
“aku mencari mu kemana-mana Alesya, ternyata kau ada disini.” Ucap Kenzo, lalu mencium kening istrinya yang sedang berbaring di atas ranjang putra mereka.
“kau sudah bangun Kenz?”ujar Alesya, langsung memposisikan diri nya untuk bersandar di kepala tempat tidur.
“Apakah dia tidur di sini karena dia rindu pada putra kami?” Gumam Kenzo dalam hati. Sudah beberapa hari Kenzo dan Alesya tinggal terpisah dari Skala. Kenzo saja yang belum begitu lama bersama Skala sudah sangat rindu dengan bocah tampan itu, apalagi Alesya, yang memang bersama dengan Skala dari awal.
“apa kau rindu dengan Skala, sayang?” tanya Kenzo sambil menepuk-nepuk punggung tangan Alesya yang sedang dipegangnya itu.
“benar! Aku sangat rindu pada Skala.” Alesya menyadarkan kepala nya di bahu Kenzo. “kira-kira apa ya yang di lakukan oleh anak itu saat ini?” Gumam Alesya dengan tatapan kosong.
“paling dia sedang bermain dengan Brown atau pun pangki atau... peliharaan lain milik ayah.” Jawab Kenzo asal. “ heeem.. bagaimana kalau kita pergi ke rumah ayah? Kita beri kejutan untuk Skala dan ayah?” imbuh Kenzo tiba-tiba penuh bersemangat. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan foto copi nya itu. Sejak sampai di kota A, Kenzo sangat disibukkan dengan segala urusan balas dendamnya Alesya. Meski pun Aleysa sama sekali tidak tahu kalau semua yang terjadi saat ini adalah karena adanya andil Kenzo di dalamnya.
“heeem.. aku pun sebenarnya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Skala. Tapi..” Alesya tidak meneruskan kata-katanya, dia hanya menatap lurus ke dalam mata suami nya itu.
“tapi kenapa sayang?” tanya Kenzo, seakan-akan tidak ada masalah sama sekali.
“Apa kau lupa dengan keberadaan Mai di rumah ini Kenz?”Ucap Alesya dengan tatapan penuh makna.
“memangnya Mai belum pergi? Sudah jam berapa ini?” Kenzo melihat ke arah jam yang nangkring cantik di kamar itu.
“Heem.. sepertinya dia masih disini.” Jawab Alesya ragu.
“Apa sebenarnya dipikirkan oleh wanita itu! Sudah jelas-jelas aku menyuruhnya untuk segera meninggalkan rumah ini tapi dia tidak mau mendengarkan ku.” Seru Kenzo marah mendengar Mai masih ada di sana. Kenzo langsung ingin berdiri untuk mengecek langsung apakah benar Mai masih berada di sana atau tidak.
Tapi dengan cepat Alesya menahan tangan suaminya itu dan berkata, “Kenz!! Tunggu dulu!!” Alesya menarik Kenzo supaya kembali duduk disampingnya.
“Alesya! Kalau pun dia tidak ingin pulang ke Australia, aku tetap akan mengusirnya dari rumah ini. Aku tidak ingin keberadaannya menjadi duri di dalam pernikahan kita!!” Tegas Kenzo. Dia benar-benar tidak akan membiarkan siapapun mengganggu ketenangan rumah tangga nya bersama Aleysa.
__ADS_1
Alesya hanya diam. Dia bingung harus mengatakan apa. Digigitnya bibir bawahnya sambil berpikir.
“Apa Mai menemui mu?” tanya Kenzo khawatir, jangan-jangan sewaktu dia tertidur tadi Mai mengatakan sesuatu kepada Alesya yang membuat Aleysa menjadi bimbang akan suatu hal. “apa dia mengancam mu sayang?” Tanya Kenzo sekali lagi, sebab dia tahu bagaimana cara Mai biasanya membuat para wanita menjauh dari Kenzo. “Alesya please!! Apa Mai berkata sesuatu???” Kenzo memegang pundak istrinya nya. Tapi Alesya tetap diam.
“kalau kau tidak mau mengatakannya maka aku akan langsung bertanya Mai. Setelah itu aku akan langsung mengusirnya dari sini.” Kenzo pun kembali berdiri. Dan sama seperti tadi, Alesya kembali menahan tangan Kenzo supaya tidak pergi kemana pun.
