
Kenzo melangkah memasuki kamar itu. Lampu kamar itu tidak hidup seperti biasanya. Dan ya, kamar itu terasa terlalu sunyi. Jauh dari bayangan Kenzo yang mengira bahwa begitu ia memasuki kamar ia akan mendapati Alesya dengan isak tangisnya. Tapi ternyata ini tidak seperti yang ia bayangkan. Bahkan istrinya itu sepertinya sudah ada di atas tempat tidur.
Kenzo melangkah mendekat. Ingin memastikan Alesya benar-benar sudah tidur atau belum. Lampu tidur yang menyala di atas nakas cukup terang untuk membantu Kenzo melihat wajah istrinya itu.
“apa ini?” kenzo memperhatikan penutup mata Alesya. Kenzo hampir saja ingin menyentuh penutup mata itu untuk membukanya. Tapi hal itu tidak jadi dilakukannya. Dia takut kalau seandainya Alesya benar-benar tertidur maka ia akan membangun Alesya dan membuat Alesya kembali menangis.
Kenzo menarik nafas pelan dan meninggalkan Alesya. Dia ingin membersihkan wajahnya lalu mengganti baju tidur nya baru dia akan berbaring disamping istrinya itu.
Setelah Kenzo selesai mengganti pakaiannya, berlahan dia naik ke tempat tidur. Niat awalnya dia ingin langsung berbaring dan ikut merehatkan diri di samping Alesya yang sedang tertidur menurutnya. Namun mata Kenzo benar-benar belum merasa ngantuk.
Kenzo menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur itu. Dengan lembut dia menyentuh rambut istrinya.
“Andaikan aku bisa memutar waktu ke sembilan tahun yang lalu ketika aku bertemu menangkap mu di dalam mobil ku, aku pasti tidak akan dengan bodohnya mengantarkan mu ke stasiun kereta api kala itu.” Suara Kenzo terdengar sangat pelan. Dia takut Alesya jadi terbangun.
“tahukan kau Alesya, aku mencari mu bahkan sejak hari kau pergi.” Kenzo ingat begitu ia terbangun dia sudah tidak melihat lagi gadis yang menghabiskan malamnya bersama nya waktu itu.
“bak cinderella yang meninggalkan sebelah sepatunya, saat itu kau hanya meninggalkan ku sebuah petunjuk kecil tentang diri mu. Ya hanya sebuah petunjuk kecil. Tanda lahir berbentuk bintang yang ada di punggung mu. Apakah menurut mu kau tidak keterlaluan pada ku saat itu? Kau pergi begitu saja meninggalkan ku dengan hanya sebuah petunjuk kecil saja?” Kenzo tersenyum sambil mengingat bagaimana ia dan Jack selalu berusaha mencari seorang gadis dengan sebuah tanda lahir bintang di punggungnya.
“Aku tidak dapat mengingat wajah mu sebab malam itu aku di bawah pengaruh obat, dan lampu kamar juga tidak menyala seterang kamar ini jika aku hidupkan lampunya. Redup ya.. lampu kamar saat itu redup. Aku hanya tahu gadis itu memiliki tubuh yang indah dan sekilas wajah nya sangat cantik.”
“Aku memang bersalah pada mu sebab memanfaatkan mu saat itu. Tapi entah kau akan percaya atau tidak, itu juga adalah pertama kali nya dalam hidup ku. Bahkan semenjak malam itu aku tidak pernah menyentuh wanita lain sama sekali.” Kenzo menghembuskan nafasnya berat.
“Andaikan kau mendengarkan penjelasan ku, sedikit membuka hati mu untuk berdialog pada ku maka aku yakin aku bisa membuatmu percaya aku memiliki alasan ku sendiri mengapa aku memilih untuk merahasikan semua ini sayang.” Kini suara Kenzo terdengar bergetar. Dan air mata nya tanpa ia sadari jatuh dan mengenai pipi Alesya.
Alesya menyentuh air mata Kenzo yang jatuh ke pipi nya. Lalu membuka penutup mata yang ia kenakan.
