
Tenang lah! Dia pasti selamat!" Kenzo mengecup kepala Alesya dengan lembut.
"Kau pasti bisa melawati semua ini putra ku!" Batin Kenzo.
Dari kejauhan Kenzo melihat perawat mulai mendorong tempat tidur Skala keluar dari ruang operasi.
"Alesya!!" Kejut Kenzo pada Alesya yang masih terkulai lemas di bahu nya.
Alesya yang melihat Skala mulai dibawa keluar dari ruang operasi, secara tidak sadar menarik tangan Kenzo untuk menyusul Skala.
Kenzo dan Alesya segera mengikuti perawat-perawat tersebut menuju ruang ICU karena kondisi Skala yang masih kritis.
Jack dan Sebastian pun dengan setia mengikuti mereka dari belakang.
###
Malam itu terasa sangat panjang bagi Kenzo dan Alesya. Setiap saat doa selalu mereka panjatkan memohon kesadaran bocah tampan itu.
"Tuan.. ini." Jack menyerahkan dua kotak makanan dan dua botol minuman pada tuannya.
Jack dapat melihat dengan jelas tidak hanya raut kelelahan tapi juga kekhawatiran di wajah tuannya.
"Seumur hidup aku bekerja dengannya, belum pernah aku melihat nya seperti ini tuan. Bahkan penampilan mu jauh kau yang biasanya.Batin Jack, melihat penampilan Kenzo yang aut-autan seperti itu.
Kenzo menggeleng lemah. Nafsu makannya benar-benar hilang. Saat ini pikirannya hanya terpusat pada keadaan Skala.
"Ambil lah tuan. Bangunkan
nyonya Alesya untuk makan bersama dengan mu." ucap Jack. "Kau dan nyonya Alesya sudah melewatkan makan siang dan makan malam kalian. Saat ini sudah hampir pukul sebelas malam." Bujuk Jack.
Kenzo menoleh pada Alesya yang tertidur sambil bersandar di bahu nya.
"Kau letakkan saja di sana Jack. Kalau Alesya bangun aku akan menyuruh nya untuk makan." Ujar Kenzo pelan.
Saking cemasnya dengan keadaan Skala, Kenzo sampai lupa kalau Alesya belum makan dari tadi.
Tapi untuk saat ini dia tidak tega untuk membangunkan Alesya yang sangat kelelahan itu.
Kenzo sadar kalau tubuh besar mungkin sanggup untuk menahan rasa lapar seharian ini tapi tubuh kecil dan mungil Alesya pasti tidak akan sanggup.
"Maafkan aku Alesya. Aku membuat putra kita terluka." Gumam Kenzo, kesal pada dirinya sendiri.
Seandainya saja Kenzo tidak pergi menyelamatkan Skala seorang diri dan menerima saran Jack untuk mengerahkan orang-orang mereka, pasti saat ini Skala tidak perlu mengalami hal buruk ini. Kenzo sungguh menyesal. Ini adalah keputusan pertama dalam hidup Kenzo yang ia sesali.
"Ini semua salah ku!!" Sesal Kenzo dalam hati.
Tak sesaat pun Kenzo memejamkan matanya. Ia takut kalau-kalau Skala sadar dan memerlukan sesuatu.
Sebenarnya mudah saja bagi Kenzo untuk meminta pelayanan khusus untuk memantau Skala, tapi perasaannya sebagai seorang ayah tidak membiarkan nya untuk berjauhan dari putranya itu.
Dia ingin dia lah yang pertama kali Skala lihat ketika Skala sadar.
Jadi walaupun Skala adalah pasien VVIP di rumah sakit itu, Kenzo tetap ingin dia yang menjaga Skala.
Sejam, dua jam dan berjam-jam pun telah berlalu. Tapi Skala tidak juga kunjung sadar.
Dokter dan perawat pun sudah berkali-kali datang untuk melihat perkembangan nya.
"Kenz!!" Seru Alesya, pelan. Dia baru terbangun dari tidurnya.
"Apa aku ketiduran?" Tanya Alesya.
