
Ronald masih belum bisa memutuskan. Kedua hal ini sama-sama tidak menguntungkan baginya.
“bagaimana?” tanya Kenzo pada Ronald.
Alesya memperhatikan Ronald dan Kenzo bergantian. Sejujurnya Alesya juga terkejut dengan hal yang dilakukan oleh Kenzo. Ini benar-benar diluar ekspektasi nya. Dalam pikirannya hanya ada pilihan membantu dan tidak tapi di dalam pemikiran Kenzo malah sebaliknya, dia dapat menembak dua burung dalam satu kali tembakan. Menyelamatkan perusahaan dan mengembalikan perusahaan pada nya.
“ayah..” ujar Alesya, “aku rasa apa yang di tawarkan oleh Kenzo adalah solusi terbaik yang perusahaan kita miliki saat ini.” Terang Alesya.
Ronald melihat Alesya dengan tatapan tidak suka.
"tentu saja kau merasa hal ini adalah hal baik katena semua keuntungan akan beralih pada mu." gumam Ronald dalam hati.
"sudah saat nya kau mengembalikan apa yang kau curi dari keluarga ku Ronald Diningrat." Seru Alesya dalam hati.
Alesya sadar bahwa Ronald pasti tidak ingin perusahaan ini lepas dari genggaman nya.
Alesya mendekati Ronald dan berbisik. “ayah jangan khawatir, begitu saham milik ibu dan Agnez diberikan pada ku maka aku akan langsung menyerahkan saham-saham itu kembali pada ayah. Aku tidak membutuhkan semua itu. Kenzo sudah memiliki segala.” Alesya mencoba meyakinkan Ronald. Sedikit kebohongan harus ia lontarkan agar Ronald segera menyetujui persyaratan dari Kenzo.
Ronald menoleh pada Alesya, memperhatikan mimik wajah putri dari wanita yang ia cintai itu. “dapatkah aku mempercayai mu?” ujar Ronald pada Aleysa. Dari mata Ronald masih terpancar rasa tidak percaya pada Alesya.
“Kalau bukan aku, siapa lagi orang yang dapat ayah percaya.” Jawab Alesya sambil tersenyum
__ADS_1
.
“aku akan langsung mendepak mu dari perusahaan ini begitu kau menyerahkan semua saham itu pada ku.” Ujar Alesya dalam hati.
Kerena tidak ada pilihan lain, mau tidak mau akhirnya Ronald menerima persyaratan dari Kenzo.
Ronald langsung meminta Bram mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk memindahkan saham-saham yang tadinya diatas nama Jenny dan Agnez ke nama Aleysa.
“Bram kemari.” Ronald memanggil Ronald dan membisikkan sesuatu.
“baik tuan.” Jawab Bram dan langsung mengerjakan yang telah Ronald perintahkan.
Tidak perlu waktu lama, Bram pun kembali dengan sebuah dokumen di tangannya.
Kenzo yang mendengar pertanyaan dari Jack langsung menatap lurus pada Ronald seakan-akan meminta Ronald untuk menjawab pertanyaan itu.
“kau benar... kita akan membutuhkan tanda tangan Jenny tapi tidak dari Agnez sebab saham yang akan aku serahkan pada mu adalah saham milik Jenny dan milik ku bukan saham milik Agnez." terang Ronald.
"Aku tidak bisa menyerahkan saham milik Agnez sebab beberapa alasan. Dan salah satunya aku tidak tahu dimana keberadaan Agnez saat ini.” lanjut Ronald memandang Alesya dan Kenzo bergantian. Sebenarnya di tidak bisa memberikan saham milik Agnez karena dia sangat menyayangi Agnez. Bagaimanapun Agnez tetap putri kandung nya. Seburuk apapun Agnez, Ronald akan selalu ada untuk anak itu.
“jadi aku akan menyerahkan saham ku sebanyak saham yang Agnez miliki kepada Alesya.” Lanjut Ronald.
__ADS_1
"baiklah.Tidak masalah." jawab Kenzo.
Kenzo tidak perduli saham siapa yang akan diberikan kepada Alesya karena yang terpenting bagi Kenzo adalah total jumlah saham yang akan diterima oleh Alesya adalah 40%. Sehingga jika itu digabungkan dengan saham milik Kenzo maka akan cukup untuk mengambil perusahaan itu kembali.
“itu artinya saham milik Agnez masih tetap 15% sedangkan saham milik Ronald tinggal 10 dan 10% saham lain yang tersebar di pemegang saham yang lain,.” Not bad, pikir Kenzo.
“Lalu kalau begitu apa ibu akan setuju dengan hal ini ayah? Karena dia akan kehilangan semua sahamnya di perusahaan ini yang jumlah nya sama besarnya dengan saham milik Kenzo.” Alesya ingin memastikan kalau tidak akan ada masalah dengan Jenny tentang pengalihan saham ini.
“Dia tidak akan ada pilihan lain selain menyerahkan saham miliknya. Semua kekacauan ini bermula dari ketamakannya!!” Jawab Ronald dengan nada marah.
Ronald tahu kalau Jenny pasti akan sangat marah kalau tahu sahamnya dialihkan ke Alesya. Tapi kalau pun harus memaksa Jenny untuk tanda tangan akan Ronald lakukan. Bahkan kalau Jenny tidak mau tanda tangan kalau perlu Ronald akan memotong tangan Jenny untuk mendapatkan cap jarinya.
Bak pucuk dicinta ulam tiba, Jenny yang sedang dibicarakan masuk ke ruangan itu.
Jenny melemparkan pandangannya ke setiap orang yan ada di ruangan itu.
Dengan hati penuh kemarahan sebab merasa ini semua adalah framming yang sengaja Ronald ciptakan untuk menjatuhkannya serta mengusir nya keluar dari rumah itu, Jenny berusaha tetap menjaga ekspresi nya setenang mungkin.
“ibu..”Sapa Alesya, namun sayang diabaikan begitu saja oleh Jenny.
“Apa aku ketinggalan sesuatu?” Tanya Jenny tanpa berbasa basi dan langsung duduk bergabung dalam pertemuan tertutup itu.
__ADS_1
****bersambung
vote nya donk cinto...