“kau belum tidur?” tanya Kenzo panik. Dia takut Alesya masih terbawa emosi dan akan mengusirnya. “Apakah aku menganggu tidur mu? Aku-aku akan tidur di sofa.” Ujar Kenzo dan bergegas akan pindah.
Namun hal yang tidak terduga terjadi. Alesya menahan tangan Kenzo dan berkata, “Aku bersedia mendengarkan semua penjelasan mu pada ku.”
Kenzo terkejut mendengar Aleysa berkata demikian. Bagaimana Aleysa dapat menenangkan dirinya secepat ini. Dia benar-benar berbeda dari wanita lain kebanyakan.
“Terima kasih sayang.” Ujar Kenzo sambil hendak mencium kening Alesya. Namun dengan cepat Alesya menghindari Kenzo.
“Baiklah tidak masalah. Paling tidak dia sudah memberikan ku kesempatan untuk menjelaskan masalah ini.”Gumam Kenzo dalam hati memaklumi jika Alesya masih belum sepenuh menerima hal yang ia telah lakukan. Kenzo pernah mendengar kalau wanita itu mudah memaafkan tapi untuk melupakan akan menjadi hal yang berbeda.
Alesya pun merubah posisinya. Kini ia dan Kenzo sama-sama menyandar di kepala tempat tidur itu.
Kenzo melihat dalam wajah istrinya itu. Dia bersyukur Alesya mau bersikap dewasa seperti ini.
“Kejadian sembilan tahun yang lalu itu terjadi karena aku di jebak oleh paman ku Marcus.” Kenzo mulai bercerita. “Kau pasti sudah mengenal Marcus kan?”
“Marucs?” Seru Alesya dalam hati. “Apa kaitannya Marcus dengan semua hal ini?”
“Hal ini bermula ketika kedua orang tua ku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Saat itu aku masih berusia belasan tahun. Aku sangat hari ingat ketika aku dikabari bahwa ayah dan ibu ku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Saat itu aku sangat terpukul dan tidak mau menemui siapa pun kecuali paman ku Marcus. Marcus adalah adik angkat ayah ku sekaligus orang kepercayaan ayah. Aku menghormati nya sekaligus sangat mengaguminya. Dia benar-benar bagaikan ayah sekaligus abang bagi ku.”
“Tidak ada berubah sebenarnya saat itu. Ayah dan ibu meninggal. Aku terpukul. Semua orang mencoba menghibur ku. Hingga tanpa aku sengaja aku mendengarkan percakapan kakek ku, Marcus dan pihak kepolisian mengenai fakta kecelakaan yang telah merenggut nyawa kedua orang tua ku.”
“Kau tahu -, ternyata ada orang yang menyabotase mobil yang dibawa oleh ayah ku saat itu.” Kenzo tersenyum miris mengingat hari dimana saat ia bersembunyi di pojokan ruangan tamu itu hanya untuk dapat menguping pembicaraan antara kakeknya, pamannya dan pihak kepolisian.
“Namun kakek meminta polisi untuk menghentikan penyelidikan itu. Bukankah hal itu sangat aneh? Untuk apa kakek meminta polisi berhenti mengusut kasus kecelakaan yang telah menewaskan ayah dan ibu ku. Sementara paman ku Marcus terlihat sangat pucat. Dia diam. Tidak berkata apapun.”
“Saat itu sebenarnya aku ingin keluar dari tempat persembunyian ku. Ingin memarahi kakek ku. Kenapa dia harus menghentikan penyelidikan polisi. Tapi kaki ku bagai dipaku di tempat aku berdiri. Aku tidak bisa bergerak sama sekali.”
Alesya mendengarkan Kenzo bercerita dengan seksama.
Kenzo menarik nafas nya dalam dan menghembuskan nya lalu memulai kembali ceritanya.