"Kau kelelahan Alesya." Ujar Kenzo." Tidurlah lagi Alesya. Aku ada di sini untuk menjaga Skala."
Alesya menggeleng. "Tidak.Aku sudah tidak mengantuk." Alesya memperhatikan Kenzo dengan seksama. "Pria ini pasti belum pulang sama sekali." Batin Alesya.
"Kau saja yang beristirahat Kenz. Kau pasti terjaga sepanjang malam ini." Alesya melihat jam tangannya. Dan hari sudah menunjukkan pukul 4 subuh.
"Apa kau lapar?" Tanya Kenzo pada Alesya sambil mengambil kotak makanan dan sebotol minuman yang diberikan oleh Jack.
"Heem... makan ini seperti nya sudah tidak layak lagi untuk dimakan." Ujar Kenzo setelah membuka kotak itu.
"Aku akan meminta Jack untuk membawakan makanan yang baru." Kenzo ingin mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Jack.
Dengan cepat Alesya menahan tangan Kenzo. "tidak.Aku tidak lapar." Ucap Alesya.
"Tapi kau belum ada makan sama sekali Alesya. Kau bisa sakit." kekhawatiran terlihat di wajah pria tampan itu. "tubuh mungil mu itu tidak akan sanggup untuk bertahan lebih lama kalau kau tidak memakan apapun."
Alesya tetap menggeleng. "Sungguh, aku tidak lapar Kenzo." Ujarnya lalu berdiri dan mengintip Skala dari kaca besar yang ada di hadapan mereka.
Saat ini Kenzo dan Alesya berada di sebuah lamar ICU untuk pasien naratama. Ruangan itu sengaja di rancang untuk memungkinkan keluarga pasien berada satu ruangan dengan pasien tapi dipisahkan oleh sebuah dinding kaca.
"Apa dia sudah melewati masa kritisnya?" Tanya Alesya, sedih melihat kondisi putranya.
"Tenang lah. Sebentar lagi dia pasti melewati masa kritisnya dan sadar kembali." Kenzo menguatkan Alesya.
__ADS_1
"Ya.. aku percaya itu." Ucap Alesya sambil menghapus air mata yang kembali keluar dari mata cantiknya.
"Kau pasti juga belum makan kan Kenz?"Alesya lupa kalau Kenzo pasti juga belum makan seperti dirinya.
" Alesya... -" Kenzo ingin meminta maaf pada Alesya karena telah membuat Skala terluka.
"Kenz!! Skala..! Skala sadar!!" Seru Alesya sambil menarik tangan Kenzo.
Kenzo yang tadinya ingin mengatakan sesuatu jadi teralihkan karena mendengar Skala sudah sadar.
Kenzo melihat sekilas pada putra lalu berlari keluar kamar untuk memanggil perawat yang berjaga di luar kamar.
"Putra ku!! Putra ku sudah sadar!!" Ujar Kenzo.
Salah seorang perawat langsung masuk ke dalam kamar itu sedangkan yang satunya lagi langsung pergi untuk memanggil dokter.
"Bas!!! Bas!! Bangun?! Tuan muda sudah sadar. " Seru Jack sambil menggoyang-goyang bahu Sebastian yang sedang tertidur.
"kau ini tidur atau mati sih!!" Ujar Jack kesal, dan meninggalkan Sebastian begitu saja.
"Lebih baik aku ke dalam." Jack pun masuk ke ruangan Skala.
"Tuan!!!" Panggil Jack, pelan.
Kenzo menghampiri Jack, "Tunggu di sini sampai dokter datang. Aku perlu bicara dengan Jack sebentar." Ucap Kenzo pada Alesya.
Alesya mengangguk dan kembali berfokus melihat Putranya.
###
Saat Kenzo dan Alesya sedang penuh doa untuk keselamatan putra mereka, Agnez juga sedang berdoa agar penikahannya dan tuan Puji di batalkan.
"Kenapa lagi Agnez!!!" Seru Jenny ketika melihat Agnez melempar ponselnya ke dinding.
"Pria tua itu!! Ucap nya kesal, "Pria tua itu baru saja menelpon ku dan menghina ku bu!!!!" Sambung Agnez penuh amarah.
