
Sambil berjalan menuju ke ruang operasi Dyana tadi, Alesya menelpon Monica. Alesya ingin meminta Monica untuk datang ke rumah sakit ini. Tapi dalam hatinya dia tidak akan mengatakan pada Monica alasan mengapa dia meminta Monica untuk datang.
"Ya Alesya?" terdengar suara Monica begitu telpon itu tersambung.
"kau sedang dimana Monica?" Tanya Alesya to the poin.
"Aku baru saja sampai di rumah. Memang nya ada apa kau bertanya aku ada dimana malam-malam begini." ujar Monica sambil melihat jam tangannya dan hari sudah menunjukkan pukul hampir dua belas malam.
"Heemm . Monica, saat ini aku sedang berada di rumah sakit XX, bisa kah kau tidak masuk kerja besok pagi hingga lusa? Aku sangat membutuhkan mu di sini." Ujar Alesya.
"kau kenapa Alesya? Apa kau sakit!!! jawab aku Alesya!" Ujar Monica yang langsung panik mendengar permintaan Alesya barusan.
"berjanji lah kau tidak akan memberikan tahu ayah atau siapapun." Ucap Alesya sengaja agar Monica tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kalau saja Monica tahu dia diminta datang untuk merawat Mai. Otomatis Monica tidak akan bersedia dan langsung menolak permintaan Alesya.
"aku akan berangkat sekarang ke rumah sakit itu." Tegas Monica yang tidak bisa menunggu sampai besok. Dia benar-benar khawatir kalau hal yang bukan- bukan terjadi pada Alesya.
"tidak perlu! Aku baik-baik saja sekarang." tekan Alesya, sengaja memilih kalimat yang benar-benar menggambarkan kondisi dirinya saat ini sehingga dia tidak dalam konteks berbohong pada Monica.
"cepat katakan pada ku Alesya! apa yang sebenarnya sedang terjadi! kau membuat ku risau!!!!" Gerutu Monica yang benar-benar sudah tidak tahan untuk langsung berangkat ke rumah sakit itu.
"Kau akan segera tahu besok setelah kau sampai disini. Jangan lupa membawa baju ganti mu. Paling tidak untuk sampai tiga hari." Ujar Alesya pada Monica.
"Kau membuat ku tidak bisa tidur Al!!"
"Tapi kau harus tidur malam ini. Karena tugas mu akan berat. Sebab kau akan menjaga orang sakit." Jawab Alesya.
__ADS_1
"Maka nya kau katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi." paksa Monica.
"Aku tidak bis bicara panjang lebar saat ini. kau membuat nafas ku jadi berat." Alesya pun pura-pura sesak nafas.
"Baik!! Baik!! Kau istirahat lah sekarang. Aki akan datang ke sana besok pagi." akhirnya Monica menyerah untuk memaksa Alesya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tunggu kedatangan mu besok pagi. Aku akan mengirimkan nomor kamar agar kau tidak tersesat." Alesya pin menutup panggilan itu sambil tersenyum puas. Satu rencananya berhasil. Alesya pun mempercepat langkah kaki nya menuju ruang operasi nya Dyana.
Begitu Alesya sampai... para perawat baru saja keluar dari ruang operasi sambil mendorong brankar dorong pasien dimana terdapat Dyana di atasnya.
Alesya pun berlari dan mendekati para perawat itu."Aku keluarganya." Seru Alesya pada salah satu perawat."Bagaimana keadaan nya" Alesya Benar - benar sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan mengenai kondisi Dyana yang terlihat cukup parah itu. Selain lecet-lecet hampir di seluruh tubuh nya, terlihat juga tangan dan kaki Dyana yang di perban. Selain itu yang menjadi fokus Alesya saat itu adalah mata Dyana yang juga terbungkus perban." ya tuhan!! apa yang sebenarnya terjadi pada mu bibi!" seru Alesya dengan air mata yang jatuh ke dalam melihat kondisi Dyana yang benar-benar parah itu
"Dokter akan menjelaskan semuanya nanti pada anda nyonya setelah visit ke ruangan pasien nanti." Jawab perawat itu sambil mendorong brankar dorong pasien nya itu.