“Tapi ternyata hal itu ada guna nya. Aku mendengar paman ku Marcus akhirnya menangis setelah polisi-polisi itu pergi. Dalam pikiran ku saat itu, untuk apa paman ku menangis? Apa dia juga sama dengan ku, merasa sedih dan marah karena tindak kakek yang tidak masuk akal?”
“Aku pun terus memperhatikan kakek ku yang sibuk menenangkan paman ku.”
“Dan kau tahu Alesya, apa yang aku dengar berikutnya?” Kenzo menatap Alesya yang ada disebelah nya sambil tersenyum namun senyuman itu malah mengundang rasa iba di hati orang yang melihatnya. Bukan senyuman yang biasa Kenzo perlihatkan kepada semua orang.
“Aku mendengarkan kakek ku berkata pada paman ku, tenanglah itu bukan kesalahan mu. Itu semua adalah takdir abang dan kakak ipar mu Marcus. Kau tidak perlu merasa bersalah karena hal itu.” Kenzo kembali tersenyum dan sungguh itu membuat Alesya mendadak merasa merinding.
“Akhinya ku beranikan diri keluar dari tempat persembunyian ku. Dengan kaki yan gemetar aku berjalan dan menghampiri kakek dan paman ku.”
Alesya sebenarnya ingin sekali bertanya ini dan itu pada pada Kenzo namun untuk saat ini dia menahan diri nya untuk tetap diam dan menyimak cerita Kenzo.
“kemudian aku bertanya pada kakek ku apa maksud perkataannya. Tapi baik kakek ataupun paman ku tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan ku. Mereka hanya diam. Lalu karena geram mengapa tidak ada yang menjawab pertanyaan ku maka aku pun memberanikan diri bertanya pada paman ku. Aku tanyakan pada paman ku apa maksud perkataan kakek barusan? Apakah paman ku yang menyebabkan ayah dan ibu ku meninggal?”
“Paman ku hanya diam dan tertunduk. Dia tidak menyangkal atau pun meng-iyakan hal itu. Tapi aku melihat dia mengepal kedua tangan nya yang kelihatan gemetar.”
“hati ku sedih dan marah disaat yang bersamaan. Hingga aku mengatakan-“ Kenzo menarik nafas sejenak. Bagaimana pun ini sulit bagi Kenzo untuk berbagi kenangan pahitnya dengan orang lain. Tapi karena ini adalah bagian dari kisah sembilan tahun yang lalu, mau tidak mau, Kenzo harus berkata jujur agar Alesya dapat benar-benar memahami seluk beluk kehidupannya mulai dari malam ini.
“Apakah benar kau pembunuh kedua orang tua ku? Aku bertanya begitu pada nya dan membuat kakek ku melayangkan sebuah tamparan ke wajah ku. Sejak itu hubungan ku dan kakek jadi retak. Dan hubungan ku dengan Marcus menjadi sangat buruk.” Tangan Kenzo mengepal dan bergetar ketika mengatakan kalimat itu. Entahlah, meski itu sudah terjadi belasan tahun bahkan hampir dua puluh tahun yang lalu, hati Kenzo masih terasa sakit.
Alesya sudah tidak dapat lagi menahan diri nya. Akhirnya dia menggenggam tangan Kenzo yang ada di samping tangan nya.
“Maaf kan aku yang telah membuat mu mengenang semua hal buruk itu.” Ujar Alesya yang akhirnya mengerti mengapa Kenzo tidak mengenalkan dirinya pada kakeknya atau pun pada Marcus.
Kenzo melihat Alesya dengan tersenyum dan berkata,”terima kasih kau sudah mau kembali Alesya ku. Alesya yang mengerti suka dan duka ku.”
Alesya hanya tersenyum. Sebenarnya dia masih kesal pada Kenzo tapi entah mengapa dia malah reflek menggenggam tangan pria itu.
“Dan peristiwa sembilan tahun yang lalu adalah ulah Marcus sebab aku dan Jack menyelidiki perusahan keluarga Dayson yang ada dibawah kepemimpinannya di Kota A. Dia memasukan sesuatu dalam minuman ku dan membuat ku kehilangan kesadaran.”