"Apa yang ia katakan pada mu!!" Jenny mengambil ponsel Agnez yang tergeletak di lantai.
"Dia mengatakan bahwa aku seharus nya bersyukur dia bersedia menikahi ku. Sebab kalau ada yang tahu aku sudah tidak lagi per*wan maka tidak akan ada satu pria pun dari keluarga terpandang yang mau menikahi ku!!!"
"Apa??? Jadi kau sudah tidak-" Jenny terkejut mendengar putrinya sudah kehilangan keperaw*nannya sebelum kejadian itu.
"kenapa kau begitu bodoh Agnez!!!!" Jenny menampar wajah putri kesayangan nya itu.
"Kalau ayah mu sampai tahu hal ini, dia tidak hanya akan membunuh mu. Tapi dia juga akan mencincang-cincang ku karena terlalu memanjakan mu!!!" Jenny sungguh merasa kecewa mengetahui hal ini.
"Laki-laki itu Aditya bu! Asisten nya Frans!!" Jawab Agnez pasrah.
"Aditya???!! Laki-laki dari kelas rendahan itu!!!! Kau sungguh bodoh Agnez! Kau sungguh bodoh!!!! Dimana kau taruh otak mu!!" Jenny mendorong keras tubuh Agnez ke tempat tidur.
"Habis sudah nasib mu Agnez! Aku lebih baik menikahkan mu dengan si tua bangka Puji dari pada harus menikahkan mu dengan pria miskin seperti Aditya." Seru Jenny, kesal.
"Aku tidak ingin menikahi satu pun dari mereka ibu! Aku hanya ingin menikah dengan Kenzo!!" Jerit Agnez.
"Aku dan Aditya, itu hanya kesalahan !! Tidak lebih! Saat itu aku mabuk dan mengira Aditya adalah Frans. Itu semua terjadi sebelum aku mengenal Kenzo. Saat itu yang ada dipikiran ku adalah bagaimana aku bisa membuat Frans terikat pada ku dan berhenti memikirkan Alesya. Aku sungguh tidak tahu saat itu Frans sengaja seakan-akan ikut dalam permainan ku dan menyuruh Aditya menggantikan nya." Jelas Agnez panjang lebar.
"Sampai kapan otak mu baru akan bekerja dengan benar Agnez!!! Apa aku pernah menyuruh mu untuk melakukan itu!!!" Ujar Jenny Emosi.
"Aku hanya ingin memiliki Frans saat itu bu!!" Rintih Agnez.
"Ini semua terjadi karena Alesya sialan itu! Dulu dia memikat Frans dengan kepolosannya, sekarang dia sudah mengikat Kenzo dengan anaknya." Kebencian terpancar di mata Agnez. "Aku membenci mu Alesya!! Aku membenci mu!!! Gara-gara kau hidup ku berantakan seperti ini!!!" Teriak Agnez tidak jelas.
"Benar!! ini semua karena putri Ameera itu. Seharusnya aku bunuh saja di sewaktu kecil." Gumam Jenny geram.
"Bu.. apakah sudah ada kabar dari para pembunuh bayaran itu?" Agnez tiba-tiba teringat dengan kedua pembunuh bayaran yang di sewa Jenny untuk menghabisi nyawa Skala.
"Seharusnya mereka sudah menghabisi nyawa anak sialan itu" Jawab Jenny sambil melihat jam nya.
"Lagi pula aku tidak melihat Kenzo ataupun Alesya sewaktu makan malam tadi. Seperti nya mereka sedang mencari keberadaan putra nya tapi tidak ingin mengabarkan kita atau siapapun supaya tidak membuat suasana panik." Jenny tersenyum, senang membayangkan Alesya tengah panik mencari putranya.
"Aku tidak sabar untuk mendengar kehisterisan Alesya ketika mendapatkan potongan tubuh anaknya.
Kehaluan mereka akan kematian Skala dan penderitaan Alesya membuat mereka sesaat lupa akan permasalahan mereka dengan tuan Puji.
