Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 1 #Flash Back On (9 tahun lalu)# 5


__ADS_3

" Yang bibik tau, semenjak menikah dengan ibu mu, Tuan Ronald mencari kesenangan di luar rumah. Karena sikap ibu mu yang menjadi sulit untuk didekati.. Mungkin di sanalah dia dekat kembali dengan mantan tunangannya itu. Dan dari diary ibu mu, bibik tau kalau Agnes adalah anak kandung Tuan Ronald dan Nyonya Agnes. Itu lah yang membuat ibu mu shock dan terpaksa melahirkan mu secara prematur. Karena Nyonya Jenny, mengatakan bahwa diri nya hamil oleh Ronald. Bagai dipukul oleh palu yang sama di tempat yang sama. Sehingga ibu mu drop.


Alesya memeluk buku diary ibunya, "Ibu.. Alesya rindu." lirih Alesya.


Alesya menoleh ke Abibah, "Bik, jadi ayah Ronald bukanlah ayah kandung ku?" Tanya Alesya.


Abibah mengangguk. "Tapi bibik juga tidak tahu dimana keberadaan ayah kandung mu, nona." Abibah menatap Alesya. Dia benar-benar merasa kasian pada nona mudanya ini.


"Apa aku sebaiknya mencari ayah ku di kota Z?" Ujar Alesya, bersemangat.


"Sepertinya, itu bukan ide yang bagus." Lirih Abibah.


"Kenapa, bik?"


"Sewaktu mengetahui ibu mu sedang hamil 2 bulan, bibik segera berangkat ke kota Z untuk mencari si Tuan muda itu. Namun, di sana bibik tidak menemukan siapa pun dari keluarga itu. Mereka seperti lenyap di telan bumi.. Tidak ada yang tahu kemana mereka pergi."


Mata Alesya kembali meredup. Harapan untuk bertemu dengan sang ayah kandung pun lenyap dalam sekejap. Kini ia hanya bisa pasrah dengan kehidupan yang sedang dijalaninya.


"Nona muda, bersemangatlah!" Seru Abibah. Memegang pundak Alesya.


" Bik!" Panggil Alesya.


"Ya, ada apa nona?" Tanya sang pengasuh.


"Bagaimana dengan kakek dan nenek ku? Dimana dia? Kenapa dia tidak pernah mengunjungi ku?"


Abibah benar-benar tidak tahu harus berkata apa untuk menggambarkan nasib gadis malang ini. "Tuan dan nyonya besar sudah meninggal dunia, nona. Dia meninggal seminggu setelah kematian Nyonya Ameera. Demikian juga dengan Tuan besar Rahardian, kakek dari mendiang ibu mu." Jelasnya.


Saat ini, benar-benar sudah kehilangan semua harapannya. Tidak satu orang pun yang dapat dimintai tolong. "Sepertinya, takdir hidup ku memang sudah tidak dapat di rubah lagi, bik! Seperti yang bibik dengar sendiri, besok laki-laki tua bangka yang akan menjadi suami ku akan datang untuk melihat ku." Ucapnya, tak berdaya. "Sebentar lagi, neraka ku akan dimulai." Alesya menutup matanya, dan butiran-butiran air mata mulai berjatuhan di pipinya.


"Jangan menangis, nona!! Nona tidak boleh menangis! Bibik tidak akan membiarkan nona menikah dengan si tua bangka itu." Serunya.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan, bik! Pria yang mungkin saja adalah ayah ku, entah dimana ia berada saat ini. Sedangkan, kakek dan nenek ku... " Alesya tidak meneruskan Kata-kata.


"Masih ada bibik! Bibik akan mengusahakan agar nona bisa kabur dari rumah ini."


"Kabur dari rumah ini?" Ulang Alesya, terkejut mendengar ide dari Abibah.


"Iya!! Nona harus segera keluar dari neraka ini!" Ujar Abibah, pelan.


"Tapi kemana, bik? Aku tidak punya uang!" Ungkap Alesya, lirih.


Sesungguhnya, sudah lama Alesya ingin meninggalkan rumah ini. Tapi dia tidak memiliki siapapun diluar sana. Bagaimana dia bisa bertahan hidup jika harus keluar dari rumah ini. Uang sepeser pun dia tidak punya. Itu lah alasan mengapa doa masih bertahan di sana. Baginya, baik di rumah ataupun diluar rumah sama saja. Dia tetap tidak akan bisa bertahan.

__ADS_1


"Bibik punya simpanan non. Bibik akan memberikan kepada nona. Lalu ini!" Abibah menunjuk gelang milik ibu Alesya, "Non, bisa menjual ini untuk bertahan hidup."


