Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
Bab 54 #Tewas


__ADS_3

“Rama, suara apa sih itu?” ujar ayah Rama yang akhirnya nyamperin Rama yang sedang memungut kelerengnya.


“Maaf ayah, tadi aku bermaksud untuk menyimpan kelereng ini tapi malah terjatuh.” Jawab Rama setenang mungkin.


“Cepat bereskan dan kembali ke kamar mu! Kau masih aku hukum Rama...”Ucap sang ayah lalu kembali ke ruangan tengah, tempat di mana dia dan Jenny mendiskusikan rencana mereka.


“Ada apa Dion?” tanya Jenny pada orang kepercayaannya itu.


“maaf nyonya Jenny, itu si Rama tidak sengaja menjatuhkan kelerengnya. Tapi anda tidak perlu khawatir aku sudah menyuruhnya untuk masuk ke kamarnya.” Jawab Dion, ayah nya Rama.


“Apa kau sudah bisa menghubungi orang-orang kita?” Tanya Jenny yang mulai merasa curiga karena sedari tadi tidak ada satu orang-orang nya yang dapat di hubungi.


“Belum nyonya.” Jawab Dion sambil mencoba menghubungi salah satu orang-orang nya.


“Pasti Kenzo telah melakukan sesuatu. Kau tahu Dion, keadaan di tempat ini terlalu sunyi. Aku jadi memiliki firasat yang buruk tentang hal ini.” Seru Jenny sambil mengintip keluar.


Saat Jenny dan Dion tengah serius bicara, Rama yang telah selesai berkeliling ke seluruh ruangan di rumah itu pun muncul di depan pintu ruangan tengah tempat Jenny dan Dion berada.


“Ayah.. maaf mengganggu!” Ujar Rama, melangkah masuk lebih dalam ke dalam ruangan itu.


“Rama, bukan kah ayah sudah meminta mu untuk kembali ke kamar. Mengapa kau malah ke sini! Apa kau mau aku pukul?” bentak Dion, berang.


Rama menelan salivanya. Jujur saja, Rama sangat takut saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, kalau bukan dia yang mengirimkan denah rumah ini ke ayah Skala, siapa lagi yang akan melakukannya? Tidak mungkin Skala dan Daffa kan? Rama tidak bisa bayangkan apa yang ayahnya dan wanita tua ini lakukan pada sahabat-sahabatnya.


“Itu ayah.. aku mau bertanya, apakah kau memiliki sebuah botol. Aku tidak tahu harus menyimpan di mana semua kelereng ini?” Ujar Rama sambil mengangkat baju nya yang ia jadikan tempat untuk meletakkan semua kelereng tadi.


“Kenapa tidak kau buang saja kelereng itu jika kelereng itu membuat kau sibuk seperti ini!” Bentak Dion sekali lagi.


“tapi ini kelereng pemberian teman-teman ku dari tempa kita tinggal terdahulu ayah. Aku tidak bisa membuang kelereng ini begitu saja. Ini semacam kenang-kenangan dari mereka.” Rama akhirnya terpaksa berbohong.


Dion menarik nafas dalam dan menghelanya kasar. “kau pakai saja vas yang tidak ada bunga nya itu sebagai tempat untuk meletakkan semua kelereng mu yang tidak berguna itu!” Tunjuk Dion pada sebuah Vas bunga yang ada diatas meja di pojok ruangan.


Dalam hatinya Rama senang sebab dia jadi ada alasan untuk masuk lebih dalam lagi ke ruangan itu.

__ADS_1


“Semoga ayah Skala mendapatkan semua gambaran ruangan ini.” Seru Rama dalam hati.


“Terima kasih ayah.” Ujar Rama lalu keluar dari dalam ruangan itu.


Saat Rama akan naik ke kamar nya, tiba-tiba terdengar suara sang ayah memanggilnya.


“Rama!!!! Tunggu!!!” Teriak Dion dari ruang tengah itu.


Jantung Rama langsung berdetak kencang. Selayaknya maling yang ketangkap warga, Rama perlahan membalikan badannya.


“Ya, ayah?” Tanya nya dengan perasaan was-was.


“Aku tidak ingin melihat mu keluar lagi dari kamar mu dengan alasan apapun juga! Walaupun gempa bumi sekalipun aku melarang mu keluar dari kamar itu!! Kau paham itu Rama?!” tegas Dion yang sebenarnya berniat melindungi anak kakak nya itu. Dion takut kalau-kalau nanti anak buah Kenzo Dayson menyerang ke dalam rumah itu dan melukai anak mendiang kakak nya itu.