###
Kembali ke rumah sakit, Kenzo dan Jack berbicara serius di ujung koridor rumah sakit.
" Jack, aku lupa untuk meminta mu membereskan sampah di gudang tua itu." Ucap Kenzo dengan penuh kebencian.
"Kau tenang saja tuan. Aku sudah menyuruh orang-orang kita untuk membersihkan tempat itu tepat setelah kau menelpon baru setelah itu aku membawa nyonya Alesya kemari." Jelas Jack.
"Apa kau sudah tahu siapa yang berani mengusik ku?" Tanya Kenzo dengan tatapan dinginnya.
"Maaf tuan, sampai saat ini kami belum menemukan informasi apapun tentang hal itu. Orang-orang kita pun bahkan sudah mengecek ponsel milik kedua orang itu tapi hasil nya nihil. Tidak ada pesan atau history chat yang mengarah pada perintah penculikan dan pembunuhan tuan muda." Jelas Jack.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Agnez dan Jenny? Apa ada yang mencurigakan dari mereka?" Tanya Kenzo.
"Sejak kehebohan dengan para wartawan nona Agnez dan Nyonya Jenny mengunci diri di kamar nyonya Agnez. Sebenarnya kami ingin menyadap pembicaraan mereka seperti yang kami lakukan ketika nona Agnez dan nyonya Jenny rencanakan rencana jahat mereka malam itu." Jelas Jack, mengingat Rencana Agnez dan nyonya Jenny yang ingin menjebak tuan dan nyonya Alesya tapi malah berakhir jadi senjata makan tuan bagi mereka.
"tapi sayangnya disebelah kamar nona Agnez saat itu ditempati oleh tuan Puji dan sebelahnya lagi tamu resort lain tuan sehingga kami tidak bisa menyadap kamar tersebut." Lanjut Jack.
"Terus selidiki kedua pembunuh bayaran itu. Cek juga aliran dana yang masuk ke rekening mereka. Aku yakin kalau benar mereka diperintahkan oleh seseorang untuk membunuh Skala maka mereka pasti menerima pembayaran atas pekerjaan yang mereka lakukan."
"Baik tuan, akan ku minta orang untuk menyelidiki hal tersebut."
"Kau boleh pulang Jack. Ajak juga Sebastian untuk pulang. Dan bereskan semua barang ku, Alesya dan Skala yang ada di resort. Kalau tuan Ronald ataupun keluarga nya bertanya tentang kami maka katakan aku ada urusan mendadak sehingga tidak sempat untuk berpamitan pada mereka."Perintah Kenzo.
" Baik tuan." Ujar Jack.
"Oh iya Jack, minta pelayan mengantarkan pakaian untuk ku dan Alesya. Dan jangan sampai ada yang tahu kalau aku dan Alesya ada di rumah sakit ini untuk menjaga Skala. Serta berita penculikan Skala ini jangan sampai ditelinga siapapun termasuk ke telinga kakek ku. Saat ini aku terlalu sibuk untuk mendengar amarahnya karena tidak bisa menjaga cicitnya dengan baik." Ucap Kenzo.
"Baik tuan. Tapi sebaiknya tuan mengabari tuan besar kalau tuan tidak jadi datang ke rumah nya. Karena kalau tidak aku yakin dia akan kembali mengunjungi tian seperti saat itu." Jack mengingat kan Kenzo.
"Kau benar Jack. Aku akan mengirimi nya pesan lewat sekretaris nya nanti." Jawab Kenzo.
"Baiklah kalau begitu tuan."
Jack pun pergi dari hadapan Kenzo.
Jack mendekati Sebastian yang tertidur seperti kerbau di kursi itu. "Kau ini dokter atau tidak sih!! Bergadang sebentar saja tidak bisa di harapkan." Gumam Jack sambil menyenggol kaki Sebastian dengan keras.
"Bas!! Bangun!!! Eh Sebastian bangun!!" Seru Jack masih sambil. menyenggol kaki Sebastian.
"Kau sungguh menyusahkan ku Sebastian." Ujar Jack, kesal.
Jack lalu meraba saku baju Sebastian untuk mencari ponsel milik Sebastian.