“Aku berjalan sempoyongan menuju kamar ku malam itu. Aku tahu ada yang salah pada diri ku. Aku merasa berbeda. Dan aku tahu ini pasti adalah ulahnya. Aku yakin pada saat itu dia ingin menjebak ku untuk melakukan hal buruk dan menyebarkan hal keluar. Aku melarang Jack untuk mencarikan dokter untuk ku. Aku juga memperingatkan Jack untuk tidak mencari kan wanita untuk ku karena aku tidak mau ternyata aku malah masuk semakin dalam ke dalam jebakannya.”
“Akhirnya malam itu aku memutuskan untuk merendam diri ku dalam air dingin. Tapi ketika aku membuka pakaian ku, aku melihat seorang gadis di atas tempat tidur. Dan hal itu pun terjadi Alesya.”
Alesya menghela nafas mendengar cerita Kenzo.
__ADS_1
“Ketika aku bangun di pagi hari nya aku sudah tidak melihat kau ada di kamar itu. Yang ada hanyalah pakaian mu yang sudah sobek dan berserakan di lantai. Dan ketika aku bangun aku melihat noda di atas tempat tidur itu.”Kenzo menarik nafas dalam lalu menghelanya berlahan. “Aku yang sadar kau bukan pasti bukan orang suruhan Marcus. Tidak mungkin untuk menjebak ku Marcus akan bersusah payah mencarikan seorang gadis perawan untuk ku. Aku langsung menyesali perbuatan ku malam itu-“
“tapi entah takdir sengaja mempermainkan kita, aku bertemu dengan mu tapi tidak bisa mengenali mu sebab tampilan mu tidak sama seperti malam itu. Kau tampil dengan gaya yang berbeda membuat ku tidak tahu bahwa kau adalah gadis itu. Aku bahkan membantu mu melarikan diri. Dan tanpa ku sadari aku mencari sosok yang telah ku antar pergi selama delapan tahun lebih.”
“Ketika kau hadir kembali dalam hidup ku setelah delapan tahun aku masih tidak tahu bahwa kau lah gadis di malam itu. Aku masih terus mencari sosok gadis di malam itu. Aku baru tahu kalau kau adalah dia ketika kau datang untuk menyelamatkan ku dari ulah Jenny dan Agnez. Sebab malam itu aku melihat tanda bintang itu pada mu. Aku langsung meminta Jack untuk melakukan tes DNA pada ku dan Skala. Untuk memastikan Skala apakah anak ku atau tidak.”
“Maaf bukan maksud ku untuk meragukan Skala, hanya saja kau pergi begitu saja bertahun -tahun, lalu dalam semalam aku tahu kau adalah gadis itu, jadi aku perlu memeriksa semua kemungkinan yang ada. Aku tidak tahu tentang kehidupan mu selama bertahun-tahun jauh dari ku. Sedangkan untuk bertanya pada mu, saat itu tidak mungkin Alesya.” Kenzo menatap Alesya.
“Tidak masuk akal bagi ku untuk bertanya blak-blak pada mu saat itu. Coba kau bayangkan, andaikan saat itu aku bertanya pada mu tentang kejadian malam itu. Kau bisa saja malu dan menampar ku. Atau bisa saja reaksi mu lebih dari itu. Bisa saja kau meninggalkan ku dan membawa Skala. Aku memperhitungkan semua itu Alesya. Aku takut kehilangan diri mu. Aku sudah jatuh cinta pada mu sejak lama Alesya. Jangan tanyakan kapan. Sebab aku sendiri tidak tahu kapan aku mulai mencinta mu.”
“Dan satu hal yang perlu kau ketahui Alesya, Skala sudah tahu kalau aku ayah kandung nya sejak ia berada di rumah kakek untuk memulihkan diri. Aku tidak ingin hal ini malah menjadi permasalahan baru untuk hubungan kita.” Ujar Kenzo.
