
"bagaimana keadaan mu nyonya Munaf?" tanya Arya pada wanita paruh baya itu.
"Sudah lebih baik dok. Heemmm Dokter Aldo kemana ya dok?" Tanya wanita itu pada Arya.
"Dokter Aldo kebetulan sedang ada operasi hari ini. Dan dia tahu kalau kau sudah ingin pulang. Apa aku benar?"
"benar dok. . aku ingin pulang. Aku tidak sanggup jika harus berlama-lama di rumah sakit ini. Takut tidak sanggup bayar dok." Ujarnya sambil tertawa.
"hahaha.. baiklah nyonya. Aku sudah melihat rekam medis mu tadi. Kalau sudah boleh pulang hari ini." Ujar Arya pada wanita itu.
"terima kasih dok." jawan wanita yang bernama Munaf itu.
Setelah menyelesaikan amanat dari temannya Arya pun meninggalkan ruangan Pasien itu.
"Jemput aku sekarang. Aku akan memikirkan cara untuk dapat menyusup ke rumah itu." ...
****
"Apa rencana mu saat ini?" Tanya Reni pada Jenny.
"Dengan wajah baru ini, aku akan menyusup ke keluarga Alesya. Aku akan membalas semua perbuatan mereka pada ku." Seru Jenny.
"Tapi bagaimana cara nya kau akan masuk ke dalam keluarga itu. Mereka pasti tidak akan membiarkan sembarangan orang berada di sekitaran mereka." Tanya Reni yang merupakan sahabat setia Jenny.
"Aku rasa dengan wajah baru ini tidak akan ada masalah sama sekali. Apa kau sudah punya apa yang aku minta pada mu?" Jenny melihat Reni dengan sebuah senyum yang sangat samar.
__ADS_1
"Ini." Reni menyerahkan sebuah tas kecil berisi beberapa dokumen." Periksa lah." Ujar Reni yang masih fokus menyetir mobilnya.
Jenny menyisir berkas itu satu persatu. Mulai dari kartu identitas, kartu keluarga, kartu jaminan kesehatan, kartu izin mengemudi dan beberapa kartu lain dengan identitas yang sama Virania Munaf.
"aku tidak akan membiarkan semua penderitaan ku ini sia-sia. Aku sudah membiarkan wajah ku disayat demi mendapatkan identitas baru ini. Aku akan benar-benar memanfaatkan seperti yang aku rencanakan." Ujar jenny pada Reni. Reni bahkan bergidik ngeri mendengar ucapan Jenny barusan. Dia terbayang menyuruh anak buahnya untuk melakukan itu pada Jenny yang sedang dalam pengaruh obat bius. Tentu saja itu adalah permintaan Jenny sendiri. Tapi come on siapa sih di dunia ini yang bisa melakukan hal seperti itu pada diri nya sendiri
"Kau benar-benar gila Jenn" seru Reni.
"aku sebenarnya tidak akan berlaku segila itu andaikan dokter yang Thailand itu tidak menolak permintaan ku. Bagaimana mungkin aku mundur hanya karena hal ini. Sementara aku sudah merencanakannya dengan sangat matang. Lagi pula aku memang tidak bisa memakai wajah itu lagi. Polisi sudah meletakkan poster wajah ku di mana-mana. Sedangkan untuk melakukan operasi terang-terang di kota ini itu lebih beresiko. Bagaimana kalau si dokternya buka mulut dan membeberkan identitas ku? aku tidak bisa mengambil resiko seperti itu. Terlalu riskan." jelasnya pada Reni.
"tapi menyayat wajah mu demi ini semua... itu terlalu tidak masuk akal Jenny!" Seru Reni.
"Di dalam hidup ku kini sudah tidak ada hal yang dapat aku terima dengan akal pikiran ku. Hidup ku sudah terpojok saat ini Ren!! pilihannya hanya ada dua, aku mati atau mereka yang mati!" seru Jenny.
"Aku punya beberapa alasan mengapa aku memilih jalan yang berbelit-belit ini, pertama karena aku dulu sudah pernah menggunakan jasa kalian ketika ingin menyingkirkan anak nya Alesya, tapi apa? mereka malah di habisi oleh Kenzo Dayson." Ujar Jenny sambil melirik Reni dari ujung matanya.
