
"Daddy.. aku-aku-aku rindu!!!" Kini tangis Skala pecah. Ia kini tidak lebih dari seorang anak kecil yang membludak hatinya sebab baru berjumpa dengan ayah nya. Setelah melihat foto-foto keluarga Dayson terutama foto Kenzo sewaktu kecil dan juga fakta bahwa Kenzo yang telah mendonorkan darahnya untuk dirinya, Skala yakin Kenzo lah ayah nya. Ayah kandung nya. Ayah yang selama ini ia cari. Walaupun ia tidak mengerti bagaimana kedua orang tuanya saling tidak mengenali satu dengan yang lainnya. Tapi Skala bisa merasakan Kenzo benar adalah ayah nya.
Seakan semua darah terasa naik ke wajah Kenzo ketika mendengar Skala mengatakan dia rindu pada nya. "Apa yang sebenarnya sedang terjadi Tuhan? Mendadak jantung Kenzo berdetak kencang, dalam cemas Kenzo mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk Skala.
" Skala... " Ujar Kenzo, terbata-bata, "Coba ulangi lagi apa yang baru saja kau katakan." Kenzo sungguh ingin memastikan apa yang didengarnya. Dia tahu saat ini dia sedang rindu pada putra nya jadi mungkin saja dia sedang mengalami delusi.
"Daddy.. I miss you. I really miss you dad!" Ucapnya dengan suara yang terisak.
"Tunggu aku. Aku akan kesana sekarang!" Ujar Kenzo.Tanpa pikir panjang langsung ingin berangkat ke kota B. Jantung nya yang berdebar keras sebab perkataan Skala, membuatnya ingin berteleportasi ke kediaman kakeknya andai kan ia bisa.
Nalurinya sebagai seorang ayah merasa Skala sudah tahu segalanya. Tapi dia takut berharap. Karena terkadang bocah itu suka mengerjainya.
"Baiklah." Skala pun menutup telpon itu.
Kenzo segera menghubungi Jack untuk menyiapkan pesawat jet pribadi nya.
"Jack, siapkan pesawat sekarang juga. Aku mau Ke rumah kakek." Perintah Kenzo dan langsung menutup telepon itu.
Kenzo pun berlari menuju ke kamar nya untuk melihat Alesya. Dia ingin sebelum dia pergi untuk menemui Skala dia melihat Alesya terlebih dahulu. Dia ingin menguatkan hatinya untuk setiap kemungkinan yang akan ia hadapi ketika bertemu dengan Skala nanti. Dan itu semua Kenzo dapat dengan melihat wajah Alesya.
Kalau tebakan nya benar maka Skala nanti pasti akan menanyakan banyak hal padanya. Bagaimana ia dapat menjelaskan hal random yang terjadi pada nasib nya dan Alesya pada Skala.
Begitu Kenzo membuat pintu ternyata Alesya masih tertidur di ranjang nya. Mungkin karena semalam mereka tidur terlalu malam hingga Alesya masih belum terjaga. Kenzo ingat bahkan menjelang subuh pun mereka berdua belum bisa memejamkan mata mereka. Mereka hanya dia dan saling memunggungi.
Kenzo mendekati Alesya dan mencium kening wanita itu dengan lembut. "Aku akan mulai dengan membawa Skala ke sisi ku. Setelah itu kita semua akan berkumpul layaknya keluarga. itu pasti akan terjadi sebentar lagi.Batin Kenzo.
Kenzo pun keluar dari kamar itu dan menelpon Jack sekali lagi.
" Jack, sudah siap?" Tanya Kenzo.
"Sudah tuan. Kami hanya tinggal menunggu mu." Ujar Jack yang sudah dalam perjalanan menuju landasan pesawat.
"Baiklah."
Dengan diantarkan oleh supir Kenzo meninggalkan kediamannya.
"Tunggu aku Skala... " Ujar Kenzo. Sepanjang perjalanan hanya perkataan-perkataan Skala ketika menelpon nya tadi yang ada dipikirannya.
__ADS_1
###
Setelah menempuh 2 jam perjalanan dengan pesawat ke kota B, akhirnya Kenzo sampai ke rumah tua milik keluarga Dayson.
"Kenzo!!!" Ujar Albert Dayson terkejut melihat cucunya yang selama ini jarang sekali untuk pulang ke rumah tua keluarga Dayson. Namun pagi tiba-tiba saja muncul.
"Dimana Skala kek?" Tanya Kenzo, dengan nafas yang tidak beraturan sebab dia sampai berlari dari setelah ia turun mobil ke dalam rumah itu.
"Aku disini Dad.. " Terdengar suara Skala dari arah samping.
Kenzo langsung menolehkan kepalanya. Dilihatnya bocah itu sedang duduk di sebuah kursi roda yang didorong oleh Sebastian sahabatnya.
Kenzo memperhatikan Skala. Dan ia bisa melihat dengan jelas tatapan Skala pada nya tidak sama seperti tatapan Skala sebelumnya. Kenzo merasakan ada kerinduan dalam tatapan itu. "Apakah ini nyata tuhan?" Kenzo mencoba menahan air matanya.
Sama halnya dengan Kenzo, Skala pun terus menatap Kenzo. Tanpa sadar Skala berdiri dari kursi rodanya dan berlari ke arah Kenzo dan langsung memeluk laki-laki yang ia yakini adalah ayah nya. Sosok yang selama ini hanya mampir dalam mimpi-mimpinya, yang kalau ia sentuh atau ia kejar kemudian menghilang. Saat ini benar-benar ada di hadapannya.
