
"Masuklah Kenz.."ujar Romano, lalu mundur sedikit ke belakang agar Kenzo dan Alesya dapat masuk ke kamarnya.
"apakabar paman?" sapa Kenzo yang sudah dari dulu terbiasa memanggil Romano paman dari pada Kakek walaupun sudah lama Romano menikah dengan neneknya. Hanya Kenzo memang sulit merubah kebiasaan itu.
"aku baik-baik saja Kenz."jawab Romano yang berjalan di belakang Kenzo dan Alesya.
"Apa wanita cantik ini adalah istri mu?" Romano berbelok ke mini bar di kamar nya itu dan mengambil beberapa gelas dan sebotol minuman.
"benar paman. Kenalkan ini Alesya paman." Kenzo pun langsung memperkenalkan istrinya pada Romano.
"wah kau cantik sekali nak. Pantas saja Kenzo jatuh cinta pada mu" Ujar Romano sambil meletakkan gelas-gelas dan botol minuman yang di ambilnya di mini bar tadi.
"terima kasih kek."Jawab Alesya dibarengi dengan sebuah senyuman yang sangat indah. Awalnya Alesya bingung mau memanggil apa pada Romano. Apakah dia harus memanggil paman seperti yang Kenzo lakukan? atau dia harus memanggil kakek?
Heemm... setelah Alesya pikir-pikir sebaiknya Alesya memanggil Romano dengan sebutan kakek saja. Hal ini karena Alesya memanggil Dyana dengan sebutan bibi. Dalam pikiran Alesya, bukankah Dyana adalah anak tirinya Romano, jadi biar tidak memusingkan nanti nya maka sebaiknya di panggil sesuai pangkat mereka dalam keluarga Kenzo saja.
Kalau Kenzo memanggil Romano dengan sebutan paman biarkan saja.Toh Kenzo juga tak jarang memanggil Dyana dengan nama nya saja ketimbang dengan sebutan bibi.
"Aku dengar kalian sudah mempunyai seorang putra Alesya? dimana dia?" tanya Romano berbasa basi, bertanya mengenai Skala.
"Kami tidak membawa Skala paman sebab dia sedang berada di rumah keluarga Alesya yang lainnya," Kenzo langsung menjawab pertanyaan itu mewakili Alesya. "benar paman. Ska sedang bersama keluarga ku."timpal Alesya cepat.
"Padahal aku sangat ingin bertemu dengan Kenzo kecil itu. Albert bercerita banyak mengenali Skala ketika aku menelepon nya kemaren" Romano masih belum dapat untuk berterus terang mengenai maksud nya mengundang Kenzo dan Alesya untuk datang menemui nya.Dia terus berbasa basi untuk menutupi tujuan utama nya.
__ADS_1
Cukup lama Romano mengajak Kenzo dan Alesya berputar-putar tentang banyak hal. Mereka juga sudah beberapa kali meminum minuman yang diberikan oleh Romano..
hingga akhirnya...
"Kenz..apakah Mai ada datang mengunjungi mu dan Alesya?" Romano mulai bisa untuk membuka pembicaraan mengenai maksud nya yang sebenarnya.
"akhirnya..."gumam Kenzo dalam hati.Meski tahu semua membicaraan tadi hanya sebatas pengantar menuju topik utama, dengan sabar Kenzo tetap mengikuti alur pembicaraan yang Romano ciptakan.
"Ya, dia memang datang ke rumah ku siang ini."Kenzo sengaja hanya menjawab sebatas hal yang Romano tanyakan. Dia tidak memberikan informasi lain seperti dia sudah tahu maksud kedatangan Mai atau pun dia sudah menyuruh Mai untuk pulang Ke Australia. Hal ini karena Kenzo ingin tahu apa yang sebenarnya Romano inginkan dari dirinya dan Alesya.
Romano menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perbincangan nya dengan Kenzo dan Alesya.
"Apakah Mai mengatakan sesuatu mengenai kedatangan ke rumah mu Kenz?" Tanya Romano lalu menatap dalam ke mata Kenzo yang duduk pas di depannya.
"Hanya saja apa Kenzo?" tanya Romano, cepat. Terlihat ada sedikit kepanikan di wajah Romano.
"Hanya saja aku tahu maksud Mai datang untuk menemui ku." Jawab Kenzo dengan tatapan dingin nya.
