
"Frans.. sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hati mu. Kau itu sangat tampan dan sangat baik...Kau bisa mendapatkan seorang wanita yang lebih baik dari ku" ujar Dyana tanpa menjawab pertanyaan Frans.
"terima masih sudah menjaga hati mu dengan tidak menjawab pertanyaan ku tadi." tatap Frans sambil tersenyum.
"Jadi?" tanya Dyana dengan tatapan penuh harap.
"Jadi? Jadi apa?" Ulang Frans mengikuti perkataan Dyana.
Wajah Dyana jadi cemberut sebab Frans yabg masih saja tarik ulur permasalahan ini dengan nya.
Dyana dengar kan pertanyaan ku baik-baik dan jawab dengan jujur. Karena jika kau tidak menjawab semua pertanyaan ini dengan jujur maka aku tidak akan menyerah pada diri mu." tekan Frans sambil menyentuh tangan Dyana.
Dyana hanya diam. Mata nya melihat lurus pada Frans, menanti pertanyaan yang akan Frans tanyakan.
Frans menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
__ADS_1
"Apa kau mencintai Marcus?" tanya Frans dengan sorot mata selidik.
Dyana mengangguk tapi tidak mengatakan apapun.
"Aku tidak mendengar Jawaban mu Dyana." Goda Frans disituasi yang canggung itu.
Dyana melihat Frans sekilas. "Apa dia bersungguh-sungguh ingin mendengarkan aku mengatakan bahwa aku mencintai Marcus?" batin Dyana. Dyana sungguh takut harus menyakiti Frans lebih dari ini.
" Jangan menatap ku dengan iba seperti itu Dyana, itu lebih menyakitkan dari pada mendengarkan pernyataan cinta mu untuk Marcus. Lagi pula aku sudah menyiapkan hati ku untuk ini." Frans kembali meyakinkan Dyana. Hal ini sengaja Frans lakukan agar dirinya yakin Dyana tidak salah mengartikan kedekatan emosional dengan Marcus sebagai rasa cinta. Bisa saja selama ini yang dikira oleh Dyana cinta hanya lah sebuah kekaguman belaka. Atau karena mereka telah terbiasa bersama. Untuk itu agar Frans yakin tidak ada yang akan disesalkan dikemudian hari lebih baik dia biarkan hatinya babak belur hari ini"
"Benar...aku mencintai nya." jawab Dyana dan menatap ke dalam mata Frans. Seakan-akan mencari tahu apa yang dirasakan oleh pria yang duduk dihadapan nya ini setelah mendengarkan nya mengatakan mencintai pria lain.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang ini Frans... karena hati ku tidak punya mulut untuk berbicara. Hati hanya bisa merasakan dan mengirimkan kode-kode acak yang berisi perasan cinta, nyaman dan aman kepada otak hingga otak mendefinisikan nya sebagai sebuah perasaan cinta." jawab Dyana.
"Kalau kau menunggu aku mengatakan penyebab aku jatuh cinta pada nya karena dia tampan, kaya, baik hati dan seratus list kebaikan dan kekaguman lainnya maka, maka aku katakan aku tidak miliki itu semua. Semua itu hati yang menggerakkan Frans. Dan hati juga yang mengarahkan." Jelas Dyana.
__ADS_1
"Dan sayang nya hati mu tidak bergerak ke arah ku." Celetuk Frans asal. Tapi sayang nya berhasil membuat Dyana benar-benar merasa bersalah.
"pertanyaan terakhir. . agar semua serpihan hati ku bisa ku makam kan hari ini." ujar Frans.
"Frans please! jangan berkata begitu." Ucap Dyana sedih.
Dan Frans pun hanya menanggapi nya dengan senyuman.
"Apakah dia mencintai mu?" kali ini Frans benar-benar menatap lekat ke manik mata Dyana. Sebab pertanyaan inilah pertanyaan pamungkas Frans.
Kalau Dyana menjawab tidak tahu maka Frans tidak akan dengan mudah menyerahkan Dyana pada Marcus hingga Frans tahu apakah Marcus benar-benar mencintai Dyana.
Frans tidak ingin Dyana terluka karena hidup dengan mengandalkan cinta nya semata Nantinya. Jika memang Marcus tidak mencintai Dyana, lebih baik Dyana hidup bersama Frans meskipun Frans lah yang harus hidup dalam cinta yang tak terbalaskan.
**bersambung.
__ADS_1
πππ
*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.