
"Sudah lah Nania, aku rasa pembicaraan ini sudah cukup. Tidak perlu kita perpanjang lagi. Frans sudah menyiapkan semuanya. Besok Frans dan Dyana akan menikah." Tukas Mary.
"Aku antar kau ke kamar Dyana." Ujar Mary tanpa menunggu jawaban yang diberikan oleh Nania.
Nania hanya bisa melihat Mary yang pergi sambil mendorong kursi roda Dyana.
"Frans... " Seru Nania pada putranya.
"Aku menyukai Dyana. Dan aku juga tahu kau mencintai gadis itu. Tapi tidak kah kau mempertimbangkan keputusan mu ini lagi nak? Ini sebuah keputusan yang besar. Andai ibu tahu Dyana telah mencintai laki-laki lain, ibu tidak akan mengatur perjodohan mu dengan nya." Nania menatap tajam ke dalam mata putra nya itu.
Frans tidak mengatakan apapun pada Nania. Frans takut salah jawab dan mengakibatkan rencana yang telah dia, Kenzo, Alesya dan Marcus susun berantakan.
"Heem.. kau ini Frans, ditanya malah diam saja. " Cicit Nania.
"ibu... sudah malam. Besok kita harus pagi-pagi untuk pergi ke hotel yang telah aku persiapkan. Sebaiknya aku antar ibu ke kamar untuk beristirahat." Ujar Frans.
"Bagaimana cara nya agar aku dapat membuka mata putra ku ini bahwa apa yang akan dilakukan mungkin saja akan berakhir buruk" Pikir Nania.
"Kau mau mengantarkan ibu? Heem... kalau begitu baik lah." Jawab Nania yang saat ini telah memiliki sebuah ide di dalam kepalanya.
Singkat cerita Frans pun mengantarkan Nania ke kamarnya di lantai atas. Frans sangat mencintai sang ibu. Sebagai sosok seorang istri dan sosok seorang istri, Nania begitu sempurna di mata Frans.
Saat ayah Frans masih hidup, sang ibu selalu dengan telaten melayani segala keperluan sang ayah. Frans dapat melihat sorot mata penuh cinta dari ayah nya pada sang ibu.
Tapi laki-laki mana yang tidak akan jatuh cinta pada wanita yang berparas cantik, lemah lembut, penuh kasih sayang dan penyabar seperti ibunya itu.
__ADS_1
“Frans, masuklah dan tutup pintu kamar ku.” Pinta Nania pada sang putra.
Frans pun menutup pintu kamar itu pelan lalu mendatangi ibunya yang sedang mengambil sesuatu dari dalam lemari baju nya.
“Frans, apakah kau menyayangi ku?” Tanya Nania dengan sangat hati-hati sebab apa yang akan di katakan nya berikutnya ini adalah hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan.
“Tentu saja bu!” Ujar Frans, sambil meraih tangan ibu nya untuk duduk bersama nya di tepian tempat tidur yang besar itu.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan ku bu?” tanya Frans. Frans melihat raut wajah ibu nya sedikit berbeda dari yang tadi.
“Frans, kau sudah besar. Bahkan besok pagi kau sudah akan menikah. Aku rasa tidak ada saat yang lebih tepat dari pada ini untuk memberitahu mu tentang sesuatu hal yang telah lama aku sembunyikan dari mu. Tapi aku harap setelah kau mendengarkan semuanya, kau tidak membenci diri ku dan tetap menyayangi ku.” Ujar Nania dengan wajah teduhnya.
“Apa ini ada kaitannya denga status ku yang merupakan anak angkat keluarga ini bu?” Tebak Frans yang sangat mengagetkan Nania. Dia tidak tahu kalau putranya sudah mengetahui hal ini.
“Bagaimana kau bisa mengetahui hal ini Frans?” Seru Nania sambil menutuo mulutnya.
“Saat itu dokter menemui ku untuk menanyakan gologan darah ku sebab ayah memerlukan banyak darah untuk operasi kala itu. Aku yakin saat itu dokter pasti juga datang ke ibu dan menanyakan hal serupa hanya saja sangat kecil kemungkinan darah ibu sama dengan darah ayah.” Lanjut Frans bercerita.
“Benar, mereka memang mendatangi ku dan menanyai ku tentang golongan darah ku. Tapi sayangnya golongan darah ku tidak sama dengan golongan darah Juan.” Ujar Nania, dia masih ingat bagaimana kelamnya hidup nya terasa, saat detik-detik terakhir Juan akan pergi meninggalkannya.