"Mai memang tidak bisa dan tidak biasa untuk menyembunyikan apa yang dia rasakan. Aku tidak tahu apakah itu sebuah kelebihan atau sebuah kekurangan. Mai bagai gelas bening yang transparan dimana setiap orang bisa melihat warna air di dalam nya dengan sangat jelas." imbuh Romano.
"Kalau memang kau sudah tahu maksud kedatangan Mai ke rumah mu maka aku tidak akan bertele-tele lagi Kenz. Maksud ke datangan ku awalnya ke kota ini adalah untuk mengawasi Mai dan meminta nya untuk pulang ke Australia. Seandainya Mai setuju untuk pulang bersama ku maka aku akan mengatakan pada Mai bahwa aku saat ini sedang berada di kota A. Tapi setelah aku menelepon Mai dan membujuk nya untuk pulang bersama ku, Mai menolak untuk pulang. Sebab dia ingin tetap bersama mu Kenz." Romano sungguh merasa tidak enak mengatakan itu pada Kenzo di depan Alesya.
Romano melihat sekilas pada Alesya untuk memastikan ekspresi istri dari cucu nya itu."Alesya maafkan atas kelancangan putri ku yang mencintai suami mu." ujar Romano blak-blakkan. "Aku tahu kau pasti sangat membenci putri yang tidak tahu diri itu yang berani-beraninya datang mengganggu ketentraman rumah tangga kalian. Jangan kan diri mu Alesya, tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang bisa menerima hal itu jika hal itu terjadi padanya." tutur Romano.
__ADS_1
Kenzo dan Alesya hanya diam mendengarkan semua perkataan Romano.
"Tapi.."Romano diam sesaat dan melihat Kenzo dan Alesya bergantian.
"Tapi apa paman?" Tanya Kenzo masih dengan tatapan dirinya.
"Tapi aku harap kalian bisa memberikan sedikit. saja ruang untuk Mai dalam kehidupan kalian." Romano mengepalkan kedua tangannya yang ada di bawah meja. Harga dirinya benar-benar telah ia buang ketika ia meminta hal tersebut pada Kenzo dan Alesya.
Alesya dan Kenzo saling lirik. Lalu Kenzo meraih tangan Alesya yang ada disebelah nya dan menggenggam tangan itu erat.
"Kalau ruang yang kau maksud kan Adah ruang sebagai sanak saudara maka kami akan menerima Mai dengan tangan terbuka. Toh posisi Mai di mata ku sama seperti posisi Dyana. Tentu saja aku dan Alesya tidak akan keberatan jika itu adalah hal yang paman minta." Kenzo berhenti sesaat dan melanjutkan kata-katanya.
"tapi kalau ruang yang paman maksud adalah ruang didalam hubungan ku dan Alesya..maka maaf paman, secara tegas aku katakan, aku tidak bisa membiarkan siapapun masuk diantara diri ku dan istri ku. Termasuk Mai." Jawab Kenzo dengan tegas.
Romano sebenarnya sangat paham dengan semua perkataan Kenzo. Hanya saja posisi nya kini terpaksa membuat dirinya berpihak pada putri nya yang keras kepala itu.
"Kenz.. Alesya.. aku mohon dengarkan aku terlebih dahulu. Seperti yang aku katakan pada mu di telpon sebelum kau datang kemari Kenz, apapun keputusan mu dan Alesya nantinya maka aku akan dengan ikhlas menerima nya."Romano diam sesaat lalu melanjutkan perkataannya,"aku hanya ingin kalian tahu kalau Mai saat ini sebenarnya sedang dalam masa -masa terakhir dalam hidupnya sebab ada sebuah kanker yang sudah stadium akhir yang bersarang di dalam dirinya" Romano menutup matanya. Dia takut air matanya turun tanpa ada instruksi lebih lanjut darinya.
Walaupun sedikit terkejut mendengar kan hal itu, tapi Kenzo tidak bergeming sedikitpun. Berbeda dengan Alesya yang sebenarnya sudah tahu tentang hal ini, hatinya kembali terenyuh dan menggenggam tangan Kenzo kuat.
***bersambung ..
lagi nungguin ya? sama!! otor juga lagi nungguin like,komen dan vote dari kamu-kamuh...
__ADS_1