alesya pun meninggalkan perusahan Dayson.
Jack hanya diam memperhatikan drama kedua saudari ini."Menarik!" Gumamnya dalam hati.
"Tuan Kenzo pasti akan suka dengan keputusan yang ku ambil."
****
"Hai.. anak mommy sedang apa?" Tanya Alesya sambil video call dengan Skala.
"Just watching and heemm.. nothing. I am getting bored mom!" Seru sang anak sambil memasang wajah cemberutnya.
"Heemm.. bagaimana kalau mom menjemput mu sekarang? Dan kita jalan-jalan dan makan di mall?" Ajak Alesya.
"Benar kah?" Skala terdengar sangat bersemangat.
"Sure! Bersiap-siaplah! Mom akan sampai dalam 20 menit. Mom tunggu di depan apartemen."
__ADS_1
" Ok. Mom!" Skala mematikan Video call tersebut dan segera mengganti pakaiannya.
Setelah 20 Skala turun. Dan dia mengerutkan kening mungilnya melihat sang ibu sudah duduk dan tersenyum dalam sebuah mobil Mini Cooper.
"Kau baru membelinya, mom?" Ujar Skala, duduk disamping ibunya dan memasang seatbelt nya.
"Heem.. Orang suruhan kakek tadi yang membeli nya ketika mom interview. Bagaimana? apa kau suka?" Tanya Alesya, dan melajukan mobil itu menuju mall.
"Ya, boleh lah!" Jawab Skala biasa-biasa saja.
Respon Skala selalu saja membuat Alesya mengurut dada. Sikap sombong siapa lah yang ada pada diri anak ini. Seleranya sangat tinggi untuk seukuran anak kecil.Pikir Alesya dalam hati.
Alesya memarkirkan mobilnya disalah satu Mall terbesar di kota A. Dia dan Anaknya melenggang masuk ke mall itu. Alesya benar-benar tidak menganggap serius ucapan Agnes yang meminta nya menunggu dan pulang ke mansion nya.
"Mom, ayo ke arena game itu dulu!" Seru Skala, menunjuk ke arah tempat bermain anak-anak.
"Mom kira, anak mom sudah besar dan tidak akan bermain di tempat seperti itu!" Ledek Alesya pada putranya yang sudah memasang wajah kesal mendengar ejekan nya. "hahaha... just kidding, boy! come on!" Alesya menarik tangan sang anak.
Alesya dan putranya terlihat sangat gembira.. Mereka memainkan hampir permainan ditempat itu.
"Mom, besok adalah ulang tahun kakek! Aku ingin membelikannya sesuatu dan mengirimkan nya ke kota J." Seru Skala.
"Mom sengaja membawa mu kemari memang untuk mencari hadiah untuk kakek." Alesya berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Skala. "Apa kau sudah puas bermain? Kalau sudah, ayo kita keliling mencari sesuatu yang bagus untuk kakek mu." Alesya mencubit pipi putra nya yang menggemaskan itu.
"Ough!!Mom!" Pekik Skala, sambil melotot
"Hahaha.. Ayo!" Alesya berdiri, dan memegang tangan putranya.
Alesya dan Ska masuk ke salah satu toko pakaian pria. Mereka tadi sepakat akan membelikan sebuah kemeja yang bagus untuk Aldion Rodio sebagai hadiah ulang tahun.
"Mom! Bagaimana kalau kita berpencar. Aku akan melihat kesana, dan mom akan melihat ke sebelah sana!" Ucap Ska, sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Ne! Kita sama-sama aja. Aku takut kau tersesat, Ska." Bujuk Alesya.
Skala menarik nafas dalam ala-ala orang dewasa. "Mom! Please! I am not a kid anymore!" Seru nya, dengan wajah yang sok di dewasakan.
"My grandpa said!" Ucapnya, mantap. "Kakek bilang, Ska bukan anak kecil lagi. Ska sudah besar. Sudah harus bisa menjaga mom!" Ungkap bocah itu penuh keseriusan di wajahnya.