“Ya, bu aku tahu itu, sebab dokter sudah memberitahukan bahwa darah ibu tidak lah cocok dengan darah ayah, sebab golongan darah kalian berbeda. Itu lah mengapa dokter berharap aku lah yang dapat menjadi pendonoh untuk ayah.”
“Tentu saja aku dengan suka rela akan memberikan darah ku. Aku tidak akan keberatan bahkan jika mereka mengambil semua darah yang ada di tubuh ku asal kan itu dapat menyelamatkan nyawa ayah malam itu.”
“Tapi setelah melakukan pengecekan darah, ternyata darah ku tidak lah cocok dengan darah ayah.” Tukas Frans dengan wajah yang sedih.
__ADS_1
“Aku pun sangat terkejut karena nya bagaimana bisa darah ku tidak cocok dengan darah ayah. Aku ini kan putra ayah, aku berkata seperti itu pada diri ku sendiri. Hingga seorang dokter datang dan berkata pada ku.” Frans diam sesaat lalau menunduk untuk menarik nafas.
“Maaf tuan Aksena, apakah ada putra kandung dari tuan Juan yang sudah datang? Kami membutuhkan darah dari putra kandung nya tuan.” Ulang Frans sama persis seperti yang dikatakan oleh dokter di ruang pemeriksaan malam itu.
“Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh dokter itu bu.. berkali-kali aku mencoba memahami bahasa nya, aku tetap tidak paham. Putra kandung.. putra kandung, aku terus mengulan kata itu berkali-kali hingga aku sampai pada satu kesimpulan, apakah aku adalah putra angkat ayah?” Frans terdiam dan memejamkan mata.
“Aku mencoba untuk tenang. Dalam pikiran ku saat itu, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan ayah, maka aku berkata pada dokter bahwa aku lah satu-satu nya putra ayah. Tidak ada putra lain dari Juan Aksena. Jika memang aku tidak bisa mendonorkan darah ku maka beritahu aku apa golongan darah ayah, aku akan mengerahkan seluruh anak buah ku untuk mencari darah dengan golongan itu atau kalau perlu orang dengan golongan darah itu pun akan akku bawa ke rumah sakit ini.” Ujar Frans yang perasaan jadi mengharu biru karena mengingat kembali kisah pilu nya di hari itu.
“Sejak itu lah bu, aku tahu kalau aku hanya lah putra angkat kalian.”
“Tapi mengapa kau tidak memberitahu ku Frans? Kenapa kau hanya diam?”Tanya Nania dengan tatapan ibanya.
“Bu, aku sungguh tidak peduli siapa orang tua biolgis ku! Karena bagi ku kau dan ayah lah satu-satu nya orang tua ku! Aku tidak butuh orang tua yang lain yang sudah jelas-jelas tidak menginginkan ku!” Tukas Frans, kuat.
“Frans, putra ku! Maafkan aku dan ayah mu yang telah menyembunyikan kebenaran ini dari mu sayang. Sungguh kamu tidak pernah bermaksud menutupi semua ini dari mu. Hanya saja kamu terlalu mencintai mu Frans!” Nania mengusap lembut kepala putra nya itu.
“terima kasih bu! Karena kau dan ayah telah membesarkan ku penuh kasih sayang selayaknya putra kalian sendiri. Aku tidak pernah menyesal kalian angkat sebagai putra kalian.” Ujar Frans, mencium tangan ibunya bergantian.
“Tidak Frans, Aku lah yang seharusnya berterima kasih pada mu. Kau adalah obat ku Frans. Kau tahu, alasan mu di bawa oleh Juan ke rumah ini adalah untuk menghilangkan duka ku. Karena kehadiran mu lah Frans, aku dapat hidup normal dan meninggalkan trauma ku. Kau yang membuat ku bisa tersenyum lagi. Tangis dan tingkah mu ketika di dalam gendongan ku lah yang telah membangkitkan semangat ku hidup Frans. Kalau tidak maka aku hanya raga tak berjiwa yang selalu menjadi beban bagi hidup Juan.” Tangis Nania pecah, sebab dia teringat bagaimana sulitnya hidupnya ketika dia harus meninggalkan si kembar.
“Bu.. hei! Tenang lah! Kenapa ibu jadi menangis seperti ini?” Tukas Frans sambil mencium kepala ibunya.
“Frans, aku mohon batalkan pernikahan mu dengan Dyana nak!” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulut Nania.
“Maksud ibu!” Tanya Frans yang tidak paham, apa kaitannya antara cerita sang ibu tadi yang tentang dirinya adalah anak angkat dengan pembatalan pernikahannya dengan Dyana.
__ADS_1
***bersambung