“Apa? Bahkan Skala sudah tahu?” Seru Alesya tidak percaya.
“Ya, Skala sudah tahu semuanya.”
Alesya menarik tangannya dan melipatnya ke dada.”ternyata kalian berkomplot untuk membodohi ku.” Seru Alesya, kesal.
“Tidak!!! Tidak ada yang membodohi mu. Itu semua karena Skala nya saja yang terlalu pintar.” Jawab Kenzo.
“Jadi menurut mu aku bodoh? Begitu?” Alesya membelalakkan matanya.
“Aku tidak pernah berkata begitu sayang.” Kenzo mencoba menyakinkan maksud perkataannya pada sang istri.
“kau memang tidak berkata seperti itu secara langsung. Tapi makna nya sama saja.” Ujar Alesya, merajuk.
“Alesya, dengarkan aku. Apakah kau ingat saat Skala di rumah sakit dan kau bertanya mengenai siapa pendonor darah untuk Skala?” Tatap Kenzo tajam pada mata Alesya.
“Ingatkah kau waktu itu aku mengatakan bahwa aku adalah pendonor darah untuk Skala?” Ujar kenzo sekali lagi masih sambil menatap serius wajah istrinya.
“kau bahkan tidak memasukkan kedalam list orang yang pantas dicurigai sebagai ayah nya Skala saat itu, benar kan?” tanya Kenzo.
Alesya mengangguk pelan.
“Kenapa? Kenapa kau mengeluarkan aku dari daftar orang yang mungkin saja dapat menjadi ayah biologis Skala?”
“Karena kaku takut kau benar-benar adalah orang itu.” Jawab Alesya,pelan. “Aku takut bahwa kau adalah benar-benar laki-laki pada malam itu. Aku takut kau memandang rendah diri ku.” Lanjut Alesya.
“See.. Seee!! Kita masing-masing memiliki kekhawatiran dalam diri kita yang membuat kita memilih untuk tetap bungkam Alesya. Dan itu bukan karena maksud yang buruk. Sungguh, aku pun begitu. Jadi percaya lah pada ku sayang. Aku tidak pernah bermaksud menyimpan kebenaran ini selamanya dari mu. Aku sungguh ingin mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan segalanya.” Ujar Kenzo dan menggenggam kembali tangan Alesya.
“maaf kan aku jika karena segala kekhawatiran ku itu membuat ku terlambat untuk jujur pada diri mu dan membuat merasa aku terlalu egois untuk menyimpan semua rahasia ini, aku sungguh minta maaf.” Kenzo menarik Alesya ke dalam pelukannya. Dan Kenzo pun mendengar Alesya menangis dalam pelukan Kenzo.
“Kenz-“ Ujar Alesya terisak. “terima kasih telah jujur untuk segalanya pada ku Kenz.”
“aku juga minta maaf kalau aku tadi sangat marah pada mu.”lanjut Alesya.
“Tidak sayang. Aku sangat mengerti alasan kemarahan mu.”jawab Kenzo lega.
“benarkah?” tanya Alesya sambil menatap dalam mata Kenzo.
Kini satu beban dalam hati Alesya sudah terangkat. Tapi masih ada beban lain yang malah muncul dalam benak Alezya. Haruskah dia berkata jujur pada Kenzo tentang kondisi dirinya yang mungkin saja tidak dapat memberikan Kenzo keturunan lagi?
“Kenz-“
“ya, ada apa sayang?”
Alesya masih terus mempertimbangkan untuk memberitahu Kenzo atau tidak.
“Apakah kau menginginkan seorang adik untuk Skala?”Tanya Alesya ragu.
“Heem tentu saja. Tentu saja kita harus memberikan seorang adik untuk Skala. Aku sangat tahu bagaimana rasa kesepiannya seorang anak tunggal. Aku tidak ingin Skala merasakan hal yang sama.” Jawab Kenzo.