Kenzo pun reflek langsung berjongkok dan memeluk Skala.
"Kau panggil aku apa?" Tanya Kenzo penuh haru.
"Daddy.. aku memanggil mu daddy. Sebab kau adalah daddy ku." Skala memeluk erat Kenzo.
Albert dan Sebastian yang tidak tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa menahan diri untuk tidak bertanya agar tidak merusak suasana haru saat itu.
"Aku juga rindu pada mu bocah nakal!!!" Seru Kenzo sambil mengelus telapak tangan Skala. "Kau tahu, kau membuat ku terbang dari kota A ke kota B hanya untuk mengatakan aku juga rindu pada mu!" Kenzo menggendong anak nya itu dan membawa Skala menuju kamar nya.
Sekali lagi Albert dan Sebastian hanya bisa saling pandang dengan sejuta tanda tanya di kepala mereka.
Sesampainya di kamar Kenzo.
"Apa ini kamar mu daddy?" Tanya Skala ketika Kenzo menurunkannya ditempat tidur nya.
"Ya.. ini kamar ku ketika aku kecil." Jawab Kenzo.
Lalu berjongkok di depan Skala.
"Sekarang cerita kan pada ku, bagaimana kau tahu aku adalah daddy mu?" Kenzo menggenggam tangan kecil dan mungil itu.
__ADS_1
"Paman Sebastian mengatakan kau adalah orang yang mendonorkan darah pada ku. Dari situ aku sudah curiga kau pasti lah ayah ku. Sebab tidak sembarang orang dapat menjadi pendonor darah untuk ku. Kemudian aku melihat foto mu sewaktu kecil di ruang galeri milik keluarga Dayson. Aku tidak menyangka aku akan sangat mirip dengan mu. Kau benar- benar tidak membiarkan gen ibu ku turun pada ku." Ujar Skala sambil bercanda.
"Kau tau daddy, aku sudah lama mencari mu. Kenapa kau tidak pernah menemui aku dan mommy ku? Apakah alasan kalian menikah saat ini adalah karena aku? Jadi sedari awal kau sudah tahu kalau aku adalah putra mu?" Pemikiran Skala mulai bercabang-cabang. Dia mulai sulit untuk merunutkan puzzle-puzzle kejadian awal ia berjumpa dengan Kenzo hingga akhirnya Kenzo dan ibu nya menikah.
"Kau harus tenang dulu Skala. Kau mulai mencampur adukkan semua peristiwa-peristiwa."
Kenzo mengacak-acak rambut Skala.
"Aku terlalu senang mengetahui kau adalah daddy ku. Dan ada begitu banyak pertanyaan di dalam kepala ku."
"Kita punya waktu yang panjang untuk menjawab semua pertanyaan mu Skala. Sekarang kau bisa mulai. Tanyakan satu persatu pada ku dan aku akan berkata jujur pada mu. Aku yakin, anak ku adalah seorang anak yang cerdas seperti diri ku."
Skala melihat Kenzo dengan mata kecil nya. Sebenarnya dia ragu menanyakan hal ini terlebih dahulu dari sekian banyak pertanyaan di dalam kepala nya. Tapi ini adalah pertanyaan yang paling mengganjal di dalam hatinya. Dan dia memang sudah berniat akan menanyakan ini pada sosok ayah nya suatu saat nanti jika ia diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya oleh Tuhan.
"Apakah kau tidak mencintai mommy ku? Dan tidak menginginkan aku?" ujar Skala sambil menatap sendu pada Kenzo. Ia takut pertanyaan nya merusak moment haru biru mereka.
Tapi Kenzo malah tersenyum, dan berkata. "Aku mencintai mommy mu bahkan sangat mencintai mommy mu." Kenzo berhenti sejenak dan menggenggam erat tangan bocah kecil itu. "Dan aku juga sangat menginginkan mu." Ujarnya sambil menahan rasa haru di dada nya.
"Lalu kenapa kau tidak pernah datang melihat kami sebelumnya? Apakah kau tidak pernah rindu pada kami?"Lanjut skala bertanya sambil menahan tangisnya.
" Maafkan aku Skala." Air mata Kenzo akhirnya tak dapat ia bendung. "Aku sungguh pria yang bodoh." Makinya pada dirinya sendiri. "Aku bahkan tidak tahu bahwa kau ada." Ujar Kenzo sambil menutup matanya.
"Aku tidak paham dengan perkataan mu daddy."
"Skala, bisa kah kau berjanji satu hal pada ku." Ujar Kenzo sebelum mulai menceritakan semua nya.
"Mau kah kau memaafkan ku setelah mendengar seluruh cerita ku?" Kenzo menatap manik mata Skala, berharap bocah ini memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi seorang ayah.
"Aku yakin kau adalah orang yang baik daddy. Katakan lah, aku tidak akan menghakimi mu untuk hal yang terjadi di masa lalu. Sebab hal itu tidak akan pernah bisa merubah takdir ayah dan anak yang ada diantara kita." Ujar Skala yang bagaikan angin syurga yang dapat menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran Kenzo.
"Kau memang putra ku." Seru Kenzo dan ia pun mulai bercerita..
###
uuuppsss.. kita lanjut besok lagi ya ...
jangan lupa tungguin lanjutan nya di chapter berikutnya...see you
__ADS_1
(jangan lupa like, komen dan vote)