"Tidak!!" Tolak Alesya, "Aku tidak bisa memakai uang bibik dan menjual peninggalan ibu ku!"


"Bibik dan ibu mu tidak memerlukan semua uang dan benda itu. Yang kami inginkan hanya kebahagiaan mu, non!" Abibah mencoba meyakinkan Alesya. "Pergilah nona muda. Hidup bahagia di luar sana. Lupakan semua kesedihan mu disini." Abibah memeluk Alesya. Dan menangis. "bibik sudah menganggap mu sebagai anak bibik sendiri. Bibik tidak akan sanggup melihat hidup mu hancur ditangan si tua bangka itu."


"Tapi bik!" Lirih Alesya.


"Tidak ada tapi-tapi. Bibik akan mencari celah agar nona bisa keluar dan pergi dari kota ini selamanya."


"Kalau begitu, bibik ikut dengan ku! Aku tidak mau bibik kenapa-napa karena membantu ku." Pinta Alesya.


"saya akan baik-baik saja, non!" Abibah tersenyum.


"sudahlah, Tidur lah, sudah malam. Jangan terlalu banyak berpikir."Pesan Abibah. Dan meninggalkan kamar nona muda nya itu.


Alesya pun memejamkan matanya. Dia berusaha untuk menenangkan pikiran nya setelah mengetahui rahasia besar dibalik semua penderitaan nya selama ini. Dia juga sudah membulatkan tekad nya untuk meninggalkan rumah ini.


*


" Kakak!" Terdengar seperti suara Agnes sedang memanggilnya.


"Kakaaak!!!Apa kau tidak mendengar ku?" Teriak Agnes, berdiri di samping ranjang Alesya.


" Kakak! Bangun!" Seru AAgnes sambil berteriak dan menarik selimut Alesya.


"Agnes! Apa yang kau lakukan di kamar ku?" Alesya terkejut, melihat Agnes ada di kamarnya. "Jadi suara tadi bukan mimpi?" Gumamnya dalam hati.


"Ibu meminta mu untuk segera bersiap-siap, dan turun sarapan bersama. Karena calon suami mu akan ikut turun sarapan bersama kita pagi ini." Jelas Agnes dan langsung keluar dari kamar. "Jangan lupa untuk memakai baju itu!" Tunjuk Agnes sebelum meninggalkan Alesya.


Alesya menatap gaun yang tergantung di balik pintu kamarnya. Sebuah gaun Biru selutut, tanpa lengan.


Alesya menghela nafasnya. "Ayo, Alesya!! Perlihatkan senyum mu" Ucapnya pada diri nya sendiri.


Alesya pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri nya. Lalu dia memakai gaun biru yang telah disiapkan untuk nya. Alesya, mengikat rambutnya dengan jepitan kecil. Dia tersenyum miris melihat diri nya di cermin! "Aku harus bisa berakting menerima perjodohan ini. Agar mereka tidak tahu niat ku untuk kabur dari rumah ini"


Selangkah demi selangkah, Alesya mendekati ruang makan. Semua anggota keluarga sudah berada di sana sepertinya. Dilihatnya satu persatu orang di meja makan tersebut. Hingga akhirnya, pandangan mata Alesya tertuju pada pria tua, yang menurut Alesya setidaknya hampir berumur 60 tahun. Kemudian dilihatnya lagi disekitar meja makan. Namun dia tidak menemukan pria lain selain pria tua itu. "Apakah mereka akan menjodohkan ku dengan pria tua ini? Dia bahkan lebih tua dari ayah Ronald!" Pikir Alesya, yang masih berdiri diam di pintu ruang makan itu.


"Apa yang kamu lakukan di sana Alesya?" Seru Jenny, "Lekaslah kemari. Jangan membuat calon suami mu, Tuan Puji sudah menunggu lama."Perintah Jenny.


Alesya berjalan mendekat, dan duduk di samping Agnes. " Kakak, lihatlah! Itu Tuan Puji. Dia adalah saudagar yang sangat kaya raya, dia seorang investor yang terkenal di kota ini. Kau sangat beruntung dapat menjadi istri ke empat nya." Jelas Agnes, dengan wajah bahagianya.


"Kalau memang beruntung, kenapa tidak kau saja yang menikah dengan nya. Dengan begitu, ketika dia mati kau bisa langsung mendapatkan warisan yang melimpah ruah!" Batin Alesya.

__ADS_1


"Alesya, cepat ambilkan nasi goreng untuk Tuan Puji." Perintah sang ibu tiri.