Alesya menarik nafas panjang. Kalau tadi Kenzo sudah jujur kepada nya untuk setiap seluk beluk kehidupannya maka Alesya merasa tidak adil jika ia tidak berkata jujur tentang keadaan diri nya. Seandainya karena hal ini Kenzo akan meninggalkannya maka akan lebih baik juga hal itu terjadi malam ini juga.
“Kenz-“ Seru Alesya.
“Heeem..”Jawab kenzo pelan.
“Aku-aku takut aku tidak bisa memberikan seorang anak lagi untuk mu.” Jawab Alesya dengan wajah tertunduk.
Kenzo langsung mengangkat dagu Alesya. Dan menatap mata istrinya itu. “Apa maksud perkataan mu sayang?” tanya Kenzo, hati-hati.
“Aku – aku di vonis akan sulit untuk mendapatkan keturunan lagi Kenz.” Ujar Alesya sambil memalingkan wajahnya.
“Alesya, jangan memalingkan wajah mu. Coba lihat aku dan ceritakan pada ku apa maksud perkataan mu.” Tanya Kenzo.
“Kenz-“ Alesya menghirup udara sebanyak yang ia bisa.
“Setelah aku melahirkan Skala, dokter mengatakan pada ku bahwa aku mungkin akan sulit untuk mendapatkan anak lagi. Aku mungkin tidak dapat memberikan mu seorang anak Kenz.” Air mata Alesya kini jatuh sebab ia merasa sangat tidak berguna sebagai seorang istri.
“Jadi hal ini yang membuat nya bersedih?” Ujar Kenzo dalam hati. Sebenarnya Kenzo sudah mengetahui kondisi kesehatan istrinya ketika Kenzo menyadap percakapan istrinya di restoran bersama teman-teman nya saat itu. Dan ketika pertama kali mengetahui hal ini, Kenzo pun sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi Alesya saat ini. Dia tidak tahu kalau itu menjadi beban tersendiri untuk Alesya.
“Alesya, dengarkan aku. Hei.. come on dengarkan aku.” Kenzo mengelap yang ada di pipi Alesya.
“Aku tidak pernah mempermasalahkan itu Alesya. Dan kau jangan khawatir, ada banyak dokter di luar sana, kita akan cari dokter yang dapat membantu kita. Jadi kau tidak perlu takut atau bersedih karena hal ini.” Ujar Kenzo.
“Kenz-“ Alesya memegang tangan Kenzo yang masih memegang pipinya itu. “Aku memang akan sangat sulit untuk mendapatkan anak lagi. Dan kalau kau ingin meninggalkan aku karena hal ini maka aku akan menerima keputusan mu Kenz.” Alesya mencoba berbesar hati untuk menerima keputusan Kenzo apabila Kenzo akhirnya akan meninggalkannya.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu Alesya. Dan tidak akan pernah berpikir seperti itu. Jadi kau tidak usah berpikiran yang bukan-bukan. Lagi pula kita sudah memiliki Skala. Kalau ke depannya kita memang tidak memiliki anak lagi, Skala pun sudah cukup bagi ku.” Jawab Kenzo panjang kali lebar.
“maafkan aku Kenz! Seandainya aku berhati-hati ketika aku mengandung Skala maka hal ini tidak perlu terjadi.” Sesal Alesya.
“No! Alesya please! Jangan katakan itu. Itu semua bukan salah mu sayang. Itu salah ku. Andaikan aku menjaga kalian dengan baik dan tidak pernah menelantarkan kalian maka hal buruk itu tidak akan menimpa mu dan Skala. Aku lah yang bersalah disini Alesya. Aku tidak ada di sisi mu di saat – saat tersulit dalam hidup mu.” Kenzo memeluk istrinya sekali lagi.
__ADS_1
“Jadi jangan pernah menyalahkan diri mu lagi sayang. Itu semua salah ku. Aku sebagai pria seharusnya tidak lamban dalam menemukan mu. Aku-“
Perkataan Kenzo terhenti, sebab Alesya mencium suaminya itu. Dia tidak tahan mendengar Kenzo terus menyalahkan dirinya sendiri atas kelalaian yang Alesya rasa adalah salah nya.
