
"Nania..." Ujar Mary melalui telpon pad sahabat nya itu. "Maaf aku langsung pulang ke Australia tanpa mengabari mu. Kejadian saat itu terlalu cepat. Selain karena kematian Mai, keadaan Dyana yang juga memerlukan perhatian khusus dari ku juga membuat ku lupa untuk berpamitan pada mu." Mary sungguh merasa tidak enak tidak mengabari Nania ketika ia pulang ke Australia waktu itu.
"Aku sangat memahami keadaan mu saat itu Mary. Lagi pula, Frans sudah mengabari ku kalau kau sudah pulang ke Australia." Jawab Nania yang sangat memahami keadaan sahabat nya itu. Bagaimana Mary tidak akan pusing, kedua putrinya mengalami musibah disaat yang bersamaan. Nania tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia ada di posisi Mary, Nania pasti akan sudah depresi.
"Terimakasih .. kau memang yang terbaik Nania." Ucap Mary, yang masih merasa tidak enak pada Nania.
"Dan...aku menelpon mu saat ini juga sebenarnya punya maksud lain." Ujar Mary terdengar ragu-ragu.
"Apa ada masalah lain Mary?" Nania yang mendengar keseriusan dalam ucapan sahabat nya itu dari bertanya-tanya, apakah Mary ada masalah yang lain.
"ini tentang Frans dan Dyana." Ucap Mary kemudian dia diam.
"Ya...ada apa dengan mereka. Seperti nya mereka baik-baik saja. Saat ini Frans masih berada di rumah Kenzo untuk menemani Dyana. Memang nya ada masalah apa?" Tanya Nania yang merasa kalau putra nya baik-baik saja bersama Dyana saat ini. Kalau ada sesuatu yang buruk pasti Frans sudah kembali ke rumah saat ini.
"Kau tahu keadaan Dyana saat ini kan, Nania? Aku merasa putri ku tidak pantas untuk mendampingi putra mu. Frans pasti terbebani dengan keadaan Dyana. Dan aku juga merasa kalau Dyana juga tidak akan mau menerima Frans sebagai pasangan nya, aku bisa melihat kepercayaan diri putri ku itu saat ini sedang berada di titik terendah dalam hidup nya. Jadi ku pikir, kita batalkan saja rencana kita untuk menjodohkan mereka" Ujar Mary.
__ADS_1
Nania tidak menjawab perkataan sahabatnya itu hingga suasana jadi hening untuk sesaat.
"Nania.. kau masih disana?" Tanya Mary sebab Nania hanya diam.
"Heem... Aku rasa putra ku sudah tidak bisa jauh dari putri mu Mary. Frans tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan aku sangat tahu itu. Aku yakin Frans tidak keberatan dengan keadaan Dyana saat ini. Lagi pula, kita semua tahu kalau keadaan Dyana tidaklah permanen. Begitu kita menemukan donor yang tepat baginya maka Dyana akan melihat lagi. Sementara tangan dan kaki nya itu hanyalah masalah waktu untuk kembali sembuh seperti semula. Jadi tidak ada yang harus kau risau kan tentang hal ini. Percaya lah pada ku." Jelas Nania panjang kali lebar.
"Itu kan prediksi dokter Nania.. aku takut kalau kelak semuanya tidak sesuai dengan prediksi dokter dan Frans akan menyesali memiliki Dyana sebagai istrinya." tukas Mary yang tidak ingin putrinya kelak disia-siakan oleh pria yang menikahi putrinya itu.
"Apa kau tidak bisa melihat kesungguhan cinta putra pada putri mu Nania? Frans benar-benar sangat mencintai Dyana. Andaikan dia hanya bermain-main saja dengan Dyana maka begitu tahu Dyana tidak dapat melihat... tidak bisa berjalan maka dia akan langsung meninggalkan Dyana. Fakta nya, Frans malah melakukan sebaliknya. Sejak ia pergi ke rumah sakit waktu itu, Frans hanya kembali untuk berganti pakaian saja. Dia bahkan menyerahkan semua urusan kantor pada asisten nya. Yang ada dalam pikiran nya saat ini hanya Dyana. Itu saja sudah membuktikan andaikan Dyana tidak akan pernah pulih seperti dulu lagi, Frans pastikan akan siap menerima semua kondisi Dyana." Nania kembali meyakinkan Mary bahwa putranya sangat mencintai putri Mary yang bernama Dyana itu.