Alesya bagaikan seekor kerbau yang sudah ditusuk hidungnya, hanya dapat menuruti perintah sang ibu tiri. Diambilnya sebuah piring kosong, lalu dimasukan nya dua sendok nasi goreng ke dalam piring tersebut. Kemudian dia berjalan ke arah si kakek tua yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Ketika Alesya akan meletakan nasi goreng tersebut, tiba-tiba si kakek menyentuh tangan Alesya. Kontan Alesya terkejut, dan menjatuhkan piring yang belum mendarat dengan sempurna di atas meja itu.


"Alesya!!!" Bentak sang ayah. "Apa yang kamu lakukan?" Ronald melotot ke arah Alesya.


"A-aku, a-aku tidak... "


Ucapan Alesya segera dipotong oleh Tuan Puji. " Tidak apa-apa, Tuan Ronald. Mungkin calon istri ku ini grogi saat berada di dekat ku. " Ujarnya, sambil tertawa.


Alesya hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan si tua bangka ini.


"Cepat, ambilkan sarapan yang baru!" Perintah sang ayah.


"Baik, ayah." Jawab Alesya, dan kembali menyiapkan sarapan untuk di kakek tua. Kali ini Alesya sangat berhati-hati. Dia tidak ingin kejadian tadi terulang lagi, sehingga ketika si tua bangka menyentuh tangannya yang sedang meletakkan piring di atas meja, Alesya hanya diam dan menarik pelan tangannya ketika piring itu telah mendarat sempurna di meja. "Silahkan dimakan Tuan!" Ujarnya, pelan.


"Ternyata, kamu sangat cantik Alesya!" Seru si tua bangka, dan menahan tangan Alesya.


Alesya menarik tangannya dengan keras. Dia merasa jijik tangan nya di pegang lama oleh buaya jompo itu. "Maaf, saya harus kembali ke kursi saya dan sarapan Tuan."


Alesya pun akhirnya dapat melepaskan tangannya dari genggaman sang buaya jompo. Dia kembali ke meja nya. Dan memakan sarapannya dengan lahap.. Alesya sengaja menulikan telinga nya, dari segala perbincangan pernikahan antara diri nya dan si buaya jompo.


"Baiklah, Tuan Puji. Kalau anda setuju dengan mas kawin yang kami minta, maka pernikahan ini akan segera kita laksanakan." Jelas Ronald. Dia benar-benar akan menjual Alesya pada si tua bangka. Mas kawin yang sangat besar adalah bukti dari transaksi pernikahan ini.


"Sama sekali bukan masalah, Tuan Ronald. Untuk gadis secantik putri anda, tiga kali lipat dari mas kawin yang anda dan istri anda ajukan tadi, saya tetap akan berikan." Ujar si buaya jompo, dan melihat penuh ***** pada Alesya.


"Hahaha... saya senang mendengarnya, Tuan Puji." Ronal tertawa puas, dapat mengusir Alesya sekaligus dapat mengeruk harta yang banyak dari si tua bangka.


"Baiklah, kalau begitu, dua hari lagi. Saya akan membawa Alesya keluar untuk mencoba gaun pengantin nya. Sekaligus membeli cincin pernikahan kami." Kata Puji, sambil melihat ke arah Alesya.


Alesya hanya bisa tersenyum kecut, mendengar semua bualan tua bangka ini.


"Walaupun ini adalah pernikahan ke empat ku, namun ini tetap pernikahan pertama Alesya. Aku tidak ingin dia tidak memiliki kenangan dalam balutan busana pengantin yang indah."


"Anda sungguh pengertian, Tuan Puji. Alesya sangat beruntung memiliki suami seperti anda." Timpal Jenny.


"Baiklah, aku pamit dulu. Dan terima kasih untuk sarapan yang nikmat ini, Tuan Ronald. Dan tolong jaga calon istri ku." Tuan Puji bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah Alesya. "Ini untuk mu, aku harap kamu memakainya ketika kita berjumpa dua hari lagi." Tuan Puji memberikan sebuah kotak kayu yang cukup besar. Alesya membuka kotak tersebut. Alesya kaget melihat isinya. Ada sebuah kalung, gelang, anting dan cincin berlian di dalam kotak itu.


"Itu semua berlian asli, cantik. hahaha!" Ujar Tuan Puji, sambil tertawa puas melihat ekspresi keterkejutan di wajah Alesya mengetahui kalau yang dia pegang adalah berlian asli.


"Baik, Tuan." Jawab Alesya, pelan. Dalam hati Alesya merasakan seperti dapat durian runtuh, karena dia tidak perlu lagi menggunakan uang pengasuh nya ataupun menjual gelang peninggalan ibunya. Sebab,dia baru saja mendapatkan tiket kebebasannya.


***bersambung

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan vote ya.. 😌


__ADS_2