“jangan saling menyalahkan diri sendiri lagi. Aku berjanji aku bersedia ikut kemana pun kau membawa ku untuk berobat Kenz. Aku akan lakukan apapun agar Skala bisa mendapatkan seorang adik. Jadi mulai saat ini jangan lagi mengatakan ini adalah salah mu.” Ucap Alesya begitu dia melepaskan ciumannya dari Kenzo.
“kalau begitu kau pun harus berjanji kalau kau tidak akan menyalahkan diri mu sendiri atas kondisi ini sebab semakin kau menyalahkan diri mu maka aku akan makin merasa bersalah karena kelalaian ku pada mu. Aku tahu aku terlambat sembilan tahun untuk melakukan semua kewajiban ku, tapi sungguh aku ingin menebus semua hal itu seumur hidup ku.” Ujar Kenzo sambil meletakan kepala Alesya untuk bersandar di bahunya.
“Aku berjanji.”
“benarkah?” Tanya Kenzo sekedar untuk memastikan kembali hal yang didengarnya.
“Benar! Aku berjanji.” Jawab Alesya.
“Kalau begitu coba ulangi janji mu.” Seru Kenzo.
“Hah? Mengulangi janji ku?” Tanya Alesya bingung.
“Iya ulangi janji mu.” Ulang Kenzo sekali lagi.
“Eeehemm.. aku berjanji tidak akan menyalahkan lagi diri ku atas kondisi ku saat ini.” Ujar Alesya.
“Dan-” sambung Kenzo.
“Dan?? Dan Apa Kenz?” tanya Alesya tambah bingung.
“huft masa kau sudah lupa Alesya, bukankah tadi kau juga mengatakan satu janji lainnya?” Seru Kenzo, berlagak marah.
Alesya berpikir sejenak. Tapi karena terlalu banyak hal yang mereka bicarakan Aleysa lupa apa saja yang telah ia ucapkan.
Kenzo melihat ekpresi bingung di wajah Alesya. Dalam hati Kenzo tertawa melihat wajah bingung Alesya. “Lihatlah dia sangat pelupa.”Seru Kenzo dalam hati.
“secepat itu kah kau melupakannya Alesya?” tanya Kenzo.
“Heeem.. Kenz, maaf kan aku. Terlalu banyak hal yang kita ceritakan malam ini. Aku sungguh minta maaf karena aku tidak bisa mengingatnya.” Ujar Alesya, sambil masih memikirkan apa janji satunya lagi yang ia ucapkan.
“baiklah. Aku akan menolong mu untuk mengingatnya.” Ujar Kenzo.
kenzo menarik Alesya mendekat kearahnya lalu sengaja berbicara sambil berbisik di telinga Alesya.
“tadi kau juga berjanji bahwa kau bersedia untuk ikut kemana pun aku membawa mu untuk berobat agar kita dapat memberikan adik untuk Skala. Apakah ingat kau tadi juga mengatakan itu pada ku?” bisik Kenzo, yang entah mengapa membuat Alesya merasakan hawa-hawa bahaya akan menghampirinya.
“Tent-tentu saja aku ingat hal itu.” Ujar Alesya, gugup. Dia mulai merasakan Kenzo punya maksud tersembunyi di balik kata-kata nya itu.
“kalau begitu, bukankah sebelum kita pergi ke dokter untuk mengkonsultasikan permasalahan kita-“ Kenzo sengaja memenggal perkataannya ke dalam beberapa kalimat. “Kita harus memastikan benarkah itu ada masalah dengan hal itu.” Ujar Kenzo melanjutkan kalimatnya dan langsung membuat Alesya sadar bahwa dirinya saat ini benar-benar dalam bahaya.
“Kenz, sepertinya aku sudah mengantuk.” Elak Alesya cepat. “bagaimana kalau kita bicarakan hal ini besok pagi saja.” Jawab Alesya dan langsung ingin menyembunyikan diri nya di balik selimut.
