
Alesya masuk ke dalam rumahnya, dan mata nya langsung membesar sempurna ketika melihat seluruh anggota keluarga ada di ruangan itu. Seakan-akan mereka memang sedang menanti kepulangan Alesya. Wajah Alesya menjadi pucat. Dilihatnya sang ayah yang menatapnya penuh kebencian.
"Dari mana kamu Alesya?" Tanya sang ayah dengan suara beratnya.
Alesya merasa seperti seorang maling yang tertangkap basah dalam melakukan aksinya, menjawab pertanyaan ayahnya dengan gugup, "A-aku dari rumah teman ku ayah!" Jawabnya, dan menelan Saliva nya karena takut kebohongan nya ketahuan oleh sang ayah.
"Kakak, kemana kakak semalam? Aku terus mencari kakak di seluruh ruangan pesta! Dan kenapa baju kakak sudah tidak sama dengan baju yang kakak kenakan tadi malam! Kakak nginap di rumah siapa? Bukankah kakak tidak memiliki teman akrab dari dulu?" Agnes terus mengajukan sederetan pertanyaan kepada Alesya dengan tatapan innocent nya.
Alesya menatap adik yang disayangi nya itu. Dia bingung dengan sikap Agnes. Karena setiap perkataan yang keluar dari mulut Agnes bukan membuat keadaan Alesya membaik, malah membuat Alesya semakin terpojok.
"kenapa Agnes malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu pada diriku? Bukankah Agnes lah yang seharusnya paling tau, apa yang sebenarnya terjadi semalam." pikirnya dalam hati.
"Alesya!!! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan adik mu!" Kini sang ayah kembali membentaknya itu.
"Sayang, sabar. Kamu jangan emosi seperti itu. Nanti kamu bisa sakit, sayang!" Terdengar suara sang ibu tiri nya yang seperti nya sedang berusaha menenangkan amarah sang ayah.
"Alesya sayang," ujar Jenny dengan tatap penuh kasih sayang ke putri tirinya itu, "Kemana kamu pergi semalam? Kenapa kamu berani pergi ke pesta malam tahun baru? Bukan kah kamu tahu, kalau ayah mu tidak suka kalau kamu pergi pesta atau semacamnya? Dan untuk apa kamu mengajak Agnes ke pesta itu, kalau akhirnya kamu malah meninggalkan Agnes sendirian di sana?"Jenny tersenyum memandang Alesya, namun senyumnya kali ini berbeda. Bukan senyum teduh seorang ibu yang menyayangi anak tapi senyuman jahat serigala yang akan melahap habis mangsanya.
Deg..!
"Apa ini tuhan?! " Batin Alesya. "Kenapa ibu berkata seperti itu?" Mata Alesya membulat, seakan ingin copot, mendengar semua bualan ibu tirinya.
"Kakak.. kenapa kakak meninggalkan ku sendirian di pesta itu? Untung aku bertemu kak Frans, dia akhirnya mengantar ku pulang? Kalau kakak ada janji dengan teman, seharusnya kakak tidak usah mengajak ku tadi malam untuk keluar." Ucap Agnes, berpura-pura kecewa Alesya meninggalkannya.
"Agnes, aku...!!" Baru saja Alesya ingin membela dirinya, sang ibu tiri langsung memotong pembicaraannya.
__ADS_1
"Alesya, apa kamu tahu, Agnes menangis ketika pulang tadi malam. Dia takut kamu kenapa-napa!"
"Ibu... Aku...!!!" Kembali omongan Alesya harus terpotong namun kali ini oleh arah sang ayah. "Kamu sungguh anak yang tidak tahu diuntung Alesya!!!" Cepat katakan, kemana kamu semalam!! Jangan buat malu keluarga Alesya Diningrat!!!!" Suara ayah mengaum keras di dalam ruangan itu membuat hati Alesya menjadi sangat ciut. Apa yang mesti dikatakannya, Apakah ayah akan percaya kalau dia dijebak sehingga menghabiskan malam dengan pria tak dikenal? Dan Apakah ayah akan percaya kalau bukan dia yang mengajak Agnes ke pesta, melainkan dialah yang diajak oleh Agnes ke pesta? Alesya memejamkan matanya, dengan hati yang bergemuruh dan air mata yang sudah mulai tergenang di matanya, dia mulai bersuara.
"Ayah, maaf. Semalam aku berkenalan dengan seorang teman. Dia hanya seorang pendatang yang kebetulan menginap di hotel tempat pesta itu diadakan. Karena asik mengobrol dengan dia dan anaknya tak terasa hari sudah subuh. Pas aku keluar dari kamarnya, pesta telah usai dan aku tidak bertemu dengan Agnes." Jelasnya pada sang ayah.Dia terpaksa mengarang sebuah cerita lain. Alesya yakin percuma sama berterus terang tentang hal yang terjadi pada ayahnya. Toh ayah nya tidak akan percaya. Dan lebih buruknya, mungkin saja Alesya akan dihukum berat oleh sang ayah. Jadi biar lah dia menutupi semua ini dengan cerita karangannya sendiri.