"Kenzo Dayson bukan orang sembarangan yang dapat kau dan organisasi mu habisi Reni, Dan aku tidak mau menggunakan cara yang gagal itu sekali lagi." tukas Jenny.
"aku tidak terlalu menganggap hal itu sebagai hal besar waktu itu. Lagi pula, target kita waktu itu hanya lah seorang bocah kecil. Aku tidak menyangka ternyata ayah dari bocah itu adalah orang yang punya kuasa yang bernama Kenzo Dayson itu. Andaikan kau cerita kalau ayah dari bocah itu adalah Kenzo Dayson, aku pasti akan menurunkan orang-orang ku yang lebih berkompeten untuk hal ini." terang Reni.
"Sudah! lupakan saja, Bagi ku semua itu hasilnya pasti akan sama saja bila yang kita hadapi adalah Kenzo Dayson. KIta tidak bisa menggunakan serangan langsung dari dalam seperti itu." tegas Jenny.
"Dan ini juga berhubungan dengan alasan ku yang kedua, mengapa aku tidak memilih menggunakan taktik yang sama. Aku yakin menusuk dari dalam itu lebih efektif bila di bandingkan dengan berdiri tepat dengan membawa senjata di depan musuh mu." Jenny tersenyum smirk melihat wajahnya di spion mobil itu.
"tidakkah kau bertanya, wajah siapa yang aku tiru ini?"tanya Jenny sambil menyentuh pipi dan hidungnya yang masih terbungkus perban itu.
__ADS_1
"Entahlah.. aku tidak tahu." jawab Reni singkat.Bagaimana Reni bisa tahu wajah siapa itu jika wajah itu masih tertutupi oleh perban.
"Heh! ini adalah wajah Ameera.. ibu dari Alesya," Seru Jenny sambil tersenyum menakutkan.
Reni yang mendengar perkataan Jenny auto menghentikan mobilnya. Dia melihat Jenny dengan seksama.untuk memastikan temannya itu tidak sedang membodohi nya.
"kau serius Jenny?" Ujar Reni, yang terdengar sangat kaget.
"tentu saja. Kau dapat melihat maha karya ku ini nanti setelah perbannya aku buka. Kau akan sangat terkejut melihat Ameera hidup kembali, hahahaha." Seru Jenny sambil tertawa.
"Kau gila Jenny! bagaimana kau berani memakai wajah orang yang telah kau habisi?" Bulu roma Reni langsung berdiri. Kini dia terbayang, bagaimana dia dan Jenny membuat Ameera berlahan mati karena obat-obat yang mereka masukkan ke dalam suplemen kesehatan Ameera.Orang-orang di sekitar Ameera mengira tubuh kurus dan tidak bersemangat Ameera itu karena Ameera stress dan tertekan, tapi tidak ada yang menyangka kalau itu semua adalah ulah Jenny dan teman Jenny yang bernama Reni.
"Apa kau takut saat saat tahu aku merubah wajah ku seperti Ameera?" Ujar Jenny sambil tertawa persis seperti orang gila.
"Jangan tertawa Jenny!! kau membuat ku bertambah takut." Ujar Reni marah.
"Kau harus tahu, aku dan Ameera itu punya struktur wajah yang hampir sama, jadi tidak sulit untuk meyakinkan dokter bodoh itu bahwa wajah yang ada di foto di dalam liontin yang aku kenakan waktu itu adalah wajah ku.
Dan dengan menggunakan wajah ini aku akan lebih mudah untuk menyusup masuk ke dalam rumah Alesya. Tentu saja aku tidak akan dengan bodohnya mengatakan bahwa aku adalah Ameera, tapi aku tidak akan mengaku sebagai siapa-siapa. Aku akan membiarkan mereka bermain tebak-tebakan dengan logika mereka sendiri." jelas Jenny yang sudah merasa sangat mantap dengan rencana.
Jenny memang sudah kehilangan kewarasannya. Kebenciannya pada ALesya seakan-akan telah membutakan nya. Sekarang yang ada di dalam benak Jenny hanya bagaimana cara untuk menghancurkan ALesya. Bahkan meski harus memakai wajah dari seseorang yang telah dibunuhnya sekalipun.
***bersambung
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.
__ADS_1