Hanya saja sayangnya gerakan Alesya sudah terbaca oleh Kenzo dan tangan Kenzo pun lebih cepat dari gerakan Alesya sehingga saat ini Alesya malah jadi terkurung diantara kedua tangan Kenzo.
Alesya hanya bisa tersenyum sambil meringis. Bagaimana takdir benar-benar bisa memutar balikkan keadaan secepat ini. Yang tadi nya ia dan Kenzo hampir saja berpisah. Saling menangis. Saling berharu biru. Tapi dalam sekejap hasrat cinta kembali ada.
“Kenz-“ Seru Alesya.
“heem...” jawab Kenzo singkat.
“Sudah malam.”Ujar Alesya, sambil tersenyum kaku.
“Ya aku tahu sudah malam.” Jawab Kenzo masih sama singkatnya dengan sebelumnya.
“Sebaiknya untuk urusan ke dokter kita bicara kan besok pagi saja.” Ujar Alesya, yang sebenarnya sadar apapun yang ingin Kenzo lakukan saat ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan rencana mereka ke dokter.
“Ok.” Jawab Kenzo, masih sesingkat mungkin yang ia bisa.
“kalau begitu ayo kita tidur.” Ucap Alesya, sambil membujuk.
“Bukankan kita harus membuktikan sesuatu terlebih dahulu baru setelah itu kita bisa berkonsultasi dengan dokter, bukankah itu yang seharusnya kita lakukan nyonya Dayson?” Baiklah jawaban Kenzo yang satu ini rumayan panjang bahkan terlalu panjang dan sangat spesifik hingga membuat Alesya sudah langsung paham kemana arah pembicaraan ini.
“Aku rasa tidak perlu.” Jawab Alesya, masih coba mengelak.
“Aku rasa perlu.” Balas Kenzo.
“Aku rasa tidak perlu.” Jawaban yang diberikan Alesya masih sama.
“Aku rasa sangat perlu.” Kenzo semakin mendekat dan mendekat ke arah Alesya.
“Kenz, ini sudah sangat malam.” Ujar Alesya.
“ya aku tahu maka nya harus segera kita lakukan. Agar besok pagi kita bisa memastikan nya.” Jawab Kenzo asal.
Kenzo semakin mendekat.
“Hei tuan Dayson!” Seru Alesya, yang posisinya semakin terpojok kini wajah Kenzo pas berada di depan nya. Bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan.
Kenzo hanya tersenyum dan langsung mencium istrinya itu. Malam itu pun akhirnya berakhir indah tidak seperti yang biasanya terjadi di sinetron dimana hal kecil malah dibesarkan dan hal besar malah lebih diperluas wilayah jajahannya. Heheheh...
***
semoga dari cara Kenzo dan Alesya dalam memecahkan masalah rumit mereka, kita semua jadi ingat bahwa kemana arah pernikahan akan dibawa itu semua tergantung sebagai orang yang menjalankannya. Ingin berakhir? Ingin lanjut? Itu semua ada ditangan kita. Berikan kesempatan menjelaskan dan duduk lah dengan tenang untuk mendengarkan. Kadang rasa sakit itu memang tidak dapat kita hilangkan begitu saja. Rasa kesal. Rasa kecewa. Pasti akan datang mewarnai hari-hari kita. Tapi pernahkan para reader yang otor sayang ini menyesali telah menurutkan ego sesaat dan berkata,”coba tadi aku lebih sabar, pasti tidak akan seperti ini.”
Kadang kita memang perlu memasang alarm remind diri untuk mencegah kita mengambil keputusan-keputusan bodoh saat kita dalam keadaaan emosi baik itu sedih,kecewa ataupun marah.
Well,,ini belum tamat ya... hahahhaa.. masih ada lanjutannya. Emang nya si kakek bakalan nerima itu mereka baikan begitu saja? Tungguin lanjutannya ya..
__ADS_1
Dan jangan lupa untuk vote... biar karya otor bisa nangkring cantiik di beranda. Terima kasih.