"Agnes, aku minta maaf karena semalam aku melupakan mu. Aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi." Ungkap Alesya, sambil menggenggam kedua tangannya. Menahan rasa kecewa yang tidak terkira. Alesya kini mulai menyadari siapa sebenarnya saudari yang ia sangat sayangi itu.
"Ibu, aku juga minta maaf karena telah membawa Agnes keluar tanpa izin ayah!" ujar Alesya, dengan hati yang sakit karena harus mengakui hal yang tidak dia lakukan.
"Apa kamu pikir, dengan meminta maaf seperti itu, semua kesalahan yang kamu lakukan akan sirna!" Seru ayah Alesya, dengan nada yang masih sama kesalnya dengan sebelumnya.
"Sayang... sudah. Kita maafkan saja Alesya! Ini semua terjadi karena aku tidak bisa mendidik putri kita dengan baik. Sehingga tingkahnya menjadi liar seperti ini!!" Jenny menangis dengan penuh penghayatan.
"Sayang.. mungkin sebaiknya Alesya segera kita nikahkan saja, agar dia lebih memiliki rasa tanggung jawab." Seru sang ibu tiba-tiba, dan tersenyum licik melihat Alesya.
"Mungkin kau benar! Segera atur pernikahannya." Ucap sang ayah, lalu berdiri meninggalkan ruangan tersebut.
Anggota keluarga yang lain pun ikut meninggalkan ruangan tersebut.
Kini hanya tinggal Alesya yang berdiri membatu mendengar perintah pernikahan dari sang ayah, dan Ibu serta adik tirinya yang sedang tersenyum bahagia melihat kehancuran hidup Alesya.
Agnes berjalan mendekati Alesya yang mematung, lalu berbisik pelan di telinga Alesya."Bagaimana malam pertama mu tadi malam kak?
"Deg... !!" Mata Alesya membulat, jantungnya bagaikan mau copot mendengar kalimat yang dibisikkan oleh adik yang selama ini disayangi dan percayainya. Alesya menoleh ke Agnes, ia bisa melihat jelas ada sebuah senyum bahagia di wajah Agnes!
__ADS_1
"Kalau malam pertama mu telah kau berikan pada laki-laki di hotel itu maka apa yang akan kau berikan pada calon suami mu kelak?" Ucap Agnes, sambil merapikan rambut Alesya.
Lidah Alesya kelu. Ia tidak dapat berkata apapun karena ia masih tidak percaya bahwa dalang peristiwa semalam adalah adik tirinya sendiri.
"Agnes sayang!" Ujar Jenny, melangkah mendekati anak nya. "Kamu tidak perlu khawatir dengan malam pertama kakak mu karena ibu akan mencarikan seorang pria tua yang sudah banyak istrinya, jadi dia pasti tidak akan keberatan dengan kekurangan yang dimiliki oleh kakak mu." Lanjutnya, sambil tertawa.
"Mengapa kalian melakukan ini padaku? Apa salah ku, pada kalian?"Tanya Alesya, dan membersihkan butiran air mata yang sudah tak sanggup di bendung nya.
" Apakah kamu tidak tau apa kesalahan mu, kakakku sayang!! Kesalahan mu ialah karena Frans mencintai mu dan telah melamar mu pada ibu ku."Agnes sudah tidak segan-segan lagi menunjukan wujud aslinya pada Alesya.
Alesya terus menatap Agnes dengan tatapan tidak percaya!
"Dan aku tau, kamu juga mencintainya. Jadi aku dan ibu sengaja merancang hal ini untuk kamu, kakak ku sayang!!" Agnes tertawa puas.
Alesya langsung menampar Agnes tapi Agnes malah tersenyum smirk mendapatkan tamparan dari Alesya.
"Aku akan mengadukan hal ini kepada ayah!" Baru saja Alesya akan pergi, Jenny segera menangkap tangan Alesya.
"Apa menurut mu ayah mu akan percaya dengan kata-kata mu? Mimpi kamu Alesya!!" Ujarnya, dan mendorong Alesya hingga terjatuh ke lantai.
Dengan wajah penuh kebahagiaan, mereka meninggalkan Alesya yang baru saja kehilangan seluruh kebahagiaan dunianya
***penasaran dengan kelanjutan nya...
jangan lupa untuk like, komen dan vote. ππππ
__ADS_1