“Aku harap kau tidak membenci ku karena selalu keras pada mu Rama!” gumam Dion dalam hati, menatap bocah itu masuk ke dalam kamar.


“jadi bagaimana sekarang nyonya Jenny?” tanya Dion pada Jenny.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu bantuan dari teman ku yang mungkin sudah dalam perjalanan.” Tukas Jenny.


Saat Jenny sedang menunggu bala bantuan yang tidak akan kunjung datang sebab jalan menuju komplek perumahan itu sudah di tutup oleh polisi, orang-orang Kenzo Dayson mulai menyusup dan masuk ke dalam rumah.


Pertama-tama mereka langsung menuju ke kamar Rama untuk menyelamatkan Skala, Daffa dan Rama.


Skala yang sudah mendapatkan kabar sebelumnya dari sang ayah langsung bersiaga menunggu orang-orang ayah nya datang.


“Ayo tuan muda..” Ujar salah satu dari orang-orang nya Kenzo.


“baik..ayo.. “ ajak Skala pada Daffa dan Rama.


Rama berhenti sesaat dan berkata pada paman nya datang menjemput mereka.


“paman aku mohon jangan lukai ayah ku! Dia adalah satu-satu nya keluarga ku! Andaikan dia adalah orang jahat maka biarkan saja di mendapatkan hukuman di penjara. Tapi aku mohon jangan sampai di terluka paman.” Rama memohon demi keselamatan ayah nya pada paman itu.

__ADS_1


“Tuan Kenzo sudah berpesan hal yang sama nak. Semoga nanti ayah mu tidak melakukan aksi yang membuat nyawa nya terancam.” Jawab paman itu, dan menggiring ke tiga bocah itu keluar dari rumah itu.


Di luar sudah ada orang-orang lain suruhan Kenzo yang telah ready menunggu Skala dan teman-temannya.


Baru saja tiga langkang Skala, Daffa dan Rama meninggalkan rumah itu, terdengar suara tembakan bersahutan dari dalam rumah.


Pengawal Kenzo yang sedang bersama Skala, Daffa dan Rama langsung membawa ketiga bocah itu ke tempat Kenzo agar tidak terjadi apa-apa pada ketiga bocah itu.


Saat mereka berlari menuju tempat yang aman, Rama terus melihat ke belakang, berdoa ayah nya tidak kenapa-napa di dalam sana.


“Tuhan, ayah ku memang adalah orang yang jahat. Tapi bukan kah setiap orang selalu kau berikan kesempatan kedua. Aku mohon selamatkan lah ayah ku tuhan.” Doa Rama dalam hati.


Skala dan Daffa yang menyadari hal itu langsung menepuk pundak sahabat nya itu. “Aku yakin ayah mu pasti selamat Rama. Percaya lah.” Ujar Skala.


Ketiga bocah itu pun sampai di tempat yang aman, yakni tempat Kenzo dan yang lain berada.


“Ayah!!” seru Skala memeluk erat Kenzo.


“Daddy...uncle?” Panggil Daffa yang tidak percaya kalau ayah dan pamannya juga ada disana.


Rama melihat kedua sahabatnya memiliki keluarga untuk mereka sapa sedangkan dirinya kemungkinan akan kehilangan satu-satu nya keluarga yang ia miliki.


Skala melihat raut wajah Rama yang kembali sedih.


Skala langsung mendatangi ayahnya.


“Daddy... bagaimana keadaan Daddy nya Rama? Kau bisa melihat keadaan di dalam rumah itu dengan jelas kan?” tanya Skala lagi.


Kenzo melihat ke arah bocah kecil yang bernama Rama itu.


“Nak, ayah mu tidak kenapa-napa, hanya tertembak di bagian kaki. Tapi setelah kita obati di rumah sakit maka ayah mu akan membaik.” Ucap Kenzo yang membuat mata Rama langsung berkaca-kaca..


Dalam hati Rama menghaturkan syukur pada tuhan sebab telah menyelamatkan ayahnya.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan wanita jahat itu Daddy?” tanya Skala, yang penasaran dengan nasib Jenny.


“Dia tidak selamat sayang. Dia sudah meninggal.” Jawab Kenzo yang melihat saat sebuah peluru mengenai kepala Jenny.


__ADS_2