"Ayah! Apa yang telah kau katakan pada putra ku. Lihat lah, dia jadi sok jadi orang dewasa seperti ini." Pikir Alesya dalam hati. Dan memandang wajah serius putranya.
"Baiklah, tuan muda Ska. Aku akan pergi kesana!" Alesya menunjuk bagian toko sebelah kiri. "Dan kau, akan pergi ke sebelah sana!" Sambungnya, dan menunjuk bagian toko sebelah kanan. "Lihat jam tangan mu, kau harus sudah berada disini satu jam lagi. Apa kau paham tuan muda Skala?" Tanya Alesya, dengan tampang som seriusnya
"Aku paham mom!" Ujarnya bersemangat. Dan langsung berlari arah yang ditunjukkan oleh ibunya.
"Jangan berlari Ska! Kau bisa jatuh!" Teriak Alesya, namun di acuhkan oleh bocah itu.
***
"Tuan, apa ada lagi yang ingin kau beli?" Tanya Jack pada tuannya, sedang duduk menunggu semua bungkusan belanja nya siap.
"Sepertinya cukup, Jack!" Jawab Kenzo, dan berdiri di depan sebuah kemeja yang terpajang sempurna.
" Tolong bungkus ini!" Ucap Kenzo, bersamaan dengan ucapan seorang bocah laki-laki kecil yang memandang dengan sinis.
"Aku yang melihat kemeja ini terlebih dahulu, sir!" Ucap bocah kecil itu, angkuh.
Kenzo dan Jack saling melihat. Baru ada pertama kali orang yang berebut pakaian dengan tuan Kenzo. Dan itu adalah seorang anak kecil.
"Aku yang terlebih dahulu memegang baju ini, kid!" Seru Kenzo, ingin mempermainkan kan anak itu.
"Apa kau punya bukti, paman? Atau haruskah kita memeriksa cctv toko ini hanya untuk hal sepele ini?" Ucapnya, seperti orang dewasa.
Kenzo dan Jack hampir saja tertawa mendengar ucapan si bocah yang ingin memeriksa cctv hanya untuk sebuah kemeja.
Kenzo tersenyum kecil. Melihat ngototnya si bocah kecil ini terhadap kemeja itu, niat jahil Kenzo pun muncul. Dia tidak akan memberikan kemeja itu pada bocah sombong itu.
__ADS_1
"Seperti nya kemeja ini tidak muat untuk mu, kau masih harus banyak minum susu agar dapat tumbuh dan bisa memakai kemeja itu." Ejek Kenzo pada sang bocah.
Jack tersenyum melihat tingkah laku Kenzo yang memperebutkan kemeja dengan seorang bocah kecil. Padahal dia ingat, Kenzo sudah membeli banyak sekali kemeja.
" Ini bukan untuk ku, paman. Aku akan membelikan ini untuk kakek ku. Menurut ku model kemeja seperti ini cocoknya untuk kakek-kakek." Bocah itu menatap Kenzo. "Aku tidak menyangka, paman yang masih muda seperti ini, namun seleranya seperti orang yang sudah tua." Lanjutnya, dengan nada mengejek.
"Cih!! Dasar bocah nakal! Berani sekali kau merendahkan selera ku!" Dengus Kenzo, kesal karena baru sekali ini selera berpakaian nya di olok-olok oleh orang lain. Dan itu adalah bocah yang sama yang berani berebut pakaian dengannya
"Besar juga nyali mu!" Lanjut Kenzo, menatap tajam pada bocah itu.
"Maaf, tolong paman berhenti memanggil ku bocah. Nama ku Skala! Jadi jangan memanggil ku bocah ataupun kid! Kau menyakiti harga diri ku sebagai seorang lelaki." Skala menatap kembali mata Kenzo.
