
"Begitu tuan muda dan temannya agak jauh sedikit saja dari rumah itu, segera kalian bawa tuan muda Skala dsn temannya ke tempat yang aman." perintah Jack pada orang -orang nya.
"Baik tuan Jack." Jawab mereka serentak.
Jack pun terus memantau Skala dan Daffa dari jauh.
Sementara kedua bocah kecil itu...
"Ska, sebelum ayah nya Rama jadi lebih marah lagi sebaik nya kita pulang saja sekarang." Ajak Daffa.
"Kau benar. Kami pergi dulu Rama."
"Tunggu sebentar," Tahan Rama. Dia ingin mengambil buku PR nya dan menitipkannya pada Daffa dan Skala. Mana tahu besok pagi pun dia tidak bisa masuk sekolah.
"Aku titip buku PR ku ya?" Ujar Rama.
"Tu kan! ada rencana bolos lagi dia!" sela Daffa.
"Nanti aku ceritakan pada kalian apa permasalahan ku sebenarnya hingga aku tidak dapat masuk sekolah. Tapi untuk saat ini tidak bisa! Kalian tidak mungkin kan berlama-lama disini?!" Ujar Rama sambil menunjuk ke dalam rumah nya. Tentu saja maksud nya ada karena sang ayah yang tidak suka teman RT ama datang main ke rumah itu.
"Ya sudah!! Cepat ambil buku PR mu! dan Ingat kau harus menceritakan semua nya pada kami nanti malam."Seru Skala.
"Iya!! Sebentar ya .."
Rama pun berlari ingin masuk ke kamar nya, namun saat dia melewati ruang tengah dia mendengar-
__ADS_1
"Dion!! Kau tahu siapa teman putra mu yang sedang bertamu itu?!" Seru Jenny girang.
Jenny tidak menyangka dia akan sebuah tangkapan besar akan datang dengan sendirinya ke depan pintu rumah nya.
Rama yang mendengar hal ini pelan-pelan berjalan ke arah ruang tengah itu. Dia merasa ayah angkat nya itu berserta wanita itu sedang membicarakan teman-teman nya.
"Memang nya bocah-bocah itu siapa?" Tanya Dion sambil mengintip keadaan di luar rumah.
"Salah satu dari mereka adalah Skala!! Putra Kenzyo Dayson dan Alesya!! cepat kau bawa bocah-bocah itu masuk. Mereka bisa jadi tiket kita untuk kabut dari tempat ini. Dan selain itu, mereka juga bisa membantu membuat Alesya dan Kenzo menangis darah. Sebab setelah kita kabur, kita bisa menghabisi Skala dan mengirimkan kan jasad nya pada Kenzo dan Alesya." Ujar Jenny, yang langsung membuat Rama merinding.
Firasat Rama benar. Wanita ini bukan lah wanita baik
Rama buru-buru kembali ke pintu rumah nya. Dia ingin menyuruh Skala dan Daffa untuk segera pergi dari rumah nya.
Dengan nafas tersengal- sengal Rama pun sampai kembali di tempat Daffa dan Skala menunggu.
"Kau kenapa Rama? Buku PR mu mana? Tanya Daffa, yang tidak paham mengapa temannya terlihat sangat jelas.
"Jangan pikirkan buku PR ku! cepat kalian pergi dari sini sebab-" Perkataan Rama terputus sebab sebuah tangan menepuk bahu nya.
Seketika itu juga tubuh Rama jadi kaku dan wajah nya langsung memucat.
"Aku mohon pergi lah .." ucapnya dengan gerak bibir.
Daffa dan Skala pun otomatis melangkah ke belakang. Mereka merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
"Rama kenapa teman-teman nya tidak di bawa masuk?" Ujar Dion yang tiba-tiba datang dengan suara yang lembut, tersenyum pada Daffa dam Skala sambil menepuk pundak Rama
"Ayah nya Rama kenapa?" tanya Skala dan Daffa dalam hati mereka masing-masing.
Kedua bocah ini saling pandang. Mereka bingung dengan perubahan sikap ayah nya Rama. Dan yang lebih membingungkan lagi ekspresi wajah Rama yang seakan-akan memohon agar mereka segera pergi.
"Ayo masuk dulu .." Ajak Dion sambil ingi. meraih tangan Skala.
Namun saat tangan Dion akan menyentuh tangan Skala, Rama tiba-tiba berteriak.
"Lari!! dia mau membunuh kalian berdua!!"
Mendengar hal itu, Daffa dan Skala spontan kabur, tapi Dion mengejar nya. Orang-orang nya Dion yang bersembunyi disekitar rumah itu pun ikut mengejar Skala dan Daffa.
Kedua bocah itu pun lari sekuat tenaga mereka.
Hingga tanpa mereka sadari, mereka terpojok ke sebuah rumah dengan pagar yang sangat tinggi.
" Jalan buntu Ska!" Seru Daffa.
"Kau benar Daffa." jawab Skala pelan.
"Sebaiknya kita mencari tempat bersembunyi saja."saran Skala selanjutnya.
Saat Skala dan Daffa sedang fokus mencari tempat bersembunyi tiba-tiba sebuah tangan menarik mereka berdua masuk ke dalam rumah itu.
__ADS_1
**bersambung