Kali ini gantian, Mary lah yang terdiam mendengar Nania yang ingin segera pesta pertunangan antara Frans dan Dyana diselenggarakan. Apakah dia tidak perlu menanyakan terlebih dahulu kepada Dyana tentang hal ini. Apakah Dyana juga menyukai Frans? Tapi kalau Dyana tidak menyukai Frans, mengapa Dyana mengizinkan Frans untuk tetap berada disisi disaat-saat seperti ini? Mary sungguh merasa bimbang. Belum lagi dia memang sudah pernah berjanji dengan Nania tentang hal ini walaupun kalau dilihat-lihat lagi itu sebenarnya tidak lebih dari perkataan dua orang sahabat di zaman batu.
"Apa kau yakin anak kita saling mencintai Nania?" tanya Mary pada sahabatnya.
"Tentu saja!! Tidak kah kau dapat melihat hal itu Mary. Ketika Frans sakit, Dyana dengan suka rela merawat nya. Bahkan pelayan di rumah ku mengatakan kalau Dyana juga membuatkan bubur untuk Frans dan Dyana juga sangat menjaga Frans. Dan disaat Dyana sakit, Frans juga menunjukkan hal yang sama. Kalau tidak saling cinta, apa lagi coba nama nya?" Ujar Nania.
__ADS_1
"Kalau dipikir-pikir, benar juga kata Nania!" Gumam Mary dalam hati."Tidak mungkin mereka akan saling menjaga kalau tidak ada rasa di dalam diri mereka untuk satu dengan lainnya."
"Bagaimana? Apa kau setuju dengan usulan ku?" Tanya Nania sekali lagi untuk meyakinkan dirinya atas jawaban Mary untuk hal ini.
"Baiklah...aku setuju. Kita akan melakukan pesta pertunangan ini setelah Dyana siap. Bagaimana pun aku akan menanyakan hal ini terlebih dahulu pada Dyana." Jawab Mary.
"Aku yakin, Dyana pasti akan setuju. Aku sudah tidak sabar untuk berbesan dengan mu Mary." seru Nania senang, meskipun hal ini belum benar- benar terjadi. Tapi paling tidak Nania yakin dengan mendapatkan persetujuan dari Mary sebagai ibunya Dyana, cinta Frans kali ini tidak akan kembali bertepuk sebelah tangan. Cukup sekali Nania melihat putra sempat terpuruk karena wanita yakni ketika Frans mencintai Alesya, Nania tidak ingin Frans mengalami hal yang sama. Nania akan memastikan cinta Frans dan Dyana akan bersatu.
"Aku pun begitu Nania. Semoga anak- anak kita memang berjodoh." Ujar Mary. Sebenarnya Mary juga sangat lelah mencarikan jodoh untuk Dyana. Anak itu selalu saja menolak semua perjodohan yang Mary lakukan untuk nya. Tapi bila dibandingkan dengan yang sudah-sudah.. hubungan Dyana dan Frans ini dapat dikatakan hubungan yang paling jauh dilakukan oleh Dyana pada pria yang dijodohkan oleh ibunya untuk dirinya. Biasanya dia akan langsung pergi dari perjodohan itu. Tidak mau bertemu lagi dengan laki-laki yang pernah akan di jodohkan dengannya. Tapi dengan Frans.. Dyana berbeda. Dia bahkan mau bertemu dengan Frans hingga berkali-kali...bahkan ada disaat Frans sakit.
"Semoga pertunangan ingin adalah pilihan yang benar untuk mereka berdua."Ujar Mary sekali lagi.
**bersambung
πππ
__ADS_1
*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.