Jack tersenyum jahil ketika mendapatkan ponsel itu.
"Kalau suara ku tidak bisa membangunkan mu maka suara ponsel ini pasti dapat membangunkan mu!" Jack mengatur dering ponsel Sebastian ke volum yang paling keras. Lalu dia meletakan ponsel itu pas di telinga Sebastian yang sedang tertidur. Kemudian Jack menekan nomor Sebastian dari ponselnya.
Sebastian yang mendengar suara lantang ponselnya seketika itu juga kembali ke alam sadarnya. Ponsel Sebastian sampai terjatuh saking terkejutnya ia mendengar suara ponsel yang super duper keras itu.
"aaaah.. Siala*n kau Jack!!" Umpatnya kesal setelah seluruh nyawanya terkumpul.
"Siapa suruh kau tidur bagai kerbau! Dokter macam apa kau! Bisa-bisa nya kau tertidur di saat seperti ini." Jelas Jack, kesal.
"Apa putra Kenzo sudah sadar?" Tanya Sebastian.
"Sudah! Dia sudah sadar bahkan sudah pergi mendaki gunung ketika kau terlelap di alam mimpi mu!!!" Seru Jack, kesal.
"Kau!!" Seru Sebastian kesal karena ulah Jack yang kekanak-kanakan. "Aku ini bukannya sengaja untuk tertidur Jack. Sudah beberapa hari ini aku ada operasi hingga larut malam. Jadinya ketika tidak melakukan apapun seperti tadi aku jadi tertidur." Bela Sebastian.
"Apa peduli ku!!" Ujar Jack, asal. Membuat Sebastian ingin menampol nya.
"Kau ingin pulang dengan ku atau pulang sendirian?" Tanya Jack karena ia tahu kalau Sebastian datang bersama tim medis nya menggunakan pesawat pribadi Kenzo ke kota C. Dan dia sudah mengirim tim medisnya dengan pesawat pribadi Kenzo pulang ke kota B.
"Apa kau akan pulang? Bagaimana dengan Kenzo? Apa dia tidak akan membawa Skala ke rumah sakit ku?" tanya Sebastian.
Sebenarnya Sebastian sedari tadi menunggu Skala sadar karena mengira Kenzo akan memindahkan Skala ke rumah sakitnya di Kota B.
"Tidak.Tuan Kenzo ingin semua ini dirahasiakan dari siapapun." Dia tidak ingin ada yang tahu tentang hal ini. Termasuk tuan besar. Jadi pastikan mulut mu itu tidak berkicau." Tegas Jack. Dan meninggalkan Sebastian.
"Jack! Tunggu! Aku belum mengatakan pada Kenzo kalau aku akan pulang bersama mu!!" Teriak Sebastian.
"Tidak perlu! Karena tuan Kenzo juga tidak akan peduli akan hal itu." Ujar Jack, santai.
Sebastian yang sadar bahwa ucapan Jack itu benar, akhirnya mengikuti Jack. "Aku akan mengirimi pesan saja nanti." Pikir Sebastian dan mengikuti Jack keluar dari rumah sakit.
####
Hai zeyeng.. maaf ya otor lambat up hari ini..tapi sebisa mungkin otor akan up setiap hari.
Jadi buat kamu-kamu yang bertanya-tanya kapan otor akan up.. bersabar saja ya zeyeng.. karena otor pasti akan up setiap harinya.
Dan jangan lupa untuk like dan komen ya zeyeng...
Kalau kamu ingin memberikan vote... sumpaaah otor kagak akan nolak bahkan otor akan lebih semangat dalam berkarya..
#Terima kasih untuk selalu meninggalkan jejak mu di setiap bab.. otor jadi merasa tidak sendiri disini... #eaaaak... #otor lebeeey...
Anyway, sambil nunggu otor up... kamu bisa intip karya otor yang lain.. yang gak kalah serunya dengan karya otor yang ini..
Nih otor rekomendasi kan buat kamu ya zeyeng...
#Bukan Betty La fea
#Help me, Mr. Ceo
__ADS_1