"kalau aku boleh tahu...kamar nomor berapa?" Alesya perlu tahu kamar tempat Dyana di rawat untuk mengabari ke Kenzo kalau Dyana sudah keluar dari ruang operasi dan Kenzo dapat segera untuk datang melihat kondisi Dyana.
Alesya pun mengambil ponselnya dan mengabari Kenzo via pesan kalau operasi Dyana sudah selesai. Dan saat ini para by perawat sedang memindahkan Dyana ke kamar perawatan.
Alesya bergegas mengikuti para perawat yang mendorong brankar dorong yang ada Dyana di atasnya itu.
Alesya sangat risau melihat mata Dyana yang terbungkus dengan perban itu. Hanya membayangkan kalau hak buru menimpa mata indah milik Dyana sudah membuat Alesya sangat terpukul. "kau pasti akan baik-baik saja bibi!!" Alesya tak henti- henti nya berdoa demi kesembuhan Dyana sepenjang perjalanan menuju kamar perawatan.
***
Di sebuah ruangan lain di rumah sakit, Kenzo dan Romano sedang menunggu pemeriksaan dokter pada Mai yang saat ini sedang dalam kondisi kritis.
__ADS_1
"Kenz! mengapa mereka sangat lama di dalam" Seru Romano putus asa.
"paman tenanglah.. Dokter sedang berusaha berbuat yang terbaik di dalam sana."Sebisa mungkin Kenzo mencoba untuk menenangkan Romano yang terlihat sangat cemas.
Hari ini benar - benar sangat berat untuk Romano. Pertama putri tirinya mengalami kecelakaan hingga harus di operasi berjam-jam lama nya. Belum kelar operasi putri tiri nya itu, tiba-tiba keadaan putri kandungnya drop pas di depan matanya dan kini harus masuk ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Kepala Romano benar-benar terasa ingin pecah menghadapi ini semua sendirian sementara istrinya masih dalam perjalanan dari Australia ke kota ini.
"duduklah dulu paman." Ajak Kenzo pada Romano.
Romano langsung menggeleng kan kepalanya Dia tidak akan bisa tenang sebelum dia tahu bagaimana kondisi putri nya saat ini.
Setelah cukup lama para dokter di dalam sana, para dokter itu pun keluar dari ruay ICU itu.
"siapa yang bernama Kenzo?" Seru Dokter itu begitu keluar dari ruangan ICU.
"Saya!" jawab Kenzo cepat meski dia heran mengapa dokter bisa tahu namanya.
"Bagaimana kondisi putri saya dokter?!" tanya Romano langsung menyerobot hak untuk bicara.
"Maaf, anda siapanya pasien?" Tanya dokter itu yang memang belum tahu yang mana-mana saja keluarga pasien yang baru saja dia tangani.
"Saya ayah pasien." Jawab Romano cepat. " bagaimana kondisi nya saat ini." ulang Romano bertanya sebab tadi dokter itu tidak memberikan nya jawaban apapun.
Dokter itu menghela nafas pelan. Dia yakin kalau benar laki-laki yang berdiri di hadapan nya ini adalah ayah dari si pasien, pasti laki-laki ini sudah tahu keadaan pasien sebenarnya.
"anda pasti sudah tahu bagaimana kondisi pasien kan? tapi mengapa dia bisa sampai dalam kondisi seperti ini!!" ujar dokter itu dengan nada yang sedikit jengkel, bagaimana bisa pihak keluarga membiarkan pasien dalam kondisi seperti ini. Bukankah seharusnya pasien ini saat ini harus mendapatkan perawatan rutin dan intensif. Tapi kalau melihat kondisi pasien barusan..sang dokter percaya seharian ini pasti tidak ada satu perawatan pun yang dilakukan pada diri pasien.. jangan kan perawatan, obat rutin yang biasa di konsumsi oleh pasien yang memiliki penyakit yang sama seperti ini pun pasti tidak diminum oleh pasien. Bagaimana bisa keluarga pasien melakukan hal seceroboh ini dalam menjaga pasien dengan kondisi sekarat seperti pasien ini.
__ADS_1
***bersambung...