Jack melihat Kenzo dan bocah yang bernama Ska itu saling menatap, hanya bisa menghela nafas panjang. "Sebenarnya siapa yang sebenarnya yang anak-anak, dan siapa yang sebenarnya telah dewasa.
" Tuan..!" Panggil Jack pada tuannya yang mulai serius menanggapi bocah kecil itu
"Diam, Jack! Ini urusan antara dua laki-laki dewasa!" Bentaknya pada sang sekretaris.
Skala masih tetap menatap ke arah Kenzo.Tatapan penuh keangkuhan.
Kenzo melihat ke arah baju itu, dan melihat nominal yang melekat di baju tersebut. Kenzo tersenyum dan berkata, "Baiklah, kalau kau sanggup membayar baju ini dua kali lipat dari harga ini, maka baju ini milik mu! "Tantang Kenzo pada Skala.
" Hei, kamu kemari!" Panggil Skala, sombong, pada salah seorang pelayan toko.
"Aku ambil kemeja ini. Dan aku bayar lima kali lipat dari harga aslinya!" Ucap Ska dengan menekankan kata lima kali lipat pada pelayan ini sambil melihat remeh pada Kenzo dan menyerahkan kartu tanpa batas pemberian kakeknya pada si pelayan.
Jack menelan salivanya melihat kesombongan bocah itu, yang sudah menyebabkan tuan Kenzo harus menanggung malu karena salah perhitungan terhadap lawan barunya ini. "Seperti nya rivalmu telah lahir, tuan!" Gumam Jack, dalam hati.
Kenzo melihat lekat bocah yang sedang tersenyum sombong pada nya saat ini. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Kenzo untuk bocah ini.
"Jack, ayo kita pergi."Ucap Kenzo, kesal dan meninggalkan bocah itu.
******
" Mom!!" Panggil Skala, pada ibunya yang terlihat cemas menunggu kedatangannya.
"Kenapa lama sekali Ska!" Seru Alesya, cemas!
"Aku sedikit bingung memilihnya tadi mom, ada banyak sekali kemeja yang bagus." Jawab Skala, bohong. Dia tidak ingin ibu nya tahu kalau tadi dia habis berebut baju dengan seorang paman yang bersikap kekanak-kanakan.
"Jadi ini pilihan mu? Sini biar ibu bayar." Alesya menarik bungkusan di tangan Ska.
"Ne, mom! ini sudah ku bayar." Jawab Ska, dan meninggalkan ibunya yang masih berdiri ditempatnya.
Alesya hanya bisa bengong, lalu pergi ke kasir membayar kemeja pilihannnya. "Dari mana anak itu dapat uang untuk membayar kemeja itu." Gumamnya, lalu mengeluarkan kan kartu tanpa batasnya
Alesya mengejar Skala yang telah menunggu nya di pintu toko.
"Dari mana uang untuk membayar baju itu, Ska?" Tanya Alesya, heren Ska memiliki uang
"Baju nya tidak mahal, mom! Dan uang tabungan ku cukup. Bukan kau pernah bilang mom, pemberian itu tidak dinilai dari harganya, tapi dari niatan si pemberi. " Jelas Ska panjang kali lebar. Tapi hanya dia dan si paman yang tahu betapa mahalnya kemeja itu.. Dan juga pihak toko, pastinya.. hehehee...
Alesya menatap penuh kebahagiaan pada putranya. Dia bersyukur, putranya paham akan nilai dari sebuah pemberian.
Syukur lah Alesya tidak berada disana tadi ketika putranya dan Kenzo sedang adu argumen dan saling menunjukan keangkuhan mereka.
...******...
...Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya.....
...kecuali.... ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ kalau pohonnya berada di tepi sungai...
...tapi sepertinya, Skala adalah buah dari pohon yang tidak tumbuh di tepi sungai... buktinya sikap Kenzo plek plekan ada pada diri Skala seluruhnyaðŸ¤...
jangan lupa untuk like, komen dan vote ya...
__ADS_1
see you...😘😘😘