Alesya menarik nafas dalam dan ditatapnya suaminya lekat-lekat.”Kenz, ada sesuatu tentang Mai yang harus aku sampaikan pada mu.” Ujar Alesya, dengan tatapan serius.
Kenzo kembali duduk di samping Alesya. “Baik. Aku akan mendengarkan semua yang ingin kau sampaikan.” Tukas Kenzo yang siap untuk mendengarkan hal yang akan Alesya sampaikan.
“Kenz, ternyata Mai...” baru saja Alesya akan memulai ceritanya tiba-tiba ponsel Kenzo berbunyi.
“Sebentar sayang.” Seru Kenzo terpaksa menginterupsi perkataan Alesya. “Skala mengatakan kalau dia akan menelpon ku sore ini. Mungkin ini telpon dari nya.” Kenzo mengambil ponsel nya yang terletak di dalam saku celana nya itu.
“Ya, angkatlah dulu.” Jawab Alesya, terpaksa menunda ceritanya.
“Hallo daddy?” sapa Skala dengan nada senang dari ujung telpon.
“Kami semua baik dad. Aku, kakek, kakek Damian dan nenek Rose juga baik. Dan ya, paman Steve juga baik.” Jawab Skala.
“paman Steve? Apa dia sudah kembali ke kota J?” tanya Kenzo yang masih ingat mengenai Steve yang merupakan sepupu jauh Alesya yang sebelumnya akan di jodohkan oleh ayah mertua nya pada istrinya.
“ya, Paman Steve sudah kembali.” Balas Skala.
“Ska, apa kau sungguh akan tinggal di sana dalam jangka waktu lama? Aku dan mommy mu sungguh merasa kehilangan mu sayang.” Ucap Kenzo.
“Kau tidak bermaksud untuk membawa cucu ku jauh dari ku kan Kenzo Dayson?” Tiba-tiba terdengar suara Aldion yang menjawab perkataan Kenzo.
__ADS_1
“Apa Skala men-loud speaker kan panggilan ini?” Gumam Kenzo dalam hati.
“ups!! maafkan aku daddy. Aku menyalakan speaker ponsel ini, lebih tepat nya kakek memaksa ku untuk men-loud speaker kan panggilan ini. ” jawab Skala yang terdengar sedang tertawa kecil.
"Kenapa kau malah memberitahu daddy mu Skala." Walaupun Aldion mengatakan nya sambil berbisik, Kenzo tetap bisa mendengar nya dengan jelas.
“Astaga!! Kau ini!!” Seru Kenzo, sambil merapatkan giginya.
“Apa kau tidak suka aku ikut bicara Kenzo Dayson?” ujar Aldion dengan suara beratnya.
“Tentu saja aku tidak keberatan ayah. Aku malah sangat senang sekali mendengarkan suara mu.” ujar Kenzo sambil menatap Alesya yang sudah terkekeh di sampingnya.
“ayah apa kabar?” Alesya pun akhirnya ikut nimbrung dalam panggilan itu.
“kami semua baik-baik saja sayang!” Dengan cepat Damian mengambil kesempatan untuk menjawab pertanyaan Alesya.
“Hei Damian!! Dia itu bertanya kabar ku!! Kenapa malah kau yang menjawab nya!” Terdengar suara Aldion yang sedang memarahi sahabatnya itu.
“Kau itu sudah tua Aldion! Dan respon mu menjawab pun menjadi sangat lamban!” Ujar Damian. Suara nya terdengar sedikit lebih kecil dibandingkan dengan suara Skala dan Aldion. Sepertinya dia duduk sedikit agak jauh dari Skala dan Aldion.
Situasi di kediaman Rodio terdengar sangat gaduh.
“Mengapa jadi rame begini?” gumam Kenzo dalam hati. Padahal niatnya dia hanya ingin berbicara dengan putra nya saja.
“Hei!! Kenzo Dayson! Kau jangan coba-coba merayu cucu ku untuk meninggalkan ku ya!!” Seru Aldion yang masih saja mengingat hal yang baru saja Kenzo katakan pada Skala.
“Glek!!” Kenzo menelan saliva nya. Ini lah mengapa dia tidak ingin ada orang lain yang mendengar ketika ia berbicara dengan putranya.
__ADS_1
**bersambung...
jangan tidur dulu ya.. cos otor akan tetap crazy up..